
Anam dan Aisyah kini sudah berdiri di depan sebuah rumah yang terbilang cukup sederhana. Aisyah menatap Anam yang terlihat panas dingin dan grogi. Benar-benar membuat Aisyah geli melihatnya.
"Jadi masuk,gak?"tanya Aisyah.
"Cha, kakak mau tanya pendapat kamu. Menurut kamu lebih baik kakak masuk atau enggak? coba kasih pendapat ,deh!"pinta Anam sambil menggigit bibir bawahnya.
Aisyah menggeleng tak mengerti dengan jalan pikiran kakaknya ini. Untuk apa mereka ada di sini jika ujung-ujungnya harus kembali? haruskah iya menjawab pertanyaan bodoh itu?
"Ya udah, biarin aja kak Khadijah di ambil orang. Yuk, pulang!"ajak Aisyah sambil menarik pergelangan tangan Anam, namun baru beberapa langkah, Anam malah menghentikan Aisyah.
"Kenapa? Gak mau kan kalau kak Khadijah di ambil orang? makanya, ayo masuk!"
Anam pun menghela nafas gusar, "Grogi,cha."
Dengan perasaan bangga dan penuh percaya diri, Aisyah pun memukul dadanya.
"Nih, belajar sama yang berpengalaman! Ada ahlinya nih disini."
"Sombong amat. Mentang-mentang udah nikah."
"Ya iyalah."balas Aisyah, sombong.
"Tapi suami sendiri gak di kabarin."sambung Anam membuat Aisyah berdecak dan menatapnya dengan tajam.
"Kan Acha udah bilang kalau hp Acha hilang. Lagian tadi malam waktu ummi nelphon kakak, Acha udah titip pesan tolong bilangin ke mas Arshad kok."
"Kenapa gak telphone langsung aja?"
"Acha lupa nomor mas Arshad berapa."
"Kenapa gak minta ke ummi?"
"Ummi gak ngasih, katanya mas Arshad mungkin lagi sibuk. Terus ummi bilang biar ummi aja yang sampai-in."
"Alasan. Bilang aja emang gak mau ngabarin."
"Ih, kok nyebelin sih? emang gitu kok kata ummi."
"Terserah."
Aisyah semakin jengah lalu dengan langkah tegas ia berjalan menuju pintu rumah.
"Acha, kamu mau kemana?"tanya Anam yang terlihat resah.
"Ketemu calon kakak ipar."jawab Acha tanpa melihat ke arah belakang. Lebih tepatnya ke arah Anam yang semakin gelisah dibuatnya. Anam pun langsung menyusul Aisyah dengan cepat namun sayang, Aisyah sudah memencet tombol bel.
__ADS_1
"Kenapa kamu pencet duluan,sih?"protes Anam.
"Terserah aku,dong."
CKLEK!
Pintu terbuka. Terlihat seorang wanita paruh baya dengan balutan kerudung maroon yang senada dengan bajunya, muncul dengan senyum ramah diwajahnya.
"Assalamu'alaikum, bunda."ucap Aisyah sambil mencium punggung tangan wanita yang ia panggil bunda itu. Yang kerap di sapa bunda Rumi.
"Assalamu'alaikum, bunda."ucap Anam dan melakukan hal yang sama dengan Aisyah.
"Wa'alaikumussalam. Siapa,ya?"tanya bunda Rumi dengan ramah sambil memperhatikan dua orang di hadapannya itu.
"Ini Aisyah dan kak Anam, bunda. Ingat,gak?" tanya Aisyah.
Tanpa berpikir lagi, bunda tentu saja ingat dengan mereka. Mereka adalah anak dari sahabatnya.
"Masha Allah Aisyah? udah gede kamu sekarang,nak. Apa kabar?"bunda Rumi memeluk Aisyah sejenak lalu kembali menatap Aisyah dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Alhamdulillah Aisyah sehat, bun. Bunda gimana kabarnya?"
"Bunda sehat juga. Anam apa kabar?"
"Sehat, bunda."jawab Anam.
"Lancar,bun. Udah tamat juga."jawab Anam.
"Alhamdulillah kalau gitu. Ayo kita masuk! kebetulan ayah ada di rumah."
Mereka pun masuk ke dalam rumah dan melihat suami bunda Rumi yang kerap dipanggil ayah Farhan sedang membaca buku tentang Tauhid.
Mendengar suara tapak kaki membuat ayah Farhan langsung mendongak dan melihat istrinya bersama dua orang lagi.
"Siapa,bun?"tanya ayah Farhan.
"Ini Aisyah sama Anam, yah."jawab bunda Rumi.
Aisyah dan Anam pun langsung mencium punggung tangan ayah Farhan.
"Masha Allah! Apa kabar kamu,nak? ayo, duduk!"tutur ayah Farhan.
Mereka pun duduk,"Alhamdulillah baik,yah."
"Ayah bagaimana kabarnya?"tanya Anam.
__ADS_1
"Baik, alhamdulillah."
"Khadijah! sini,nak!"panggil bunda membuat Anam agak grogi.
Tak lama, Khadijah pun keluar dan sedikit terkejut melihat Anam. Ia sempat berpikir bahwa Anam tidak akan datang karena kabarnya begitu mendadak. Ini sungguh membahagiakan baginya.
"Khadijah..."tegur bunda membuat Khadijah terkesiap.
"Iya, bunda?"tanyanya.
"Tolong buatkan minum, nak!."pinta bunda lalu diangguki Khadijah sebelum akhirnya ia pergi ke dapur.
"Ayah sudah dengar tentang kematian ayah kalian. Ayah turut berduka cita. Maaf karena tidak bisa hadir di pemakamannya. Saat itu bunda sedang sakit dan tidak bisa pergi, jadi ayah harus menemani bunda."
"Tidak masalah,yah. Aisyah maklum."jawab Aisyah.
"Bunda dengar kamu sudah menikah. Benar,nak?"tanya bunda.
"Iya, bunda. Maaf gak kasih tau sebelumnya, karena acaranya juga mendadak."
"Gak apa-apa. Tapi suami kamu dimana? kok gak ajak?"tanya bunda.
Aisyah langsung menatap Anam meminta bantuan. Seakan mengerti maksud Aisyah, Anam pun langsung angkat bicara.
"Suaminya Acha sibuk, bunda. Jadi gak bisa ikut."jawab Anam membuat sepasang suami istri itu mengangguk paham.
Tak lama Khadijah pun datang dan menyajikan minuman. Melihat Khadijah entah kenapa membuat Anam malah semakin yakin untuk melamar gadis cantik di hadapannya itu.
Dengan satu tarikan nafas, Anam berusaha mengatur degup jantungnya. Lalu dengan yakin dia menatap ayah Farhan yabg sedang minum seraya berkata, "Ayah, izinkan Anam menikahi Khadijah." Ayah sontak menyemburkan minuman di mulutnya karena kaget. Bukan hanya ayah yang kaget, tapi Aisyah, bunda dan juga Khadijah pun kaget dibuatnya.
Baru kali ini mereka melihat seseorang langsung spontan melamar tanpa ada pembukaan sebelumnya.
"Anam akan membahagiakan Khadijah,yah. Anam akan meletakkan kebahagiaan Khadijah di atas kebahagiaan Anam."lanjut Anam. Hal itu membuat Khadijah menunduk dan tersenyum malu. Namun berbeda dengan ayah, ia malah tertawa sembari menatap bunda yang tersenyum geli.
Setelah tawanya reda, ayah langsung menatap Anam, "Sekarang ayah tanya sama kamu. Kamu ingin mendengar jawaban berupa argumen panjang seperti yang para ayah lakukan saat putrinya dilamar? atau jawaban spontan, se-spontan keinginan kamu?"
"Argumen panjang hanyalah sebagai bentuk formalitas saja,yah. Anam tau ayah orangnya tidak suka basa-basi,, karena itu Anam langsung menyebutkan maksud dan keinginan Anam tanpa memulainya dengan kata formalitas seperti kata pembukaan sebelum melamar. Jadi Anam rasa, ayah tau apa yang Anam pilih."
Aisyah heran. Kemana Anam yang tadi sangat gelisah? dari mana datangnya kepercayaan diri kakaknya ini?
Ayah tersenyum dan langsung duduk di samping Anam sembari menepuk pundak Anam dengan bangga.
"Semuanya tergantung pada Khadijah nak Anam. Ayah serahkan semuanya pada Khadijah. Bagaimana Khadijah?"
Sontak semuanya menatap serius ke arah Khadijah yang masih tersenyum sambil tertunduk. Dengan keyakinan penuh, akhirnya Khadijah mengangguk sebagai jawabannya.
__ADS_1
Melihat itu, ayah langsung memberi selamat pada Anam dan memeluk Anam. Sama halnya dengan bunda dan Aisyah yang juga langsung memeluk Khadijah dan tak lupa memberi selamat pada Khadijah.
Akhirnya acara lamaran ini bisa berjalan dengan lancar. Selanjutnya, bagaimana kelancaran pernikahannya, tergantung pada usaha bersama dan keridhaan Allah.