
Aisyah membuka matanya dan menatap ke sekeliling ruangan. Dari baunya saja, dapat Aisyah tebak bahwa kini dia ada di rumah sakit. Aisyah terkejut karena satu hal. Sudah berapa lama dia berada di sini? Aisyah terduduk dan mengedarkan pandangannya. Betapa terkejutnya Aisyah melihat bahwa sekarang sudah jam 8 malam. Berapa lama dia pingsan?
CKLEK!
"Kamu udah sadar? Syukur alhamdulillah. Kali ini penyakit kamu sudah sampai tahap ini. Selanjutnya akan lebih menyakitkan lagi. Obat-obatan aja gak akan menjamin agar kamu bisa sembuh, Aisyah."
Aisyah menunduk karena tak berani menatap Rizky,"operasi juga gak menjamin aku akan selamat, kan?"balas Aisyah.
Rizky menghela nafas berat,"Kita kasih tau Arshad, ya?"sudah kesekian kalinya ini ia ucapkan. Tak bosan rasanya dia membujuk Aisyah yang keras kepala ini dan jawaban Aisyah lagi-lagi hanya gelengan.
"Nggak bisa, kak. Aku gak bisa."ucap Aisyah memelas.
"Biar aku yang bilang kalau kamu gak bisa. Ini gak bisa dianggap remeh Aisyah. Arshad suami kamu dan dia berhak untuk tau."Rizky tak habis pikir dengan Aisyah yang begitu keras kepala ini.
"Jangan, please! "
FLASHBACK!!!
Saat pengajian di rumah ummi di mulai, Aisyah merasa sangat pusing. Entah kenapa kepalanya terasa ingin pecah. Ia terus memijit dahi dan pelipisnya untuk mengurangi rasa sakitnya, namun rasanya percuma saja.
Aisyah yang sudah tak tahan memutuskan untuk ke belakang dan langsung masuk ke kamar mandi. Betapa terkejutnya dia saat melihat darah menetes keluar dari hidungnya.
"Astaghfirullah."ucapnya dan langsung mencuci wajah dan hidungnya. Apa dia begitu lelah sampai mimisan begitu?
Saat Aisyah keluar, dia cukup terkejut mendapati Arshad berada di luar kamar mandi dengan wajah terlihat cemas.
"Kamu baik-baik aja?"
Aisyah tersenyum,"cuma pusing dikit aja kok. Mungkin karena capek." Begitulah yang Aisyah katakan saat itu. Aisyah merasa mungkin memang karena dia kelelahan.
Namun ternyata anggapannya itu salah. Saat di kampus atau di rumah, Aisyah menjadi sering mimisan dan merasa sakit di bagian kepalanya.
Saat di malam mereka juga berada di rumah ummi. Arshad tak melihat keberadaan Aisyah sehingga memutuskan untuk mencari Aisyah. Arshad pun mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil nama Aisyah. Tetap tak ada jawaban. Saat ia ingin membuka pintu, ternyata pintunya terkunci.
"Aisyah, kamu di dalam kan? Ummi sama abi udah nunggu untuk makan bareng. Yuk, ke depan! Aisyah, kamu dengar aku kan?" Saat itu Aisyah terus menatap pantulan dirinya, lebih tepatnya menatap darah yang terus mengalir dari hidungnya.
"Aisyah!"panggil Arshad yang sudah mulai khawatir, bahkan ketukan tadi sudah berubah menjadi gedoran kencang. Mendengar gedoran itu, Aisyah pun cepat-cepat membersihkan hidungnya.
"Aisyah, aku mohon jawab! Jangan buat aku panik! Aisyah! Aisyah, buka pintunya!" Kekhawatiran Arshad semakin menjadi. Dia berusaha membuka pintu dan terus menggedornya. Namun saat kekhawatirannya memuncak dan dia hendak mendobrak pintu, pintu pun terbuka dan memperlihatkan Aisyah yang menatapnya.
"Kamu ngapain sih,mas? Aku ke toilet aja gak tenang loh."ucap Aisyah.
Arshad langsung menghela nafas lega karena ternyata Aisyah baik-baik saja. Dia memegang bahu Aisyah dan melihatnya dengan seksama, "Kamu gak apa-apa,kan?"
Aisyah mengangguk. Tak mungkin dia mengatakan apa yang terjadi padanya akhir-akhir ini pada Arshad. Lagi pula itu hanya akan membuat Arshad khawatir.
__ADS_1
Hingga sampai pada suatu pagi saat Arshad sedang mandi, Aisyah buru-buru keluar dari rumah.
"Bi, Aisyah di mana? Kok gak kelihatan?"tanya Arshad saat hanya menemukan bi Nah di ruang makan.
"Mbak Aisyah sudah pergi dari setengah jam yang lalu,mas. Katanya dia sudah siapkan sarapan untuk mas Arshad. Jangan lupa makan, pesannya!"jelas bi Nah.
Saat itu Aisyah menghabiskan waktu dan duduk di taman kampus dengan tidak tenang. Rasa sakit di kepalanya kembali datang saat dia melaksanakan shalat subuh tadi. Ketakutan menyelimuti Aisyah. Dia takut terjadi sesuatu pada dirinya. Dia juga takut jika rasa sakit itu datang saat dia berada bersama Arshad dan malah membuat Arshad khawatir.
Setelah telphonan dengan Anam, Aisyah langsung menghubungi Rizky.
"Bisa ketemu gak sore ini? Nanti aku share loc..."
Sore itulah Arshad melihat Aisyah dengan Rizky di restoran. Rizky menenangkan Aisyah bahwa apa yang ditakutkannya tidak akan terjadi. Dan meminta Aisyah untuk mencoba membicarakan masalah ini dengan Arshad.
"Kamu bicarakan dulu ini dengan Arshad, syah."
"Sebelum semuanya pasti, aku gak bisa bilang apa-apa sama mas Arshad, kak."
"Besok kamu datang ke rumah sakit. Kita periksa kesehatan kamu."Aisyah mengangguk.
Besoknya selesai pemeriksaan, betapa terkejutnya Aisyah jika dia menderita glioblastoma. Salah satu penyakit kanker yang menyerang saraf kepalanya. Penyakit yang sulit di sembuhkan.
"Kita lakukan operasi ya, syah?"saran Rizky ragu-ragu.
"Potensi keberhasilannya berapa persen, kak?"tanya Aisyah yang lebih tak yakin.
Aisyah tersenyum kecut,"kecil ya, kak?"Rizky tetap diam.
"Gak perlu operasi, kak. Kasih aku obat aja. Seenggaknya bisa ngurangin rasa sakitnya aja cukup kok. Aku juga gak mau ngambil resiko. Kalau aku di operasi dan gak berhasil, aku malah akan kehilangan momen berharga bersama suamiku. Biar aku tahan aja sakit ini sampai akhir."
"Kita beritahu Arshad dulu ya, syah?"
Aisyah menggeleng cepat,"nggak kak. Aku gak mau bikin mas Arshad khawatir. Aku gak mau jadi beban buat mas Arshad."
Aisyah dan Rizky sama-sama diam. Keduanya kalut dengan pikiran masing-masing. Seakan-akan di sekeliling mereka tak ada apa pun.
Rizky pun memberanikan diri menatap Aisyah,"Kamu yakin?"
Aisyah hanya mengangguk.
"Tapi aku_"
"Please,kak. Itu keputusan yang aku rasa benar-benar tepat."
Rizky mengangguk paham,"habis ini mau ke mana?"
__ADS_1
"Mau antar makan siang untuk mas Arshad."
FLASHBACK END!!!
Setelah mengingat kejadian panjang itu, Aisyah tersentak dan kembali melihat jam.
"Udah malam kak, aku pulang dulu."Aisyah dengan cepat melepas infus ditangannya yang membuat Aisyah sedikit meringis.
"Mendingan kamu dirawat aja dulu, syah! Kamu masih lemah.""titah Rizky yang benar-benar khawatir pada Aisyah yang keras kepalanya tak dapat diobati lagi.
"Gak bisa, kak. Aku harus pulang. Assalamu'alaikum!"Aisyah oun bergegas meninggalkan Rizky.
"Ai_Aisyah! Aisyah tunggu! Biar aku antar!"Rizky mengejar Aisyah namun saat sampai di depan rumah sakit, Aisyah sudah lebih dulu naik taksi.
____________
Arshad kini masih setia berdiri di dekat jendela ruang kerjanya yang sekarang juga menjadi ruang belajar Aisyah itu, sambil mengamati gerbang. Sudah sekitar satu jam dia berdiri di sana, namun Aisyah masih belum juga pulang. Entah kemana istrinya itu.
Namun tak berselang waktu lama, akhirnya sebuah taksi berhenti di depan rumahnya. Dan ternyata itu Aisyah. Arshad pun bergegas bersembunyi di balik tembok ruangan itu dan membiarkan pintunya sedikit terbuka. Agar dia bisa melihat Aisyah yang memasuki rumah.
"Eh, mbak Aisyah? Ya ampun, bi Nah khawatir sekali karena mbak Aisyah pulang kemalaman. Mbak Aisyah gak apa-apa?"tanya bi Nah.
Aisyah tersenyum,"gak apa-apa kok, bi Nah. Tadi memang banyak banget tugas di kampus terus pulangnya mampir dulu ke rumah teman. Oh iya, mas Arshad udah pulang belum, bi?"
"Mas Arshad lagi di ruang kerja, mbak."
Aisyah menatap ke arah ruang kerja sekilas lalu kembali menatap bi Nah.
"Udah makan belum mas Arshad-nya?"
"Sudah, mbak. Ini bi Nah mau bikinkan mas Arshad minum."
"Ohh, kalau gitu sekalian Aisyah minta tolong buatkan jus jeruk ya, bi. Tolong antar ke ruang kerja juga."
"Loh, kenapa gak istirahat dulu aja, mbak?"
"Nanti aja, bi. Ada materi yang mau aku kirim ke teman malam ini. Penting."
"Ya sudah, bi Nah bikinkan dulu ya, non."sepeninggal bi Nah ke dapur, Aisyah pun pergi ke ruang kerja. Arshad yang menyadari itu, jadi gelagapan sendiri dan buru-buru ke meja kerja sambil pura-pura sibuk dengan laptop dan berkas-berkasnya.
Aisyah masuk dan duduk di mejanya. Dia tersenyum melihat Arshad yang begitu serius dengan laptopnya.
'Kasihan kamu, mas. Gak habis-habisnya kerja. Semangat!' batin Aisyah lalu dia beralih membuka laptopnya. Namun pergerakannya terhenti saat melihat amplop putih berisikan surat pemeriksaan dari rumah sakit yang Rizky berikan padanya saat di acara resepsi pernikahan Anam dan Khadijah.
Aisyah kaget karena ternyata surat itu malah tertera jelas di atas mejanya. Aisyah kembali menatap Arshad dan merasa tenang karena sepertinya Arshad tak melihat surat itu. Dengan gerakan cepat Aisyah menutup surat itu dengan tumpukan buku di mejanya.
__ADS_1
Tingkah aneh Aisyah itu disadari oleh Arshad, namun dia biarkan saja karena mungkin bukan apa-apa. Lagi pula yang penting sekarang Aisyah sudah pulang dengan selamat dan itu sudah cukup baginya.