Dia (Istri Yang Tak Dianggap)

Dia (Istri Yang Tak Dianggap)
Sikap aneh Arshad 2


__ADS_3

Arshad sudah selesai mandi, namun tak menemukan Aisyah di kamar. Dia pun turun ke ruang tengah. Ternyata Aisyah sedang menonton sebuah acara di tv. Arshad mendekat dan tiba-tiba berbaring di sofa dengan pangkuan Aisyah sebagai bantal.


Aisyah benar-benar terkejut. Kenapa Arshad sangat senang membuatnya terkejut?


"Bikin kaget aja. Kamu ngapain di sini? Istirahat di kamar aja sana!"Arshad menggeleng dengan mata tertutup rapat.


"Aku temani. "sontak mata Arshad terbuka. Dapat terlihat bahwa dia sangat antusias dari matanya, namun sedetik kemudian dia kembali menggeleng.


"Kenapa? Kamu harus banyak istirahat,mas."


"Lebih bagus di sini. Kalau di kamar aku takut_"Arshad duduk dan tak melanjutkan perkataannya.


Aisyah terheran,"takut? takut apa?"


Senyum jail Arshad terbit dan perlahan mendekat ke telinga Aisyah yang tertutupi hijab,"khilaf."


Mata Aisyah membulat sempurna. Ia bukan wanita bodoh dan lugu yang tak tau maksud Arshad. Tiba-tiba saja air ludahnya terasa sulit untuk ditelan.


Arshad tersenyum tertahan,"buat aku sih gak masalah. Apa lagi kalau kamunya juga..."sontak Aisyah menutup mulut Arshad dengan tangannya.


"Puft_"suara tawa tertahan membuat Aisyah dan Arshad langsung beralih ke sumber suara.


"Bi Nah_"ucap Aisyah. Kenapa lagi-lagi harus bi Nah yang menyaksikan semua ini? Aisyah langsung menatap Arshad yang mulutnya masih Aisyah tutup. Walau tidak bisa ia lihat, dia yakin bahwa kini Arshad sedang tersenyum puas.


Aisyah melepaskan tangannya dari mulut Arshad dan menutupi wajahnya yang sudah sangat memerah.


"Aisy_"belum sempat Arshad menyelesaikan perkataannya, Aisyah sudah lari ke lantai atas. Tepatnya ke kamar.

__ADS_1


Arshad dan bi Nah terkekeh,"lucu banget ya, bi. Istri saya."ucap Arshad.


"Iya,mas. Lucu."bi Nah dan Arshad kembali terkekeh.


"Saya susul dulu,bi."bi Nah hanya mengangguk.


Di kamar Aisyah berdiri di depan lemari. Dia masih bingung,"sebenarnya mas Arshad kenapa,sih? Kalau gini terus bisa-bisa aku jantungan."


Namun setelah terdiam beberapa saat, dia tersenyum dengan tangan terkepal di dada.


"Tapi kalau gini terus, aku kan jadi tambah suka..."Aisyah jingkrak-jingkrak kesenangan di depan lemari sambil berputar-putar tak karuan.


CKLEK!


Suara pintu. Aisyah langsung berhenti dan membuka lemari, pura-pura mencari sesuatu. Dia yakin bahwa yang datang adalah Arshad. Untung saja tadi dia menutup pintu, jadi Arshad tak melihat kelakuannya barusan.


"Kamu kemana aja seminggu ini?"tanya Arshad.


Aisyah berbalik dan bersandar di lemari,"pulang ke kampung aku. Abi bilang,kan?"


Arshad mengangguk,"bilang, tapi gak kasih tau alamat kampung kamu di mana."


"Emangnya kalau dikasih tau, kamu mau nyusul?"tanya Aisyah dengan irama bercanda.


"Ya iyalah."jawaban Arshad kembali membuat Aisyah tertegun. Aisyah menatap tepat di manik mata Arshad untuk mencari kebohongan di sana, namun tak ia temukan. Apakah Arshad serius?


Aisyah melempar tatapannya ke arah lain untuk menghindari tatapan Arshad yang benar-benar serius.

__ADS_1


"Kamu gak kasih kabar, gak balas chat dari aku apa lagi baca. Kamu seperti menghilang dan gak ada jejak sama sekali. Kamar berantakan, aku yang kurusan bahkan sampai sakit gini kamu pikir karena apa? ini semua karena aku terlalu sibuk mikirin kamu. Sedikit aja kamar ini dibersihin, aku ngerasa kamu semakin menghilang dan gak ada jejak kamu lagi di sini. Jadi aku putusin untuk gak pernah bersihin kamar."Aisyah benar-benar terdiam dan tertunduk, tak tau mau berkata apa lagi.


"Aku berusaha cari tau di mana alamat kamu. Bahkan mohon-mohon sama ummi, tapi hasilnya nihil. Kamu marah banget, ya? Aku rindu."sontak Aisyah menatap Arshad. Sebenarnya dia agak heran. Kenapa yang ia dengar dari Arshad berbeda dengan yang dia dengar dari ummi? Ada apa ini?


"Jawab aku, Aisyah!"


"Aku gak marah sama kamu,mas. Aku memang sempat emosi,tapi gak lama. Aku gak kasih kabar, justru karena aku ngerasa kamu yang mungkin masih marah karena kata-kata aku. Aku selalu kasih kabar ke ummi kok dan minta ummi kabarin ke kamu."jelas Aisyah.


"Kenapa gak langsung kabarin aku aja?"


"Hp aku hilang, nomor kamu aku lupa. Tapi aku udah minta sama ummi kok, ummi aja yang gak ngasih. Terus akhirnya aku dapat nomor kamu dari abi, tapi malah kamunya yang gak angkat telphon aku."


Arshad langsung memeriksa ponselnya.


"Gak ada telphon dari kamu."


"Nomor aku kan udah ganti,mas. Hp aku kan hilang."


Oh benar. Arshad lupa itu. Eh, jadi selama ini dia mengirim pesan, itu semua percuma? Pantas saja tak ada balasan. Dia juga ingat bahwa kemarin ada nomor tak dikenal terus menghubunginya, apakah itu nomor Aisyah?


Arshad kembali menghubungi nomor itu dan benar saja, ponsel Aisyah yang berada di atas nakas dekatnya langsung berdering. Namun bukan itu yang membuatnya tertarik, tapi nama kontaknya di ponsel Aisyah-lah yang menarik perhatiannya.


Arshad tersenyum dan menatap Aisyah yang sudah terpaku ditempat. Aisyah menatap Arshad dengan ragu dan mendapati Arshad tersenyum jail.


"Suami."ucap Arshad yang menyebutkan nama kontaknya di ponsel Aisyah.


Dengan gerakan cepat dan tanpa berpikir panjang, Aisyah langsung mengambil ponselnya dan kabur dari hadapan Arshad. Hari ini dia terus saja kabur. Benar-benar sial. Kenapa juga dia membuat hal itu? Walaupun jika dipikir-pikir itu bukanlah hal yang aneh, tapi tetap saja dia merasa malu.

__ADS_1


__ADS_2