
BRUK BRUK BRUK
Pukulan Rio di stir mobil terdengar begitu keras. Amarah dan kesabarannya benar-benar sedang diuji saat ini. Rio menghempaskan tubuhnya ke sandaran dan mengusap kasar wajahnya. Pandangannya beralih ke arah rumah yang halamannya kini menjadi tempat parkir mobilnya.
Kejadian beberapa waktu yang lalu membuatnya ingin sekali lenyap dari dunia ini.
"Kamu terlambat. Kontrak sudah ditandatangani. Tidak ada penolakan. Jadi bersikap baiklah pada Alexa."
Kata-kata pria yang tidak ingin dia sebut ayah itu terngiang-ngiang di kepalanya. Dia dipaksa datang ke rumah orang tuanya dan mendapatkan kabar bahwa perjodohan itu tetap dilaksanakan. Rio ingin sekali membatalkan, tapi jika itu terjadi, maka kerugian perusahaan pria tua itu akan sangat besar bahkan akan menyebabkan kebangkrutan. Lalu bagaimana dengan mamanya? tinggal bersamanya? mana mau mereka semua. Apalagi istri kedua pria tua itu pasti juga akan ikut tinggal bersama karena ada kemungkinan besar rumah istri kedua itu akan di sita.
Rio menggelengkan kepalanya. Lalu Rio mulai meninggalkan pekarangan rumah itu dan pergi ke tempat Laras berada saat ini.
_______________
Rio kini menunggu Laras dengan harap harap cemas sambil mondar mandir di depan butik milik Laras.
Laras menghampiri Rio dan menepuk pundak Rio,"kenapa di sini? kenapa gak ke dalam aja?"
Rio menatap Laras dengan lekat. Helaan nafas panjang terdengar begitu jelas di telinga Laras. Dapat Laras lihat kegugupan Rio. Rio juga terlihat serius,"Rio? lo kenapa?"tanya Laras.
"Ras, gua gak tau mau mulai dari mana untuk bilang ini ke lo. Tiba-tiba gua ngerasa kalau ini penting buat gua bilang."ucap Rio.
"Gua mikir, sebelumnya mungkin ini gak penting buat lo tau. Tapi sekarang gua udah yakin Laras." Detak jantung Laras berdetak begitu cepat mendengar penuturan Rio yang sangat serius.
"Gua rasa kalau gua gak bilang ini sama lo, gua bakal nyesel seumur hidup. Gua pernah dengar, lebih baik gagal setelah mencoba, dari pada nyesel karena gua gak pernah nyoba sama sekali. Gua mau bilang ini cuma untuk nuntasin beban di hati aja. Gak peduli gimana tanggapan lo. Yang jelas gua mau bilang..."Rio menarik nafas panjang lagi.
"Bilang apa, yo?"tanya Laras lembut dengan hati yang sudah ketar ketir.
"Gua mau bilang kalau, kalau gua... suka..."
"Suka? siapa?"tanya Laras lagi yang kini nafasnya sudah memburu.
"Gua suka kiko. Kiko! enak tau..."ucap Rio tengil dengan tawanya yang membahana sambil memegangi perutnya yang mulai terasa sakit. Dia tak lihat bahwa Laras kini hanya menatapnya dengan datar. Raut wajahnya pun tak terbaca.
"Kusut amat tuh muka kayak gak pernah disetrika. Hahaha... hadehhhh... perut gua sakit."ucap Rio.
Laras dengan amarah tertahan langsung meninggalkan Rio dan kembali masuk ke dalam butiknya.
"Loh? Ras? Laras! kok ninggalin? Laras, lo marah?! ngambek?!"teriak Rio, namun setelah itu tatapan Rio berubah. Rio memejamkan matanya seperti menahan sesuatu.
__ADS_1
"Bego lo Rio! hampir aja ngomong 'itu' . Itu cuma akan buat beban di hati Laras. Gak mungkin kan, bilang sesuatu yang sampai kapan pun akan tetap percuma. Bodo amat sama penyesalan. Gua bakal lebih nyesel kalau harus buat Laras kacau."gumam Rio lalu kembali mengusap wajahnya.
_________________
Arshad dan Aisyah kini bersama dengan Rizky di ruang rawat. Posisinya Aisyah yang duduk bersandar di kepala ranjang atau brankar, Arshad berdiri di samping Aisyah, dan Rizky yang berdiri di depan mereka. Kedua pasutri itu saling lirik lalu kembali menatap bingung ke arah Rizky yang masih sibuk menghela nafas panjang beberapa kali. Aisyah menyipitkan matanya menatap Rizky. Ini orang kenapa lagi?, pikirnya.
BRAK
Arshad dan Rizky terlonjak kaget.
"Sayang, kamu ngagetin deh. Nanti aku jantungan tanggung jawab loh!"sentak Arshad sambil mendorong pelan bahu Aisyah. Si pelaku yang tadi menggebrak nakas di sampingnya hanya cengengesan menatap Arshad yang mengurut dada demi menetralkan detak jantung, yang kali ini bukan karena cinta.
Sedangkan Rizky menatap kesal ke arah Aisyah sambil menepuk dada bagian kirinya.
"Kurang akhlak!"sarkas Rizky.
"Ya lagian datang datang cuma diam aja. Ngomong ngapa. Ada apa kak Rizky eh, dokter Rizky?"tanya Aisyah.
Rizky berdecak dan sekali lagi menghela nafas panjang,"gini, kan kemarin kamu udah kemo kan ya?"Aisyah mengangguk. Benar, kemarin Aisyah sudah melakukan kemoterapi. Dan kini sepertinya Aisyah tau apa yang akan dibahas Rizky.
"Tentang operasi?"tanya Aisyah.
"Loh, kok tau aku mau omongin itu? Kamu nge-stalking aku, ya? Ar, bini lo_"
Rizky berdecak lalu mulai memasang wajah serius,"ok, gak sampai dua minggu lagi kita akan ke Singapura kamu tau, kan?"tanya Rizky pada Aisyah.
Aisyah mengangguk.
"Kamu benar-benar sudah yakin?"tanya Rizky memastikan.
Arshad menatap Aisyah lekat dan melihat Aisyah mengangguk pasti tanpa ragu-ragu.
"Udah? cuma itu aja?"tanya Aisyah, Rizky mengangguk.
"Terus ngapain masih di sini?"tanya Arshad.
"Lo kenapa sih? Gua salah mulu kalau ketemu Aisyah."ucap Rizky.
"Lo sadar gak sih udah ganggu?"tanya Arshad.
__ADS_1
"Alah kayak pengantin baru aja lo berdua."balas Rizky.
"Lo rusuh, ya!"ucap Arshad muak.
"Itu jidat lo kenapa?"tanya Rizky saat melihat kening Arshad diplester.
Arshad pun sontak mengelus jidatnya,"ke pentok meja."
"Ohh kasihannya..."ujar Rizky yang malah terdengar seperti ejekan.
Arshad geram,"keluar gak lo!"tunjuk Arshad ke arah pintu.
"Iya iya gua keluar."Rizky mulai berjalan ke pintu lalu berbalik saat tepat berada di pintu.
"Aisyah, ini aku keluar loh."Aisyah mengangguk lalu melambaikan tangannya tanda setuju. Padahal Rizky ingin ditahan. Peka dikit dong! Akhirnya Rizky pun benar-benar pergi menghilang di balik pintu.
"Kamu kenapa bisa kenal sama orang aneh, rusuh gitu sih?"tanya Arshad yang sudah duduk di samping Aisyah.
Aisyah hanya terkekeh dan menggidikkan bahunya,"kamu juga kenapa bisa kenal sama orang aneh, rusuh seperti mas Rio? Mas Rio juga sifatnya hampir sama kayak kak Rizky loh."
"Kok bawa-bawa Rio?"Arshad mengerutkan keningnya merasa ada sesuatu yang salah.
"Tunggu tunggu tunggu, kamu panggil Rio apa tadi?"tanya Arshad.
"Mas Rio..."
Seketika raut wajah Arshad berubah menjadi datar. Dia baru sadar ternyata Aisyah selama ini memanggil Rio dengan panggilan yang sama untuknya.
"Ubah."ucap Arshad dingin.
"Hah?"Aisyah mengerjap-ngerjapkan matanya tak mengerti. Bukankah panggilan yang dia berikan pada Rio adalah panggilan yang cocok? Bukankah itu lebih sopan mengingat umur Rio yang berada diatasnya dan lagipula Rio seumuran dengan Arshad. Jadi di mana letak masalahnya?
"Ya kan lebih sopan kalau manggil gitu. Masa mentang-mentang aku istri kamu, aku harus panggil Rio juga?"tanya Aisyah.
"Nggak begitu juga sayang. Maksud aku jangan pake 'mas', yang lain aja. Kayak 'bang' atau 'kak'. Kamu aja panggil Anam dan Rizky pake 'kak', Rio malah kamu panggil mas. Nggak bisa, nggak bisa."protes Arshad sambil menggelengkan kepalanya.
"Kamu mah, panggilan aja diribetin."
"Ya udah, aku ngambek."ucap Arshad dengan wajah ditekuk ke arah lain dan tangan yang bersedekap di dada.
__ADS_1
Aisyah mendengus geli dan geleng-geleng heran,"kayak bocah..."gumamnya membuat Arshad meliriknya sinis lalu kembali buang muka.