Dia (Istri Yang Tak Dianggap)

Dia (Istri Yang Tak Dianggap)
Pelukan Hangat


__ADS_3

Arshad kini duduk di tepi ranjang Aisyah dengan kepala tertunduk. Semuanya terasa seperti mimpi buruk baginya. Perlahan Arshad menatap Aisyah yang dia tau sejak tadi tak berhenti menatapnya.


"Dari tadi aku telphonin kamu, mas. Kenapa gak diangkat?"Arshad tetap diam dan kembali menunduk. Dia tak bisa mengeluarkan suaranya saat ini. Setiap kali ingin buka suara, air matanya seperti memaksa keluar. Cengeng? dia sadar itu.


Aisyah menghela nafas pelan dan tersenyum kecil,"kenapa baru sekarang?"Arshad mengangkat kepalanya menatap Aisyah dengan tatapan bertanya, tanda dia tak mengerti dengan pertanyaan Aisyah.


"Kenapa kamu baru sadar sekarang? Kenapa kamu baru tau sekarang? Kenapa kamu malah ikutan menghindar dan diemin aku? Kenapa kamu gak paksa tanya semua yang mengganjal di hati kamu? Kenapa kamu gak paksa aku jawab semua pertanyaan kamu?"


Arshad membuka mulutnya tak percaya. Aisyah menyalahkan dirinya? Kenapa malah dirinya yang disalahkan?


"Jadi semuanya salah aku? Memangnya kamu pernah tanya aku kenapa sampai menghindar dari kamu? Kamu pernah gak mikirin perasaan aku yang harus bersabar dengan sikap dingin dan cuek kamu? Selama ini aku merasa seakan-akan kamu balas dendam atas semua perlakuan aku. Sekarang kamu tanya kenapa? Kamu yang gak pernah mau jujur sama aku. Kamu yang menghindar duluan. Terus semua ini salah aku? Kamu yang gak kasih tau aku ada apa sebenarnya sama kamu. Semuanya salah aku?"


Aisyah tersenyum lalu tangannya terangkat mengusap lembut pipi Arshad,"akhirnya kamu ngomong juga. Aku gak suka lihat kamu diam, mas."


Arshad mengerti. Ternyata Aisyah ingin membuatnya bicara. Tapi memang seharusnya dia gak salah kan? Iya, kan?


"Sekarang aku tanya sama kamu. Kenapa kamu diam aja selama ini? Kenapa gak cerita? Sejak kapan?"pertanyaan yang dari tadi sangat ingin Arshad katakan, akhirnya terucap juga.


"Aku gak tau tepatnya kapan. Tapi aku udah mulai ngerasain gejala aneh sejak kita di pengajian waktu itu."


"Yang di rumah ummi?"Aisyah mengangguk.


"Yang waktu itu kamu kelihatan gak enak badan?"lagi-lagi Aisyah mengangguk.


"Sejak saat itu aku sering ngerasa pusing dan mimisan. Kak Rizky adalah dokter aku selama ini. Dia juga sering ingetin aku untuk kasih tau semuanya sama kamu, tapi aku gak bisa. Aku gak mau kamu khawatir. Maaf, mas."


"Sekarang udah tau salah?"Arsyad menatap Aisyah dengan tajam dan membuat Aisyah mengangguk polos.


"Mau diulangi lagi?"


Aisyah menggeleng,"enggak, mas."


"Udah kapok?"


"Kapok."


"Kalau diulangi lagi?"


"Ceraikan aku!"ceplos Aisyah.


"Heh!"sentak Arshad menepuk pelan bibir Aisyah membuat Aisyah tertawa.


"Kamu tau dari mana?"


"Rio telphon aku. Dia cerita tentang kamu yang ngundang Laras. Laras sempat cerita sama Rio tentang kamu mimisan. Terus Rio bilang mungkin aja kamu sakit, setelah itu aku cari sesuatu yang mungkin bisa jadi petunjuk. Akhirnya aku menemukan surat dari rumah sakit yang kamu selipkan di antara buku-buku kamu."


Benar juga. Aisyah ingat dia memang menyelipkan surat itu di sana.

__ADS_1


"Ternyata lebih peka mas Rio dari pada kamu, ya..."sindir Aisyah berniat menggoda Arshad.


Arshad tersenyum pahit,"aku memang bukan suami yang baik ya, kan? Istri aku sendiri sakit aja aku gak tau. Aku yang kurang perhatian sama kamu. Aku yang kurang peka sama situasi. Kamu gak bakalan ninggalin aku dan beralih ke Rio kan, syah?"


"Emangnya mau ditinggalin?"dengan cepat Arshad menggeleng.


"Ya udah jangan ngomong gitu!"


"Kamu juga kenapa tiba-tiba malah comblang-comblangin aku sama Laras?"


Aisyah meneguk salivanya yang terasa sulit. Kenapa Arshad harus menanyakan hal itu?


"Kenapa diam?"


"Ya kan salah kamu duluan."


Arshad menaikan sebelah alisnya heran.


"Kok aku? Kenapa aku?"


"Kamu gak ingat? kamu pernah bilang kalau kamu akan menolak kehadiran cinta lain demi mempertahankan satu cinta. Aku pikir kamu nolak aku demi mempertahankan mbak Laras."


"Loh kok? Ih, aku malah itu nyindir kamu, loh!"


"Kok aku?"


"Aku juga sempat mikir kalau kamu selingkuh sama Rizky."


"Apa hah hah? Lagian kamu sering ketemu dia. Mana aku tau kalau ternyata dia dokter kamu. Jadi aku sindir aja sekalian. Pertahankan aku, tolak Rizky. Itu maksudnya."


Ternyata Aisyah salah paham.


"Maaf. Aku gak tau kalau ternyata selama ini kamu banyak pikiran karena aku."


"Selagi yang aku pikirkan itu kamu, gak masalah."


Karena malu dengan perkataan Arshad, Aisyah pun memukul bibir Arshad membuat si empunya mendesis.


Aisyah pun tersentak dan terkejut melihat bibir Arshad yang ternyata terluka. Kenapa dirinya baru menyadari itu?


"Ini bibir kamu kenapa bisa begini, mas?"


"Udah gak apa-apa."


Aisyah menyentuh pelan bibir Arshad dan terkadang meringis sendiri seakan-akan dapat merasakan sakitnya. Arshad menahan senyum melihat wajah khawatir Aisyah yang kini berada tepat di depannya. Melihat wajah Aisyah sedekat ini entah kenapa membuatnya merasakan sesuatu yang aneh yang sebelumnya belum pernah dia rasakan.


"Aku obatin ya, mas?"

__ADS_1


"Gak usah..."


"Ini kelihatannya sakit banget loh, mas."


"Bukan apa-apa kalau cuma kayak gini."


"Nanti kalau infeksi?"


"Gak akan. Tenang aja."


"Serius?"


"Dua rius."


"Nggak tiga rius?"


"Lima rius deh buat kamu."


Perdebatan itu masih saja berlanjut malah membuat seseorang yang dari tadi berada di balik pintu yang sedikit terbuka menjadi jengah,"ribet amat tuh pasutri. Rius aja diributin."


"Dokter Rizky? Jadi masuk?"tanya suster yang datang bersama Rizky.


"Nggak sekarang. Nanti kamu antarkan makan malam untuk pasien, ya..."


"Baik, dok."


Setelahnya Rizky segera pergi sambil mengurut dahi. Biar kan sepasang suami istri itu menghabiskan waktu dulu.


Sedangkan keadaan di dalam sana sekarang memperlihatkan Arshad dan Aisyah yang sudah berbaring berbagi ranjang dengan keadaan berpelukan.


"Kamu gak kesempitan?"tanya Arshad sambil mengusap kepala Aisyah yang masih tertutup hijab.


"Enggak mas."jawab Aisyah dan lebih mengeratkan pelukannya pada Arshad.


"Nyaman?"


Aisyah mengangguk dan semakin mencari posisi nyaman untuk kepalanya di dada Arshad sehingga membuat Arshad terkekeh dan mengecup puncak kepala Aisyah.


"Ini untuk pertama kalinya kamu kayak gini, mas. Aku senang banget."


"Kamu mau sering-sering di peluk juga gak apa-apa. Aku lebih senang."


"Serius?"Aisyah mendongak mencoba melihat wajah Arshad.


"Iya... Apa sih yang nggak buat kamu? Jangankan pelukan, nafas pagi sehabis bangun tidur aja bakalan aku bungkusin buat kamu."


BUGH

__ADS_1


"Mas, jorok ih!"


Aisyah memukul dada Arshad yang kini malah tertawa menikmati wajah kesal sang istri. Tak apa kesal. Yang penting istrinya ini tidak cuek dan menghindar lagi darinya. Kejadian ini membuatnya menyadari bahwa Aisyah adalah hal penting dalam hidupnya dan akan menjadi prioritas utamanya mulai sekarang. Arshad akan mengerahkan segala cara agar tetap bisa membuat istrinya ini tertawa. Arshad pastikan Aisyah akan sembuh. INSYA ALLAH!!!


__ADS_2