
Melihat Arshad yang terdiam, benar-benar membuat Fahri penasaran.
"Ada apa? Kamu kenal dengan Aisyah?"tanya Fahri.
Arshad pun langsung mengeluarkan ponselnya dan mencari foto Aisyah lalu memperlihatkan foto tersebut pada Fahri.
"Apakah Aisyah yang kamu maksud adalah dia?"tanya Arshad.
Fahri yang melihat foto itu terkejut dan langsung menatap Arshad yang berekspresi penuh harap.
"Benar. Ini Aisyah yang saya maksud."
Arshad menghembuskan nafas dan memandang foto tersebut.
"Aisyah adalah... istri saya. Istri yang sangat sempurna tapi saya perlakukan dengan salah."
Fahri bisa melihat raut penyesalan di wajah Arshad. Entah apa yang terjadi antara Arshad dan Aisyah, tapi dia bisa merasakan seberapa besar cinta Arshad pada Aisyah.
"Kamu mencintai Aisyah?"
Arshad mengangguk, "boleh saya tau banyak tentang Aisyah? Ceritakan bagaimana pertemuan kalian dengan Aisyah."
"Pertemuan kami dengan Aisyah terjadi saat kami bertengkar di sebuah mall. Tepatnya dua tahun yang lalu. Saat itu saya dibutakan oleh amarah. Saya mengeluarkan kata-kata yang pasti sangat menyakiti perasaan Laila, istri saya. Saya tidak peduli sekitar bahkan tak peduli pada orang-orang yang mungkin sudah menonton pertengkaran kami."
Ingatan Fahri kembali pada kejadian dua tahun lalu. Tepat saat dia dan istrinya bertemu dengan Aisyah. Aisyah yang saat itu adalah salah satu pengunjung tak sengaja lewat dan mendengar teriakan Fahri seperti sedang memaki-maki Laila.
Aisyah mengerutkan keningnya dan terus menatap Fahri yang ia tau sedang dilingkupi oleh amarah. Laila yang berada di hadapan Fahri terus menangis dan sesekali meminta Fahri untuk mendengarkan dirinya. Namun yang Fahri lakukan adalah terus memojokkan Laila dan terus memotong ucapan Laila.
Aisyah pun melihat ke sekeliling. Para pengunjung banyak yang menyaksikan pertengkaran itu. Mereka terlihat seperti menikmati pertengkaran itu seakan-akan seperti melihat pertunjukan bak di sirkus. Aisyah menghela nafas lalu memalingkan wajahnya sekilas ke samping lalu kembali menatap Fahri dan juga Laila. Ia berpikir, haruskah dirinya turun tangan? Tapi setelah berpikir sejenak, Aisyah langsung berjalan ke arah mereka dengan senyum manis di wajahnya.
"Permisi..."ucap Aisyah membuat Fahri dan Laila menoleh. Fahri yang sedang menahan emosinya menatap Aisyah dengan pandangan tak suka. Aisyah bisa merasakan hal itu. Mungkin dia merasa tersinggung karena telah diganggu.
"Kenapa?"tanya Fahri, dingin.
"Bisa bicara sebentar?"tanya Aisyah dengan ramah lalu berjalan menjauhi kerumunan. Fahri yang terheran memutuskan untuk mengikuti Aisyah dan di susul oleh Laila.
.
.
.
Tak lama mereka pun kini berada di taman dekat mall. Aisyah meminta Laila untuk tenang dan memberikan sebotol air mineral.
"Mbak, tenang kan dirinya di sini dulu,ya. Saya mau ngobrol sama masnya sebentar."
Laila mengangguk tertunduk, sedangkan Aisyah menghampiri Fahri yang berada tak jauh darinya. Mereka sesaat saling diam dan sama-sama hanya menatap lurus ke depan.
"Gak baik mempermalukan seorang wanita di depan umum, apa lagi membuat dia nangis."ucap Aisyah yang akhirnya bersuara.
"Selalu ada alasan di setiap amarah. Selalu ada alasan di setiap tangisan."
"Gak ada alasan yang kuat jika itu untuk menyakiti seorang perempuan. Apa lagi membuat dia menangis."
"Sudah saya bilang bahwa ada alasannya saya melakukan itu dan menurut saya alasan ini cukup untuk saya membencinya. Dia penipu. Dia hina."
Aisyah beristighfar dalam hati. Kenapa seorang suami setega itu mengatakan bahwa istrinya hina. Hal itu pantas dikatakan?
"Apa hak kamu mengatakan bahwa dia hina? Apakah Allah mengatakannya?"
"Saya tau bahwa Allah juga pasti sangat membenci dia."
"Hebat banget kamu,ya. Bahkan kamu tau loh Allah benci padahal Allah gak pernah bilang. Hebat."
"Bukan itu maksud saya. Yang saya_"
"Lalu apa maksud kamu? Kapan dia melakukan hal hina? Kamu tau kapan itu terjadi?"
__ADS_1
"Dulu dia adalah wanita yang sangat tidak bermoral. Jauh dari kata baik, tapi saya baru tau itu. Saya menikahi dia karena saya sangat kagum pada pribadinya yang solehah dan sangat tekun beragama. Tapi sebulan belakangan ini saya menemukan fakta bahwa dia menipu saya."
"Tipuan yang seperti apa?"
"Dia tidak pernah jujur tentang masa lalunya. Dia menipu saya."
"Sekarang dia masih melakukan hal itu?"
"Yang saya tau tidak, entahlah kalau di belakang saya."
Aisyah tersenyum,"pembangkang?"
"Tidak."
"Patuh dong berarti sama suami?"
Fahri langsung melihat ke arah Aisyah. Aisyah tersenyum. Entah kenapa tiba-tiba Fahri merasa ada yang salah. Dia seperti menyadari sesuatu.
"Tapi_"Aisyah memotong ucapan Fahri dengan menggelengkan kepalanya.
"Kamu tau gak sih perbedaan kata dulu dan sekarang? Ada perbedaan besar dari kedua kata itu. Dulu adalah masa lalu. Dan sekarang adalah perjalanan menuju masa depan. Masa lalu yang buruk adalah sebuah aib dan aib nggak untuk diumbar. Tau gunanya untuk apa? Gunanya agar manusia itu mampu menjalani hidup dengan lebih baik. Allah memang membenci hambanya yang berbuat kezaliman tapi sangat menyayangi hambanya yang mau bertaubat padanya. Bukannya aku tau apa yang Allah pikirankan, tapi memang begitulah adanya yang aku pahami selama aku menjadi hambanya."
Fahri menunduk,"tapi saat itu saya adalah calon suaminya. Seharusnya dia jujur tentang masa lalunya. Sekarang saya adalah suaminya, tapi bahkan dia masih tidak ingin jujur dan saya malah tau dari buku hariannya yang tak sengaja saya temukan di laci lemari. Mungkin ceritanya akan berbeda jika saya tau langsung dari dia. Pasti semuanya tidak akan serumit ini. Yang saya inginkan hanyalah kejujuran."
"Aku tau. Gak ada yang ingin dibohongi. Tapi kamu yakin ceritanya akan berbeda jika dia jujur? Kamu tau sifat yang paling sulit di hindari manusia?"Aisyah berhenti sejenak dan kembali menatap Fahri,"takut. Dia mungkin takut kamu malah tidak menerimanya. Dan lebih takut lagi jika kenyataan itu akan melukai kamu."
"Tapi bukannya lebih baik jujur walau menyakitkan?"
"Itu bener. Bener banget. Emang lebih baik jujur walau menyakitkan. Tapi satu hal yang kamu harus paham. Gak semua orang mampu berkata jujur. Terlebih pada orang yang kita sayang. Karena terkadang, semakin seseorang mencintai, dia akan semakin bersembunyi. Dia tidak ingin ada satu hal walau sekecil apa pun yang akan membuat orang itu kecewa."Aisyah berbalik dan menatap Laila yang masih menunduk di kursi taman yang berada tak jauh dari mereka.
"Kamu lihat! Wanita yang sedang menunduk itu, tetaplah wanita. Hatinya lemah. Dan dia istri kamu. Kamu ingat gak, berapa kata-kata menyakitkan yang kamu lontarkan ke dia? Apa dia pernah balik marah ke kamu? Enggak,kan? Karena saat ini dia malah semakin menyalahkan dirinya sendiri dan semakin membenci dirinya sendiri."
Fahri menatap Laila dengan tatapan yang berbeda sekarang. Tidak ada lagi tatapan yang penuh dengan kebencian dan kemarahan. Hatinya melunak.
"Dia gak jujur, tapi dia juga gak bohong,kan? Dia cuma gak berani cerita aja. Dia diam selama ini, bukan karena ingin menipu, tapi itu adalah bentuk pertarungan batin antara ingin mengatakan semuanya atau ingin menutupinya sampai akhir."
"Coba pikir, deh! Kenapa dia malah menuliskan semuanya di buku harian? jawabannya karena dia ngerasa bimbang sama diri sendiri. Kalau dia memang berniat menipu kamu, dia gak akan ngerasa ragu-ragu lagi dan gak akan kepikiran buat curhat di buku harian."Aisyah berhenti sejenak dan teringat sesuatu.
"Tunggu dulu deh! ada yang kelupaan."
Fahri mengangkat sebelah alisnya sembari menatap Aisyah dengan raut wajah heran.
"Apa?"tanya Fahri.
"Nama mas siapa,ya?"tanya Aisyah dengan tampang polosnya.
Oh iya benar. Fahri juga baru menyadari bahwa dia dan Aisyah belum saling mengenal.
"Maaf, saya juga lupa. Nama saya Fahri."
Aisyah mengangguk, "saya Aisyah." lalu dia beralih menatap Laila.
"Kalau istri mas namanya siapa?"
"Laila namanya."
"Ohhh cantik banget ya mbak Laila."puji Aisyah.
Fahri melihat ke arah Laila dan tersenyum manis walau Laila tak melihatnya karena dia masih saja menunduk.
"Iya, dia emang cantik banget."
Aisyah tersenyum geli melihat Fahri sekarang kemudian berdehem.
"Nyesel gak sekarang udah nyakitin perasaan mbak Laila?"tanya Aisyah berniat menggoda Fahri yang kini salah tingkah sendiri.
"Nggak ah, biasa aja."elak Fahri sembari buang muka ke berbagai arah.
__ADS_1
"Terkadang lebih baik jujur walau memalukan lo, mas."ucap Aisyah membuat Fahri semakin salah tingkah.
"Lanjut ke topik aja deh mendingan!"sela Fahri membuat Aisyah terkekeh.
"Emangnya harus bilang apa lagi? Kan udah jelas semua. Gini aja deh, masa lalu itu ada untuk menjadi sebuah pelajaran untuk masa sekarang, masa sekarang ada untuk menjadi sebuah proses agar menjadi lebih baik lagi di masa depan. Masa lalu itu nggak untuk dijadikan sebagai patokan yang menentukan akhir kehidupan. Masalah dan cobaan gak datang sekali seumur hidup, tapi berkali-kali. Banyak orang yang baru di beri masalah yang masih bisa di bilang kecil, tapi dia malah lari dari masalah. Dia gak sadar, kalau lari gak akan membuat seseorang jadi dewasa. Kedewasaan hadir saat seseorang dengan gagah berani, maju ke depan untuk menyelesaikan masalahnya."
Fahri mengangguk paham. Benar, dia belum bisa di bilang dewasa. Bahkan dia adalah pria pengecut yang hanya bisa menyakiti perasaan istrinya sendiri. Bahkan ia melupakan bahwa saat ini istrinya tengah hamil tua. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada calon bayi mereka? Seharusnya ia sadar itu dari awal.
"Lalu apa yang harus saya lakukan?"
"Aku gak berani mencampuri sebuah pilihan yang berhubungan dengan hidup seseorang. Semuanya ada di tangan kamu. Amarah berasal dari syetan, syetan terbuat dari api dan api dipadamkan dengan air. Maka, berwudhulah! Tau hadis itu,kan? Kamu minta deh ampunan dan petunjuk Allah. Selanjutnya jangan pernah membiarkan kemarahan menguasai diri sampai kamu gak bisa mengendalikan diri! Itu sifatnya syetan."
Fahri kembali mengangguk,"Kamu sudah menikah? Kamu terlihat sangat paham dalam urusan seperti ini. Berapa umur kamu?"tanya Fahri.
"Belum nikah."
"Oh, kuliah?"
Aisyah menggeleng,"bentar lagi tamat SMA. Aku pulang dulu ya mas, takut kena marah ayah. Salam aja buat mbak Laila-nya. Jangan di sakitin lagi. Assalamualaikum!"Aisyah berlari meninggalkan Fahri yang terdiam membisu.
"Ja_jadi, gua barusan di nasehatin bocah? Gila aja gue."
Fahri geleng-geleng, masih tak percaya dengan yang barusan iya dengar. Namun Laila yang tiba-tiba berada di depannya membuatnya tersadar dan menatap Laila.
Laila yang matanya sudah membengkak karena menangis, kini terisak sembari menunduk karena tak berani menatap Fahri.
"A_ aku_ aku udah putusin untuk rela diceraikan kamu setelah bayi kita lahir mas. Aku tau aku egois dan gak seharusnya aku berharap lebih. Aku akan_"Fahri langsung memeluk Laila dan tidak ingin mendengar kelanjutannya. Dirinya tidak akan sanggup.
"Maafin aku. Maaf,sayang. Maafin aku. Aku salah, gak seharusnya aku nyakitin perasaan kamu. Maafin aku, sayang! Aku mohon."ucap Fahri dengan air mata berlinang. Laila yang mendengar itu langsung menumpahkan kembali air matanya dan memeluk Fahri lebih erat. Bedanya, air matanya saat ini adalah air mata bahagia dan terharu.
"Kenapa tiba-tiba, mas?"
"Perempuan tadi yang menyadarkan aku."
"Masya Allah, Allah memang selalu punya rencana yang indah,mas. Allah pertemukan kita dengannya. Siapa namanya,mas?"
"Aisyah."
"Bahkan namanya saja bagus."
Fahri tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya. "Terima kasih Ya Allah, kau selamatkan pernikahan kami melalui seorang perempuan yang datangnya tanpa terduga."batin Fahri.
.
.
.
.
Arshad tersenyum mendengar cerita Fahri. Tak ia sangka istrinya itu memang sangat tak terduga. Banyak hal yang mungkin semakin ia dekat dengan Aisyah, akan semakin membuatnya terkejut.
"Saya gak nyangka dia mengatakan suama itu."ucap Arshad.
Fahri mengangguk sambil terkekeh.
"Saya sadar tentang dua hal lagi setelah pertemuan saya dengan Aisyah."
"Apa itu?"
"Kedewasaan tidak bisa hanya dilihat dari tingkatan umur, tapi juga butuh pemahaman tentang apa arti dari kedewasaan itu sendiri. Dan saya melihat itu dari Aisyah."
Arshad mengangguk setuju,"lalu yang kedua?"
"Aisyah adalah seseorang yang pasti akan sangat mudah diterima di setiap hati orang banyak. Tidak akan sulit untuk orang-orang menyayangi dan mencintai Aisyah. Kamu beruntung mendapatkan Aisyah. Jangan pernah sia-siakan dia! Itu pesan saya."
Arshad tersenyum. Di dalam hati dia sangat membenarkan perkataan Fahri. Karena yang di katakan oleh Fahri memang benar adanya dan itu terjadi pada dirinya. Memang tidak sulit untuk mencintai seorang Aisyah Syaqila Az-zahra.
__ADS_1