Dia (Istri Yang Tak Dianggap)

Dia (Istri Yang Tak Dianggap)
Hari-hari Tanpamu


__ADS_3

Selama Aisyah pergi, yang bisa Arshad lakukan hanyalah bekerja lembur dan kadang hanya pulang saat siang hari hanya sekedar untuk memastikan apakah Aisyah sudah pulang atau belum. Dia juga sangat benci jika kamarnya di masuki orang lain walau hanya sekedar di bersihkan. Temperamenya juga semakin tak terkendali. Dia akan sangat mudah marah walau hanya karena kesalahan kecil orang lain.


Jika lapar, Arshad akan memasak sendiri dan tidak mau makan masakan bi Nah, pembantunya. Memasak memang bukanlah keahliannya, namun akan tetap ia lakukan walau tidak bagus hasilnya. Dan siang ini Arshad masih saja sibuk di dapur. Kini ditangannya ada sebutir telur.


Keningnya pun berkerut, "Ini yang dimasukin duluan telornya atau minyaknya dulu,ya?"


Tak mau berpikir panjang, Arshad langsung searching cara memasak telur dadar. Setelah menemukan yang ia cari, Arshad langsung mengikuti instruksinya dan mulai memasak.


*****


"Alhamdulillah,ummi. Semuanya lancar."ucap Aisyah.


"Alhamdulillah kalau gitu. Tapi udah seminggu loh kamu di sana, kamu kapan pulang?"tanya ummi.


"Mungkin minggu depan,ummi."


"Ya udah gak apa-apa. Yang penting kamu terus jaga kesehatan aja,ya. Jangan sampai sakit. Jangan terlalu pikirin Arshad, ada ummi yang akan urus dia."


"Iya ummi. Kabar mas Arshad gimana, ummi?"sejujurnya ia begitu mencemaskan Arshad saat ini. Sangat.


"Keadaan Arshad baik kok, nak. Sangat baik."jawab ummi, bohong. Ia lakukan itu supaya Aisyah tak merasa khawatir. Walau sebenarnya ia tau bahwa putranya itu tak baik-baik saja saat ini. Sesuai kabar yang ia dengar dari Rio. Kini anak semata wayangnya itu berubah menjadi orang yang gila kerja, tak mengurus diri dengan baik, bahkan jarang pulang ke rumah.


"Alhamdulillah kalau gitu,ummi. Aisyah senang dengarnya." Aisyah sebenarnya malah semakin merasa bahwa tak ada tempat baginya di hati Arshad. Bahkan Arshad baik-baik saja setelah ia tinggal.


Tak benar kata Anam yang saat itu mengatakan bahwa Arshad mencintainya. Menurutnya, tak ada orang yang akan baik-baik saja jika ditinggal oleh orang yang ia cintai. Dapat dipastikan bahwa Arshad tidak mencintainya sama sekali.


*****


Di sisi lain setelah selesai makan siang, Arshad memutuskan untuk kembali ke kantor. Akan lebih baik menurutnya melampiaskan segala keresahan bahkan kegalauannya pada pekerjaan. Jika dihitung, ini sudah seminggu lamanya ia pergi. Ini benar-benar terasa begitu lama baginya.


Arshad pun langsung mengirim pesan pada Aisyah yang entah sudah berapa banyak pesan yang dia kirimkan namun tak ada satupun yang di baca Aisyah. Satu hal inilah yang kini juga menjadi kebiasaannya. Tak peduli Aisyah akan membacanya atau tidak, tapi yang pasti ia akan mengungkapkan berbagai perasaan yang ia rasakan selama ini lewat pesan-pesan yang ia kirimkan.


Walau sebenarnya ada rasa kecewa di hatinya karena Aisyah sama sekali tak membaca atau pun membalas pesannya itu. Tapi ia tak akan pernah bosan melakukannya. Karena memang hanya itu harapannya saat ini. Harapan bahwa suatu hari Aisyah akan membaca pesannya.

__ADS_1


Arshad duduk di ruangannya dan memandang foto pernikahannya yang sama sekali tak membuatnya bosan walau berapa kali pun ia lihat. Ia dulu memang begitu buta. Perempuan secantik dan sesempurna Aisyah, dengan tega ia sakiti hatinya. Sekali lagi ia mengingat kenangan-kenangannya bersama dengan Aisyah. Hanya kenangan itu yang ia punya. Hanya itu.


"Kamu dimana,sih? Kamu dimana?"gumam Arshad.


TOK! TOK!


"Masuk!"seru Arshad yang pura-pura membaca berkas. Rio pun masuk dan duduk dihadapan Arshad dengan tatapan penuh selidik.


"Lo emang beneran sibuk atau pura-pura?"


Arshad melirik Rio sekilas lalu kembali membaca berkas.


"Ada apa? Lo mau apa? Gua sibuk."


"Sok sibuk! Gua cuma mau nanya, malam ini lo pulang gak?"


"Enggak. Kenapa emang?"


"Hm."


"Hm, doang? Jujur ya, setiap hari ummi selalu nanya keadaan lo ke gua. Dia khawatir,men."


"Kalau ummi khawatir, seharusnya ummi kasih tau Aisyah dimana. Tapi ummi tetap diam. Gua bisa kok nunggu Aisyah dengan cara gua sendiri."jelas Arshad tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas ditangannya.


"Terserah, deh. Terserah lo mau pulang atau enggak malam ini, tapi kalau bisa besok weekend lo pulang. Istirahat yang cukup!"


Arshad menatap Rio dan berpikir sejenak.


"Lihat nanti."jawabnya. Rio mengangguk paham lalu pergi dari sana. Setelah sepeninggal Rio, Arshad langsung bersandar di kursinya dan menatap langit-langit ruangannya. Arshad menutup matanya, mencoba menenangkan pikirannya dan mengistirahatkan dirinya. Namun... sedetik kemudian matanya kembali terbuka dam helaan nafas panjang terdengar letih.


"Gimana mau istirahat kalau pikiran gak tenang, perasaan gua juga kacau. Otak sama hati kompakan banget."


*****

__ADS_1


"Nih, hp buat kamu! Jangan dihilangin lagi!"tegas Anam.


Aisyah mengangguk senang,"makasih."


"Nomornya juga baru. Sekarang telphone Arshad, gih!"suruh Anam.


"Acha gak punya nomornya, kak."


"Udah kakak minta ke abi. Udah kakak simpan juga di kontak kamu."


"Wah, makasih kak."tanpa berpikir panjang, Aisyah langsung masuk ke kamarnya dan mencari kontak Arshad.


"Arshad?"Aisyah membaca nama kontak Arshad lalu menukarnya dengan yang ia inginkan.


Setelah mengganti nama kontak Arshad, Aisyah langsung menghubungi Arshad. Aisyah sangat ingin mendengar suara Arshad. Dia benar-benar merindukan suaminya itu saat ini.


DRRT! DRRT!


Di sisi lain Arshad hanya memandang layar ponselnya yang memaparkan nomor yang tak dikenal tanpa berniat untuk mengangkatnya. Padahal ia berharap yang menghubunginya adalah Aisyah. Memuakkan. Arshad pun hanya membiarkan panggilan tersebut dan pergi ke toilet.


Aisyah akhirnya menyerah menghubungi Arshad. Sudah berkali-kali ia telphone tapi tetap tak ada jawaban. Apakah mungkin Arshad sibuk? pikir Aisyah. Lagi pula jika dirinya pikir-pikir, apakah Arshad mau bicara dengannya? Bukankah selama ini dirinya hanyalah benalu? Haruskah dia perpanjang waktu keberangkatannya?


Arshad yang telah selesai dari toilet langsung keluar dari ruangannya sembari membawa ponselnya. Dia akan pergi ke rumah ummi untuk menanyakan soal Aisyah yang ke sekian kalinya. Bukankah ummi khawatir padanya? Kini dia ingin lihat sebesar apa kekhawatiran ummi padanya?


Dengan langkah tegas Arshad berjalan di lobi, yang mana di sana banyak karyawan yang lalu lalang. Banyak yang heran dengan sikap Arshad belakangan ini. Para karyawan bahkan menyadari perbedaan sikap Arsyad selama ini.


"Pak Arshad kenapa, ya? Kayaknya akhir-akhir ini dia ada masalah,deh."ucap salah seorang karyawan.


"Iya, kemaren aja dia marah banget waktu meeting."ucap salah seorang lagi.


"Ada masalah sama pacarnya kali,ya?"


"Mungkin juga,sih."

__ADS_1


__ADS_2