Dia (Istri Yang Tak Dianggap)

Dia (Istri Yang Tak Dianggap)
Adik dan Kakak Ipar


__ADS_3

Aisyah membantu membenahi barang-barang Khadijah dan di salah satu kamar tamu rumahnya dan Arshad. Ada rasa bahagia karena sebentar lagi kakaknya akan berumah tangga. Berbagai harapan dan do'a selalu ia ucapkan di setiap sujudnya.


Kini hanya tinggal menghitung hari menuju acara pernikahan. Besok Khadijah dan Anam akan fitting baju pengantin. Sepertinya beberapa hari ke depan akan sangat melelahkan.


"Cha, mas Anam kemana? Kamu lihat, gak?"tanya Khadijah yang baru keluar dari kamar mandi.


Aisyah yang sedang memasukan pakaian Khadijah ke lemari pun menoleh,"ohh, tadi mas Anam bilang dia mau ke makam ayah sama bunda."


"Loh, kok gak ngajak? Kan kakak juga pengen ziarah ke makam ayah sama bunda."


"Kalau kakak mau ke sana sama aku aja. Tadi kak Anam perginya sama mas Arshad. Mungkin sekalian mau ke rumah abi sama ummi."


"Ya udah deh kalau gitu."


Aisyah tersenyum jail,"ciee yang bentar lagi mau nikah. Gak bisa jauh-jauh."


Khadijah terkekeh,"ada-ada aja kamu."


"Oh iya, hubungan kamu sama Arshad gimana? Baik?"tanya Khadijah.


"Baik kok. Cuma ya dia belum tau siapa aku. Kayaknya dia memang udah lupa deh. Ya kan, udah lama banget gak ketemu. Apa lagi sekarang aku udah beda banget dari yang dia kenal dulu. Dulu waktu masih kecil aku belum berhijab, kalau sekarang udah beda bangetlah pokoknya."


"Dulu kenapa kalian bisa terpisah?"


"Dulu tuh, mas Arshad dan orang tuanya datang dari Jakarta dan tinggal selama setahun di solo. Kalau kata ayah, abinya mas Arshad ada urusan kerjaan di sana. Terus kak Anam sama mas Arshad temenan dan aku juga jadi dekat dengan mas Arshad. Tapi setelah setahun, mas Arshad kembali ke Jakarta dan aku gak dengar kabar tentang dia lagi."


"Ohh, terus ceritanya kamu bisa sampai nikah sekarang?"


"Saat aku tamat SMA, aku memutuskan kuliah di Jakarta sekalian cari mas Arshad. Akhirnya, ayah juga malah memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Lalu ayah memindahkan segala urusan perusahaan ke Jakarta dan dibantu oleh abinya mas Arshad."


"Loh, terus kamu gimana ceritanya nyari Arshad kalau kamu tau abinya Arshad?"


Aisyah pun duduk di kasur bersama Khadijah yang terlihat bingung,"masalahnya aku gak tau teman ayah itu adalah abinya mas Arshad dan aku lupa wajahnya orang tua mas Arshad. Kan udah lama juga. Aku juga gak pernah berkunjung ke rumah mas Arshad yang di Jakarta. Aku cuma sibuk kuliah. Setelah ayah meninggal, aku dapat kabar kalau aku dijodohkan dengan mas Arshad dan akhirnya kami menikah."

__ADS_1


"Terus kamu tau tentang orang yang sebenarnya kamu tunggu itu Arshad, gimana?"


"Setelah menikah, aku pernah berkunjung ke rumah ummi dan abi, di sana ummi cerita semuanya sama aku."


"Ohhh, tapi kenapa kamu gak ngeh waktu kamu dengar nama Arshad yang menikah dengan kamu?"


"Dulu tuh, aku manggil mas Arshad dengan panggilan kak Ar atau bang Ar. Jadi udah gak ingat nama aslinya. Dia juga manggil aku Acha sama kayak kakak dan kak Anam manggil aku. Aku juga ngerasa kayaknya dia gak tau deh nama asliku."


"Hahh, kira-kira kalau Arshad ingat kamu, gimana, ya?"


"Gak akan ingat deh kayaknya. Lagian juga udah bertahun-tahun, pasti udah lupa banget."


"Nggak, dong. Kalau kamu ingatin ke dia, pasti dia ingat walau cuma sedikit. Coba dulu!"


Aisyah sedikit berpikir,"biar dia ingat sendiri aja lah. Yuk, mending kita lanjut beres-beres!"


"Ya udah deh..."


________________


"Gimana pernikahannya sama Aisyah?"tanya Anam membuka pembicaraan setelah beberapa lama saling diam.


"Baik..."jawab Arshad singkat karena masih terasa bicara dengan Anam. Apa lagi setelah mengingat kejadian saat Arshad salah paham dengan hubungan Anam dan Aisyah. Bahkan sampai saat ini dia masih merutuki kebodohannya waktu itu.


"Bang, saya... saya mau minta maaf soal kejadian waktu itu."ucap Arshad.


"Ngomongnya santai aja! Gak usah pakai 'saya' segala. Formal amat. Amat aja gak seformal itu."sela Anam yang terlihat fokus menyetir.


"Lagian gak masalah buat gua. Namanya juga suami kalau cemburu, ya gitu. Santai aja!"lanjut Anam.


"Tapi tetap aja, seharusnya gua bisa lebih cermat lagi baca situasi. Gua tanya dulu dengan jelas."


"Ar, kalau orang udah cemburu, bahkan setinggi apa pun IQ nya tuh orang, pasti akan susah nahan. Apa lagi lo cowok, pikiran lo langsung kacau banget karena emosi. Beda sama cewek, mereka kalau cemburu keseringan dipendam dan ke siksa sendiri. Itu Aisyah. Gua kenal banget sama sifat dia. Kalau cemburu, walau semarah apa pun dia, akhirnya juga bakal luluh sendiri karena terlalu larut dengan perasaan sayangnya dia."

__ADS_1


Arshad mengangguk mengerti,"nama lo Anam kan, bang?"


"Iya, kenapa emang?"


"Nama lo mirip sama teman gua waktu kecil soalnya."


Anam tersenyum. Ternyata Arshad masih mengingat dirinya. Tapi lebih baik dia tidak mengatakan yang sebenarnya. Biarlah Arshad sadar dengan sendirinya.


"Kalau gitu anggap aja gua teman lo."balas Arshad.


Arshad mengangguk.


"Lo kan di jodohin. Gimana awal pernikahan lo sama Aisyah? Kalau gua sih gak yakin baik-baik aja. Soalnya kan kalian dijodohin."tanya Anam membuat Arshad terdiam seribu bahasa. Bagaimana dia menjelaskan pada Anam. Jika dia katakan semuanya, takutnya Anam akan marah padanya. Mana ada sih, kakak yang tidak marah jika adiknya disakiti.


"Gua_ udah nyakitin Aisyah, bang."jawab Arshad.


"Nyakitin sebagai bentuk penolakan lo sama pernikahan ini? nyakitin gimana maksudnya?"di luar dugaan, Anam malah terlihat biasa.


"Setelah menikah, gua sering mengatakan hal yang gua yakin pasti bikin Aisyah sedih. Gua juga masih berhubungan sama pacar gua. Walaupun sekarang udah nggak, tapi hal itu masih jadi hal yang benar-benar gua sesali."


"Oh, cewek yang waktu itu ikut juga waktu lo nonjok gua?"


Arshad mengangguk,"iya..."


"Terus sekarang gimana? masih berniat nyakitin adek gua?"


Sontak Arshad menggeleng,"nggak pernah terlintas sedikit pun dipikiran gua untuk nyakitin Aisyah lagi, bang. Aisyah pergi waktu itu aja, gua udah uring-uringan. Sekarang gua gak tau gimana hidup gua tanpa dia."


"Bagus kalau gitu. Gua dari dulu emang udah percaya kalau lo memang yang terbaik buat Aisyah."


"Dari dulu maksudnya?"


"Ya dari dululah pokoknya."

__ADS_1


"Ohhh."seru Arshad walau tak mengerti.


__ADS_2