
Setelah dari rumah sakit menjenguk Aisyah dan berakhir dengan dirinya yang lemas karena mual, kini Rio mengemudi mobilnya menuju rumah orang tuanya. Perutnya terasa kencang sekarang. Sungguh tak nyaman rasanya.
Setelah beberapa saat, akhirnya mobilnya kini sudah mulai masuki pekarangan rumah. Rio menatap sebentar rumah itu sampai akhirnya dia keluar dan menekan bel.
Tak butuh waktu lama, pintu tersebut terbuka dengan menampilkan seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Amira, mama Rio.
Amira tersenyum senang melihat putranya benar-benar pulang. Amira tau bahwa tak mungkin Rio menolaknya,"mama pikir kamu gak jadi datang."
Rio berusaha tersenyum,"assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam. Ayo nak, masuk! papa udah nunggu di meja makan."ajak Amira. Rio pun masuk ke dalam rumah mengikuti langkah Amira menuju meja makan. Dapat dia lihat Farhan yang tak lain adalah papa-nya sedang duduk di salah satu kursi dengan tatapan dingin dan tegas padanya. Papa-nya? bahkan Rio malu menyebut pria tersebut adalah papa-nya.
"Ayo Rio, duduk! biar mama ambilkan makanannya buat kamu."tanpa membalas ucapan Amira, Rio duduk diam dengan melempar pandangan ke arah lain. Yang jelas bukan ke arah Farhan.
"Mama masakin makanan kesukaan kamu loh. Makan yang banyak ya, nak!"ucap Amira sambil mengambilkan makanan untuk Rio.
Rio langsung makan tanpa menunggu Farhan yang makanannya masih diambilkan Amira. Jangankan menunggu, menyapa atau bahkan menatap Farhan saja dia malas.
"Dasar anak tak tau sopan santun!"ucap Farhan yang hanya dianggap angin lalu oleh Rio. Lebih baik makan, dari pada bertengkar. Rio butuh nutrisi, dia masih sadar betapa lemas dirinya sekarang.
"Entah apa yang diajarkan gurunya di sekolah sehingga menjadi anak seperti ini."desis Farhan lagi. Amira merasa khawatir sekarang. Selalu saja seperti ini. Tak ada hal baik yang terjadi jika mereka berkumpul. Tak bisakah suaminya ini diam saja dan makan dengan tenang? Sulit sekali membujuk Rio untuk pulang.
"Sopan santun bukan hanya tugas sekolah yang mengajarkan. Tapi juga orang tua, sedangkan saya tidak punya orang tua. Mungkin anda lupa. Biar saya ingatkan kalau begitu, saya bukan lagi remaja saat ini. Saya adalah pria dewasa yang hidup mandiri tanpa kasih sayang keluarga. Tapi untungnya saya tidak punya orang tua, tidak sudi rasanya jika harus mempunyai orang tua seperti anda. Justru saya heran kenapa istri anda masih saja bertahan dengan pria seperti anda?"balas Rio dengan membalas tatapan tajam Farhan. Dapat Rio lihat bahwa emosi Farhan tersulut. Baiklah, dia siap tempur sekarang.
"Sudah, nak! ayo kita makan du_"
PRANK !!!
Suara piring dibanting membuat Amira seketika terkejut sambil menutup telinganya dan dengan mata terpejam sebelum dia menyelesaikan ucapannya. Setelah sedikit tenang dari keterkejutannya, Amira pun menatap suaminya yang sudah berdiri menatap putranya dengan tajam. Sungguh Amira lelah dengan ini. Tak pernah ada lagi kebahagiaan di rumah ini.
"Pa, udah..."tegur Amira dengan lembut.
"Diam kamu!"bentak Farhan dengan tatapan tajam dan tangan menunjuk ke arah Amira.
Seketika rahang Rio mengeras menahan emosi. Dia tak terima jika mamanya dibentak. Terlebih ketika melihat mamanya yang sudah menunduk. Terdengar jelas isakan kecil yang berusaha Amira tahan. Rio tau kini mamanya itu sudah menangis.
BRAK
Gebrakan meja oleh Rio membuat Farhan semakin marah dan bahkan kini berjalan mendekati Rio lalu menarik Rio menjauh dari kursi.
BUGH
Satu pukulan kuat mendarat di wajah tampan Rio membuat Rio terjatuh. Pekikan Amira pun tak terelakkan. Rio menyentuh sudut bibirnya yang berdarah karena sobek akibat pukulan Farhan. Ini bukan pertama kalinya dia mendapatkan ini dari Farhan. Dulu bahkan dia mendapatkan lebih buruk dari ini. Jadi ini belum apa-apa dibandingkan dengan yang dulu-dulu.
"Anak tak tau diri seperti kamu ini memang pantas mendapatkan itu."desis Farhan.
Rio tersenyum sinis lalu berdiri.
"Memangnya saya anak yang seperti apa?"tanya Rio dengan santai tentunya membuat Farhan menggertakan giginya.
__ADS_1
"Anak bodoh yang menganggap ayahnya sebagai ayah terbaik di dunia? Menyanjung ayahnya bahkan sampai bermimpi ingin menjadi pria seperti ayahnya?"tanya Rio.
"Bahkan sekarang saya merutuki kebodohan itu dan saya menyesal karena memiliki seorang ayah seperti anda. Persetan dengan ayah terbaik di dunia, karena bahkan anda pun tidak pantas dipanggil dengan sebutan seorang ayah.
"JAGA UCAPAN KAMU!!!"
"TIDAK ADA YANG PERLU DIJAGA KARENA MEMANG ANDA PANTAS MENDENGAR SEMUA INI."suara Rio pun kini ikut meninggi.
Amira tak kuat melihat dua lelaki yang sangat dia sayangi ini selalu terselimuti oleh kemarahan dan pertengkaran. Bagaimana caranya agar Rio dan Farhan berhenti?
"SEKALI BERANDAL TETAP BERANDAL!"
"Setidaknya saya tidak bermain wanita."sindir Rio lalu dengan langkah tegas pergi dari sana. Sudah cukup hari ini. Tak akan ada habisnya pertengkaran ini jika dia tetap di sini.
"MAU KE MANA KAMU? RIO, KEMBALI! SAYA BELUM SELESAI BICARA!"teriak Farhan.
Rio berhenti tanpa membalikkan tubuhnya,"jika tujuan anda untuk meminta saya kembali ke rumah ini lagi dan membahas hal-hal gila seperti waktu itu, lebih baik anda simpan saja kata-kata anda itu,"Rio pun berbalik menatap tepat ke manik mata Farhan dengan sinis.
"Pantang bagi saya kembali tinggal setelah diusir. Sedikit informasi, sungguh menjijikkan jika harus berlama-lama di sini."setelah melanjutkan ucapannya, Rio pun pergi meninggalkan rumah tersebut tanpa peduli dengan teriakan Farhan dan Amira yang terus memanggil namanya.
Rio melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Air matanya lolos begitu saja tanpa bisa dielakkan. Dia memang sangat benci dengan Farhan, namun rasa sakit di hatinya tak dapat ditahan setelah mengatakan hal-hal seperti tadi. Bagaimana pun juga Farhan adalah ayahnya.
Rio mengingat kejadian beberapa tahun lalu saat keluarganya diselimuti kebahagiaan. Rio sempat bertanya-tanya apakah kebahagiaan itu palsu?
"Kalau seorang pria itu harus tau tanggung jawab. Pantang bagi seorang pria menyakiti hati seorang wanita."ucap Farhan saat itu yang berhasil membuat Rio mengangguk tegas dengan tersenyum bangga.
"Ketulusan adalah hal utama yang harus diberikan kepada wanita. Kalau cinta, kasih sayang dan kebahagiaan itu mah ngikut aja kalau memang kita punya ketulusan. Udah satu paket komplit pokoknya."lanjut Farhan.
"Ohhh ya jelas. Iya nggak, ma?"Farhan menyenggol bahu Amira berniat menggoda sang istri. Dan benar saja semburat merah timbul di pipi Amira.
"Cieee salting!"seru Farhan.
Rio menatap kedua orang tuanya dengan geli,"gombal mulu, ingat umur pak tua!"
"Enak aja bilang pak tua. Kalau dibandingkan kamu sama papa yo jelas gantengan papa."ucap Farhan pede.
"Narsis juga harus ingat umur kali."
"Bilang aja kalau kamu iri. Iri nggak? Iri nggak?"tanya Farhan songong.
"Ya enggaklah. Masa iri. Lihat aja, suatu hari nanti Rio pasti bisa jadi laki-laki yang bahkan lebih baik dari papa. Laki-laki yang bertanggung jawab dan menghormati wanita."
"Iya-in deh biar cepat. Iya gak sayang?"Farhan pun kembali menggoda Amira.
Rio juga ingat saat bagaimana dirinya memergoki kelakuan Farhan saat dia bersama teman-temannya sedang bersantai di sebuah cafe yang tak jauh dari sekolah. Cafe yang memang sering dia kunjungi setelah jam pulang sekolah.
Saat itu Rio sedang asik bergurau dengan teman-temannya. Namun saat melihat seseorang yang sangat dikenalinya memasuki cafe yang sama, membuat Rio mengernyitkan keningnya bertanya-tanya. Jelas dia kenal, karena orang itu adalah papanya. Namun siapa perempuan yang berada dalam rangkulan papanya?
Seketika emosi Rio tersulut. Rio menghampiri Farhan menarik Farhan dan akhirnya satu pukulan mendarat di rahang tegas lelaki itu. Membuat Farhan terkejut dengan serangan yang tiba-tiba dari Rio.
__ADS_1
"Di mana sopan santun kamu?!"bentak Farhan.
"Tidak perlu mempertanyakan sopan santun Rio, pa. Seharusnya Rio yang tanya siapa perempuan ini?! Ada apa papa sama dia?! Papa selingkuh?!"teriak Rio penuh emosi. Persetan dengan mereka yang sudah menjadi pusat perhatian sekarang.
"Tidak perlu ikut campur urusan papa. Pulang kamu sekarang! Pulang sekolah bukannya langsung pulang malah keluyuran kamu. Mau jadi berandalan?!"
Rio tertawa sinis,"GAK USAH SOK KASIH TAU YANG BENAR KALAU KELAKUAN LO AJA BEJAT !"
BUGH
Akhirnya Farhan memukul Rio untuk pertama kali dalam hidupnya. Bukan hanya pengunjung yang terkejut dengan kejadian itu. Rio bahkan lebih terkejut lagi.
Rio menatap Farhan dengan tajam sambil memegang wajah bekas pukulan Farhan,"ternyata salah selama ini aku mengidolakan papa. JIJIK, tau gak."ucap Rio menekankan kata jijik yang setelah itu dia pergi dari sana. Tujuannya untuk menemui Amira dan menceritakan kelakuan bejat pria munafik yang sayangnya adalah ayah kandungnya sendiri.
Rio langsung mencari keberadaan Amira sesampainya di rumah. Dia berteriak memanggil-manggil Amira. Tentu saja membuat Amira panik dipanggil seperti itu oleh anaknya.
"Ada apa Rio? baru pulang teriak-teriak begitu. Ada ap_ astaghfirullah ini wajah kamu kenapa lebam begini?"Amira menyentuh pipi Rio, khawatir dengan apa yang terjadi.
"Mau tau apa yang suami mama itu lakukan di luar sana? dia selingkuh, ma. Rio lihat sendiri bahkan Rio pergoki dia dan wanita selingkuhannya itu. Dan ini..."Rio menepuk pipinya yang lebam tersebut,"ini mama tanya karena siapa? ini karena suami mama itu."
Amira terkejut bukan karena fakta suaminya selingkuh namun karena anaknya yang mengetahui tentang hal itu,"bagaimana kamu bisa tau soal itu?"
"Ya karena aku ta_"Rio tak melanjutkan ucapannya dan malah menatap heran Amira yang terlihat tidak begitu terkejut.
"Mama tau? mama tau tentang ini dan mama diam aja? mama tau tapi mama bersikap seolah-olah gak terjadi apa-apa? mama gak peduli sama rumah tangga mama? ma, dia selingkuh dan mama diam aja? MAMA SEHAT?"
"Mama cuma gak mau keluarga kita pecah. Mungkin dengan itu papa kamu bahagia, iya kan? itu yang penting, nak."ucap Amira dengan senyum meyakinkan.
"Gak salah ternyata. Cinta itu cuma bikin orang jadi gila. Kenapa mama masih bisa sabar begini? jadi selama ini, kebahagiaan yang ada di rumah ini semuanya palsu? suami istri macam apa sih kalian? suaminya selingkuh dan istrinya tau pun malah diam aja. GILA!"
"Jangan salahkan papa kamu, nak! Ini semua salah mama. Mama yang memulai semua ini. Kalau aja mama gak ngelakuin itu semua dulu, mungkin semua ini gak akan terjadi."ucap Amira. Rio tak mengerti maksud perkataan Amira. Kenapa sekarang malah menjadi salah mamanya? Menjebak apa? dia memilih diam dan mendengarkan penjelasan Amira.
"Mama dan papa dulu bersahabat. Papa kamu memiliki kekasih bernama Anita. Karena mama mencintai papa, akhirnya mama menemui keluarga papa kamu dengan mengatakan kebohongan kalau mama hamil anak papa. Kami pun dipaksa menikah. Anita sangat marah pada papa sehingga memilih untuk pergi. Awal pernikahan sangat sulit karena papa membenci mama. Namun seiring berjalannya waktu, akhirnya papa kamu mulai menerima mama."
Rio sungguh tak bisa berkata apa-apa lagi. Kenapa dia bisa memiliki orang tua yang seperti ini?
"Beberapa bulan yang lalu mama tau kalau Anita kembali dan seperti ini lah akhirnya. Menurut mama, apa yang mama dapatkan selama ini udah cukup. Gak masalah kalau papa mau kembali dengan Anita, yang penting mama tidak di ceraikan. Mama benar kan, Rio?"lagi-lagi senyuman penuh keyakinan itu muncul lagi di wajah Amira. Senyuman yang menurut Rio penuh kebodohan.
"Apa pun alasannya, yang di lakukan papa gak bisa dibenarkan. Dan yang lebih gak nyangka lagi ternyata kalian berdua gak ada bedanya."ucap Rio dengan penuh kekecewaan.
Semenjak saat itu tak ada lagi gelak tawa di rumah itu. Yang ada hanya teriakan demi teriakan pertengkaran antara Rio dan Farhan dan juga tangisan Amira. Rio juga mulai sering keluyuran karena tidak betah di rumah. Hal itu menambah pertengkaran mereka.
Hingga suatu hari mereka bertengkar hebat yang menjadi hari terakhir Rio di rumah itu.
"Saya tidak butuh anak berandalan seperti kamu. Pergi kamu dari rumah ini!"usir Farhan.
"Saya juga tidak butuh sosok ayah seperti anda."akhirnya malam itu Rio pergi dari keluarga itu. Hidup mandiri dan jauh dari keluarga.
CIIIITTTT
__ADS_1
Suara rem mendadak terdengar sangat nyaring. Rio berhenti tepat di lampu merah. Dia beristighfar dan berusaha bersikap tenang. Sudah cukup untuknya memikirkan itu, sekarang malah bertambah dengan pikiran orang tuanya yang memintanya untuk mengambil alih perusahaan yang kini hampir bangkrut. Tak tau malu memang. Dan ditambah rumit dengan kabar perjodohan dirinya bersama putri seorang kolega bisnis yang bisa membantu perusahaan Farhan.
Omong kosong! sejak awal dia pergi dari rumah itu adalah untuk terbebas dari masalah rumit keluarga. Untuk apa sekarang dia repot-repot mengikuti permintaan orang tuanya? mungkin membantu perusahaan tidak masalah, tapi tidak dengan yang namanya pernikahan bisnis. Pernikahan bukanlah bisnis. Dan dia tidak akan mengikuti permintaan yang satu itu. Pegang ucapannya!