
Aisyah berdiri di gerbang rumahnya dengan kebingungan melihat rumahnya ramai dengan orang-orang. Dengan ragu-ragu akhirnya Aisyah memasuki pekarangan rumah dan menghampiri segerombolan ibu-ibu yang sedang berkumpul di depan rumahnya.
"Permisi, buk. Ini di rumah saya ada apa ya, buk?"Aisyah tersenyum ramah namun tak ada yang menjawabnya. Aisyah diacuhkan.
"Buk?"tegur Aisyah pelan, tapi tetap tak ada jawaban. Mereka terus terdiam.
Aisyah menatap ke sekeliling dan mendapati banyak orang yang menangis dan ada juga yang sedang mengaji. Keresahan menghampiri Aisyah. Satu-satunya yang terlintas di benak Aisyah adalah Arshad.
Apakah terjadi sesuatu pada Arshad?
Detak jantung Aisyah berubah tak beraturan. Beberapa do'a terus dirapalkan Aisyah. Semoga tak terjadi apa pun pada suaminya.
Aisyah pun berlari masuk ke dalam. Dia harus memastikan sendiri apa sebenarnya yang terjadi.
Aisyah mencari keberadaan Arshad sesaat setelah dia memasuki rumah. Betapa terkejutnya Aisyah karena ternyata ada lebih banyak lagi orang di dalam rumahnya. Namun banyaknya orang itu tak membuat fokus Aisyah pada satu objek di depannya saat ini teralihkan. Seorang lelaki menangis pilu di samping seseorang yang kini telah terbaring tak bernyawa di hadapannya.
Aisyah akhirnya perlahan menghampiri lelaki tersebut. Detak jantung Aisyah semakin tak beraturan. Bibirnya bergetar menahan tangis yang seketika akan pecah saat ini. Apa lagi mendengar tangisan pilu yang keluar dari mulut lelaki itu membuatnya semakin tak karuan. Tuhan... ada apa ini?
"M_m_mas?"panggil Aisyah gemetar, namun lelaki tersebut hanya terus menangis sambil mencengkram lututnya.
"Mas_ mas Arshad? K_kamu... Kamu kenapa, mas?"Aisyah duduk di samping Arshad yang merupakan lelaki yang sedari tadi dia lihat. Dengan sedikit mengarahkan tubuhnya menghadap Arshad, Aisyah terus berusaha memanggil nama Arshad dengan pelan.
Aisyah memperhatikan kondisi Arshad yang tampak kacau dengan air mata yang sepertinya enggan untuk berhenti. Isakan demi isakan yang keluar dari mulut Arshad membuat Aisyah benar-benar tak kuasa lagi untuk menahan tangisnya.
Aisyah mengangkat tangannya untuk mengusap air mata Arshad.
Aisyah menggeleng pelan,"ja_jangan nangis, mas! Aku mohon_ jangan nangis kayak gini!"
"Aisyah..."rintih Arshad yang masih menatap tubuh yang terbaring itu. Aisyah terkejut mendengar satu kata yang keluar dari mulut Arshad. Seketika Aisyah beralih menatap tubuh yang terbujur kaku tersebut dengan ragu.
Alangkah terkejutnya Aisyah saat menyadari bahwa dirinyalah yang terbaring tak bernyawa itu. Aisyah menutup mulutnya tak percaya dan masih dengan air mata yang semakin lama malah semakin deras keluar dari pelupuk matanya. Bagaimana bisa seperti ini?
Sekali lagi Aisyah mengedarkan pandangannya dan di situ dia sadar bahwa ummi, abi, Anam dan juga anggota keluarganya yang lain ada di sana menangis tak berdaya menatap dirinya.
Aisyah menggeleng dan kembali menatap Arshad. Dia menangkup wajah suaminya itu sembari mengusap air mata yang masih terus mengalir di pipi Arshad. Tangisnya dan Arshad benar-benar memilukan. Tapi lebih sakit lagi rasanya melihat Arshad yang tampak begitu hancur. Aisyah tak kuat jika harus melihat Arshad yang sehancur ini.
"Jangan nangis, mas! Aku mohon! Maaf... Maaf, mas. Aku mohon jangan nangis! Aku mohon... Aku mohon, mas..."rintih Aisyah, pilu.
"Aisyah? Aisyah, kamu kenapa? Aisyah?"guncangan pelan di tubuhnya membuat Aisyah terbangun dari tidurnya. Hal yang pertama dia lihat adalah wajah khawatir Arshad.
Aisyah kembali meneteskan air mata saat menatap Arshad.
__ADS_1
"Aisyah?"tegur Arshad semakin khawatir. Bagaimana tidak, tiba-tiba Aisyah menangis dalam tidurnya sesaat setelah dia memindahkan Aisyah ke kamar yang mana sebelumnya Aisyah tertidur di ruang kerja.
Arshad mencoba membangunkan Aisyah, namun tak direspon. Ditambah dengan air mata serta isakan pilu Aisyah dalam tidurnya membuat Arshad khawatir setengah mati. Entah apa yang dimimpikan istrinya ini.
Aisyah pun mengangkat tangannya sembari mengusap wajah Arshad,"maaf kalau harus ninggalin kamu, mas..."
Arshad mengerutkan keningnya tanda tak mengerti maksud Aisyah. Meninggalkan apa maksud Aisyah?
"Maksud kamu?"tanya Arshad penasaran. Seketika Aisyah tersedar dengan ucapannya dan melepaskan tangannya dari wajah Arshad. Aisyah langsung terduduk dan bersandar di kepala ranjang. Aisyah mengusap wajahnya dan menatap Arshad dengan ragu.
"Aisyah maksud kamu apa? Ninggalin gimana maksud kamu?"
Aisyah menggeleng,"nggak apa-apa, mas. Cuma mimpi buruk aja."
"Mimpi apa sampai kamu ninggalin aku? Apa yang kamu lihat?"rasa penasaran Arshad tak akan reda sebelum mendengar penjelasan dari Aisyah. Tangis pilu Aisyah juga begitu menyiksa dirinya. Mimpi seperti apa yang membuat Aisyah seperti ini?
Namun bukannya mendapat jawaban, Arshad hanya mendapatkan kebungkaman Aisyah. Akhirnya Arshad pun menghela nafas pasrah dan mengusap kepala Aisyah dengan lembut sambil tersenyum.
"Kalau gak mau cerita gak apa-apa. Sekarang kamu tidur lagi, ya? Apa pun yang terjadi di mimpi kamu, aku percaya itu gak akan terjadi dan semuanya akan baik-baik aja. Aku juga minta maaf karena beberapa hari ini cuek sama kamu. Maaf, Aisyah..."
Aisyah hanya terus bungkam memperhatikan Arshad yang menatapnya lembut. Tatapan teduh Arshad ini begitu menenangkan hatinya. Namun apakah benar bahwa apa yang dia mimpikan tadi tidak akan terjadi? Benarkah semuanya akan baik-baik saja? Apakah air mata kesedihan itu akan keluar deras dari mata yang teduh ini? Bohong jika Aisyah mengatakan tidak takut. Sejujurnya Aisyah begitu takut dengan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi.
_______________
Rio menghampiri Arshad di ruangannya dan menemukan Arshad yang lagi-lagi melamun. Sudah dapat dia tebak pasti masih dengan masalah yang sama. Percuma merasa heran melihat sahabatnya ini. Terkadang masalah Arshad juga ikut-ikut membuatnya bingung seakan-akan itu juga masalahnya.
Kini Rio melihat Arshad bangkit dari tempat duduknya lalu menatap jalanan dari atas gedung tempatnya berdiri. Helaan nafas terdengar membuat Rio ikutan menghela nafas.
"Kalau ada masalah diselesaikan. Jangan diam capek mikir tapi gak ada hasilnya."ucap Rio berusaha menghilangkan keheningan.
Arshad menepuk kaca bening pembatas yang berada di depannya dengan cukup kuat sehingga membuat Rio jadi was-was. Tidak. Dia tidak merasa salah. Yang dia katakan benar, lalu kenapa Arshad jadi kesal begitu? Benarkan kalau masalah harus diselesaikan? Lalu kenapa...
"Yo, kalau gua terjun dari sini, gua bakal mati gak sih?"
Tuh kan? Arshad memang aneh. Tak dapat diragukan lagi oleh otak cerdas Rio. Mempunyai sahabat yang otaknya masih seperti balita ini membuatnya memutar bola matanya malas. Kenapa harus pertanyaan seperti itu yang ditanyakan Arshad?
"Yo! Malah bengong lagi lo! Gua tanya!"sergah Arshad yang kini menatap nyalang ke arah Rio karena tak mendapati jawaban dari sahabatnya itu.
Rio berdecak lalu mendekat untuk melihat ketinggian gedung tersebut jika di lihat dari ruangan Arshad. Dengan anggukan remeh dan menepuk-nepuk kaca tersebut, Rio kembali melihat Arshad.
Lalu dengan tampang tanpa dosanya dia menjawab,"mati sih nggak, paling cuma gak napas aja. Mau coba? Seru tau. Bisa ketemu sama malaikat."ledek Rio.
__ADS_1
Arshad berdecak kesal lalu kembali duduk di kursi kebesarannya itu sambil bergerak ke kanan dan ke kiri.
"Kenapa malah duduk? Gak jadi terjun? Mana tau lo bisa curhat minta pendapat sama malaikat maut soal rumah tangga lo. Yang gak abis-abisnya bermasalah. Aneh lagi."Rio semakin gencar meledek Arshad yang terlihat tak peduli jika Rio meledeknya. Untuk apa kesal jika yang dikatakan Rio itu benar.
Rio menghela nafas,"Kenapa sampai mikir mau loncat?"tanya Rio yang kini sudah duduk manis di depan Arshad.
"Aisyah kayaknya mau ninggalin gua, yo."
Jawaban lirih dari Arshad malah membuat Rio menautkan alisnya tanda tak mengerti.
"Terus?"
"Gua pengen mati aja dari pada ditinggal."
Ok, jawaban tanpa berpikir panjang itu sukses membuat Rio memukul kepala Arshad dengan salah satu map yang berada diatas meja. Bisa-bisanya Arshad berpikir hal gila dan aneh begitu.
'Gak waras nih anak!'batin Rio.
"Tau dari mana lo Aisyah begitu?"
"Dia bangun-bangun tiba-tiba bilang maaf kalau harus ninggalin gua. Kan lemes nih hati dengarnya. Pas ditanya gak mau jawab lagi."ucap Arshad sembari memupuk dadanya.
"Gak lo paksa tanya?"
Arshad menggeleng polos.
"Bucin boleh, bego jangan! Sempit banget pikiran lo. Cuma karena kata-kata begitu, punya niat bunuh diri? Gila kok dipelihara! Dasar gak waras! Kadang gue mikir masalahnya ini mungkin bukan di Aisyah-nya, tapi di lo. Sikap Aisyah aneh. Lo minta penjelasan dari sikap aneh dia, tapi lo gak pernah benar-benar minta penjelasan ke dia. Lo cuma diam lihat sikap anehnya dia sambil mikir kemana-mana gak jelas. Lo bahkan gak pernah samperin dia nanya sebenarnya Aisyah itu kenapa? Malah sekarang diem-dieman cuma karena Aisyah salah sebut nama lo. Lo curhat ke gua, tapi yang lo curhatin letak permasalahannya dimana aja lo gak tau apa lagi gua."
Arshad menggigit bibir bawahnya. Bukan geram karena marah mendengar Rio yang menceramahinya. Justru dia berpikir bahwa yang Rio katakan itu memang benar adanya. Semenjak Aisyah bersikap aneh, Arshad memang kelimpungan memikirkan apa alasan Aisyah bersikap aneh hingga terasa seperti menghindari dirinya.
Arshad baru sadar bahkan dia lebih parah dari anak paud. Bagaimana dia bisa melewatkan hal penting seperti ini? memang pernah dia bertanya pada Aisyah, tapi hanya sekali dan tidak terlalu menuntut untuk di jawab. Setiap dia tanya, Aisyah selalu mengungkit masalah lain. Seharusnya dari awal dia memaksa Aisyah untuk menjawab.
"Gua saranin sekarang lo samperin Aisyah terus tanya 'sayang kamu kenapa?' paksa Aisyah jawab! Ini baru nanya terus gak dijawab aja lo langsung ngangguk nyerah. Di paksa dong! Kalau dia tetap menghindar, ditahan. Kalau masih gak bisa juga, ikat dia kalau perlu di pasung aja sekalian. Heran gua sama lo berdua. Ummi ngidam apa sih waktu ngandung lo? Jangan-jangan lo bukan anak ummi."ucap Rio dengan kalimat akhir yang ngasal.
"Gak nyambung lo! Gak lihat nih hidung gua mancung kayak ummi?"tanya Arshad tak terima.
"Hih, ummi mah pesek ih gak mancung. Tuh kan bukan anak ummi."
"Gelud kita yuk, yo! Kesel gua dari tadi ngelihat lo!"sarkas Arshad yang sudah berdiri mengambil ancang-ancang untuk menghajar Rio.
Rio yang melihat kekesalan Arshad jadi tertawa lalu bangkit untuk segera kabur dari singa yang sedang terbangun itu.
__ADS_1