
Arshad terus menatap Aisyah yang sedang sibuk merapikan kasur. Terkadang ia merasa begitu dekat dan seperti mengenal Aisyah,hanya saja dia ragu dan tak tau ada apa sebenarnya dengan hatinya.
"Mas yakin hari ini mau kerja?"
Arshad mengalihkan pandangannya lalu berdehem.
"Banyak yang harus di urus di kantor. Cuma demam dikit aja gak akan ngerusak kerjaan. Lagian aku bukan cowok lemah. Aku pergi dulu. Assalamualaikum."
"Tapi kamu kalau udah kedinginan gampang demam. Nanti kenapa-kenapa lagi."
Arshad berbalik dan menatap heran Aisyah. Dia mendekat dan menatap Aisyah dengan penuh tanda tanya.
"Tau dari mana?"
"Maksudnya?"
"Kamu tau darimana kalau aku gak tahan dingin?"
"A...aku tau da...dari ummi. Ummi pernah bilang gitu. Kenapa emangnya?"
Arshad menggelengkan kepalanya.
"Aku kerja dulu."
Aisyah mengangguk.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam. Oh iya,kebetulan hari ini aku kuliahnya sampai siang. Mau aku bawain makan siang,gak?"
"Aku udah pernah bilang jangan sampai berita pernikahan kita ini tersebar! Masih ingatkan?"
"Aku bakal pastiin gak akan ada yang curiga,kok. Mau yah aku bawain makan siang? Lagian mas harus makan makanan yang sehat. Kondisi mas masih belum stabil."
"Terserah kamu. Aku berangkat dulu. ASSALAMUALAIKUM untuk yang ketiga kalinya."
Aisyah tersenyum,"Wa'alaikumussalam."
"Ummi,udah bilang sama Aisyah dan Arshad kalau malam ini ada pengajian di rumah?"tanya abi.
"Astaghfirullah ummi lupa,bi. Biar Ummi kabarin Arshad sama Aisyah sekarang."ucap Ummi dengan langsung menyambar ponselnya. Dia mencari kontak Arshad dan langsung menghubungi Arshad yang sedang fokus nyetir.
"Hallo assalamualaikum,Ar."ucap Ummi.
"Wa'alaikumussalam. Ada apa,mi?"
"Ummi lupa kasih tau kamu kalau malam ini ada pengajian di rumah. Kamu bisa datangkan,nak?"
"Pengajian dalam rangka apa,mi?"
"Cuma pengajian mingguan aja."
"Ya udah deh, insyaallah Arshad datang."
"Ya udah, assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam,ummi."
Setelah sambungan terputus, Arshad langsung mencari kontak Aisyah untuk memberitahu kepada Aisyah maksud ummi tadi.
{*Nomor yang anda tuju sedang sibuk*}
Kening Arshad berkerut karena nomor Aisyah yang sibuk.
"Sibuk? Telphonan sama siapa dia? Apa cowok yang itu?"tanya Arshad.
Arshad kembali mencoba menghubungi Aisyah dan tetap sibuk. Ia pun mencoba berkali-kali dan tetap saja sibuk. Karena kesal, Arshad pun melempar ponselnya ke kursi sampingnya.
"Masih pagi udah sok sibuk."ketus Arshad.
Padahal orang yang dituju kini sedang telphonan dengan umminya membicarakan hal yang sama.
"Iya, insyaallah Aisyah datang ummi. Aisyah juga lagi kangen banget sama ummi. Berarti sekarang ummi lagi masak, dong?"
"Enggak, bentar lagi aja masaknya soalnya ummi baru pulang dari pasar bareng abi. Eh untung aja diingetin sama abi buat kasih tau kamu sama Arshad."
__ADS_1
"Aisyah bantu ya,ummi."
"Kuliah kamu?"
"Oh iya ya. Ya udah deh gini aja, pulang dari kampus nanti,Aisyah langsung ke rumah ummi aja,gimana?"
"Setuju."
"Ya udah, assalamualaikum ummi."
"Wa'alaikumussalam."
Setelah sambungan terputus, Aisyah langsung pergi menuju kelasnya. Namun baru sampai di depan pintu kelas, hp nya kembali berdering membuat dirinya kembali berhenti.
"Assalamualaikum,mas. Ada apa?"tanya Aisyah.
Arshad berdehem. Akhirnya setelah beberapa kali mencoba lagi,ia pun bisa berbicara dengan Aisyah.
"Sibuk kenapa?"tanya Arshad langsung to *the* **points**.
Kening Aisyah berkerut,"Sibuk? Apanya yang sibuk? Siapa yang sibuk?"
"Hp kamu. Dari tadi di telphonin malah sibuk terus. Padahal aku mau kasih kabar penting sama kamu."
"Ohh barusan aku telphonan sama ummi, ummi kabarin aku mau ada pengajian nanti malam."
Arshad menahan senyumnya,"Oh,sama ummi? Ya udah kalau gitu, assalamualaikum."
Tut tut tut...
"Wa... Wa'alaikumussalam."
"Makin hari makin aneh nih si suami."gumam Aisyah sambil tersenyum.
°°°°°
Siangnya, Aisyah pun pulang ke rumah mertuanya dengan terburu-buru. Ia ingat bahwa dia juga akan menyiapkan makan siang untuk Arshad. Sebentar lagi sudah jam makan siang kantor.
"Assalamualaikum,ummi."ucap Aisyah langsung masuk ke rumah dan berjalan cepat menuju dapur. Ia melihat ummi sedang membuat beberapa masakan.
"Wa'alaikumussalam. Kamu udah datang aja."
Aisyah hanya mengangguk dan mondar mandir di dapur karena tidak tau ingin memasak apa untuk makan siang Arshad.
"Kamu kenapa,nak? Ribet amat ummi lihatnya."
"Bingung ummi. Gak tau mau masak apa buat makan siang mas Arshad."
Ummi tersenyum. Bahagia rasanya bisa melihat anak dan menantunya memiliki hubungan yang baik-baik saja.
"Masakin yang mudah aja,nak. Gak usah macam-macam."
"Emang gak pa-pa, mi?"
"Ya gak pa-pa,Arshad gak pemilih kok kalau urusan makanan."
Aisyah mengangguk paham dan mulai memasak dengan cepat.
Beberapa saat kemudian, Aisyah sudah selesai membuatkan makan siang untuk Arshad.
__ADS_1
"Udah selesai, Aisyah berangkat dulu ya,ummi. Nanti Aisyah balik lagi bantuin ummi. Assalamualaikum."ucap Aisyah dengan terburu-buru.
"Wa'alaikumussalam, hati-hati di jalan!"
Aisyah menaiki taksi menuju kantor Arshad yang untungnya tidak begitu jauh dari rumah ummi.
Setelah sampai,Aisyah langsung masuk ke kantor dan menuju resepsionis.
"Selamat siang,ada yang bisa di bantu?"tanya sang resepsionis dengan ramah namun tatapan tertuju pada cara berpakaian Aisyah.
"Saya ingin bertemu dengan pimpinan perusahaan."
"Maaf, sebelumnya sudah buat janji?"
"Sudah."
"Tunggu sebentar ya,mbak."
Resepsionis itu menghubungi Arshad yang kini sedang memandangi jam sambil memegang perutnya yang sudah lapar.
"Selamat siang,pak. Ada seorang perempuan yang ingin bertemu dengan bapak."
"Namanya?"tanya Arshad antusias.
"Namanya siapa,mbak?"tanyanya pada Aisyah.
"Aisyah."jawab Aisyah yang dapat di dengar oleh Arshad.
"Namanya\_"
"Saya ke sana sekarang!"ucap Arshad memotong ucapan resepsionis nya.
Tak membutuhkan waktu yang lama, Arshad pun sudah sampai di lobi menghampiri Aisyah yang masih berada di depan meja resepsionis.
Arshad berdehem,"Udah sampai?"
Aisyah tersenyum manis,"Maaf ya telat."
Arshad pun menatap tajam ke arah Aisyah. Tidak tau kah dia bahwa Arshad sudah menahan laparnya sejak tadi.
"Maaf pak,ini siapa bapak,ya?"tanya resepsionis itu.
Aisyah dan Arshad saling pandang.
Aisyah teringat ucapan Arshad tadi pagi yang mengatakan bahwa tidak ada lagi orang yang boleh tau tentang pernikahannya dengan Arshad.
Dengan senyum manisnya dia menatap resepsionis tersebut.
"Saya... adiknya. Lebih tepatnya saudara jauhnya."ucap Aisyah dengan penuh keyakinan.
Arshad langsung menatap Aisyah dengan tatapan yang sulit ia artikan. Haruskah dia senang? Atau marah? Tapi jika marah, alasannya apa? Bukankah ini yang ia inginkan?
"Adik?"tanpa sadar, Arshad malah bertanya.
Aisyah kembali menatap Arshad dengan senyuman manisnya,"Iya, adik."
Arshad tetap bungkam dan memilih pergi dari sana dan kembali ke ruangan nya. Aisyah dan resepsionis itu terheran dengan tingkah Arshad.
__ADS_1
"Kalau gitu saya susul kakak saya dulu ya,mbak. Permisi!"pamit Aisyah yang langsung menyusul Arshad ke ruangan nya.