
Sejak menghubungi Arshad siang tadi, Aisyah merasa aneh. Apakah Arshad memang sesibuk itu atau terjadi sesuatu yang buruk pada Arshad? Tapi mengingat perkataan ummi yang mengatakan bahwa Arshad baik-baik saja, membuatnya merasa tambah aneh. Benarkah dia baik-baik saja? atau ummi sengaja mengatakan hal itu hanya untuk membuatnya agar tidak khawatir? Aisyah terus memikirkan hal-hal itu hingga ia memutuskan satu hal. Dia harus kembali. Tak peduli Arshad akan menerimanya atau tidak, yang pasti untuk menghilangkan kegalauannya ini, dia harus kembali dulu.
Dengan langkah terburu-buru dan masih menggunakan mukena karena baru selesai melaksanakan shalat ashar, Aisyah mencari Anam ke kamarnya. Ia dapati Anam sedang bergelut dengan laptopnya.
"Lagi sibuk,kak?"tanya Aisyah membuat Anam menoleh dan langsung menutup laptopnya.
"Nggak, cuma ngirim email doang. Kenapa?"
"Acha mau pulang ke Jakarta hari ini juga."jawab Aisyah dengan mantap membuat Anam heran. Baru tadi pagi adiknya itu mengatakan bahwa dia akan kembali ke Jakarta minggu depan, kenapa sekarang berubah pikiran?
"Kenapa mendadak gini? bukannya baru tadi pagi kamu bilang mau pulang minggu depan? kok jadi berubah pikiran gini?"
"Kalau dipikir-pikir lagi, itu kelamaan. Kuliah aku gimana? gak mungkin dong di tinggal lama-lama."ucap Aisyah beralasan.
"Serius karena kuliah alasannya? bukan karena yang lain?"goda Anam membuat Aisyah salah tingkah.
"Alasan apa lagi? gak ada tuh."
"Serius? bukan karena Arshad?...."
Aisyah berdehem lalu dengan sedikit percaya diri, ia menatap Anam dari sudut matanya.
"Kalau iya emang kenapa? biarin aja sih! namanya juga orang udah nikah."
"Iya deh iya, yang udah nikah mah beda."seru Anam mengalah.
"Tuh tau. Dasar jomblo!"
"Eh, maaf nih sebelumnya. Udah gak jomblo lagi. Udah mau nikah. Catat tuh!"
"Baru juga mau, belum tentu jadi. Gitu aja udah bangga."
"Astaghfirullah, itu mulut di jaga,cha! nanti kalau jadi do'a gimana?"
"Bodo amat! pokoknya aku gak mau tau, malam ini aku harus berangkat. Gak boleh tunda-tunda!"
Anam mengangguk pasrah,"iya, tuan putri."
Aisyah pun langsung pergi kembali ke kamar dan membereskan barang-barang miliknya. Ia harus memastikan tak ada yang tertinggal.
.
.
.
Kini Aisyah dan Anam sudah berada di bandara. Jam sudah menunjukan pukul 8 malam dan Aisyah sudah bersiap-siap untuk penerbangan.
__ADS_1
"Maaf karena kakak gak bisa ikut ke Jakarta bareng kamu,ya. Masih ada yang harus di urus di sini."ucap Anam.
Aisyah pun mengangguk,"gak pa-pa, lagian juga aku udah biasa sendiri kok. Kakak tenang aja! kalau gitu aku berangkat dulu, jaga kesehatan kakak di sini!"
"Iya, jangan lupa titip salam buat ummi dan abi karena masih belum sempat berkunjung!"
"Iya, assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."Anam melambaikan tangannya saat Aisyah sudah mulai menjauh.
Aisyah akhirnya melakukan penerbangan menuju Jakarta. Sebuah senyum manis terukir di wajahnya. Mengingat bahwa sebentar lagi dia akan bertemu dengan Arshad membuatnya tambah senang dan semangat. Akhirnya, sebentar lagi dia bisa bertemu dengan suami yang selama seminggu ini ia rindukan. Semoga semuanya baik-baik saja.
.
.
.
Saat jam menunjukan pukul setengah sepuluh, Aisyah akhirnya sampai di Jakarta dengan selamat. Aisyah menarik koper bawaannya dan berniat menghubungi Arshad. Namun saat melihat jam menunjukan pukul setengah sepuluh, membuat Aisyah membatalkan niatnya. Mungkin akan lebih baik jika dia pulang dengan taksi saja. Jika dia menghubungi Arshad dan Arshad sedang istirahat bagaimana? itu pasti akan sangat mengganggu Arshad.
Setelah taksi yang dia pesan datang, Aisyah pun langsung melaju ke alamat rumahnya dan Arshad. Semakin dekat dengan tujuannya, entah kenapa membuatnya semakin khawatir. Apakah benar-benar terjadi sesuatu dengan Arshad?
"Pak, tolong lebih cepat lagi ya,pak!"pinta Aisyah dengan perasaan tak tenang.
"Baik, mbak."
"Pak Udin!"
"Eh, mbak Aisyah udah pulang? kok jam segini mbak?"tanya Pak Udin sembari membuka gerbang.
"Iya pak, perasaan saya gak enak. Mas Arshad di rumahkan?"
"Ada di rumah mbak."
Aisyah mengangguk paham,"kalau gitu saya ke dalam dulu,pak. Permisi."
"Iya,mbak."
Aisyah menekan tombol bel dan tak lama setelah itu bi Nah keluar.
"Mbak Aisyah? kenapa pulangnya jam segini,mbak?" Bi Nah menolong membawakan barang-barang Aisyah masuk.
"Perasaan saya gak enak,bi. Mas Arshad udah tidur?"
"Udah,mbak. Tapi tadi sempat nyari-nyari mbak Aisyah. Semenjak mbak Aisyah pergi, mas Arshad jadi jarang di rumah, lebih milih lembur dan tidur di kantor. Kalau pulang pun cuma waktu siang. Katanya mau memastikan mbak Aisyah udah pulang atau belum."
Mendengar hal itu membuat Aisyah terheran. Semenjak dia pergi? apa yang terjadi sebenarnya? kenapa Arshad selalu ingin memastikan kepulangannya? bukankah ummi sudah memberi kabar pada Arshad tentang dirinya? ada yang tidak beres, pikir nya.
__ADS_1
"Kalau gitu saya ke kamar dulu ya, bi. Barangnya biar saya yang bawa sendiri aja. Makasih sebelumnya. Bibi boleh lanjut istirahat lagi."
"Ya sudah kalua begitu, bibi permisi ya mbak."
Aisyah mengangguk lalu setelah bi Nah pergi, Aisyah pun langsung membawa kopernya ke kamar.
CKLEK!
Mata Aisyah membulat kala melihat kamar yang sudah berubah menjadi kapal pecah. Apa ada gempa di sini? apa sebenarnya yang terjadi?
"Astaghfirullah. Ini kamar atau gudang, sih? gudang aja gak sekotor ini."Aisyah pun beralih menatap Arshad yang sedang tertidur. Seketika senyumnya terbit dan Aisyah pun langsung mendekat untuk melihat wajah Arshad.
"Masih pake baju kayak gini kamu udah tidur. Capek banget kamu ya, mas?"Aisyah pun menyentuh tangan Arshad yang terasa sangat panas.
"Astaghfirullah."Aisyah juga memeriksa dahi Arshad yang bahkan terasa lebih panas.
"Kamu demam? Astaghfirullah, kamu kenapa bisa sakit gini sih?"Aisyah dengan buru-buru pergi ke dapur untuk menyiapkan kita kompresan untuk Arshad.
Sepanjang malam Aisyah terus berjaga dan merawat Arshad. Bahkan Aisyah tertidur dalam keadaan duduk bersimpuh di lantai dengan kepala di kasur dan tangannya yang tak berhenti menggenggam tangan Arshad.
Saat azan subuh berkumandang, Aisyah mendengar suara lenguhan yang keluar dari mulut Arshad. Aisyah langsung terbangun dan menatap Arshad dengan khawatir bercampur senang.
"Kompres? siapa yang..."
"Mas, kamu udah sadar?!"Aisyah dengan wajah khawatirnya menatap Arshad yang terlihat sulit membuka mata.
"Mas, kamu dengar aku, kan?"sekali lagi Aisyah bertanya, Aisyah melihat Arshad semakin berusaha membuka matanya. Dan saat mata Arshad benar-benar terbuka, Aisyah malah heran melihat cara Arshad menatapnya.
"Aisyah?..."ucap Arshad hampir tak bersuara.
"Iya, ini aku. Gimana keadaan kamu mas? udah mendingan? masih pusing? atau pegal-pegal? kamu dengar aku,kan?"Arshad hanya terus menatap Aisyah tanpa berniat menjawab. Menurutnya ini masih belum bisa di cerna oleh otaknya.
"Kamu bener-bener Aisyah?"
Aisyah tetap mengangguk walau masih tak mengerti, "iya, mas. Ini aku. Kenapa?"
Sontak Arshad langsung duduk dan menarik Aisyah ke dalam pelukannya. Sungguh sebuah hal yang sangat membahagiakan baginya. Akhirnya istrinya kembali. Aisyah-nya kembali.
"Kenapa baru sekarang?"tanya Arshad terdengar sendu.
Aisyah yang masih belum terbiasa diperlakukan seperti itu, masih berusaha menetralkan detak jantungnya. Kenapa Arshad malah tiba-tiba memeluknya? tanyanya dalam hati.
"Jangan kemana-mana lagi! Aku mohon!"pinta Arshad membuat Aisyah dengan ragu membalas pelukan Arshad dan menepuk punggung Arshad dengan pelan guna untuk menenangkannya.
Dia tak tau apa sebenarnya yang terjadi. Yang ia sadari sekarang adalah Arshad sangat lemah sekarang. Ia benar-benar prihatin dengan keadaan suaminya ini.
"Sebenarnya kamu kenapa sih, mas? kenapa kamu sampai kayak gini? apa yang udah kamu lalui selama aku gak ada?"tanya Aisyah yang hanya bisa sebatas dalam hati.
__ADS_1