
Saat pagi hari setelah Arshad selesai mandi, Arshad sudah tidak menemukan Aisyah lagi di kamar. Tak biasanya seperti ini. Arshad pun buru-buru mengenakan dasi dan jasnya lalu turun ke bawah.
"Aisyah? Kamu di mana?"panggil Arshad.
"Bi, Aisyah di mana? Kok gak kelihatan?"tanya Arshad saat hanya menemukan bi Nah di ruang makan.
"Mbak Aisyah sudah pergi dari setengah jam yang lalu,mas. Katanya dia sudah siapkan sarapan untuk mas Arshad. Jangan lupa makan, pesannya!"jelas bi Nah.
"Tumben berangkatnya pagi banget."ucap Arshad, namun tak dapat ia pungkiri bahwa perhatian kecil Aisyah mampu membuatnya tersenyum.
Saat di kantor Arshad sedang sibuk dengan laptopnya. Bukan urusan pekerjaan melainkan ia sedang mencari tempat-tempat yang romantis untuk ia kunjungi bersama Aisyah. Tanpa ia sadari, Rio sudah masuk ke ruangannya dan tersenyum remeh melihat kegiatan Arshad.
"Sibuk amat..."sindirnya membuat Arshad tersentak.
"Gak ada sopan-sopannya ya lo jadi bawahan! Lo senggang banget ya sampai harus ngurusin urusan orang lain?"sergah Arshad.
Rio pun mengangkat kedua tangannya,"Tenang,bro! Gak usah ngegas."
"Ngapain lo di sini?"
"Rencananya mau ngobrol bentar soal Aisyah. Gua ngerasa bersalah sama lo. Sebenarnya gua tau Aisyah pergi bukan karena marah sama lo. Ummi yang larang,bro. Gua janji akan cari informasi lebih lanjut soal keberadaan Aisyah. Jadi_"
"Lo ngomong apaan sih? Aisyah udah pulang beberapa hari yang lalu."Arshad kembali fokus pada laptopnya.
"Hah?! Kok bisa?!"Rio yang mulanya berdiri, langsung duduk karena merasa obrolan ini mungkin akan panjang.
"Ya bisalah."
"Ya kenapa bisa? Kenapa lo gak bilang ke gua?"
Arshad menatap Rio dengan alis terangkat sebelah,"Lo gak sepenting itu kali harus tau semua urusan gua. Emang lo siapa?"
Rio terbelalak dan kepala menggeleng tak percaya,"Tega lo, Ar. Sama gua aja gitu lo. Semenjak ada Aisyah, gua dinomor duakan sama lo. Lo anggap gua seakan-akan gak pernah ada. Lo marah gak jelas ke gua, lo rebut bubur gua, bahkan gak anggap gua sebagai orang yang pernah sangat berarti dalam hidup lo. Kalau gak ada gua lo gak akan lahir, tau lo?"Arshad geli mendengar ucapan lebay Rio.
"Emang lo siapa? Ummi gua?!"
"Lo lupa saat-saat kita nyolong bakwan di kantin waktu SD padahal lo tau kalau lo mampu bayar? Lo bilang anak sultan kalau gak ada tantangan,gak seru. Tapi yang kena omel siapa? Gua. Karena emang gua yang ngajakin awalnya. Tapi kan tetap aja kenangan itu berarti, Ar. Lo lupa waktu lo masuk angin gua kerokin sampai tangan gua pegal-pegal? Lo lupa kita pernah tidur bareng sampai kesiangan karena malamnya cape habis main? Lo lupa itu,kan? Lo lupain kenangan kelam kita kayak lo lupain jejak kaki lo yang lo tinggal pas jalan. Dan semua itu tergantikan dengan Aisyah yang bahkan baru lo kenal,Ar. Tega lo_"
"Apa-apaan lo? Lo kalau ngomong ngacok banget,tau gak? Ambigu! Gak ada ya lo ngomong hal-hal aneh itu lagi! Jijik gua! Sok drama lo!"sergah Arshad dengan tampang jijik menatap Rio.
__ADS_1
"Lo berubah. Gua benci sama lo!"Rio langsung pergi dari ruangan Arshad.
"Aneh banget tuh anak manusia."gumam Arshad.
TOK TOK!
"Masuk!"pinta Arshad.
Terlihat seorang karyawan wanita masuk.
"Ada apa?"tanya Arshad.
"Sore ini bapak ada janji temu dengan klien dari KL, pak."ucapnya.
"Kenapa bukan pak Rio yang sampaikan? Dia kan asisten saya."
"Saya juga tidak tau alasannya,pak. Tapi yang pasti, dia bilang kalau dia ... ngambek."
Arshad menggeleng geli,"Aneh." Bahkan Arshad juga dapat melihat ekspresi geli di wajah karyawannya itu.
"Kalau begitu kamu boleh keluar, terimakasih."
"Baik, sama-sama pak."
Di kampus, Aisyah kini sedang sibuk telphonan dengan Anam membicarakan soal pernikahan Anam dengan Khadijah yang rencananya akan dilaksanakan di Jakarta.
"Jadi kapan kak Anam sama kak Khadijah sekeluarga ke Jakarta?"tanya Aisyah.
"Rencananya dua hari lagi,cha."
"Oh, kalau gitu kak Khadijah sama bunda dan ayah tinggal di rumah aku aja. Gak mungkin kan kalau misalnya kakak tinggal serumah sama kak Khadijah? Kan belum muhrim."
"Gak apa-apa?"
"Gak apa-apa, dong."
"Serius kamu gak keberatan?"
"Keberatan gimana sih kak? Aku gak masalah, gak apa-apa banget malah. Biar nanti aku omongin sama mas Arshad. Aku juga mau kasih tau ummi sama abi soal ini. Pokoknya kakak tenang aja, semua beres. Aku juga yang akan jemput kakak. Kakak tinggal kasih tau kapan penerbangannya aja."
__ADS_1
"Wah, baik banget sih? Perhatian banget."
"Sama kakak sendiri gak apa-apa kali."
"Tapi jangan berlebihan,dong. Perhatian buat Arshad-nya nanti malah berkurang."goda Anam.
Aisyah hanya tersenyum tanpa berniat menanggapi.
"Ya udah, kakak tutup dulu teleponnya. Kalau ada apa-apa jangan lupa kabarin kakak!"
"Iya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Aisyah menghela nafasnya lalu berjalan menuju kelas sambil berusaha menghubungi seseorang,"Halo, assalamu'alaikum kak Rizky?"
"Wa'alaikumussalam."
"Bisa ketemu gak sore ini? Nanti aku share loc..."
Arshad duduk di sebuah restoran di ruangan VIP bersama dengan Rio sambil menunggu kedatangan klien. Sudah sekitar 10 menit mereka menunggu. Sebenarnya mereka datang lebih awal agar tak terlambat dan mengecewakan klien.
"Masih ada waktu lima menit lagi, gua ke toilet sebentar. Gak lama,kok."ucap Arshad pada Rio sebelum akhirnya pergi.
Setelah dari toilet, Arshad kembali namun berhenti saat melihat Aisyah. Arshad terheran melihat Aisyah juga ada di sini. Apa yang sebenarnya dia lakukan? tunggu, bukan itu yang terpenting. Yang terpenting adalah siapa yang_
"Rizky?"gumam Arshad. Rahang Arshad mengeras saat melihat Rizky lah yang sedang bersama dengan Aisyah. Ini tak bisa ia biarkan. Berani-beraninya dia mendekati Aisyah.
Sedetik sebelum Arshad hendak menghampiri mereka, klien yang ia tunggu-tunggu pun datang sehingga membuatnya mau tak mau harus menahan diri.
"Selamat sore, Pak Arshad!"
"Se_selamat sore, Pak Hilman. Apa kabar?"
"Saya baik. Anda sendiri?"
"Saya juga baik. Mari kita masuk.!"
"Baiklah."
__ADS_1
Padahal dirinya sangat ingin melabrak mereka, namun harus ditahan dulu untuk sekarang. Mungkin nanti dia akan bicara dengan Aisyah saat di rumah. Dia tak ingin memutuskan kecurigaan dulu sekarang. Dia yakin semuanya hanyalah sesuatu yang tak mungkin persis seperti apa yang dirinya pikirkan saat ini. Penjelasan Aisyah akan meruntuhkan semua kecurigaan itu nantinya. Dia yakin tak ada hal apa pun di antara keduanya.