
Setelah pertemuan dengan Fahri tadi, Arshad kini sudah berada di perjalanan menuju rumah. Entah kenapa setelah mendengar cerita Fahri tentang Aisyah, ia yakin bahwa Aisyah pasti akan kembali. Aisyah lebih dewasa dari yang ia pikirkan.
"Siapa tadi,mas?"tanya Laila pada Fahri saat mereka akan pulang.
"Suami Aisyah."
"Oh ya? Masya Allah, terus Aisyah nya mana?"
"Gak ikut karena lagi pergi katanya. Kayaknya mereka lagi ada masalah,deh."
"Tapi aku yakin masalah itu gak akan berlangsung lama."
"Kenapa gitu? Yakin banget kayaknya?"
"Karena istrinya itu Aisyah,mas. Aisyah jauh lebih dewasa dari yang orang-orang kira."
Fahri tersenyum seraya mengangguk membenarkan lalu ia menggenggam tangan Laila.
.
.
.
Di perjalanan pulang, Arshad singgah di sebuah masjid untuk melaksanakan shalat maghrib. Semenjak masalah itu muncul, Arshad malah jadi jarang shalat. Ia benar-benar hamba yang buruk. Saat ada masalah, bukannya semakin dekat dengan Allah, tapi malah semakin jauh. Kalau begini, bagaimana ia bisa dengan pantas disandingkan dengan Aisyah?
.
.
.
Setelah shalat maghrib, Arshad tak langsung pulang. Ia mendengar ceramah dari ustadz dan berniat pulang setelah shalat isya saja. Ceramahnya merujuk pada pernikahan. Banyak hikmah yang dapat di ambil dari ceramah tersebut. Bahkan tentang seorang suami yang seharusnya menjaga hati istri. Tersinggung? Tentu saja. Saat mendengar itu, Arshad menghela nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya dengan keras.
"Jadi malu sendiri. Kayaknya ustadz-nya gak suka deh sama aku, syah. Ngatain mulu dari tadi."ucap Arshad membatin dengan wajah lesu.
.
.
.
Di sisi lain, Laras dan Rio kini sedang makan di sebuah restoran karena tak sengaja bertemu. Rio menatap Laras yang terlihat biasa saja. Jujur, dia sangat ingin menanyakan keadaan Laras sekarang. Apakah dia sudah baik-baik saja sekarang?
"Gue baik-baik aja,kok."ucap Laras seakan mengerti.
Rio berdehem,"gue... gak nanya."elak Rio.
"Gak usah bohong! Dari muka lo udah kelihatan kali. Gue gak suka ya di tatap kayak tadi! Gue bukan cewek lemah kali. Justru yang lebih gue khawatikan sekarang adalah keadaan Arshad. Gimana dia sekarang? Gue ingat waktu itu lo cerita kalau Aisyah pergi,kan? Masih belum ada kabar?"
__ADS_1
Rio menggeleng,"belum ada. Bahkan ummi juga gak mau kasih tau Arshad dimana Aisyah. Sama gue juga gak ada bocoran."
"Seandainya waktu itu gue bener-bener melepas Arshad, pasti semuanya gak akan jadi serumit sekarang. Ini emang salah gue."Laras menghela nafas dan menunduk menatap makanannya.
"Emang iya. Baru sadar?"respon Rio dengan santai tanpa rasa iba.
Laras sontak menatap Rio yang kini sibuk dengan makanannya dengan wajah santainya.
"Lo kok jahat banget,sih? Bukannya nenangin atau prihatin, ini malah ngeselin."protes Laras dengan tatapan tajam seakan ingin membenamkan Rio saat ini juga.
Rio pun akhirnya menatap Laras. Keningnya berkerut. Salahkah dirinya mengatakan hal itu? Lalu apa yang harus ia katakan? Bukankah itu memang salah Laras dan juga Arshad? Haruskah ia salahkan orang lain atas masalah ini?
"Terus gua harus bilang apa coba? Gak mungkin kan gua bilang ini bukan salah lo sementara ini emang salah lo. Lagian jangan terlalu nyalahin diri sendiri lah! Kan kalian salahnya berdua, ajak tuh si Arshad biar bisa saling main nyalahin berdua."Rio kembali makan dengan santai dan tidak mempedulikan Laras yang wajahnya sudah merah padam karena marah. Apa sahabatnya ini memang sangat menyebalkan? Kenapa dirinya baru sadar?
"Enteng banget ya tuh mulut ngomong. Stress gue lama-lama deket sama lo. Seharusnya gue gak curhat tadi. Bukannya baikan, ngomong sama lo malah bikin gue tambah mumet, tau gak?! Lo orang paling nyebelin yang pernah gue kenal."Laras langsung menyuapkan makanan ke mulutnya dengan kasar.
Seraya mengunyah makanan, Rio pun berkata,"mumet ya mumet aja,mbak. Gak usah meng-gas! Itu mulut atau toa musholah? Bikin sakit kuping,aja."Laras memberi tatapan tajam pada Rio dan kembali menyantap makanannya. Rio tersenyum kecil. Lucu menurutnya melihat wajah kesal Laras. Apakah Laras memang selucu ini sebelumnya? Kenapa dirinya tak menyadari itu sejak dulu?
Rio pun menyodorkan jus jeruk miliknya yang belum ia minum pada Laras.
"Lo tenang aja! Semuanya bakalan baik-baik aja kok. Aisyah pasti pulang."Laras sontak menatap Rio dengan tatapan bertanya.
"Serius?"Rio mengangguk.
"Tau dari mana?"
"Ummi."
"Alamatnya emang nggak ummi kasih tau, tapi ummi bilang Aisyah pasti pulang."
"Kenapa gak bilang dari tadi,sih? Sumpah lo nyebelin banget, tau gak!? Lo... Egrhhh!" geram Laras sambil menjambak rambutnya sendiri.
"Arshad udah tau?"tanyanya lagi.
Dengan polosnya Rio menggeleng.
"Kenapa gak lo kasih tau?"
Rio mengambil kentang goreng miliknya,"dianya gak nanya. Yang dia tanya cuma alamat Aisyah doang."
Laras sudah tidak tahan lagi. Dia pun langsung melayangkan jitakan di dahi Rio membuat Rio mengaduh kesakitan.
"Lo kenapa sih? Udah gue kasih tau informasi penting lo malah jitak gue. Salah mulu gue di mata lo!"
"Emang lo salah, bambang! Seharusnya lo kasih tau Arshad soal ini, bukan malah lo pendem sendiri aja. Seenggaknya itu udah mengurangi beban Arshad walau cuma setengah. Gila, lo! Lama-lama gue yang gila ngobrol sama lo. Dah ah, gue malas makan. Gak nafsu gue makan bareng lo."Laras langsung bangkit dari duduknya.
Sedetik sebelum pergi, Laras menatap Rio dengan malas,"lo yang bayar!"sarkas Laras sebelum benar-benar pergi.
Rio mengerjap-ngerjapkan matanya sambil melihat Laras yang sudah semakin jauh meninggalkannya. Setelah itu ia beralih menatap banyak piring-piring kosong di atas meja.
__ADS_1
"Gak nafsu tapi habis semua. Kalau dia lagi nafsu makan, bisa habis berapa piring? Ternyata cewek kalau makan ganas juga, ya."Rio geleng-geleng kepala sembari menghela nafas berat.
"Kalau gini, tekor dong gue. Gimana mau nabung buat calon istri kalau gini ceritanya?"keluh Rio.
.
.
.
Arshad baru tiba di rumah sekitar jam setengah sepuluh. Arshad berjalan dengan lesu menuju kamarnya. Entah kenapa dia merasa pusing dan juga sakit di tubuhnya. Namun saat dirinya baru masuk ke kamar, dia melihat seorang perempuan sedang berdiri di balkon persis seperti yang biasa Aisyah lakukan. Mata Arshad membulat saat perempuan itu berbalik.
"Aisyah?!"Arshad langsung berjalan cepat ke arah balkon namun baru beberapa langkah, tiba-tiba saja Aisyah menghilang dari hadapannya.
Apa-apaan ini? Apakah dirinya berhalusinasi lagi? Ya, memang ini bukan kali pertama dirinya berhalusinasi. Tapi entah kenapa kali ini terasa lebih nyata. Jujur saja ini bahkan lebih menyiksa. Apakah rindu memang seberat ini?
Dengan satu tarikan nafas, Arshad berbalik dan berjalan perlahan menuju lemari. Satu hal lagi yang membuat dirinya terkejut. Saat dia membuka lemari, dia menemukan baju-baju milik Aisyah yang sudah rapi tergantung di dalam lemari. Apakah ini halusinasi lagi? tanya Arshad pada dirinya sendiri. Arshad pun langsung menyentuh baju itu.
"I_ ini nyata? Ini nyata. Aisyah? Aisyah!"Arshad langsung keluar dari kamar, ia teriakan nama Aisyah hingga menggema di penjuru rumah, namun hasilnya nihil. Tak ada tanda-tanda keberadaan Aisyah.
"Mas, mbak Aisyah masih belum pulang."jawab bi Nah dari lantai bawah. Ia melihat ke arah Arshad yang memang berada di lantai atas.
"Tapi baju-baju itu? Kenapa..."
"Ohh itu baju yang baru saya setrika sore tadi mas. Maaf karena sudah lancang masuk kamar mas padahal udah dilarang."
Lagi-lagi hanyalah harapan yang sia-sia. Arshad benar-benar tak sanggup jika begini terus. Kapan Aisyah-nya akan pulang? Tanpa berkata-kata apa pun lagi, Arshad langsung masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya di kasur. Kepalanya pusing sekali. Tubuhnya terasa begitu pegal. Arshad merasa tak bisa bangun walau sekedar mengganti baju. Ia takut nanti dirinya malah terjatuh. Biarlah dirinya tidur dengan pakaian ini sampai pagi. Semoga saat pagi nanti, dirinya bisa bangun dengan keadaan lebih baik lagi.
.
.
.
Azan subuh pun berkumandang. Arshad berusaha membuka matanya yang terasa begitu berat. Kepalanya sudah agak mendingan sekarang dibanding semalam. Arshad pun meraba dahinya karena merasa ada sesuatu yang aneh melekat di dahinya.
Arshad yang matanya masih sipit, terheran setelah menyadari apa yang membuatnya merasa aneh sejak tadi, "Kompres? Siapa yang_"
"Mas, kamu udah sadar?!"
Suara yang terdengar khawatir itu sangat familiar baginya. Itu suara Aisyah. Tunggu,! Aisyah? Benarkah? Apakah ini halusinasinya lagi? Arshad menghela nafas kesal. Bahkan kini halusinasinya makin parah. Dirinya bahkan sekarang bisa mendengar suara Aisyah.
"Mas, kamu dengar aku, kan?"
Arshad kini semakin heran. Jika benar ini hanya halusinasi, kenapa ini terasa begitu nyata? Arshad pun berusaha keras membuka matanya. Ia harus memastikan apakah itu benar-benar Aisyah.
Dan benar saja. Sesaat setelah dirinya berhasil membuka mata, hal yang pertama ia lihat adalah wajah cemas sang istri yang sudah ia rindukan seminggu ini.
Dengan kening berkerut dan tatapan tak percaya, Arshad terus menelusuri setiap sisi dari wajah Aisyah dengan tatapannya. Benar. Ini Aisyah. Ini benar-benar Aisyah.
__ADS_1
"Aisyah..."ucap Arshad lirih hampir tak bersuara.