
Aisyah menangis sendirian di dalam ruangan bernuansa putih yang sangat pekat dengan bau obat-obatan itu. Merenungkan semua kejadian tadi. Bukannya Aisyah tidak mengerti perasaan Arshad, dia juga ingin bisa bertahan lebih lama tapi tetap saja Aisyah merasakan ketakutan yang amat besar. Seakan-akan akan terjadi hal lain lagi kedepannya. Entah itu kematiannya atau apa lah dia juga tidak tau.
Kematian memang tidak ada yang tau kapan datangnya. Kematian memanglah teka teki hidup. Aisyah memang tak dapat memastikan kapan dia akan meninggal. Tapi Aisyah hanya tidak ingin jika hari dimana dia dioperasi adalah hari terakhirnya. Aisyah benar-benar takut dengan segala kemungkinan buruk itu.
Keputusan seperti apa yang harus dirinya ambil? Dia benar-benar bingung.
CKLEK
Aisyah sontak melihat pintu ruangan berharap bahwa yang datang adalah Arshad. Namun ternyata ummi. Seketika tangisnya semakin menjadi saat melihat wajah ummi.
"Ummi...."ucap Aisyah lirih.
Ummi pun bergegas memeluk Aisyah,"ada apa Aisyah? Ada apa lagi?"
"Mas Arshad marah sama Aisyah ummi. Mas Arshad kecewa sama Aisyah. Aisyah bingung, Aisyah takut ummi."adu Aisyah di pelukan sang ibu mertuanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi, nak? Bilang sama ummi."Aisyah menegakkan tubuhnya menatap ummi dan mulai menjelaskan tentang operasi dan juga perdebatan yang terjadi diantara dirinya dan Arshad. Ummi yang memang sudah yakin ini akan terjadi juga merasa sangat sedih dalam hatinya. Tapi tidak mungkin dia juga ikut menangis sedangkan seharusnya dia menjadi penyemangat dan penguat untuk Aisyah.
Saat dulu Anam menjelaskan tentang kondisi Aisyah, ummi sudah cukup banyak menangis. Entah takdir seperti apa yang ditetapkan untuk anak dan juga menantunya ini.
"Aisyah harus bagaimana ummi?"
"Segala keputusan selain berada ditangan Arshad juga berada ditangan kamu. Apa pun keputusannya ummi pasti dukung. Jadi, sekarang yang harus kamu dan Arshad lakukan adalah mencoba tenang dan pikirkan lagi baik-baik. Semua keputusan jika diputuskan dengan emosi, tidak akan baik jadinya. Biarkan Arshad tenang dulu, lalu selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin."
___________________
"Loh, lo di kantor? Tumben. Biasanya kalau gak ada rapat penting, lo gak ngantor cuma paling suruh gue bawa kerjaan lo ke rumah sakit. Ini ada apa?"tanya Rio saat mendapati Arshad diam duduk di kursinya sambil menjatuhkan kepalanya di meja.
"Yo, gua butuh sendiri. Jangan biarin siapa pun masuk ke ruangan gue. Bisa?"pinta Arshad. Dapat Rio lihat bahwa memang Arshad terlihat sedang kacau. Dan Rio yakin masalah Arshad tidak akan jauh-jauh tentang Aisyah.
"Oke, kalau gitu gua keluar dulu."Rio pun akhirnya keluar dari ruangan Arshad dan mengecek ponsel miliknya. Tak ada pesan masuk dari Laras. Padahal Laras malam kemarin mengatakan akan makan siang bersama dengannya hari ini. Rio melihat jam di ponsel dan masih menunjukan pukul 10. Mungkin sebentar lagi akan ada kabar.
"Pak, ada tamu untuk anda."ucap salah seorang karyawan pada Rio.
"Di mana?"tanya Rio.
"Dia menunggu di lobi, pak."
"Ya sudah saya ke sana sekarang. Oh iya, satu lagi tolong jangan ganggu pak Arshad. Dan tolong kamu bilang sama yang lain kalau pak Arshad sedang tidak ingin di ganggu."
__ADS_1
"Baik, pak."setelah itu mereka berpisah dan karyawan tersebut langsung menyampaikan pesan kepada semua staf dan karyawan.
Sedangkan Rio kini sudah hampir sampai di lobi. Rio melihat seorang perempuan dengan pakaian yang menurut Rio kekurangan bahan itu berdiri memunggunginya. Apakah dia orang yang ingin bertemu dengannya?
"Apa betul ada tamu untuk saya?"tanya Rio pada resepsionis.
"Iya pak benar. Yang itu."tunjuknya pada perempuan tersebut. Tak salah perkiraannya.
"Siapa ya?"tanya Rio. Seketika perempuan berbalik dengan senyum manisnya yang terlihat menjijikkan bagi Rio. Rio tau siapa perempuan ini. Tapi pertanyaannya, kenapa perempuan ini bisa ada di sini?
"Ngapain lo ke sini?"tanya Rio dengan tak bersahabat,"ikut gua."
Rio menarik tangan perempuan itu dengan sedikit kasar dan membawanya keluar dari perusahaan.
"Sakit! Jangan kasar dong..."rintih perempuan itu. Setibanya di luar, Rio langsung menghempaskan tangan perempuan itu setelahnya menepuk-nepuk kedua telapak tangannya dengan kasar. Jijik karena sudah menyentuh perempuan itu.
"Ih, kok gitu? Jahat banget sih, kak! Emang aku najis apa?"
"Gua rasa lo cukup sadar diri."
Perempuan itu berdecak,"sama adik sendiri gak boleh jahat, kak."
"Terima nasib aja lah kak. Kalau kita sekarang saudaraan. Mama aku itu istri papa juga. Jadi otomatis kak Rio adalah kakak tiri aku. Kita bisa berhubungan baik layaknya kakak adik."
"Orang yang kerjanya cuma tau gimana caranya merusak hubungan, gak pantas punya hubungan baik."
"Kayak mama kakak? Perusak kan dulu?"dengan sinisnya perempuan itu membalas ucapan Rio.
Rahang Rio mengeras,"pergi sebelum gua kasar sama lo."
"Kakak berani kasar sama cewek?!"
"Emang lo cewek? Gua pikir sampah."
"Sialan ya lo! Gua ke sini datang baik-baik. Papa minta gua bilang sama lo kalau malam ini ada acara makan malam sama keluarga calon tunangan lo."
"Gua gak pernah setuju."
"Kalau mau batalin perjodohan, datang dan batalin sendiri."perempuan itu hendak pergi dari hadapan Rio, namun berbalik menatap Rio dengan senyum remehnya.
__ADS_1
"Oh iya, papa udah tanda tangan kontrak. Kalau di batalin mungkin dendanya bisa bikin perusahaan papa benar-benar jatuh."
Setelah kepergian perempuan yang bisa dibilang adik tirinya itu, Rio benar-benar mengumpat. Bisa-bisanya papanya tanda tangan tanpa persetujuannya. Kalau sudah begini, dia tidak tau harus bagaimana. Mana mungkin lagi meminta bantuan Arshad atau Anam.
Perempuan bernama Selina Justin itu tersenyum sinis melihat sang kakaknya dari dalam mobil yang terlihat tak henti-hentinya mengumpat di luar sana. Setelah pernikahan mamanya dengan papa Rio yang terjadi sekitar 5 tahun lalu, Selina bahagia mempunyai keluarga baru yang mana papa tirinya juga sangat menyayangi dirinya saat itu. Mengetahui dia juga mempunyai seorang kakak laki-laki, membuat kebahagiaannya semakin bertambah. Sayangnya, sudah 5 tahun berlalu tak pernah sedikitpun Selina mendapat perhatian dari sang kakak. Tentu dia sangat menyayangi Rio. Rio adalah pria baik, walau kebaikan itu tidak bisa tertuju untuk dirinya dan mamanya.
_____________________
Sudah pukul 9 malam, namun Arshad masih belum kembali. Aisyah khawatir dan tak henti-hentinya menghubungi nomor Arshad. Akhirnya karena kelelahan, Aisyah pun tertidur sambil menggenggam erat ponselnya.
Tak lama setelah Aisyah tertidur, Arshad datang dan menghampirinya. Arshad menatap wajah Aisyah dengan seksama. Mata bengkak, hidung merah. Sudah berapa lama istrinya ini menangis? Dengan lembut Arshad mengusap bekas air mata di sudut mata Aisyah lalu mencium kening Aisyah cukup lama.
"Maafin aku udah bikin kamu nangis. Maafin aku..."
Setelahnya Arshad mesuk ke toilet untuk mengambil wudhu. Dia ingat belum melaksanakan shalat Isya.
Selepas melaksanakan shalat Isya, Arshad duduk di atas sajadah dengan kepala tertunduk dalam dan air mata yang kembali menetes. Isakan yang awalnya terdengar kecil mulai menjadi besar. Karena Arshad masih berusaha keras menahan isakannya agar tak mengganggu Aisyah, dadanya malah terasa sesak dan nafasnya mulai tak beraturan. Memang benar, jika kita menahan tangis itu akan lebih menyiksa. Arshad pun memukul-mukul pelan dadanya dengan harapan bisa sedikit mengurangi sesaknya.
GREB
Seketika tubuhnya membeku karena seseorang memeluknya dari samping. Itu Aisyah. Ternyata Aisyah belum benar-benar tertidur tadi dan sekarang malah memeluknya. Arshad tak berani menatap wajah Aisyah dan hanya membalas pelukan Aisyah. Arshad memeluk tubuh Aisyah dengan sangat erat dengan semakin membenamkan wajahnya di ceruk leher Aisyah.
Dapat Aisyah rasakan getaran tubuh Arshad dan isakan Arshad yang semakin lama kian menjadi. Sekacau ini suaminya.
"Aku gak akan paksa kamu lagi, syah. Maaf..."ucap Arshad dengan suara serak khas orang menangis.
"Maafin aku, syah. Aku kelewatan... Maaf..."
"Seharusnya aku bisa mengerti kekhawatiran kamu. Sekarang aku akan ikutin apa pun keputusan kamu. Tapi maafin aku syah..."
Aisyah mengusap punggung Arshad berusaha menenangkan suaminya itu. Lalu Aisyah melepas pelukannya dan menatap mata Arshad yang tidak mau menatapnya.
"Mas, lihat aku!"pinta Aisyah dibalas gelengan oleh Arshad.
"Mas, lihat aku!"Aisyah menangkup wajah Arshad membuat Arshad mau tak mau ikut menatap matanya.
"Aku mau."ucap Aisyah dengan yakin.
Mata Arshad membulat,"maksud kamu?"
__ADS_1
"Aku mau dioperasi."