
Arshad kini menapaki kaki di sebuah restoran untuk makan siang. Dia tak sendirian, dia bersama dengan Rio saat ini. Sejujurnya dia tadi menunggu Aisyah karena mungkin saja Aisyah akan membawakan makan siang untuknya hari ini, seperti yang biasa Aisyah lakukan. Namun sudah hampir setengah jam menunggu, tak ada tanda-tanda akan kedatangan Aisyah. Padahal jam makan siang sudah hampir selesai.
Arshad kembali teringat dengan sikap Aisyah tadi pagi yang kembali cuek saat hanya berhadapan dengannya, padahal baru semalam Aisyah begitu perhatian padanya. Mengingat itu, sepertinya harapannya tentang kedatangan Aisyah, luntur sudah.
Disisi lain Rio juga mengharapkan kedatangan Aisyah, dia tadi sudah menunggu Aisyah di ruangan Arshad. Bukan apa-apa, hanya saja dia suka dengan masakan Aisyah semenjak dia mencoba bubur buatan Aisyah saat awal pernikahan Arshad dengan Aisyah waktu itu. Namun sama halnya dengan Arshad, sudah lama menunggu namun Aisyah tak muncul.
Karena perut mereka yang memang tak bisa menunggu lagi, akhirnya mereka memutuskan untuk makan di luar. Dan di sinilah mereka sekarang. Mereka duduk di salah satu meja di restoran yang baru saja mereka masuki.
Keduanya membuka daftar menu dan menimang-nimang ingin memesan apa. Rio yang memang sudah sangat lapar, tampak sekali matanya yang berbinar setiap kali dia membuka lipatan daftar menu itu. Berbeda dengan Arshad yang tampak lesu melihat menu-menu yang tertera di sana. Menurutnya tak ada yang menarik dari pada masakan Aisyah.
"Saya mau pes_"ucapan Rio terpotong saat matanya melihat wajah Arshad yang lesu itu. Ada apa lagi dengan sahabatnya ini?, pikirnya.
"Kenapa lagi lo?"tanya Rio dengan heran melihat kelakuan Arshad yang masih saja membolak-balik daftar menu tersebut. Namun sama sekali tak ada jawaban dari Arshad.
"Mau sampai se-abad pun lo balik tuh menu gak akan berubah daftarnya, nyet."tambah Rio yang sudah jengah.
"Gak ada yang semenarik masakan Aisyah, yo. Gimana, nih?"tanya Arshad yang terlihat bingung plus oon.
"What?!! Serius lo nanya begitu? Nih anak otaknya gesrek kali ya."sergah Rio dan mendapat tatapan tajam dari Arshad.
"Gue potong gaji lo setengah!"ancam Arshad dan kembali menatap menu.
"Enak aja lo! Udahlah! Biar gue yang pesan."sela Rio yang kini sudah menyebutkan pesanannya pada pramusaji yang dari tadi menunggu.
Setelah pramusaji itu pergi, Rio kembali melihat Arshad yang menyadarkan punggungnya dengan tatapan kosong ke depan.
"Lo kayak suami kurang belaian, tau gak? Ngenes gua lihat tampang lo."ujar Rio dengan jengah.
Arshad menghela nafas panjang,"jangankan belaian, dapat perhatian aja susah."
Rio tertawa pelan. Jarang sekali Arshad begini. Seperti orang yang kehilangan semangat hidup. Dan ekspresi Arshad yang seperti ini hanya dapat dia lihat semenjak Arshad menikah dengan Aisyah. Memang bucin sahabatnya ini.
"Kenapa lagi sama Aisyah? Kabur lagi dia? Ninggalin lo? Selingkuh? Minta cerai sama lo atau gimana?"tanya Rio tanpa yang bertanya tanpa peduli tatapan tajam Arshad.
"Lo kalau ngomong bisa yang baik dikit gak, sih? Asal ngomong aja lo! Kalau jadi do'a gimana?!"ucap Arshad tak santai, bahkan dia yang tadinya bersandar kini menegakkan punggungnya reflek.
"Eh, ampun bang jago! Maksud gue, gue cuma nanya, lo ada masalah apa lagi? Sorry sama omongan gue! Lo kan tau nih mulut susah diatur. Gue aja bingung cara ngaturnya gimana. Ayo cerita-cerita!"Rio mengayunkan tangannya seperti mempersilahkan untuk bercerita. Ya karena sebagai sahabat dia juga ingin bisa membantu Arshad. Walau tak begitu membantu, tapi bisalah mengurangi sedikit beban Arshad walau hanya dengan bercerita padanya.
"Aisyah akhir-akhir ini berubah."ucap Arshad mulai bercerita.
Rio manggut-manggut,"berubah jadi apa? Power Rangers? Hulk atau apa?"tanyanya asal. Ayolah Rio! Saat ini bukan saatnya bercanda.
"Lo bisa diam dengerin dulu, gak?"tanya Arshad yang sudah menggertakan giginya menahan emosi.
__ADS_1
Sedangkan si pelaku hanya cengar-cengir tak jelas merespon tatapan tajam Arshad.
"Permisi, ini pesanannya."
Mereka beralih menatap pesanan mereka tadi.
"Terima kasih."ucap Rio membuat pramusaji itu mengangguk dan meninggalkan mereka.
Rio mulai menyantap makanannya,"lanjut aja ceritanya! Gue dengerin!"ucapnya disela-sela makannya.
Arshad kembali menghela nafas panjang sebelum dia kembali mulai cerita,"Aisyah kayak lagi berusaha menghindar dari gue. Bahkan hal-hal kecil yang gak seharusnya diperdebatkan jadi lebih panjang. Selama gue nikah dan kenal sama Aisyah, yang gue tangkap dari sifatnya, dia orangnya gak akan terlalu mempermasalahkan suatu hal secara berlebihan. Gimana ya cara gue bilangnya? Kayak dia itu orangnya sederhana aja gitu. Masalah yang datang itu gak jadi persoalan yang besar buat dia."
"Bang jago."panggil Rio pada Arshad.
"Apa?"balas Arshad datar.
"Bisa lebih sederhana lagi gak ngomongnya? Omongan dan pembahasan lo terlalu tinggi! Gak ngerti gua."protes Rio.
Arshad berdecak,"ck! Contohnya waktu kita berempat makan siang bareng lo ingat? Yang sama Laras juga?"
Rio mengangguk.
"Waktu itu Aisyah marah. Marah banget. Dia kayak seakan-akan nyari alasan buat bisa marahan sama gue. Sebelum kejadian itu, beberapa hari sebelum itu dia cuekin gue. Gue saat itu masih berfikir kalau mungkin Aisyah lagi banyak tugas, pergi ke kampus pagi-pagi banget, pas gue pulang kerja dia udah tidur. Mungkin bukan maksud dia cuekin gue. Tapi semenjak kejadian pertengkaran gue sama dia sepulang makan siang waktu itu, gue jadi berfikir Aisyah aneh. Aneh banget."
"Gue sebenarnya merhatiin tingkah Aisyah sih waktu itu. Dia kayaknya cemburu deh sama lo. Lo nya juga, udah jelas punya istri malah perhatian sama cewek lain. Waktu itu seakan-akan lo anggap Aisyah gak ada, bro. Semua itu gak lepas dari penglihatan gue. Kalau gue jadi Aisyah sih juga bakalan marah kali."respon Rio.
"Jadi lo sekarang sedang berniat membela diri? Lo sedang membenarkan posisi lo dengan alasan refleks, gitu?"Arshad terdiam.
"Ar, gak ada istri yang gak cemburu lihat suaminya perhatian sama cewek lain apa lagi di depan matanya. Cewek bisa menahan untuk menyimpan rasa cintanya walau bertahun-tahun lamanya, tapi cewek akan sulit menahan perasaan cemburunya walau sebentar adanya. Gua juga yakin pasti lo juga pernah cemburu kan lihat Aisyah sama cowok lain? Jadi wajarlah kalau dia marah."
"Gua juga tau dia cemburu dan gua juga udah minta maaf. Lo ingatkan saat Aisyah pergi ninggalin gua waktu itu? Masalahnya gak jauh beda. Bahkan lebih besar dari ini. Tapi nyatanya dia pergi bukan karena marah sama gua. Gua tau dia marah banget tapi cuma sesaat. Dia juga udah jelasin itu ke gua. Nah ini, masalahnya gak sebesar itu tapi Aisyah marahnya sampai sekarang."
Arshad menjeda ceritanya sejenak.
"Setiap gua ajak bicara dia cuek. Dia bicara normal sama gua cuma di depan keluarga gua dan kakaknya. Dia perhatian cuma waktu dia tau gua sakit. Gue emang sering debat sama dia, tapi gak sampai marahan kayak gini."
"Itu lo mau makan, gak?"tanya Rio menyeleweng dari pembahasan sambil menunjuk makanan Arshad yang masih belum disentuh Arshad karena masih bercerita.
"Yo, lo dengerin gua gak, sih?"tanya Arshad dengan rahang mengeras. Dia benar-benar emosi sekarang.
"Dengerin. Cuma gua mau nanya dulu, itu makanan mau lo makan atau nggak? Kalau nggak biar gua makan dari pada mubazir."
Arshad menggeser makanannya pada Rio dengan malas,"makan tuh!"
__ADS_1
"Serius gak mau? Tadi katanya lapar."
"Hilang nafsu makan gue lihat lo."
"Ya udah, lanjut lagi ceritanya! Ayo!"ucap Rio dan menyambar makanannya. Eh, makanan milik Arshad maksudnya.
Arshad memutar bola matanya muak lalu mendengus kesal,"menurut lo ada apa dengan Aisyah?"tanya Arshad kembali ke topik. Bukan berupa cerita lagi yang Arshad sampaikan, melainkan pertanyaan.
"Bosan kali sama lo."celetuk Rio tanpa pikir panjang.
"Kalau tau gini respon lo, gak akan gue cerita panjang lebar."ucap Arshad muak.
Rio menghentikan makannya dan beralih menatap Arshad,"maksud gue, mungkin masalahnya bukan ada di Aisyah-nya, melainkan lo. Bisa aja kan, dia udah muak sama lo. Udah bosan dengan sikap lo. Udah capek sama kelakuan lo. Jadi dia butuh waktu untuk bisa kayak semula lagi."
"Kayaknya gak mungkin deh, soalnya kan pernikahan gua sama dia terbilang masih baru. Masa udah bosan?"
Rio kembali berpikir, namun seketika wajahnya jadi datar hingga membuat Arshad heran.
"Kenapa?"
"Apa Aisyah sakit, ya?"tanya Rio dengan tampang sangat serius.
Tentu saja itu membuat Arshad terdiam dengan perasaan sesak yang tiba-tiba menghinggapi dadanya.
"Jangan asal ngomong lo! Gak mungkin Aisyah sakit. Dia biasa-biasa aja kok menurut gua."sela Arshad menghilangkan pikiran buruknya.
"Ada lagi gak yang lain yang bikin lo gak tenang tentang Aisyah? Dia dekat sama siapa gitu?"
Arshad jadi teringat pada kejadian saat dia ingin bertemu klien di sebuah restoran yang mana juga ada Aisyah di sana bersama dengan Rizky.
Arshad mengangguk,"Rizky."
"Rizky mana?"
"Anak fakultas kedokteran yang setahun dibawah kita dulu."
"Oh yang sama populernya sama lo?"
Arshad mengangguk.
"Gimana ceritanya?"
"Gua sempat lihat mereka ketemuan di resto."
__ADS_1
"E_emmm gak mungkin kan kalau.... A_Aisyah selingkuh?"tanya Rio ragu dan lagi-lagi membuat Arshad terdiam. Memikirkan kembali pertemuan Aisyah dengan Rizky membuat emosinya kembali tersulut. Ini yang dia takutkan. Bagaimana jika yang dikatakan Rio benar? Bagaimana jika Aisyah memang berselingkuh?
________________