Dia (Istri Yang Tak Dianggap)

Dia (Istri Yang Tak Dianggap)
Membalas Keisengan Arshad


__ADS_3

"Kamu tunggu di parkiran sebentar, ya? Aku ganti baju dulu."ucap Arshad saat mereka keluar dari area lapangan.


Aisyah mengangguk lalu Arshad pun pergi. Aisyah beralih pada teman-temannya yang masih tersenyum menggoda.


"Kalian gak cape senyum terus?"tanya Aisyah.


"Nggak, gimana mau cape kalau disuguhi pemandangan indah."ujar Alika.


"Aneh. Mau pulang bareng,gak?"tawar Aisyah.


"Gak usah lah,syah. Kamu kan sama mas Arshad, jadi gak enak kalau ganggu. Aku sama Alika juga mau ke cafe,kok."tolak Kesha.


"Yakin?"


"Iya..."seru mereka.


"Kalau gitu kami pamit. Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumussalam."


Setelah kepergian teman-temannya, Aisyah pun langsung pergi menuju parkiran sesuai permintaan Arshad tadi. Aisyah memutuskan untuk menunggu di luar mobil sambil memainkan ponselnya. Tak lama kemudian Aisyah mendengar suara langkah kaki mendekatinya sehingga membuatnya berbalik,"kamu udah sele_ Raka?"


Ternyata bukan Arshad yang datang, melainkan Raka.


"Hai, Kak Aisyah! Ternyata di sini, dari tadi saya cariin."ucap Raka.


"Cari saya kenapa,ya?"


"Ada beberapa materi yang saya tidak mengerti,kak. Kalau tidak keberatan, bisa gak kalau saya minta bantuan kakak?"


"Kenapa harus saya?"


"Nilai kakak kan bagus."Raka tersenyum lembut sembari menatap Aisyah,"sebenarnya karena mau dekat kamu."


Aisyah tersentak mendengar penuturan Raka yang terdengar aneh di telinganya. Cara bicara Raka pun tiba-tiba berbeda.


"Boleh kan kalau misalnya aku bicaranya santai? Bolehkan kalau aku panggil kamu Aisyah? Karena kamu kan tau kalau umur kita gak jauh beda. Cuma beberapa bulan aja."


Aisyah mengangguk ragu,"Boleh... boleh aja. Oh iya, materinya kirim aja! Nanti biar saya ringkas dulu yang penting-penting baru saya jelasin."


"Ok."


.


.


.


"Lo serius udah nikah, Ar? Yang tadi itu istri lo?"tanya Galih.


"Benar, gua juga penasaran. Perempuan tadi istri lo?"tanya Juna juga.


"Iya."


"Lo nikah kenapa gak kasih kabar? Di jodohkan?"tanya Galih lagi.


Arshad yang sedang mengancing kemejanya pun berhenti. Dia menatap Galih,"Iya."


"What?! Serius lo? Kok mau?"tanya Juna.


"Kenapa harus gak mau? Kalau jodoh mau gimana lagi?"tanya Arshad balik.


"Lo cinta?"tanya Juna lagi dan Arshad hanya membalasnya dengan senyuman.

__ADS_1


"Wah, yang langgeng ya bro!"ucap mereka.


"Kapan nih lo kenalin kita semua ke istri lo?"


"Nggak sekarang. Kapan-kapan aja. Gua duluan ya, udah ditunggu soalnya."pamit Arshad.


"Ok. Janji ya kapan-kapan kenalin ke kita semua!"


Arshad hanya diam tak merespon dan pergi menuju parkiran. Dia harus cepat, jika tidak mungkin Aisyah akan marah lagi padanya.


Di sisi lain Aisyah merasa tak nyaman karena Raka masih belum pergi dan malah ikut berdiri di sana.


"Aisyah."


"Iya? Kenapa?"


"Kamu sudah punya pacar?"tanya Raka.


Aisyah tak tahu mau menjawabnya bagaimana. Pacar, dia memang tidak punya, tapi dia sudah menikah.


"Saya tidak pacaran, Raka."jawab Aisyah.


Raka tersenyum,"Kalau ada seseorang yang datang melamar kamu bagaimana?"


"Kalau niatnya melamar dan bukan pacaran, itu baik kan?"tanya Aisyah balik.


"Jadi kalau aku datang untuk melamar bagaimana?"Aisyah benar-benar terkejut sekarang. Ia sadar bahwa dia sudah memberikan jawaban yang salah.


"Saya tidak mengerti maksud kamu."elak Aisyah.


"Aku ingin kamu menjadi istriku. Atau lebih tepatnya, maukah kamu menikah denganku? Aku tau kamu lebih tua dariku, tapi itu hanya beberapa bulan kan? Tidak ada masalah untukku,bagaimana?"


"Candaan kamu tidak lucu, Raka."Aisyah masih berusaha menghindar.


"Tidak ada yang sedang bercanda Aisyah."


"Kamu sangat paham dan matang pemikirannya tentang itu, karena itu aku memilih kamu."Raka masih saja bersikeras.


"Ini bukan tentang saya Raka, tapi ini tentang kamu. Saya paham karena saya sudah menikah. Maaf, seharusnya saya katakan ini dari tadi."


Dapat Aisyah lihat keterkejutan di wajah Raka. Ini lah seharusnya yang ia lakukan. Agar tak ada kesalahpahaman lagi.


"Jangan bercanda, Aisyah!"


"Saya serius,Raka."


"Jangan menipu aku!"


"Tidak ada yang meni_"


"Aisyah!"panggil Arshad yang kini menghampiri Aisyah dengan tatapan tajam ke arah Raka. Aisyah terkejut, benar-benar terkejut. Ia berharap Arshad tidak kembali salah paham terhadapnya.


"Siapa dia, Aisyah?"tanya Arshad tanpa mengalihkan pandangannya dari Raka.


"Dia teman,mas."jawab Aisyah hati-hati.


"Siapa dia, Aisyah?"tanya Raka pula.


"Ini_"


"Saya suaminya."jawab Arshad memotong ucapan Aisyah.


"Jadi kamu benar-benar sudah menikah?"lagi-lagi Raka bertanya dengan harapan bahwa semua ini hanyalah candaan.

__ADS_1


"Benar, dia sudah menikah dengan saya. Kenapa? Mau menikah juga sama saya?!"tanya Arshad geram dan sejujurnya perkataannya itu terdengar aneh bagi Aisyah maupun Raka.


"Raka, lebih baik kamu pergi. Saya mohon!"pinta Aisyah.


Raka mengangguk paham,"Maaf kalau begitu. Saya salah."


"Memang salah."sergah Arshad.


"Saya permisi, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."jawab Arshad, dingin.


Setelah Raka pergi, Arshad langsung menghadap Aisyah.


"Mas, kamu gak salah paham kan?"tanya Aisyah dan mendapat gelengan dari Arshad. Aisyah lega sekarang.


"Tapi aku ingat dia. Dia cowok yang waktu itu,kan?"tanya Arshad.


Kening Aisyah berkerut,"Waktu itu, kapan?"


"Yang waktu itu ngobrol sama kamu di gerbang kampus. Waktu itu aku jemput kamu untuk pergi ke rumah ummi karena ada pengajian. Ingat?"


Aisyah mengangguk. Tentu saja dia ingat karena saat itu Arshad benar-benar aneh seharian.


"Sebenarnya aku udah curiga kalau dia pasti ada rasa sama kamu. Lihat kan tadi? Niat banget untuk melamar kamu. Aku mau tanya, kalau misalnya kita belum menikah, kamu mau terima dia?"


"Ya iyalah, why not? "jawab Aisyah enteng lalu dia pun masuk ke mobil tanpa mempedulikan ekspresi tak terima Arshad. Arshad pun ikut menyusul Aisyah masuk ke mobil dan duduk mengarah ke Aisyah dengan tangan kanan memegang stir.


"Kenapa?"tanya Arshad.


Aisyah kembali heran,"Kenapa, apa?"


"Ya kenapa kamu mau terima dia lah."


Aisyah menghela nafas panjang lalu menatap Arshad,"Karena aku belum menikah."


"Maksudnya?"


"Ya karena aku belum menikah dan tidak ada status yang mengikat, jadi kenapa aku harus tolak? Apalagi niatnya baik. Kalau misalkan dia ngajak pacaran, baru aku tolak."Arshad masih saja tidak terima. Jawaban Aisyah malah membuatnya kesal sekarang. Bagaimana bisa Aisyah dengan mudahnya mengatakan hal itu? Kenapa Aisyah mau menikah dengan orang lain selain dirinya?


"Gak bisa gitu, dong."sela Arshad.


"Kenapa gak bisa? Kan aku belum menikah."


"Kamu harus tunggu aku sampai aku yang nikahin kamu!"


"Kenapa aku harus tunggu? Kalau kamu bukan jodohku, kenapa aku harus tunggu sesuatu yang gak pasti? Mending yang pasti di depan mata, kan?"


"Aisyah, kamu sadar gak sih ngomong gitu?"tanya Arshad yang kesabarannya sudah berada di puncak, namun dengan polosnya Aisyah malah mengangguk.


Arshad meremas rambutnya geram,"Aisyah argh!"


"Kenapa sih,mas? Dari tadi omongan kamu aneh, tau gak. Yuk, jalan!"pinta Aisyah. Dengan kasar Arshad langsung tancap gas meninggalkan pekarangan kampus. Emosi dan kesabarannya benar-benar diuji saat ini. Entah Aisyah memang terlalu polos atau memang tidak peka. Arshad tak bisa untuk bicara lebih jauh lagi.


Sedangkan Aisyah hanya menatap ke luar jendela. Sebuah senyum tertahan terurai di bibirnya. Bukannya tidak peka, tapi menjahili Arshad adalah hal yang cukup menyenangkan baginya. Sekali-kali dia yang harus menjahili Arshad.


Namun sepanjang perjalanan Arshad hanya diam. Tak melirik atau bicara sedikit pun. Aisyah jadi merasa bersalah. Mungkin memang ia sudah keterlaluan. Saat mereka tiba di rumah ummi, Arshad langsung membuka pintu mobil untuk keluar. Namun Aisyah menahan tangan Arshad sehingga membuat Arshad mau tak mau harus berbalik menatap Aisyah.


"Mas, pernikahan bukan lelucon. Aku gak mungkin langsung terima orang jadi suami aku begitu aja."ucap Aisyah.


"Kalau misalkan orang yang melamar kamu bukan dia. Tapi seorang pria lain yang bagus agamanya, mapan, dan juga tampan bagaimana?"


"Aku akan tetap tunggu kamu."

__ADS_1


"Kenapa?"Arshad tersenyum.


"Karena kalau aku bilang aku mau terima dia, kamu nya nanti malah ngambek lagi."canda Aisyah membuat Arshad kembali kesal dan benar-benar keluar dari mobil. Hal itu benar-benar lucu untuk Aisyah hingga Aisyah saja sulit untuk berhenti tertawa. Kenapa suaminya bisa selucu itu?


__ADS_2