Dia (Istri Yang Tak Dianggap)

Dia (Istri Yang Tak Dianggap)
Waktu Yang Tepat


__ADS_3

Arshad kini sudah berada di kantor. Ia bersandar di kursi kerjanya lalu tak sengaja melihat fotonya bersama dengan Laras di atas meja kerjanya. Arshad pun mengambil foto tersebut dan menggantinya dengan foto pernikahannya dengan Aisyah. Setelah itu Arshad menyimpan fotonya dengan Laras di dalam laci. Namun saat ia meletakkan foto tersebut, Arshad melihat sebuah foto lagi. Arshad mengambil foto tersebut dan menatapnya dengan penuh kelembutan.


Sebuah senyuman terpancar di wajahnya kala melihat gadis kecil dengan rambut terurai panjang serta senyum manis diwajahnya.


"Apa kabar? aku rindu. Dimana pun kamu berada, semoga kamu baik-baik aja dan hidup bahagia, ya. Aku di sini akan selalu doain kamu."


Arshad menatap sekilas foto pernikahannya kemudian beralih lagi pada foto gadis kecil di tangannya itu.


"Setelah sekian lama, akhirnya aku kembali jatuh cinta. Kamu harus bangga sama aku. Karena aku gak perlu lagi terlalu berharap banyak sama hal yang gak pasti. Kalau Allah mengizinkan kita untuk bertemu kembali, ayo kita kembali berteman seperti sebelumnya dan aku akan perkenalkan kamu dengan istri aku." lalu Arshad kembali memasukan foto tersebut ke laci.


Arshad mengambil fotonya bersama Aisyah dan terus tersenyum. Sempurna, pikirnya. Untungnya foto pernikahannya tidak mengecewakan. Di sana dia masih tersenyum walau saat itu dia tidak menginginkan pernikahan ini.


TOK! TOK!


"Masuk!" pinta Arshad.


Tak lama, terlihat Rio masuk dengan santai dan duduk di hadapan Arshad.

__ADS_1


Rio tersenyum sinis melihat wajah di tekuk milik Arshad yang sebenarnya ia tau alasannya kenapa.


"Kenapa tuh muka, lo? di tekuk mulu."


Arshad hanya menatap Rio dengan malas.


"Oh iya, gua udah denger dari ummi masalah lo. Ada yang mau gua tanyain sama lo. Penting banget."


"Apaan?"tanya Arshad, cuek. Rio pun memajukan tubuhnya lalu berbisik, "Apa kabar sama ego lo?" mendengar itu sontak Arshad langsung melayangkan pukulan ke arah Rio. Beruntung Rio langsung menghindar sehingga pukulan itu tak mengenai dirinya. Namun bukannya merasa bersalah atau prihatin, dia malah tertawa mengejek Arshad yang terlihat jengah dibuatnya.


"Dulu gua udah pernah bilang sama lo. Jangan jalin hubungan sama Laras sebagai bentuk dan cara supaya lo bisa ngelupain cinta pertama lo yang namanya.... siapa? gue lupa."


"Oh iya, Acha. Nih ya, setiap kali lo bilang kalau lo cinta sama Laras, gua tau kalau itu cuma bullshit. Gua tau kalau lo gak pernah benar-benar cinta sama Laras. Apa salahnya sih lo tunggu sampai saat dimana lo ketemu sama cewek yang bisa bikin lo jatuh cinta lagi, men? Dan sekarang lihat! lo jatuh cinta lagi bahkan sama Aisyah yang selama ini lo tolak kehadirannya. Aisyah sakit, Laras sakit dan sekarang lo nyesel, kan?"Arshad terdiam mendengar penuturan panjang dari Rio.


"Kalau gua tau semuanya bakalan kayak gini, lo pikir gua bakal ngelakuin itu? Ok, gua akui gua gak pernah cinta sama Laras yang saat itu statusnya sahabat gua. Yang gua lihat Laras ceweknya baik dan gua ngerasa nyambung-nyambung aja ngobrol sama dia. Jadi, gua pikir gak akan sulit buat gua jatuh cinta sama Laras. Setelah dua tahun gua sama Laras pacaran yang memang masih gak merubah perasaan gue sama dia, tiba-tiba gua dijodohin sama Aisyah. Sekali lagi gua pikir dari pada milih Aisyah yang merupakan orang asing buat gua, lebih baik gua milih Laras."


"Say hai, buat lo dan pikiran lo! So, sekarang lo lihat! semuanya sesuai gak sama apa yang dipikirin otak kecil lo itu? Enggak, men. Salah semua."

__ADS_1


"Gua juga gak nyangka bakal semudah ini jatuh cinta sama Aisyah. Gua juga heran, kenapa dua tahun lamanya gua pacaran sama Laras bahkan hampir lima tahun gua kenal sama Laras, gua gak bisa jatuh cinta sama dia? Tapi dengan mudahnya gua bisa jatuh cinta sama Aisyah. Dia orang asing buat gua yo, tapi gua bisa jatuh cinta sama dia dalam waktu kurang dari sebulan. Ini buat gue konyol banget, tau gak?"Arshad mengusap wajahnya dan menghela nafas berat kemudian kembali memandang foto pernikahannya.


"Itu yang namanya takdir dan cinta, ar. Gak peduli berapa lama pun waktu yang dibutuhkan, asalkan orang dan waktunya udah tepat, cinta pun bertahta di hati siapapun yang dikehendaki-Nya. Bahkan orang yang gak saling mengenal pun, bisa saling jatuh cinta dan bahagia."


Arshad kini membenarkan perkataan Rio. Benar, bukan waktu singkat atau waktu yang panjang yang akan menentukan keberadaan dan kehadiran cinta. Tak peduli berapa pun waktu yang dibutuhkan, jika orangnya belum tepat, maka sekeras apa pun berusaha tidak akan berhasil.


Rio merasa prihatin sebenarnya dengan keadaan Arshad. Tak pernah ia melihat sahabatnya itu seperti sekarang ini. Bahkan saat dulu masih kuliah, Arshad pernah bercerita tentang Acha dan bahkan berusaha mencari alamat Acha, hanya saja tak sampai se-frustasi ini. Apakah Aisyah benar-benar mengambil andil penting keseluruhan hidup Arshad sekarang ini?


"Terus apa yang mau lo lakuin sekarang?"tanya Rio.


"Pertanyaan lo salah. Yang bener adalah apa masih ada yang bisa gua lakuin sekarang? Sekarang gua kehilangan Aisyah, ummi gak mau kasih tau dimana Aisyah, bahkan gua tanya kampus juga gak ada hasilnya. Jadi gua bisa ngelakuin apa sekarang? Atau lo tau dimana Aisyah? lo kan deket banget sama ummi, mungkin ummi ada ngomong sesuatu tentang keberadaan Aisyah sama lo."


"Ummi gak semudah itu kali percaya sama gua. Dia juga kan tau kita sahabatan, mana mau dia bocorin itu ke gua."


Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang? haruskah ia berdiam diri di tempat tanpa melakukan apa pun? atau haruskah ia mencari tak tentu arah bagaikan orang gila di luar sana?


Soal cinta benar-benar membingungkan. Jika saja ia memiliki kuasa penuh tentang hatinya, tak akan ada hal seperti ini. Kini semuanya terasa begitu rumit bahkan terasa buntu. Apa yang harus ia lakukan?

__ADS_1


Arshad menghela nafas pasrah. Dia tau Allah-lah yang bertahta di atas segalanya. Soal cinta, itu juga berdasarkan kehendaknya. Sedangkan Arshad kini hanya bisa berharap semoga Allah masih berbaik hati agar dirinya tak kehilangan Aisyah. Semoga saja. Aamiin.


__ADS_2