
"Ummi kecewa sama kamu. Bisa-bisanya kamu gak kasih tau ummi tentang ini. Kamu anggap ummi apa, nak?"tanya ummi yang kini menangis di pelukan abi. Tadi Arshad dan Aisyah sepakat untuk memberitahukan kepada keluarga mereka tentang penyakit Aisyah. Dan hasilnya, ummi kini menangis di pelukan abi.
"Kamu juga kenapa gak bilang?"tanya abi pada Arshad yang dari tadi sibuk memijat pelan tangan Aisyah.
Aisyah beralih menatap suaminya yang meliriknya sekilas,"tadi kan Arshad telphon. Berarti bilang, kan?"Arshad jadi sewot karena ikut disalahkan. Padahal dia juga baru tau.
"Mas..."tegur Aisyah sembari memukul pelan tangan Arshad yang berada di pergelangan tangannya.
Arshad menghela nafas pasrah,"iya... aku salah..."Aisyah tersenyum lalu beralih menatap ummi yang masih menangis. Aisyah yang tadinya bersandar di kepala ranjang, kini berusaha duduk tegap menggapai tangan ummi.
"Maafkan Aisyah, ummi. Aisyah tau apa yang Aisyah lakukan itu salah, tapi itu semua Aisyah lakukan agar ummi dan abi gak khawatir. Aisyah tau Aisyah salah." Aisyah melirik Arshad sekilas lalu kembali menatap ummi.
"Mas Arshad juga baru tau semalam, kok."lanjutnya.
Seketika Arshad menegang. Seluruh tubuhnya kaku dan perasaannya tidak enak. Ahh, ini buruk. Arshad mengangkat pandangannya ke arah ummi dan abi yang menatapnya nyalang.
"Kamu... Suami macam apa kamu?! Istri sakit aja kamu gak tau. Memang dari awal seharusnya ummi tidak menjodohkan kamu dengan Aisyah. Kalau begini_"
"Ummi ngomong apa, sih?"Arshad tak terima jika begini. Dia tau bahwa dia bukan suami yang baik. Tapi kata-kata ummi yang mengatakan tidak seharusnya mereka di jodohkan membuatnya tak terima. Dia juga ingat dan sadar bahwa dulu dia tidak terima di jodohkan. Tapi mengingat bahwa sekarang dia sangat menyayangi Aisyah, membuatnya sangat menyesal jika mengingat itu.
"Kenapa? Kamu memang dari awal tidak setuju, kan? Sekarang kenapa kamu tidak terima?!"cetus ummi lagi.
"Yang ummi katakan benar, Arshad. Kamu suami Aisyah. Jangan kan kami, kamu yang suaminya aja baru tau? Kalau kamu tidak bisa menjaga menantu abi, biar abi dan ummi menjaganya. Kami akan sangat senang hati menerima Aisyah."tambah abi.
Aisyah kini gelagapan. Sekarang dia sadar, bahwa perkataannya salah. Lalu sekarang harus bagaimana? Arshad disalahkan karena dirinya. Aisyah lah yang salah. Arshad sama sekali tidak salah. Dia yang dari awal menutupi semuanya bahkan menghindari Arshad.
"Ini bukan_"Arshad menggenggam tangan Aisyah dengan erat. Aisyah menatap Arshad yang mengkode dirinya untuk tidak mengatakan apa pun.
Aisyah mengerti, tapi kenapa?
"Arshad salah. Arshad minta maaf. Arshad bukan suami yang baik. Seharusnya Arshad bisa lebih memperhatikan Aisyah, menjaga Aisyah dan menyayangi Aisyah. Maaf..."lirih Arshad dengan menunduk sambil menatap tangan Aisyah yang digenggamnya erat.
Aisyah benar-benar tidak tega melihat suaminya seperti ini.
__ADS_1
"Abi, ummi mau keluar dulu."ummi pergi dari ruang rawat Aisyah dan disusul oleh abi.
"Mas, maaf..."lirih Aisyah.
Arshad tersenyum lalu mengusap kepala Aisyah,"memang salah aku. Sekarang kamu tunggu di sini sebentar, ya! Aku mau ketemu Rizky dulu."
Aisyah mengangguk, namun pergerakan Arshad yang berniat keluar terhenti karena mendengar sapaan salam.
"Assalamu'alaikum..."ucap dua orang yang memasuki ruang rawat.
"Wa'alaikumussalam. Kak Anam? Kak Khadijah?"Aisyah tersenyum melihat sepasang suami istri yang tak lain adalah sang kakak dan kakak iparnya.
"Mau kemana, ar?"tanya Anam.
"Mau ke dokter, bang."jawab Arshad.
"Gua ikut."
Akhirnya Anam dan Arshad pergi dan tinggallah Aisyah bersama Khadijah. Khadijah tersenyum lembut dan duduk di kursi yang berada di samping ranjang. Senyum itu adalah senyum yang sangat disukai Aisyah.
"Baik, alhamdulillah. Walaupun kadang agak pusing tapi gak apa-apa, kak."
"Alhamdulillah."
"Kakak gak mau tanya kenapa aku gak cerita?"tanya Aisyah.
"Kakak tau kamu punya alasan sendiri. Tapi apa pun alasannya, kamu sekarang udah sadar kan kalau itu salah?"
Aisyah mengangguk dan memeluk Khadijah.
"Bagus kalau kamu sadar akan hal itu. Itu yang terpenting."ucap Khadijah lagi sembari mengusap kepala Aisyah dengan sayang.
"Kak Anam... gimana?"
__ADS_1
"Tadi waktu dengar kabar kamu, dia sempat marah dan nangis juga. Dia kecewa, tapi kakak udah nenangin dan kasih pengertian juga sama mas Anam. Jadi kamu tenang aja! Gak akan kena marah kok sama mas Anam, paling cuma dijewer, dijungkir balikin sama di lempar ke Amazon."canda Khadijah.
Aisyah terkekeh dipelukan Khadijah,"gak lucu,kak..."
____________________
Arshad dan Anam sudah berada di ruangan Rizky, duduk berhadapan dengan Rizky. Rizky menjelaskan mengenai kondisi Aisyah yang semakin lama semakin memburuk. Jenis penyakit yang di derita oleh Aisyah ini walau baru tahap awal tapi penyebarannya sangat cepat. Jadi sangat sulit untuk disembuhkan kalau hanya lewat obat-obatan.
"Penyakit seperti ini punya banyak resiko. Saya yakin kalian tau tentang hal ini."Rizky diam sejenak memperhatikan ekspresi dua orang itu yang terlihat sangat khawatir. Dia juga ragu untuk memberitahukan tentang satu hal lagi.
"Jadi, apa yang harus dilakukan?"tanya Anam yang menyadari keraguan di wajah Rizky. Walau perasaannya tidak enak akan hal itu, tapi tetap saja mereka harus tau dan memastikan harus melakukan apa lagi selanjutnya.
"Begini, saya sebelumnya sudah menjelaskan ini pada Aisyah. Perawatan memang dapat membantu, namun penyakit ini tidak dapat disembuhkan. Membutuhkan diagnosis medis dan selalu memerlukan uji laboratorium."
Arshad dan Anam terdiam seribu bahasa. Penyakit tidak bisa disembuhkan? Mendengar hal itu membuat jantung Arshad seperti tertimpa batu besar. Arshad mengepalkan tangannya membuat Anam langsung mengusap sebelah bahunya berusaha menenangkan.
"Terus bagaimana selanjutnya?"tanya Anam.
"Kita butuh melakukan operasi."
"Tingkat keberhasilannya?"
"Kecil. Itu juga adalah alasan kenapa Aisyah tidak mau melakukan operasi ini dan juga menjadi alasan kenapa dia tidak memberitahu tentang penyakitnya. Mungkin takut jika kalian memaksanya untuk melakukan operasi ini."
"Aisyah tahu mungkin hidupnya tidak akan lama lagi jika operasi ini tidak dilakukan. Tapi tidak lama hidupnya itu mungkin cukup untuknya menghabiskan waktu dengan keluarganya. Berbeda jika dia melakukan operasi dan tidak berhasil, yang ternyata malah membuatnya kehilangan waktu berharga itu. Dia tau kalau hidup dan mati seseorang itu ada di tangan Allah, tapi kita sebagai manusia tidak tau pasti kapan kematian itu menjemput. Karena itu dia menolak segala kemungkinan buruk yang akan terjadi saat operasi. Menurutnya menunggu kematian lebih baik dari pada mendekatinya."lanjut Rizky.
"Jadi intinya, apa pun yang dilakukan gak akan bisa menyembuhkan Aisyah, tapi hanya bisa membuat Aisyah bertahan sedikit lebih lama? Begitu?"tanya Arshad dengan susah payah menahan sakit di hatinya.
"Itu yang bisa kami lakukan sebagai dokter. Setelah itu, tentang hidup dan mati hanya Allah yang punya kuasa. Keputusan sekarang ada di tangan kalian dan Aisyah sendiri. Pikirkan dan putuskan yang terbaik, kami juga akan menjalankan tugas kami."jelas Rizky.
"Kami akan bicarakan ini dengan Aisyah."ucap Anam yang hatinya kini tak kalah hancurnya dengan Arshad. Adik satu-satunya harus menderita seperti ini membuatnya sangat takut. Rasanya sudah cukup dia kehilangan ayah dan bundanya, jangan Aisyah juga. Sungguh berat rasanya jika harus kehilangan untuk yang kesekian kalinya.
Arshad akhirnya berdiri dan langsung pergi meninggalkan ruangan Rizky tanpa pamit. Arshad pergi begitu saja tanpa mempedulikan panggilan Anam. Anam juga tau dan mengerti bagaimana perasaan Arshad saat ini. Tapi melihat Arshad pergi dengan perasaan seperti itu juga membuatnya khawatir. Arah yang Arshad ambil bukan ruang rawat Aisyah. Kemana adik iparnya itu akan pergi? Susul atau dia biarkan saja?
__ADS_1
Anam menghela nafas pelan dan memutuskan untuk tidak menyusul Arshad. Bagaimana pun juga adik ipar sekaligus sahabat masa kecilnya itu juga perlu menenangkan diri. Ada baiknya jika Anam melihat adiknya sekarang. Anam ingin memastikan keadaan Aisyah dan memeluk sang adik untuk melimpahkan segala kasih sayangnya.