Dia (Istri Yang Tak Dianggap)

Dia (Istri Yang Tak Dianggap)
Wedding's day


__ADS_3

Aisyah menatap dua orang yang kini sudah sah menjadi sepasang suami istri itu. Senyuman yang terbit di wajah mereka seakan-akan menular pada dirinya. Bahagia rasanya dapat melihat kakak semata wayangnya itu sudah memiliki keluarga baru yang akan dibinanya.


Pasti akan lebih baik jika bunda dan ayahnya pun ikut menyaksikan kebahagiaan ini dengannya. Apalah daya, jika takdir tak seindah yang diharapkan.


"Aisyah?"teguran lembut itu membuyarkan lamunan Aisyah hingga membuatnya teralihkan untuk menatap si penegur.


"Ummi?"Aisyah memeluk lengan ummi dengan sayang dan kembali menatap pasangan baru itu.


"Aisyah bahagia sekali ummi, melihat kak Anam sudah menempuh hidup baru sekarang. Aisyah berharap kak Anam dan kak Khadijah bisa bahagia dan pernikahannya sakinah mawadah warahmah."


"Ummi juga berharap begitu, nak."


"Tapi akan lebih bahagia lagi jika ayah dan bunda juga ikut menyaksikan ini bersama kita."lanjut Aisyah.


Ummi mengusap lembut tangan Aisyah yang melingkar di lengannya itu,"Aisyah itu putri ummi. Ummi pernah bilang sama kamu kan, kalau kamu boleh menganggap ummi ini seperti bunda kamu sendiri. Kadukan segalanya pada ummi. Baik itu susah senang, keluh kesah. Ummi siap mendengarkan, sayang."


Aisyah tersenyum menatap ummi,"terima kasih, ummi."


"Sama-sama, sayang."


Arshad menyaksikan semua itu dari kejauhan dan ikut merasa terharu, walau pun dia tak tau pasti apa yang sedang di bahas oleh ummi dan istrinya itu.


"Hampiri jika penasaran."


Arshad beralih ke sampingnya dan mendapati abi sudah duduk tenang di sampingnya.


"Abi? Ada perlu sesuatu?"


"Tidak perlu. Abi hanya ingin bicara dengan kamu. Ar, masalah tidak akan selesai jika si yang punya masalah itu tidak mencari penyelesaiannya. Aisyah menghindar dan kamu hanya membujuk dengan sapaan dan mendekati dia tanpa berusaha lebih."


"Arshad tidak akan hanya melakukan hal-hal itu jika tau letak duduk permasalahannya, abi. Arshad mencintai Aisyah, tapi ternyata cinta saja tak cukup agar bisa memahami dia. Salah Arshad apa, Arshad tidak tau."


"Tapi bagaimana pun masalah, hadapilah! Jangan Aisyah menjauh, kamu juga malah ikut menjauh! Hampiri dia, selesaikan masalahnya."


"Menyelesaikan masalah yang bahkan tak Arshad pahami? Apakah Arshad bisa, abi?"


"Terkadang ada hal yang tak harus di dengar baru dapat kita mengerti, Arshad. Wanita adalah ladangnya teka teki. Terkadang mereka bilang tidak apa-apa, padahal ada apa-apanya. Kita tidak akan mengerti hanya dengan kata 'tidak apa-apa' itu. Butuh kepekaan bagi seorang pria untuk mengerti makna itu."


Abi menepuk pundak Arshad.


"Hampiri Aisyah sekarang! Abi susul ummi dulu."abi pun pergi ke arah ummi yang kini sudah berjalan menjauh dari Aisyah. Sedangkan Arshad, dia sudah mulai berjalan mendekat ke arah Aisyah yang masih berdiri membelakangi dirinya. Namun...


"Arshad!"panggilan seseorang menghentikan langkahnya. Arshad melihat ke samping dan sedikit terkejut mendapati Laras ada di sini. Di pesta ini?


"Laras? Kamu... kenapa bisa ada di sini?"tanya Arshad yang masih heran. Dia tidak mengundang Laras. Itu karena dia tidak ingin menambah keruh masalah dalam rumah tangganya. Lalu siapa yang mengundang Laras?


"Aku..."

__ADS_1


"Aku yang undang mbak Laras."jawaban yang seharusnya keluar dari mulut Laras, malah di jawab oleh Aisyah yang kini sudah berdiri bersama mereka.


Arshad mengernyit heran,"Aisyah?"


"Iya mas, aku yang undang mbak Laras."


Bukan. Bukan itu yang ingin dia dengar dari Aisyah. Tapi penjelasan.


"Nikmati pestanya ya mbak! Mas, temani mbak Laras, ya. Aku permisi."Aisyah tersenyum sekilas lalu pergi dengan menimbulkan tanda tanya besar bagi Arshad. Ingin sekali dia mengejar Aisyah, tapi bagaimana dengan Laras? Tak ada satupun orang yang Laras kenal di sini kecuali dirinya. Sedangkan Rio tidak bisa datang karena ada urusan mendadak yang tak bisa ditinggal. Mana mungkin dia harus meminta ummi untuk menemani Laras sedangkan ummi tidak menyukai Laras sejak dulu, apalagi ummi tau bahwa alasan pertengkarannya dengan Aisyah beberapa waktu lalu adalah Laras.


"Aku tau gak nyaman untuk kamu karena aku ada di sini. Seharusnya aku memang gak datang. Aku akan pulang. Setelah menyapa pengantinnya, aku langsung pulang. Lagian ada design yang memang harus aku selesaikan di rumah."ucap Laras yang mengerti kegusaran Arshad. Dia sadar diri bahwa sebenarnya dia tak dibutuhkan di sini.


"Nggak gitu Laras. Aku_"


"Gak apa-apa kok. Aku ngerti. Mendingan kamu susul Aisyah sekarang."


"Tapi_"


"Aku gak apa-apa. Udah sana!"


Arshad pun mengikuti titah Laras dan hendak menyusul Aisyah. Meninggalkan Laras yang hanya bisa terdiam di tempat.


______________


Ponsel Aisyah berbunyi. Saat melihat nama yang tertera di layar, Aisyah tersenyum dan langsung mengangkat telphon tersebut.


"Assalamualaikum. Kakak gak jadi datang? Oh, udah sampai? Dimana? Ya udah aku ke sana."Aisyah pun pergi ke arah meja yang menyajikan minuman. Di sana terlihat Rizky sedang berdiri menunggu kedatangan Aisyah.


"Mau nunggu sampai lebaran juga aku siap, kok. Apa sih yang nggak buat si adik cantik."canda Rizky membuat Aisyah geleng-geleng kepala.


"Masih gak berubah."


"Mana ada orang yang bisa berubah cuma dalam beberapa hari, syah."


"Seenggaknya ditahan kak gombalnya. Takutnya banyak cewek berharap sama hal yang gak seharusnya diambil hati."


"Gak bisa. Kalau ketemu kamu tuh bawaannya pengen godain mulu. Sayang udah ada yang punya."


"Gak lucu candaan kamu."


Rizky tersenyum pasrah dan menyerahkan sebuah amplop pada Aisyah.


"Ini..."


"Ketinggalan waktu itu, jadi aku bawa sekalian kasih ke kamu."jawab Rizky bahkan sebelum Aisyah bertanya.


Raut wajah Aisyah seketika berubah menjadi lesu,"kenapa gak dibuang aja sih, kak?"tanya Aisyah tanpa berniat mengambil amplop itu.

__ADS_1


"Di ambil dulu!"titah Rizky. Mau tak mau Aisyah pun mengambil amplop tersebut.


"Simpan baik-baik! Suatu hari itu akan_"


"Gak akan kak. Apa pun yang kakak pikirkan gak akan terjadi. Aku mau kita gini aja. Gak akan ada yang berubah. Aku dan kakak aja, jangan yang lain. Apa lagi mas Arshad. Aku mohon!"pinta Aisyah.


Rizky menghela nafas panjang,"terserah kamu aja. Tapi kamu harus tau, apa pun yang terjadi nanti, kita harus hadapi sama-sama dan aku akan berusaha sekuat tenaga untuk kamu. Apa pun itu, aku yakin semua akan baik-baik aja. Percayalah!"Aisyah hanya mengangguk dan tersenyum.


"Ya udah, aku sapa pengantinnya dulu."ucap Rizky dan berjalan meninggalkan Aisyah.


"Oh iya, kira-kira kapan ya aku berada di sana?"tanya Rizky yang berbalik kembali.


"Kapan-kapan."jawab Aisyah yang tak habis pikir dengan Rizky.


"Ya udah deh."Rizky kembali melanjutkan jalannya, namun baru beberapa langkah, dia kembali lagi.


"Kapan-kapan itu tepatnya kapan, syah?"tanya Rizky lagi.


"Ish, kak Rizky jadi gak sih sapa pengantinnya?!"


"Loh kok ngamuk? Kan aku tanya baik-baik."


"Kalau udah saatnya."


"Ya kapan?"


"Tanya aja sama nasib kakak kenapa betah sendiri?!"


"Ish, sama aja bohong. Dah lah, mending pergi."ucap Rizky sebal dan pergi.


Aisyah geleng-geleng kepala keheranan melihat kelakuan mantan seniornya itu. Kenapa Rizky tak pernah berubah dari dulu? Aisyah tersenyum dan berbalik menghadap meja untuk memilih minuman.


Saat ingin mengambil salah satu jus, Aisyah menghela nafas jengah karena mendengar suara langkah sepatu dari belakang.


Aisyah pun berbalik,"Kak Rizky apa la_"


Aisyah terdiam kaku karena ternyata yang berdiri di depannya saat ini bukanlah Rizky melainkan Arshad. Arshad yang terlihat begitu tajam menatapnya dan dengan rahang yang sudah mengeras karena emosi.


"Mas Arshad..."gumam Aisyah.


Arshad membuang muka dan mengulurkan sapu tangan pada Aisyah,"tadi waktu mau nyusul, ummi manggil, katanya kamu butuh ini."ucap Arshad dingin.


Aisyah dengan kaku menerima sapu tangan itu dan menatap mata Arshad yang kini terlihat enggan untuk menatapnya balik.


Aisyah hendak mendekat tapi Arshad berbalik membuat kakinya berhenti di tempat.


"Mungkin perlu diingat,"Arshad berbalik menatap Aisyah tepat di matanya,"Arshad. Namaku Arshad. Bukan yang lain. Hanya Arshad. Ar_shad."ucap Arshad penuh penekanan.

__ADS_1


"Maaf karena yang datang gak sesuai harapan kamu."setelah itu Arshad benar-benar pergi. Bukan hanya pergi dari hadapannya, tapi juga pergi dari pesta itu. Terlihat dari Arshad yang malah naik ke lantai atas masuk ke kamar yang dulu Aisyah tempati.


Pada akhirnya ini terasa sakit. Benar-benar sakit. Untuk mereka berdua. Sebuah pilihan yang terasa benar, namun bermakna salah. Sadarkah Aisyah tentang hal itu? Rizky yang melihat semuanya dari kejauhan hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


__ADS_2