
-Sore harinya sesuai waktu yang ditentukan, mereka pun sudah siap-siap untuk pergi ke tujuan masing-masing. Arshad tidak peduli kemana Aisyah akan pergi. Namun berbeda dengan Aisyah yang dicampuri dengan perasaan yang sulit ia artikan.
"Mas,kamu mau pergi?"tanya Aisyah.
"Enggak,tapi mau keluar,kenapa?! Mau ikut?"tanya Arshad yang terdengar nyolot. Mungkin masih kesal karena kejadian tadi pagi.
"Emang boleh?"tanya Aisyah penuh harap.
"Ya enggaklah! Kan kamu punya urusan sendiri. Pergi aja urus urusan kamu."
"Aku bisa kok batalin itu."
Arshad rasanya ingin berteriak di dalam hati bahwa dirinya sangatlah senang. Tapi senang kenapa? entahlah. Arshad pun menatap Aisyah yang setia tersenyum padanya.
"Jadi kamu lebih milih aku dari pada dia?"
Aisyah bingung dengan pertanyaan Arshad. Tentu saja Aisyah memilih dirinya dari pada kakaknya karena Arshad adalah suaminya.
Aisyah mengangguk dan membuat Arshad lagi-lagi senang.
"Kamu itu memang seharusnya milih aku dari pada cowok mesum itu. Aku ini orangnya baik, jadi mending kamu lupain dia."saran Arshad.
Mesum? siapa? Aisyah semakin heran dengan maksud Arshad.
"Maksud kamu siapa?"tanya Aisyah.
"Ya cowok yang selama ini kamu cari. Cowok mesum itu."jawab Arshad.
Seketika Aisyah tertawa sambil menutupi wajahnya yang sudah memerah karena tertawa.
"Tolong berhenti omongin dia! Kamu bikin aku ngakak tau gak?"pinta Aisyah.
"Ngakak?gak seharusnya kamu ngakak. Kamu seharusnya jauh-jauh dari dia! Dia gak baik buat kamu."
Aisyah tersenyum lembut sembari menatap Arshad.
"Dia yang terbaik dan akan selalu menjadi yang terbaik untuk aku. Dia gak mesum dan dia bukan cowok modus. Dia adalah malaikat berwujud manusia. Manusia yang sangat baik. Walaupun akhir-akhir ini dia sering emosi, tapi aku tau emosi itu akan segera reda."
Kini perasaan senang yang Arshad rasakan tadi sudah hilang digantikan perasaan jengkel mendengar perkataan Aisyah.
"Dia tahu kamu selama ini mencari dia?"tanya Arshad.
"Nggak."
__ADS_1
"Dia ingat sama kamu?"
"Nggak."
"Itu udah menandakan kalau kamu itu gak penting buat dia. Kamu cuma sekedar teman masa kecil yang gak punya arti apapun untuknya. Kamu gak seharusnya menjalani hidup dengan tetap fokus pada masa lalu. Lihat ke depan! bisa jadi orang yang terbaik buat kamu adalah orang yang ada di depan kamu."
Aisyah tertegun.
"Orang yang ada di depan aku? kamu?"tanya Aisyah.
Kini giliran Arshad yang tertegun.
Duarr !!!
Arshad dan Aisyah terkejut mendengar petir. Arshad pun pergi keluar rumah dan melihat kalau awan mendung.
"Hujan."gumam Aisyah.
"Ya iyalah hujan, yang bilang cerah siapa!?"
"Kok malah nyolot sih? kamu marah?"
"Enggak."Arshad memutuskan untuk duduk di sofa sambil memakan cemilan di atas meja.
"Hujan."
"Terus kalau hujan kenapa?"
"Ya basah dong Aisyah."
"Kan pakai mobil."
"Dingin, becek, basah dan lembab. Aku gak suka."
"Ya udah kalau gitu. Aku aja yang pergi gak apa-apa,ya?"
"Ya udah terserah pergi aja sana!"
Aisyah berjalan mendekat kearah Arshad lalu mencium tangan Arshad.
"Assalamualaikum."
Arshad terperangah menatap Aisyah yang sudah berjalan keluar rumah.
__ADS_1
"Beneran pergi? gak pengertian banget jadi perempuan. Wa'alaikumussalam!!"teriak Arshad.
Arshad masuk ke dalam kamar dan memilih untuk berbaring. Cuaca hari ini memang sangat dingin.
Di sebuah taksi, kini Aisyah kepikiran tentang Arshad yang berada di rumah. Aisyah tau betul kalau Arshad memang sangat tidak suka dingin. Mungkin Arshad kini sedang kedinginan. Sungguh berdosa dirinya meninggalkan suami seperti itu.
"Pak, tolong putar balik ke rumah yang tadi ya pak!"pinta Aisyah.
"Baik, neng."
Sesampainya di rumah Aisyah langsung berlari masuk ke rumah sambil memanggil nama Arshad. Aisyah pergi ke dapur dan ruang tengah,tapi tidak menemukan Arshad. Aisyah pun langsung pergi ke kamar dan melihat Arshad sedang tidur berbalut selimut tebal.
"Mas,kamu gak pa-pa? Aku buatin teh jahe,mau?"tanya Aisyah saat memeriksa dahi Arshad.
Arshad membuka matanya dan mengangguk. Setelah itu Aisyah pergi ke dapur untuk membuatkan teh jahe.
"Mas,duduk dulu,yuk! ini aku udah buatin teh jahe buat kamu."ucap Aisyah setelah selesai membuat teh jahe.
Arshad bangun dan bersandar di kepala tempat tidur. Ia mengambil alih teh tersebut dari Aisyah dan langsung meminumnya.
"Gimana udah baikan?"tanya Aisyah dengan lembut.
Arshad menatap Aisyah sembari mengangguk.
"Gak jadi pergi?"tanya Arshad.
"Istri mana yang tega ninggalin suaminya?"
Arshad menunjuk Aisyah dengan raut polosnya.
"Mana tega aku. Kalau aku tega ninggalin kamu,aku gak akan balik lagi."
"Masa?"
Aisyah mengangguk,"Ya udah mending sekarang kamu tidur,istirahat."
Arshad pun menurut dan kembali berbaring. Aisyah menarik selimut sebatas leher Arshad dan merapikannya. Sedangkan Arshad hanya setia memandangi Aisyah.
"Aku tinggal ke dapur dulu,ya. Aku buatin bubur buat mas dulu. Mas harus istirahat! jangan sampai sakit!"
Lagi-lagi Arshad patuh dan mengangguk sambil menatap Aisyah yang kini sudah berjalan menjauh.
"Mengapa aku jadi patuh begini? jika di pikir-pikir sikapku tadi seperti sikap suami yang cemburu. Apa benar aku cemburu? Entahlah. Tapi jujur saja perasaan ini tidak bisa ku mengerti. Yang pasti adalah perasaan ini terasa hangat."
__ADS_1
"Benar-benar hangat."gumam Arshad seraya menutup matanya.