
Arshad melipat sajadahnya setelah selesai menunaikan shalat Maghrib dan mengambil ponselnya yang sejak tadi berdering. Saat melihat nama 'Rio' di layar ponselnya, Arshad mengernyitkan keningnya heran. Tumben-tumbenan Rio menghubunginya.
"Assalamu'alaikum, ada apa? To the point aja!"ucap Arshad tanpa basa basi membuat Rio berdecak sebal dengan sahabatnya ini.
"Gak ada basa basinya ya, lo."
"Kalau sama lo semuanya basi. Kenapa lo telepon gua? Maghrib pula. Udah shalat belum lo?"
"Udah. Gua sekarang lagi ada di parkiran masjid habis shalat."
"Gak nanya."
"Lo punya dendam kesumat apa sih sama gua? Dari tadi bikin kesel mulu."
"Terserah."
Rio menghembuskan nafas kasar berusaha untuk sabar,"gua habis ketemu Laras."
"Terus?"
"Gua nanya soal gimana Aisyah bisa ngundang dia ke acara pernikahannya Anam, kakaknya Aisyah. Terus dia jelasin ke gua kalau Aisyah tiba-tiba datang ke butik dan sikap Aisyah itu terkesan kayak mau nyomblangin lo sama Laras."
"Maksud lo gimana sih? Masih kurang paham gua."Arshad kini mendudukan dirinya di kasur dengan tangan masih setia memegang ponsel yang menempel di telinganya.
"Sikap Aisyah aneh dan terkesan kayak pengen lo sama Laras balikan lagi. Mungkin tepatnya sih begitu."
"Kenapa Aisyah ngelakuin itu?"
"Kalau itu tanya istri lo, deh. Oh iya satu lagi, waktu Aisyah mau pulang dia sempat mimisan. Aisyah bilang mungkin kecapekan sebab akhir-akhir ini dia sibuk sama tugas kuliah."
"Mi_mimisan?"perasaan Arshad tiba-tiba tak enak. Namun pikiran buruk langsung ditepisnya.
"Akhir-akhir ini memang Aisyah sibuk banget sama tugas kuliah bahkan sering lembur sama gua."lanjut Arshad.
Sempat hening sejenak sampai akhirnya Rio kembali buka suara,"Ar? Aisyah.... Aisyah gak sakit kan, Ar?"
Jantung Arshad terasa seperti di remas mendengar pertanyaan Rio. Pertanyaan yang sedari tadi untuk dipikirkannya saja dia tak sanggup.
Arshad menelan salivanya berat fan berusaha meyakinkan dirinya,"gak yo. Gak mungkin Aisyah kenapa-napa. Gak mungkin..."
__ADS_1
"Melihat dari sikap Aisyah selama ini, itu mungkin aja, Ar. Gua tau lo bahkan gak sanggup untuk mikirin Aisyah kenapa-napa. Tapi, gua juga yakin apa yang ada dipikiran gua, lo juga jauh lebih kepikiran. Gak ada salahnya kalau lo coba cari tau atau tanya Aisyah. Kalau gitu gua matiin dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."Arshad menurunkan tangan yang menggenggam ponsel itu dengan perlahan. Pikirannya kosong. Rasa takut kini mendominasi dirinya. Dengan cepat Arshad berjalan menuju lemari dan meninggalkan ponselnya di atas kasur.
Arshad menggeledah lemari, nakas dan laci-laci yang ada di kamar mencari sesuatu yang mungkin akan menjadi petunjuk baginya. Dering ponsel yang sejak tadi terdengar malah dibiarkannya saja tanpa niat mengangkat. Dia seakan menulikan pendengarannya dan tak peduli entah siapa pun yang menghubunginya.
Arshad terus mencari ke setiap sudut kamar tapi tidak ada apa pun. Arshad terus berpikir dan memutuskan untuk turun ke lantai bawah menuju ruang kerjanya. Arshad membuka ruang tersebut dengan tak santai lalu dengan cepat berjalan ke meja yang biasa Aisyah gunakan untuk belajar.
Dengan perasaan kacau, Arshad menggeledah barang-barang serta buku Aisyah dengan tangan gemetar. Sampai akhirnya dia berhenti karena mendapati sebuah amplop putih berlogo rumah sakit yang dia temukan berada di antara buku-buku milik Aisyah.
Nafas Arshad memburu. Arshad menggenggam amplop itu dengan tangan luar biasa bergetarnya. Tak sanggup untuk membuka amplop sekaligus tidak siap dengan sesuatu yang akan dia temukan setelah membaca isinya. Sungguh tak terbayangkan bagaimana jadinya dirinya jika kemungkinan buruk yang tengah dirinya pikirkan benar-benar terjadi?
Arshad pun menghela nafas dan menguatkan dirinya memberanikan diri untuk membuka amplop tersebut.
Perlahan-lahan Arshad membuka amplop tersebut dan membaca selembar kertas yang ia ambil dari dalam amplop tersebut. Sekali lagi Arshad menghela nafas berat dan membaca isinya.
Arshad mengerutkan keningnya, "glioblastoma?"Arshad tak tau jenis penyakit apa itu. Dengan cepat Arshad berjalan ke mejanya dan mencari tau tentang penyakit jenis apa itu.
DEG
Setetes air mata akhirnya jatuh di pipinya. Jantungnya seakan berhenti berdetak dan nafasnya tercekat. Arshad jatuh terduduk di kursinya dengan tangan mencengkram kuat pegangan kursi. Ya Allah, sungguh sakit rasanya bagi dirinya menerima semua ini.
Kilasan-kilasan ingatan tentang Aisyah berputar di otaknya. Sekarang Arshad mengerti maksud perkataan Aisyah saat terbangun dari mimpi saat itu. Meninggalkan. Jadi ini yang Aisyah maksud dengan 'meninggalkan'? Mengingat itu, Arshad langsung menggigit bibir bawahnya dengan keras tak peduli dengan darah yang mengalir di bibirnya sebab gigitannya itu.
Lagi-lagi air matanya lolos yang kian memenuhi wajahnya dengan dibarengi erangan serta isakan pilu Arshad. Baru sekejap dirinya merasakan kebahagiaan setelah Aisyah kembali, lalu tuhan renggut kembali semua kebahagiaan itu dalam sekejap pula. Takdir macam apa yang sedang mempermainkannya saat ini? Kenapa begitu tak adil dan menyakitkan? Tidak bisakah Allah membiarkannya hidup tenang bahagia bersama Aisyah sampai mereka menginjak usia tua nanti?
Arshad tak meminta lebih, hanya biarkan Aisyah bersamanya hingga tua nanti. Bisakah? Bisakah itu terpenuhi?
"Aisyah..."lirih Arshad.
Dengan kasar Arshad menghapus air matanya dan keluar dari ruangan itu menuju kamarnya. Arshad ambil ponsel dan juga kunci mobilnya lalu segera turun menuju pintu utama.
"Mas Arshad mau kemana?"tanya bi Nah.
"Bibi tolong jaga rumah! Saya pergi, assalamu'alaikum."lalu pergi keluar dari rumah.
"Wa'alaikumussalam."bi Nah juga ikut khawatir melihat majikannya yang terlihat begitu kacau dengan bekas air mata yang masih terlihat jelas di pipi Arshad dan juga bibir yang sudah berdarah. Entah apa yang terjadi pada majikannya itu.
"Semoga semuanya baik-baik saja."
__ADS_1
Arshad melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Tak peduli pada dirinya yang mungkin saja dalam bahaya. Aisyah. Hanya istrinya itu yang ada di otaknya saat ini. Tujuan Arshad kini adalah rumah sakit sesuai alamat yang tertera di amplop. Dia yakin Aisyah pasti berada di sana dan berbohong soal menginap.
Setelah beberapa saat, akhirnya tiba di rumah sakit itu. Decitan suara ban terdengar nyaring bagi orang yang berada di sekitar parkiran. Mereka terkejut dan juga ada yang sampai mengumpat, namun Arshad tak peduli. Dia terus masuk ke dalam fan menghampiri suster yang berjaga di meja resepsionis.
"Suster, kamar rawat pasien atas nama Aisyah Shaqilla Az-Zahra di mana ya, sus?"tanya Arshad.
"Maaf, anda siapanya?"
"Saya suaminya."
"Baik, tunggu sebentar ya, pak..."tak lama setelah itu,"kamar pasien Aisyah Shaqilla Az-Zahra ada di lantai tiga, ruangan nomor 214."
"Terima kasih, sus."tanpa basa basi, Arshad langsung berlari menuju ruangan yang di sebut suster tadi. Menaiki elevator yang terasa sangat lama padahal hanya dua tingkat ke atas.
TING
Akhirnya Arshad tiba di lantai yang ia tuju dan berjalan dengan buru-buru sambil mengamati setiap nomor ruangan. Setelah menemukan yang dia cari, Arshad mengambil ponselnya dan melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Aisyah. Arshad pun menghubungi Aisyah seraya membuka pintu.
Dapat dia lihat Aisyah yang sedang termenung menatap keluar jendela dengan sebelah tangan memegang tiang infus dan sebelahnya lagi menggenggam ponselnya.
Tangan itu terangkat saat merasakan getaran di ponselnya.
"Assalamu'alaikum, mas..."mata Arshad terpejam kuat menahan air matanya. Ya Allah, kenapa dirinya begitu cengeng? Mendengar suara lembut yang terdengar tanpa beban itu malah menambah luka di hatinya.
"M_mas? Mas Ar_"
"Wa'alaikumussalam."seketika tubuh Aisyah menegang. Arshad dapat lihat itu. Dan tak lama setelah itu berbalik dengan raut wajah yang sangat terkejut.
Aisyah menatap Arshad yang sudah berdiri di pintu dengan ponsel tertempel di telinganya. Yang menatapnya dengan sendu. Dapat dilihat dari mata itu kekecewaan bercampur dengan kesedihan. Linangan air mata yang siap kapan saja untuk jatuh dari mata sendu itu, melengkapi suasana yang menegangkan namun juga menyakitkan.
Arshad kembali menggigit kuat bibir bawahnya yang sudah bergetar. Tak peduli jika bibirnya akan tambah sakit dan terluka. Karena dia tau sakit yang dia rasakan bahkan bukan apa-apa dibandingkan dengan rasa sakit yang di rasakan Aisyah, istrinya.
Aisyah pasrah. Dia yakin Arshad pasti sudah tau semuanya.
Aisyah berjalan mendekat,"mas_ aku bisa jelasin. Ini_ aku_"
Seketika tubuhnya sudah berada dalam dekapan erat Arshad. Dapat Aisyah rasakan getaran tubuh suaminya itu. Bahkan bahunya terasa basah. Suaminya menangis dan itu karenanya. Akhirnya Aisyah pun membalas pelukan Arshad yang kini semakin erat dengan tak kalah eratnya. Aisyah tumpahkan segala kesedihan yang selalu dia tahan selama ini di dalam dekapan suaminya.
"Aisyah..."ucap Arshad lirih membuat tangis keduanya semakin menjadi. Rasanya tak bisa lagi untuk mengatakan apa pun. Rasa sesak di dadanya, membuatnya sulit untuk melontarkan kata-kata.
__ADS_1