Dia (Istri Yang Tak Dianggap)

Dia (Istri Yang Tak Dianggap)
Harapan Kecil


__ADS_3

Aisyah masuk ke ruangan Arshad dan melihat Arshad sedang duduk di sofa ruangan tersebut.


"Ini makan siangnya. Sekali lagi maaf ya, telat."ucap Aisyah.


"Masak apa?"tanya Arshad.


"Lihat aja.!"


Arshad membuka kotak makan tersebut dan langsung terdiam sejenak melihat isinya.


"Kamu telat ke sini cuma karena bikin nasi goreng pakai telur ceplok doang? Seriusan?"tanya Arshad dengan wajah heran.


"Kamu bikin nasi goreng seberapa banyak? lama banget."tambah Arshad.


Aisyah sebal,"Sebenarnya aku tuh tadi bingung mau masak apa buat kamu. Terus kata ummi terserah aja karena kamu gak pemilih. Ya udah,aku buatin nasi goreng pakai telur ceplok. Jadi aku telat karena kelamaan mikir."


"Bikin makan siang aja kelamaan mikir."


"Ya udah kalau gak mau."


Arshad menjauhkan kotak makan nya dari jangkauan Aisyah.


"Enak aja. Udah telat, malah mau diambil lagi. Kamu tuh niat gak sih ngasihnya?"


"Ya niat dong. Kalau gak niat gak bakal aku di sini."


Arshad pun memasukkan nasi goreng tersebut ke mulutnya dengan kasar sambil menatap sebal ke arah Aisyah.


"Enak?"tanya Aisyah.


"Biasa aja."jawab Arshad yang masih sibuk memakan nasi goreng tersebut.


"Biasa aja tapi lancar banget tuh masuk ke mulut."


"Cuma karena lapar."


"Lapar apa doyan?"


Arshad hanya terus menatap kesal kepada Aisyah sembari tetap menyuapkan nasi goreng itu ke mulutnya.


Kkrruuukkk


Suara itu berasal dari perut Aisyah yang dari tadi juga belum makan. Aisyah menunduk malu sambil memegangi perutnya. Arshad tersenyum kecil dan menyodorkan sesendok nasi goreng kepada Aisyah.


"Syah..."panggil Arshad membuat Aisyah perlahan mengangkat kepalanya menghadap Arshad. Namun dia agak kaget melihat sesendok nasi goreng tepat berada di depannya. Ia pun menatap Arshad bertanya. Arshad meminta Aisyah makan lewat isyaratnya.


Aisyah pun memakan nasi goreng tersebut dengan senang hati.


"Mikir boleh,tapi gak harus lupa makan juga kan, ADIK."sindir Arshad.


"Iya,KAKAK."balas Aisyah.




Aisyah dan Arshad sudah memasuki rumah ummi dan abi. Setelah makan siang, Aisyah ingin langsung pulang karena ingin membantu ummi. Namun Arshad menahannya dan malah mengajak pulang bersama.



"Assalamualaikum."ucap mereka saat memasuki rumah.



"Wa'alaikumussalam."sahut ummi dari dapur.



"Ummi lagi di dapur. Aku bantu ummi dulu,ya. Mas mau minum apa?biar aku bikinin."tanya Aisyah.



"Gak usah,aku mau ke kamar dulu. Nanti aku ambil sendiri aja."



"Ya udah."



Aisyah pun menghampiri ummi dan langsung membantu. Tak lama kemudian, Arshad datang dengan pakaian biasa dan ikut membantu.


__ADS_1


"Apa yang bisa aku bantu?"tanya Arshad membuat Aisyah dan ummi saling pandang.



"Kenapa kok nengok nya gitu? Gak yakin kalau aku bisa bantu?"tanya Arshad.



Aisyah dan ummi menggeleng.



"Jangan meremehkan kekuatan seorang pimpinan! Yuk,kasih aku kerjaan! Apa yang bisa aku bantu?"



Ummi menatap ke sekeliling dan menatap ke arah wastafel. Di sana banyak peralatan dapur yang kotor.



"Itu,kamu cuci semua yang kotor di wastafel. Bisa,kan?"tanya ummi terdengar menantang.



Arshad ikut menatap wastafel yang sudah dipenuhi perabotan yang kotor.



"Ok bi\_"



"Mmm, ummi kayaknya biar Aisyah aja deh yang cuci semua itu. Biar mas Arshad beresin yang lain aja."tawar Aisyah memotong ucapan Arshad.



"Kamu meremehkan aku? Aku bisa kok. Lihat aja!"Arshad sudah mulai mencuci semua yang kotor walau sedikit sulit awalnya.



Sedangkan Aisyah,mengerjakan hal lain sambil sesekali membantu Arshad meletakkan semua yang selesai di cuci.




"Kamu gak capek?"tanya Arshad tiba-tiba membuat Aisyah menatapnya.



"Capek kenapa?"tanya Aisyah heran.



"Setiap hari kamu ngelakuin pekerjaan kayak gini,kamu gak capek?"tanya Arshad.



Aisyah tersenyum,"Ini adalah kewajiban aku sebagai istri. Ngurusin kamu, ngurusin rumah. Kalau ditanya capek atau enggak, ya pasti ada capeknya. Tapi,kalau di jalani dengan ikhlas semuanya pasti jadi berkah."



"Tapi status kamu itu istri, bukan pembantu. Semua itu bisa dilakukan pembantu."balas Arshad.



"Tapi buat aku kalau semua itu dilakukan pembantu, pertanyaannya jadi beda."



"Maksudnya?"



"Yang istri kamu itu aku atau dia?"



"Benar itu. Ummi setuju sama Aisyah. Itulah sebabnya ummi gak mau punya pembantu."timpal ummi.



"Terus pembantu di rumah percuma dong. Apa aku pecat aja?''

__ADS_1



"Ya jangan dong! Itu sama aja kita memutuskan rezeki orang."cegah Aisyah.



"Tapi kan sama aja pembantu di rumah makan gaji buta. Kan yang ngerjain semuanya itu kamu."



"Siapa bilang? Kalau aku sama mas gak di rumah, ada yang jaga. Ada yang beresin taman juga."



"Cuma itu doang mah apa susahnya?"



"Kelihatannya gak susah,tapi waktu di kerjain susah banget. Sama kayak kamu yang kesusahan padahal cuma cuci piring doang."timpal ummi meledek Arshad.



"Salah lagi kan aku. Ummi,aku ini anak ummi atau bukan sih?"tanya Arshad kesal.



"Menurut kamu? Kamu anak ummi atau bukan?"tanya ummi balik.



Arshad menggelengkan kepalanya dengan pasti,"Bukan. Aku kayaknya bukan anak ummi."



"Ya udah kalau gitu."ucap ummi santai.



Arshad terbelalak mendengar ucapan umminya yang terdengar santai.



"Serius Arshad bukan anak ummi?! Terus Arshad anak siapa?"



Ummi benar-benar muak dengan tingkah kekanakan Arshad. Tentu saja Arshad adalah anaknya.



"Kamu akan sampai kapan kayak gitu? Gak malu sama Aisyah?"tanya ummi.



Arshad langsung menatap Aisyah dengan wajah polosnya. Ya Allah,dia lupa bahwa di sini ada Aisyah. Tingkah manjanya barusan pasti sangat memalukan.



Arshad menelan air ludahnya lalu berdehem sambil sesekali melirik Aisyah yang masih senyum gemes melihat tingkah Arshad barusan.



"Ehem, kayaknya Arshad ke depan aja deh. Nemenin Abi baca buku."Arshad langsung pergi dari sana dengan wajah memerah padam.



Aisyah dan ummi tertawa kecil.



"Ternyata mas Arshad masih manja kayak dulu ya ummi."ucap Aisyah.



"Dia gak pernah berubah,sayang. Gak akan pernah berubah."balas ummi.



Aisyah tersenyum,"Kemarin-kemarin mas Arshad berubah ummi, mungkin sekarang udah kembali lagi. Semoga."ucap Aisyah lirih dalam hati.



Aisyah pun kembali sibuk dengan kegiatannya menolong ummi. Dalam hati dia berharap tidak akan kehilangan momen ini lagi. Dia berharap semuanya akan terus seperti ini dan tidak akan berubah lagi. Terutama sikap Arshad pada dirinya yang kini sudah lebih baik dan hangat. Semoga bisa terus seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2