
Selina keluar dari perusahaan Arshad dengan kesal. Dia berhenti dan berbalik menatap perusahaan Arshad. Lebih tepatnya, ke arah lantai di mana ruangan Arshad berada.
Selina menggertakan giginya.
"Dulu gue nyerah Rizky nolak gue karena Rizky suka sama lo, Aisyah. Tapi sekarang, karena orang yang gue suka adalah orang yang paling penting buat lo, gue gak akan nyerah lagi kali ini. Lihat aja nanti!"batinnya.
Di sisi lain Rio tertawa sambil memukul-mukul meja. Tentu saja karena melihat Arshad yang kesal. Memang teman lucknat!
"Gimana rasanya senjata makan tuan? Rasa mi goreng gak tuh? Mampus kan lo!"Rio memegangi perutnya yang mulai sakit karena tertawa.
"Pantas lo gak mau ketemu dia. Mulutnya tajam kayak silet. Pakai segala ngatain Aisyah lagi. Kalau bukan karena gua masih punya hati dan dia juga cewek, udah gua gebukin tuh orang. Tuh cewek otaknya gak bener. Balikin lagi aja ke paud!"omel Arshad berusaha meredam emosi yang semakin berusaha diredam malah semakin melonjak.
"Usil sih lo! Azab tuh azab karena mendzolimi anak shaleh kayak gua. Kapok kan lo!"
"Dah lah, meeting sekarang!"
Akhirnya mereka pergi ke ruang meeting. Walau masih sangat marah, namun kini Arshad harus tetap profesional. Jangan membawa perasaan pribadi kepekerjaan. Jadi, akhirnya Arshad sudah mulai tenang dan meeting berjalan dengan lancar.
Setelah meeting selesai, Arshad pergi ke ruangannya dan melihat beberapa dokumen serta menandatangani yang perlu ditanda tangani. Sesekali Arshad melirik jam tangannya. Sudah siang, sebentar lagi dia harus pulang dan memenuhi janjinya dengan Aisyah. Tidak sabar rasanya.
________________
Setelah beberapa jam menghabiskan kesibukan di kantor, Arshad pun langsung menuju ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, dia melihat Rizky keluar dari ruang rawat Aisyah. Ada sesuatu yang terasa menakan hatinya. Tiba-tiba terlintas ucapan Selina tadi yang menyebut Rizky.
"Eh, Ar?"sapa Rizky.
"Ada yang pengen gua tanya sama lo. Kita ngomongnya biasa aja, gak usah formal. Ini antara teman aja."ucap Arshad tiba-tiba.
Rizky sedikit heran namun tetap mengangguk,"tanya aja kalau gitu."
"Lo pernah punya hubungan sama Aisyah?"
"Pernah."
Arshad terkejut.
"Cuma teman kok. Kebetulan waktu itu ikut di satu organisasi yang sama. Terus jadi teman dekat dan udah gua anggap kayak adek gua sendiri. Kalau lo pernah dengar gosip tentang gua suka Aisyah, itu gak benar. Sebenarnya kita kerja sama. Mungkin lo gak tau gimana populernya Aisyah di kampus. Aisyah pernah bilang dia udah punya seseorang di hatinya katanya sih cinta pertamanya. Jadi gua bantu dia ngehalang cowok-cowok yang berusaha dekatin dia seakan-akan kayak gua lagi ngejar Aisyah. Dan itu juga ada manfaatnya buat gua karena gua punya alasan buat nolak cewek-cewek super ribet di kampus. Gua juga populer, ngomong-ngomong."jelas Rizky.
"Jadi serius gak pernah ada rasa lebih antara lo sama Aisyah?"dijawab gelengan oleh Rizky.
"Lo gak percaya istri lo sendiri?"tanya Rizky.
"Bukan gitu, hari ini ada cewek yang ngatain Aisyah bahkan bawa-bawa lo sama Aisyah. Jadi gua cuma mau mastiin dari pada harus mikir yang nggak-nggak lagi. Sebelum gua tau kalau ternyata lo dokter Aisyah, gua pernah sempat mikir lo ada apa-apa sama dia karena gua lihat kalian dekat banget. Bukan gua nuduh, cuma mastiin aja."
"Yang penting sekarang lo tau dan mendingan lo masuk karena Aisyah udah siap-siap dari tadi. Oh iya, have fun ya! Tetap jaga Aisyah dengan baik."
__ADS_1
"Pasti. Thanks, bro."
Setelah Rizky pergi, Arshad bisa bernafas lega karena sudah mendapat jawaban pasti. Namun sekarang satu hal yang dia tau. Saingan sebenarnya adalah cinta pertama Aisyah. Kenapa harus ada lelaki lain sebelum dirinya di hati Aisyah?!
CKLEK
Arshad beralih menatap pintu ruangan yang terbuka memperlihatkan wajah cantik Aisyah yang tersenyum manis padanya.
"Kamu udah sampai ternyata. Dari kapan? kok berdiri di sini?"tanya Aisyah.
"Belum lama, kok. Tadi ada yang aku omongin sebentar sama Rizky. Kamu udah siap?"
"Udah dong. Yuk! langsung pergi, kan?"
"Iya, yuk!"
Mereka pun langsung pergi dari rumah sakit menuju pantai yang pernah Arshad kunjungi saat Aisyah pergi waktu itu. Saat itu Arshad hanya sendiri dan sekarang dia bersama dengan Aisyah. Ini sempurna baginya.
Begitu juga dengan Aisyah. Bisa dibilang ini adalah pertama kalinya dia dan Arshad keluar untuk menghabiskan waktu bersama. Jika kondisi pernikahannya masih seperti awal pernikahan, mungkin hal seperti ini akan jauh dari perkiraannya. Bahkan sulit baginya untuk mengharapkan hal seperti ini. Karena yang dulu dia harapkan hanya sedikit perhatian dari Arshad.
Bersyukur kepada Allah, akhirnya hubungan pernikahan mereka bisa sangat baik seperti sekarang.
"Ini pertama kalinya kita keluar jalan-jalan menghabiskan waktu berdua kayak gini. Kamu senang, gak?"ucap Arshad yang ternyata sepemikiran dengan Aisyah.
"Aku tadi juga mikirnya gitu. Aku bersyukur banget bisa berada dalam hubungan yang sangat baik ini. Walau sekarang aku gak sehat, tapi rasa bersyukur aku justru dua kali lipat lebih besar karena kamu masih setia menemani aku."
"Mau tanya apa, mas?"
"Tentang laki-laki yang... dulu... kamu_"
"Cinta?"sambung Aisyah dengan semangat.
'Kenapa harus semangat gitu, sih?' batin Arshad namun dengan sabar Arshad tetap mengangguk.
"Dia lelaki baik. Bandel juga, tapi bertanggung jawab. Dia ganteng, terus juga say_"
"Gak usah pakai muji segala. Yang aku tanya bukan itu, tapi gimana kamu ketemu sama dia. Gitu..."
"Ohhh tapi kamu juga harus cerita tentang perempuan yang kamu cinta dulu."
"Maksud kamu Laras? Syah, aku sama Laras_"
"Bukan, kata mbak Laras kamu dulu punya orang yang kamu cinta sebelum pacaran sama dia. Coba ceritain dulu..."
"Laras cerita sama kamu?"
__ADS_1
Aisyah mengangguk,"ceritain itu dulu, dong."
"Gak usah, deh. Takutnya nanti kamu gak nyaman."
"Nyaman kok. Nyaman banget malah."
"Nanti aku cerita kamu nya malah ngambek."
"Nggak, mas. Kamu juga tadi ngapain nanya? kan bikin kamu gak nyaman."
"Tapi serius gak apa-apa?"Aisyah kembali mengangguk.
"Ok, dulu itu aku dan ummi ikut abi ke Solo karena kerjaan abi. Abi punya teman di sana dan mereka punya sepasang anak cewek sama cowok. Aku temanan sama anak mereka yang cowok. Aku sering main ke rumahnya dan aku juga sering lihat adiknya dia yang cewek cuma ngintip-ngintip kami main dari jendela kamarnya. Diajak kakaknya ikut main, dianya gak mau."cerita Arshad.
"Jadi kamu tau apa yang aku lakuin supaya dia mau keluar?"
"Apa?"
"Aku samperin ke kamarnya. Terus aku tarik ke luar. Susah sih dia sampai pegangin kasur sama sebelah tangannya. Sampai dia rebahan di lantai dan pegangan sama besi ranjang karena aku tarik kakinya. Pas pegangannya lepas, aku seret ke luar kamar."
"Terus dia mau main?" Aisyah sok tanya padahal tau ceritanya.
"Agak susah dulu terus lama-lama dia mau main bareng. Kadang kalau kakaknya mau main ke rumah aku, dia juga ikutan. Kami dekat. Tapi akhirnya aku harus pergi."
"Kamu ada cari dia lagi?"
Arshad mengangguk dan dapat terlihat perubahan ekspresi di wajah Arshad. Wajah itu terlihat sedih dan matanya sendu.
"Kalau ketemu lagi kamu akan gimana?"tanya Aisyah.
"Kalau dulu aku akan langsung lamar dia, tapi kalau sekarang, aku akan bawa kamu ke hadapan dia sambil bilang ' Acha, kenalin ini istri aku. Aisyah.' Itu yang akan aku lakukan."
Aisyah tersenyum.
"Kalau kamu ketemu dia lagi. Kamu akan langsung kenalin dia?"
"Pasti. Sekali lihat aku pasti langsung tau."
Aisyah memandang Arshad dengan remeh,"sok banget, udah jadi istri aja masih belum ngenalin."gumam Aisyah.
"Apa? kamu ngomong apa tadi? aku kurang dengar."
"Nggak, lupain aja."
"Ohhh"
__ADS_1
Kenapa Seorang Arshad bisa sebodoh ini tuhan? Rasanya Aisyah ingin meneriaki Arshad sambil bilang 'ini aku. Acha.' tapi tetap saja niat itu hanya tertahan di hati. Aisyah masih ingin melihat bagaimana kagetnya Arshad jika tau nanti. Tapi bagaimana jika Arshad tetap tidak sadar? ah, mungkin Aisyah tidak akan bisa menahan untuk tidak memberitahu Arshad.