
Agni merasakan tugas kelompok yang tidak membuat Agni capek sama sekali, membuat Agni jadi seneng belajar bersama Aziel.
" Aziel perhatian dan baik sekali, membuat saya seneng belajar bersama dia, supaya tidak malu ajaak belajar barengnya diam diam ah, dia itu padahal tampan tapi tidak percaya diri membuat Aziel terlihat culun." Ucap Agni yang ingin memanfaatkan Aziel demi mendapatkan nilai yang bagus, dan tidak perlu capek capek mikir
Dilain sisi, Aziel inget tadi pas kerja kelompok bersama Agni, membuat Aziel merasa bahagia sekali karena mendapatkan kesempatan Deket dengan Agni walaupun cuman sebentar.
" Guru biologi hari ini, terbaik sekali membuat saya bisa satu kelompok bersama Agni, rela deh susah payahnya dapatin katak dan dibedah dari pada membiarkan Agni yang harus kotor masuk kali demi cari katak." Ucap Aziel bahagia bisa Deket dengan Agni dan bisa rela berkorban demi Agni.
Aziel pelan pelan jalan ke kamar mandi untuk mandi, dan siap siap belajar untuk pelajaran besok.
Dilain sisi, Feri memberikan beberapa lembar uang ke Dina dan Vivi, karena mau kerjain tugasnya cuman berdua saja.
" Itu buat kalian, ambil lah sebagai bayaran kalian menahan jijik karena masuk kali, cari katak dan dibedah." Ucap Feri dengan sombong ny, memberikan beberapa lembar uang untuk Dina dan Vivi
" Pantesan Aziel selalu melawan Feri, terlalu merendahkan temen sekali, dia fikir saya orang susah apa." Batin Dina kesel, merasa direndahkan sekali oleh Feri karena mau tangkap katak tanpa minta bantuan Feri sama sekali
" Tidak usah terimakasih, ini kan tugas kelompok sudah sewajarnya saya dan Vivi kerjain bersama." Tegas Dina yang menahan emosi, tidak terima direndahkan oleh Feri
" Terserah kalian, saya kesini untuk bayar jasa kalian, jangan ngeluh karena cuman kalian yang kerjain yah, dan awas karena kalian saya kena teguran dari bu guru, saya tidak bantuin kalian mengerti." Tegas Feri menatap kedua temennya, yang ketakutan dengan Feri
" Tenang saja Feri, kita tahu apa yang akan kamu lakukan jika kita aduin ke Bu guru" Ucap Vivi ketakutan, melihat Feri melotot kearah Vivi dan Dina.
" Bagus, yah sudah kalo begitu, saya pulang kalo begitu." Lanjut Feri senyum kemenangan melihat kedua temennya ketakutan
__ADS_1
Feri langsung pulang dengan perasaan lega dan tenang, setelah memastikan jika Dina dan Vivi bisa jaga rahasia.
" Dasar pereman pemalas, cuman bisa ancam saja tanpa mau bersusah payah dan sekarang kita dibayar untuk kerjain tugas tadi saja, memangnya dia fikir kita orang susah apa" Protes Vivi kesel, dikasih uang seolah direndahkan sekali oleh Feri.
" Sudah lah biarin saja, kita yang pinter sedangkan dia tidak sama sekali. dia fikir uang bisa membuat dia langsung pinter mendadak apa." Lanjut Dina tidak peduli, yang penting untung dikasih uang dan tidak peduli direndahkan oleh Feri
" Memang sih uang tidak akan membuat dia pinter mendadak, tanpa ada usaha sama sekali, tapi tetep saja kesel seperti direndahkan sekali oleh Feri." Lanjut Vivi tidak terima dengan sikapnya Feri yang seenaknya
" Sekarang kita ke mall, nikmati uang pemberian Feri dari pada protes terus lagian sudah kejadian juga dan memangnya kamu berani kembalikan uang ini ke Feri besok." Lanjut Dina yang tidak ingin ada masalah apapun ke Feri.
" Tidak sih" Lanjut Vivi pasrah, dari pada dipukul karena menolak uang pemberian dari Feri tadi.
...........................................
" Aziel sudah siap ke rumah sakit? ayah dan bunda anterin Aziel ke rumah sakit sekarang?" Tanya Ayah nya Aziel bahagia, karena anaknya mau disembuhkan juga
" Sudah siap ayah, hayo buruan ke rumah sakit." Ucap Aziel yang semangat untuk bisa jalan kembali.
" Bunda juga sudah siap nih." Ucap Bunda nya Aziel, yang sudah rapih dan siap anterin Aziel kontrol sekaligus minta di operasi kaki nya
Ayah nya Aziel langsung dorong kursi rodanya Aziel untuk jalan ke mobil dan berangkat ke rumah sakit, untuk operasi kedua kaki nya Aziel
Dilain sisi, Kiki merasa sepi karena dikelas tidak ada Aziel, biasanya Aziel yang selalu bantuin Kiki untuk kerjain soal soal yang ada di buku LKS.
__ADS_1
" Aziel hari ini tidak masuk sekolah, berasa sepi sekali tidak ada Aziel yang biasanya mau bantuin kerjain soal soal hitung hitungan" Batin Kiki berasa sepi tidak ada ada Aziel di kelas
" Si culun, katanya operasi kaki nya hari ini, apa si culun masih berani melawan Feri ya." Ucap Danu yang paling seneng ada yang takut dengan Feri
" Siapapun yang berani melawan saya, yah nasipnya akan seperti si culun, mau laki laki atau perempuan yang berani melawan saya akan berakibat seperti Aziel sekarang." Ucap Feri bangga, karena keadaan Aziel membuat teemn teman nya semakin takut melawan Feri
" Sombong sekali kamu Feri, seharusnya kamu diaduin ke kepala sekolah, biar diusir secara tidak hormat. anak malas dan sakitin temen sendiri cuman karena tidak dikasih jawaban tugas saja sombong kamu." Ucap Kiki yang kesel dengan kesombongan Feri, yang berasa semua temen temennya takut dengan Feri
" Kamu berani melawan saya? kalo berani jangan ngadu ke kepala sekolah? ngadu itu tugasnya perempuan yang payah, kalo laki laki ngadu? pakai daster saja kamu hahaha.?" Tanya Feri sambil ketawa meremehkan Kiki
" Ngadu bukan berarti perempuan, ngadu untuk memberikan efek jera untuk anak pemalas dan bodoh seperti kamu, kalo kamu pinter tidak akan seperti ini, berlaga kasar untuk menutupi ke kurangan kamu dalam pelajaran. bodoh kok belagu seharusnya sadar diri" Ledek Kiki, yang tidak ingin ditindas oleh Feri, Kiki sudah berjuang belajar harus rela memberikan jawaban untuk Feri
Feri berusaha menghajar Kiki, tapi tangan Feri langsung ditahan oleh Kiki, membuat temen temen sekelas kaget melihat Kiki berani melawan Feri.
" Kamu cuman anak bodoh yang tidak ada gunanya, jangan berani beraninya hajar saya dan mencelaaki saya, saya bukan Aziel yang masih kasihan dengan kamu untuk berusaha kamu tidak dikeluarin dari sekolah, saya akan berani melawan orang seperti kamu yang tidak ada gunanya mengerti." Tegas Kiki, yang sudah lelah dengan diam, justru membuat Feri semakin sombong dan berasa temen temen sekelas pada takut dengan Feri.
Kiki melepaskan tangannya Feri, membuat Feri berusaha untuk menghajar Kiki selalu Kiki hindari.
" Ada guru matematika" Ucap Agni yang melihat guru matematika jalan menuju kelasnya
" Kasihan capek yah, gagal untuk hajar saya dan malu yang berasa jagoan kalah" Lanjut Kiki senyum sinis melihat Feri semakin marah
" Urusan kita belum selesai dan berani sekali kamu melawan saya" Tegas Feri kesal, Feri buru buru kembali ke kursinya sebelum ditegur guru matematika
__ADS_1
Kiki senyum sinis mendengar ucapannya Feri, Kiki tidak akan diam setiap Feri seenaknya supaya Feri sadar tidak semua yang diinginkan harus diturutin oleh orang lain