DIAM BUKAN BERARTI TAKUT

DIAM BUKAN BERARTI TAKUT
Dijemput


__ADS_3

Aziel sengaja bangun pagi, karena mau jemput Agni Supaya bisa datang bareng ke sekolahnya.


" Anak ayah dan bunda mau kemana sih?, Masih jam segini sudah rapih sekali?. " Tanya Bunda nya Aziel, melihat anaknya sudah rapih.


" Mau jemput Agni, dan mau berangkat bareng ke sekolah Bunda." Ucap Aziel, Aziel merubah penampilan rambut dan pakai kacamata yang membuat Aziel terlihat cakep.


" Yah sudah, hati-hati dijalan yah Aziel!, Jangan ngebut dan pakai helm, ingat yah Nak kamu baru sembuh kakinya yah!." Tegas Ayah Nya Aziel, berharap anaknya lebih hati-hati lagi bawa motornya.


" Siap Ayah, sudah yah, Aziel jalan dulu yah soal nya sudah ditunggu oleh Agni nih." Lanjut Aziel, yang langsung terima uang jajan pemberian Bunda Nya dan langsung jalan takut kesingan ke sekolahnya.


Aziel langsung keluar dari dapur, jalan ke depan rumah dan naik motor yang sudah dibenerin oleh Kepala sekolah, sebagai bentuk rasa tanggung jawab atas kesalahannya Feri.


Dilain sisi, Agni sudah siap untuk berangkat ke sekolah, Agni buka buku sambil menunggu kedatangannya Aziel.


" Nona, tumben Sudah rapih dan tidak sarapan dulu?." Tanya Bik Iyem melihat Agni sudah pakai sepatu.


" Iyah Bik, soalnya temen saya sudah dijalan mau kesini, Bik saya sudah punya pacar Bik." Ucap Agni yang sudah biasa curhat ke Bik Iyem, membuat Agni tidak malu untuk cerita ke Bik Iyem.


" Seriusan Nona? Selamat yah Nona, semoga pacarnya bisa membuat Nona bahagia dan lebih rajin belajar lagi." Lanjut Bik Iyem, ikut bahagia mendengar Agni sudah punya pacar.


" Rajin belajar sih pasti sih Bik, karena pacar saya paling pinter di kelas dan amin-amin semoga bisa membuat saya bahagia selama pacaran." Lanjut Agni berharap tidak salah, memberikan Kepercayaan untuk Aziel menjadi pacarnya.


Dilain sisi, Feri sadar dari komanya, berusaha untuk membuka matanya dan berusaha untuk bangun tapi kedua kakinya tidak bisa digerakkan.


" Loh kok gelap? Saya ada dimana? Kenapa kedua kaki saya tidak bisa digerakan sama sekali?." Tanya Feri panik, karena baru bangun semuanya gelap sama sekali.

__ADS_1


" Feri Alhamdullah, sudah sadar kamu nak, Bunda lega sekali melihat kamu sudah bangun, sabar sayang jangan panik seperti itu." Ucap Maryam berusaha menenangkan Feri yang panik, karena merasa semuanya gelap.


" Bunda? Ini dimana Bunda? Kenapa sekeliling gelap Bunda? Dan kenapa kaki Feri tidak bisa di gerakan sama sekali Bunda?. " Tanya Feri semakin panik, karena sekelilingnya masih gelap.


Bunda nya Feri pencet tombol pemanggil Dokter dan suster, Supaya bisa periksa kondisinya Feri yang semakin histeris karena sekelilingnya masih gelap.


Dilain sisi, Aziel memberikan helm untuk Agni, sebelum berangkat ke sekolah, pertama kalinya ke rumah Agni.


" Selamat pagi sayang, mau sarapan apa dan dimana?." Tanya Aziel, yang sudah mulai merasa lapar.


" Bubur ayam yuk, didepan sekolah enak tuh." Ucap Agni yang sering makan bubur ayam didepan sekolah.


" Boleh juga disana yuk, sebelum masuk sekolah sayang." Lanjut Aziel yang melihat Agni naik motornya.


Aziel pelan-pelan bawa motornya Supaya tidak jatuh, Aziel sesekali melihat spion untuk melihat Agni yang diem saja selama ada di motor.


" Sabar yah, kamu mengalami kebutaan dan juga lumpuh, karena kamu jatuh dari motor, wajah kamu terbentur aspal dan kaki kamu ketindih motor." Ucap Dokter setelah periksa matanya Feri.


" Apa buta dan lumpuh! Jangan bercanda Dokter, masa saya buta Dokter?." Tanya Feri teriak histeris, setelah mendengar hasil pemeriksaan dari dokter.


" Iyah betul, sabar yah dalam menghadapi cobaan kamu, saya akan minta suster kesini untuk bawa makanan dan obat untuk kamu, Bu jika anaknya masih seperti ini, Nanti saya akan berikan obat penenang untuk anak Ibu." Lanjut Dokter, yang mengerti perasaannya Feri yang pasti hancur dengan keadaanya sekarang, yang mengalami kelumpuhan dan kebutaan.


" Iyah Dokter, terimakasih sudah periksa kondisi anak saya." Ucap Maryam, Maryam tidak menyangka anaknya mengalami cobaan berat seperti ini, sudah lumpuh dan buta lagi.


Feri teriak-teriak, karena tidak bisa melihat sama sekali, disekelilingnya terlihat gelap dan lebih parahnya kedua kakinya tidak bisa digarakan sama sekali.

__ADS_1


Dilain sisi, Kiki melihat Aziel dan Agni naik motor bareng, membuat Kiki langsung menghampiri Agni dan Aziel.


" Cie-cie, berangkat sekolah bareng yah sekarang, apa kalian sudah jadian?." Tanya Kiki melihat Agni memberikan helm ke Aziel.


" Jadi cowok kok kepoan sih!, Tidak seru melihat cowok kepo!." Protes Agni, sejujurnya malu karena ketahuan Kiki kalo Agni ke sekolah bareng Aziel.


" Kepo ke temen sendiri kan tidak masalah dong, wah harus ada pajak jadian nih." Lanjut Kiki ikut seneng, akhirnya cewek yang selama ini selalu rese ke Aziel akhirnya bisa luluh dengan Aziel, yang selalu dihina oleh Agni.


" Dari pada memikirkan itu, Sekarang kita fikirin tugas sekolah dan hari Ini ada ulangan kan, alhamdulillah kemarin sudah kerjain tugas sekolah hari ini dan sudah belajar untuk ulangan." Ucap Aziel, yang sengaja bahas pelajaran dari pada bahas jalan bersama Agni, karena Aziel malu pertama kalinya punya pacar.


" Ya sudah lah, kalo kalian malu buat cerita ke saya, sekarang kita belajar saja." Lanjut Kiki pasrah, sekaligus mengerti kalo Aziel dan Agni pasti masih malu-malu untuk cerita.


Kiki ikutan masuk kedalam sekolah, bersama Agni dan Aziel yang jalan bareng dan terlihat sangat malu, Kiki sudah tidak godain Aziel dan Agni takut keduanya jadi tidak nyaman.


Dilain sisi, Feri melempar makanan yang diberikan suster untuk Feri makan, Feri masih teriak-teriak histeris karena tidak bisa lihat sama sekali.


" Woy, nyalain lampu woy, tidak kelihatan apapun nih. Tega sekali sih!." Teriak Feri kesel, karena dari tadi tidak bisa lihat apapun.


" Sabar sayang, Nanti kita obatin mata dan kaki Feri yah, Sekarang kondisi Feri masih lemah dan bahaya untuk dioperasi sayang." Ucap Maryam berusaha menenangkan anaknya.


" Sabar kata Bunda!, Bunda coba rasain tidak bisa lihat sama sekali dan tidak bisa jalan, apa Bunda bisa bilang sabar apa?!." Tanya Feri sambil teriak teriak.


" Bu, maaf terpaksa anaknya saya kasih obat penenang yah, supaya tidak berisik dan pasien bisa lebih tenang kondisinya, jika seperti ini terus anak Ibu bisa deprasi dan gila Bu, karena tidak bisa menerima kenyataan hidupnya." Ucap Suster, yang berencana akan panggil Dokter untuk memberikan suntikan penenang untuk Feri.


" Yah silahkan saja suster, saya tidak tega melihat anak saya teriak-teriak terus." Lanjut Maryam pasrah, demi Feri bisa tenang dan berhenti teriak teriak.

__ADS_1


" Baik Bu, saya akan panggil dokter sekarang." Lanjut Suster langsung keluar dari kamarnya Feri, dan langsung panggil Dokter supaya memberikan obat penenang untuk Feri.


__ADS_2