DIAM BUKAN BERARTI TAKUT

DIAM BUKAN BERARTI TAKUT
Diabaikan


__ADS_3

Violet cemberut melihat kedua sahabatnya, makan siang bersama pacarnya Masing-masing.


" Kemarin Agni tiba-tiba jadian dengan Aziel, dan sekarang Vivi jadian dengan Kiki juga tiba-tiba, berasa diabaikan temen kalo sudah bersama pasangannya." Batin Violet sedih, melihat kedua sahabatnya setelah bel istirahat langsung cari pacarnya masing-masing.


" Vio, sini ikut makan bareng kita yuk." Ajak Agni tidak tega, melihat Violet tidak ada pasangannya sama sekali.


" Tidak lah, kalian saja bersama pasangan kalian, nanti saya jadi cemburu dan iri kalian bermesraan dengan pasangan kalian masing-masing." Ucap Violet yang tidak ingin menjadi nyamuk.


" Yah sudah Ki, kita biarin mereka makan bertiga saja, yuk ke kantin duluan dan selamat makan untuk kalian." Ucap Aziel,mengerti maksud Violet, Agni dan Vivi makan bersama pasangan sedangkan Violet sendirian cuman jadi penonton saja.


" Yah sudah deh, biar mereka makan bertiga saja kalo begitu." Ucap Kiki nurut saja, tidak makan siang bersama Vivi.


Kiki dan Aziel langsung jalan duluan, meninggalkan pacar masing-masing.


" Hayo kita juga makan, sudah lapar nih." Lanjut Agni, merasa sudah lapar sekali dan konsekuensi punya sahabat harus berbagi kebersamaan antara bersama sahabat dan suami.


Dilain sisi, Aziel menikmati makan tanpa Agni, karena Agni juga butuh kebersamaan dengan sahabatnya.


" Kenapa sih!, Perempuan itu ribet sekali yah." Protes Kiki, padahal mau makan berduaan dengan Vivi.


" Jangan begitu Ki, walaupun kamu pacarnya Vivi tapi tidak boleh menguasai waktunya sepenuhnya Ki, kalo sudah disekolah bersama sahabat yah bearti pas pulang sekolah bersama kamu. Biar adil waktu kebersamaan Vivi antara ke kamu dan sahabatnya juga, Kamu bahas saja baik-baik ke Vivi bagaimana enaknya dia jalan bersama kamu dan sahabatnya." Ucap Aziel mengerti, kalo Vivi dan Agni masih butuh waktu bersama sahabatnya bukan sepenuhnya bersama pacar saja.

__ADS_1


" Iyah deh, nanti saya bahas bersama Vivi, supaya sama-sama enak nongkrongnya." Lanjut Kiki nurut saja, dari pada membuat Vivi ngambek, takut dikirain dilarang nongkrong bersama kedua sahabatnya.


Dilain sisi, Guru-guru mendapatkan kabar, kalo Feri sudah bisa melihat dan sudah operasi kakinya.


" Ibu dan Bapak Guru, Alhamdulillah kondisinya Feri sudah membaik, kondisi matanya sudah bisa mslihat kembali dan kedua kakinya Alhamdulillah sudah dioperasi kakinya. Tinggal nunggu masa pemulihan saja." Ucap Kepala sekolah, yang mendapat kabar langsung dari Maryam.


" Alhamdulillah anak yang berasa jagoan, sudah membaik kondisinya, semoga tidak usilin temen-temennya lagi, saya denger satu kelas tidak ada yang mau jenguk Feri sama sekali. Eh cuman Azriel dan Agni cuman sekali, dan David juga sekali saja dari awal sakit sampai sekarang." Ucap Wali kelas, mendapatkan info dari Maryam.


" Itu pembalasan dendam Bu, Karena saya sering denger kalo dari curhatan anak-anak, mereka setiap sakit dilarang oleh Feri untuk tidak dijenguk sama sekali dan sekarang mereka membalasnya bersama-sama." Ucap Guru Biologi, yang sering denger ada yang sakit dan dilarang Feri untuk jenguk.


" Pembalasan memang menyakitkan yah, tapi yah itu lah balasan dari sikap seenaknya Feri ke temen-temennya." Lanjut Kepala sekolah, yang tidak melarang muridnya untuk balas dendam.


Para Guru paham dan membenarkan ucapan Kepala sekolah, jika balas dendam itu lebih sakit dari pada kita menerima perlakuan tidak adil.


" Feri, pakai seragam sekolah kamu Nak, kita akan vidio call dengan Guru Fisika, sebentar lagi kelas dimulai." Ucap Maryam, yang bawa baju dan buku sekolahnya Feri.


" Ya Tuhan, Orang sakit masih saja dipaksa belajar terus!." Batin Feri kesel, karena baru menikmati bisa melihat tapi sudah dipaksa untuk belajar.


" Malas tahu Bunda, masa yang Feri lakukan belajar terus sih?." Tanya Feri kesel, karena tiada hari tanpa belajar.


" Boleh tidak belajar, tapi kalo tidak naik kelas jangan minta Bunda untuk bujuk Guru-guru disekolah yah." Lanjut Maryam langsung pakai jurus sedih, supaya Feri tidak protes terus disuruh belajar.

__ADS_1


" Dasar wanita!. Ya Bunda baik lah, Feri semangat belajarnya dan sudah Bunda jangan sedih lagi dan maafin Feri." Lajut Feri dengan kesal, Feri malas sekali setiap kali Maryam kelihatan sedih membuat Feri merasa tidak tega melihatnya. Feri langsung pakai seragam sekolah, dan mengikuti kelas online, membuat Maryam senyum kemenangan melihat Feri langsung diem dan nurut ikut kelas sampai selesai.


Dilain sisi, Aziel melihat Agni pusing, saat Guru Fisika memberikan soal ulangan, membuat Aziel tidak tega melihatnya.


" Kasihannya selalu seperti ini, setiap kali dikasih soal oleh Guru kelihatannya pusing, padahal tadi sempet belajar berdua." Batin Aziel, sambil lihat Agni yang kelihatan tidak tenang.


" Hayo anak-anak, isi soal dengan benar, kalian setiap dikasih soal pasti selalu seperti ini, bagaimana kalian menghadapi ulangan semester ganjil nanti yang menentukan kalian naik atau tidaknha ke kelas tiga?." Tanya Guru Fisika, menatap muridnya satu persatu.


" Kita usahain bisa kerjain Bu tapi yah butuh waktu Bu, soalnya banyak dan susah Bu." Protes David kesal, Karena Guru Fisika selalu protes setiap kali muridnya dikasih soal pasti lama kerjain soalnya.


" Ya sudah lah, kerjain setengah jam lagi. Karena harus pergantian pelajaran soalnya." Lanjut Guru Fisika yang pasrah, memberikan waktu lebih untuk muridnya isi soal yang sudah diberikan.


" Iyah Bu." Ucap Aziel, Aziel langsung periksa jawabannya lagi, takut ada yang salah dan kurang jawabanya.


Dilain sisi, Feri malas sekali, layar laptopnya selalu mengarah ke Guru tidak ke temen-temennya sama sekali.


" Sial, kenapa vidio call tidak seperti cctv sih, yang bisa melihat isi kelas keseluruhan." Batin Feri kesel, dari tadi memperlihatkan Guru galak yang lagi, tegur temen-temennya yang terlalu lama kerjain soalnya.


" Kamu kalo sudah bisa jalan, belajarnya tidak bisa dipantau seperti ini Feri, Bunda akan rindu temani kamu belajar dari pagi sampai selesai Feri. Alhamdulillah allah memberikan cobaan ke kamu Nak, supaya Bunda bisa temani kamu belajar selama tiga bulan lebih." Batin Maryam yang bersyukur, karena kondisi Feri bisa temani anaknya belajar, walaupun kasihan dengan kondisinya merasa terbatas untuk bisa melihat dan bergerak.


Maryam memperhatikan anaknya, yang berusaha fokus dengerin guru memberikan materi depan kelas.

__ADS_1


Dilain sisi, Agni merasa lega sekali, karena akhirnya pulang sekolah, Agni merasa pusing dengan pelajaran hari ini.


"


__ADS_2