DIAM BUKAN BERARTI TAKUT

DIAM BUKAN BERARTI TAKUT
Jenguk Aziel


__ADS_3

Kiki ajak temen-temen sekelas jenguk Aziel, dirumah sakit membuat Feri melarang temen-temennya untuk datang ke rumah sakit.


" Perhatian semuanya, setelah pulang sekolah kita jenguk Aziel yuk ke rumah sakit, sebagai wujud kepedulian sesama teman. Kita patungan untuk beli buah dan beberapa cemilan untuk Aziel." Ucap Kiki yang peduli dengan Aziel, untuk ajak teman-teman sekelas pada datang ke rumah sakit untuk jenguk Aziel yang kemarin habis operasi.


" Awas saja ada yang berani jenguk Aziel!, ada yang jalan bakal tahu resikonya. Saya tolak temen-temen jenguk si culun apapun alasannya tetep saya tolak!." Tegas Feri dengan lantang, Feri tidak ingin ada yang membantah perintahnya sama sekali.


" Heh Feri!,  jika suatu saat kamu yang masuk rumah saki dalam keadaan sadar atau koma, saya larang temen- temen jenguk kamu, apa kamu tidak sedih, dianggap tidak peduli dengan kondisi temen sendiri?." Tanya Kiki dengan berani, kiki tidak ingin diatur atur oleh Feri terus, apa lagi memberikan kepedulian ke temen sendiri.


" Coba saja kalo berani!, laki-laki sejati itu berantemnya pakai tenaga beda dengan perempuan berantemnya pakai otak siapa yang cerdas. Kalo kamu rasa kemarin berhasil kalahin saya karena pelajaran itu payah bukan laki-laki sejati, berani kita berantem siapa yang berhasil tetap berdiri itu baru pemenangnnya dan disebut jagoan!." Ledek Feri senyum sinis melihat Kiki yang ada didepan kelas, dengan lantang ajak temen-temen sekelas ajak jenguk Aziel.


" Jahat sekali kamu jadi temen, berasa penguasa dikelas ini. Ngapain juga saya ladenin anak bodoh seperti kamu, temen-temen yang tidak peduli dengan kondisi Aziel temen sendiri, karena takut sama pereman itu, saya doain kalian tetep sehat supaya tidak sakit dan tidak ada yang peduli dengan Kalian!." Tegas Kiki menatap teman- temannya yang payah, masih saja takut dengan Feri, yang menunjukan tenaga yang merasa kuat.


Kiki kembali ke bangkunya dengan perasaan kecewa karena temen-temannya, bener-bener takut dengan Feri dan ancaman Feri membuat temen temannya menciut didepan Feri.


" Feri dilawan, memangnya enak pada takut ikut kamu dan pada nurut dengan perintah saya." Batin Feri bangga bisa membuat temen-temennya takut, tidak ada yang berani melawan sama sekali.

__ADS_1


" Untung lah, mereka takut dengan Feri, itu artinya selama Aziel dirumah sakit membuat saya bisa bebas manfaatin Aziel untuk kerjain tugas sekolah berdua." Batin Agni lega karena bisa bebas ketemu Azriel tanpa ada yang tahu sama sekali.


Dilain sisi, Dokter periksa kondisinya Aziel, Dokter membiarkan suster ganti selang infusnya Aziel, memberikan obat, dan makan untuk Aziel.


" Bagaimana Dokter, kondisi anak kami?." Tanya Bunda nya Aziel, berharap anaknya bisa cepet jalan.


" Besok kita melakukan ronsen terakhir, dan tadi saya lihat kakinya Aziel sudah lebih baik Bu, besok sekalian Aziel belajar jalan untuk melihat hasil operasinya, sekarang diam saja dulu yah supaya lukanya sepenuhnya kering dan besok bisa jalan seharusnya." Ucap Dokter yang memprediksikan Aziel bisa jalan besok.


" Tenang Dokter, saya tidak akan bandel sama sekali demi bisa jalan kembali." Ucap Aziel yang mau nurut apa kata Dokter, demi bisa sehat kembali kedua kakinya.


" Baik lah, saya pamit dulu, nanti saya periksa lagi yah." Lanjut Dokter langsung keluar kamar perawatan nya Aziel diikutin suster


" Terimakasih Dokter dan Suster, yang sudah periksa Aziel, memberikan makanan, dan obat untuk anak saya " Lanjut Bunda nya Aziel, mempersilahkan Dokter dan Suster kembali ke ruangannya.


Dilain sisi, Dina dan Vivi, diam diam ajak Agni untuk jenguk Aziel di rumah sakit, jangan membuat Feri tahu kalo Vivi dan temen-temennya jenguk Aziel.

__ADS_1


" Agni, jenguk Aziel di rumah sakit yuk, Aziel kan sering bantuin kita untuk kerjain tugas sekolah kan, masa dia sakit kita tidak peduli sih."  Ucap Dina ajak Agni untuk jenguk Aziel di rumah sakit.


" Jangan karena takut dengan Feri, membuat jiwa sosial dan kepedulian sesama hilang begitu saja. Bagaimana kalo kita seperti Aziel sakit dan tidak ada yang jenguk sama sekali pasti sedih sekali." Ucap Vivi yang tidak bisa, membayangkan perasaan sedihnya Aziel karena temen temnnya tidak ada yang datang sama sekali.


" Astaga!, gagal dong mau pura pura perhatiannya, kalo mereka ke rumah sakit. Eh tapi biarin deh seolah-olah saya yang ajak mereka lumayan cari perhatian si culun demi kelancaran pelajaran untuk besok." Batin Agni yang mau Memanfaatkan ajakan Dina dan Vivi, demi membuat Aziel percaya kalo Agni semakin peduli dengan Aziel.


" Boleh juga, kasihan kan orang baik tapi kita perlakukan seperti ini kan." Ucap Agni setuju diajak jenguk Aziel, Agni langsung kirim chat ke Aziel seolah-olah ajak Dina dan Vivi jenguk Aziel padahal sebaliknya.


Dilain sisi, Feri senyum sinis melihat Kiki makan sendirian didalam kelas, Feri puas membuat temen-temen sekelas tidak ada yang nurut dengan ajakan Kiki sama sekali.


" Kasihan sekali, mau jadi penguasa di kelas ini tapi gagal yah, ajakan buat jenguk si culun gagal total hahahaha. mau kalahin Feri mana bisa sih." Ucap Feri bangga, bisa kalahin kiki dalam sekejap.


" Silahkan saja bangga, ingat Feri setiap manusia pasti ada waktu apesnya dan penyesalan, jangan sampai kamu menyesal dengan ke sombongan kamu!."  Ucap Kiki yang kesel melihat Feri terlihat bangga, berhasil melarang temen satu kelas untuk tidak jenguk Aziel.


"Mana ada sih waktu apes saya hah!, tidak ada waktu apes untuk jagoan seperti saya!." Tegas Feri yang tidak percaya dengan waktu apes sama sekali.

__ADS_1


" Silahkan saja, merasa diatas awan." Lanjut Kiki yang percaya setiap manusia, pasti ada kondisi dimana merasa menyesal dengan apa yang dilakukannya selama masih hidup pasti akan merasakan waktu apesnya dalam bentuk apapun.


Feri pukul meja Kiki saking keselnya, karena Kiki semakin kesini semakin berani menjawab ucapannya terus.


__ADS_2