
Agni pusing sekali karena tugas ekonomi sangat banyak dan sulit untuk dikerjakan, Agni melihat Aziel yang santai ditempat duduknya merasa kesel, melihatnya tidak pusing sama sekali tidak seperti temen-temennya.
" Sial!, dia santai sekali sih ditempat duduknya, tidak seperti yang lain pada pusing dengan tugas hari ini." Batin Agni kesel karena cuman Aziel yang tidak terlihat pusing, dengan tugas hari ini.
" Agni, apa tugas kamu sudah selesai?." Tanya Een melihat Agni yang sibuk dengan bukunya.
" Sedikit lagi sih, tapi saya ragu dengan hasilnya. Terus kamu sendiri apa sudah selesai?." Tanya Agni melihat Een, yang bukannya kerjain tugas tapi ke kursinya.
" Belum sih, yang lain sibuk, tapi yang santai cuman si culun saja. Tapi kan gengsi deketin si culun bisa-bisa jadi bahan ledekan lagi, malas ah malu juga saya." Lanjut Een yang tidak mau samperin Aziel cuman untuk kerjain tugas saja.
" Saya juga males deh Een, dia kucel lagi ih males ah." Lanjut Agni, yang tidak ingin deketin Aziel sudah culun dan kelihatan kucel sekali penampilannya.
Dilain sisi, Kiki lihat Aziel yang lagi duduk sendirian di bangkunya, langsung menghampiri Aziel untuk minta diajarin tugas ekonomi.
" Aziel, kamu tidak kerjain tugas ekonomi?." Tanya Kiki yang melihat Aziel yang terlihat santai, dibangkunya tidak terlihat pusing.
" Alhamdulillah sudah selesai Ki, ada apa?." Tanya Aziel yang melihat Kiki berdiri didepan mejanya.
" Boleh salin tidak? Sekalian diajarin juga sih? Habisnya mikir sendiri tuh berasa susah sekali?." Tanya Kiki yang paling mudah diajarin dari pada cari sendiri.
" Boleh saja Ki, hayo buruan sebelum bel masuk dibunyikan." Lanjut Aziel mempersilahkan Kiki, untuk duduk disebelahnya.
" Heh culun!, Kiki minta salin tugas kamu dibolehkan sedangkan saya ditolak, dasar pelit sekali jadi temen!." Bentak Feri kesel, melihat Kiki minta salin tugasnya Aziel dibolehkan sedangkan Feri ditolak.
__ADS_1
" Beda dong, Kiki minta diajarin sedangkan kamu disalin begitu saja. Sedangkan kamu sudah dikasih tapi bukunya dilempar disaat kamu selesai kerjain tugasnya, siapa sih orang yang tidak sakit hati diperlakukan seenaknya seperti itu." Ucap Aziel yang tidak pernah terima perlakuannya Feri yang selalu seenaknya, sudah minta jawaban tapi mengembalikan bukunya seenaknya Feri.
" Itu lah hebatnya jagoan Aziel, bisa minta sesuka hati dan dikembalikan yah sesuka hati dong, orang culun dan lemah seperti kamu, yah pantas diperlakukan seperti itu." Lanjut Feri dengan sombongnya, Feri tidak ingin terlihat lemah karena tidak bisa kerjain tugas sendirian.
" Tidak tahu diri kamu Feri, yuk Ki, kita lanjut kerjain tugasnya. " Lanjut Aziel heran, karena Feri berasa jagoan sekali demi mendapatkan jawaban tugas sekolahnya saja.
Feri melihat Aziel, kembali fokus dengan bukunya, langsung rebut paksa bukunya Aziel begitu saja.
" Nanti saya kembalikan!." Tegas Feri, Feri langsung ambil paksa bukunya Aziel dan langsung jalan menuju kursinya untuk salin tugasnya Aziel.
" Aziel, bagaimana buku kamu diambil paksa oleh Feri, apa tidak takut dirusak?." Tanya Kiki yang kesel melihat Feri yang paksa Aziel, untuk ambil buku tugas sekolahnya Aziel.
" Kamu tenang saja, sekarang kita kerjain punya kamu, tidak usah difikirkan buku itu." Lanjut Aziel, Aziel sengaja bersikap santai, karena Aziel sudah membuat salinan tugasnya jadi tidak takut bukunya ada di Feri.
" Apa bener anak itu cuman sakit biasa? Tapi kenapa saya tidak percaya dengan ucapannya Aziel yah, lebih baik jemput Aziel saja di sekolah dari pada penasaran dan akan tahu penyebab kaki nya Aziel seperti itu." Ucap Ayah nya Aziel langsung masuk kedalam mobil, dan jalan menuju sekolah nya Aziel supaya lihat sendiri kegiatan anaknya hari ini.
Dilain sisi, Feri dorong Aziel disaat Aziel mau keluar dari kelasnya, membuat Aziel berusaha berdiri dan berusaha melawan sebisa mungkin.
" Kenapa kamu dorong saya? Bukannya saya sudah memberikan tugas hari ini ke kamu kan?." Tanya Aziel heran melihat Feri, yang tiba tiba dorong Aziel.
" Saya mau memberikan buku kamu saja, karena kamu tidak dengar ucapan saya, yah saya cuman tepuk bahu kamu sedikit, eh kamu sudah jatuh duluan dasar lemah." Ledek Feri, Feri langsung melempar buku tulisnya Aziel tepat diwajahnya Aziel.
" Begini cara kamu untuk terimakasih ke orang yang sudah bantu kamu?." Tanya Aziel kesel, karena Feri seenaknya dorong dirinya dan dengan mudah bilang mau mengembalikan bukunya dengan cara didorong dengan kasar.
__ADS_1
" Berisik kamu!." Bentak Feri puas, karena selalu bisa kerjain Aziel setiap waktunya.
Dilain sisi, Agni melihat majalah fashion yang lagi hitz, membuat Agni ada keinginan untuk belanja barang barang yang yang lagi terkenal.
" Wajib beli nih, tidak boleh keduluan temen temen, masa cewek cantik harus kalah modis sih." Ucap Agni yang terus melihat majalah, khusus menjual aksesoris perempuan dan baju baju keluaran baru.
" Yah dong wajib beli, masa sih tidak dibeli gengsi dong dengan temen-temen yang tampangnya biasa saja kan." Ucap Vivi yang juga ingin, memiliki aksesoris yang lagi terkenal dan dimiliki anak remaja sekarang.
" Yah sudah, sekarang kita ke butik itu, untuk beli koleksi barang barang barunya, jangan sampai keduluan dengan yang lain." Lanjut Agni dengan semangat.
Agni merapihkan buku-buku nya dan dimasukin kedalam tasnya, sebelum ke butik untuk belanja banyak aksesoris yang diinginkan Agni dan Vivi.
Dilain sisi, Dokter jaga sudah pasrah, karena kondisi kaki nya Aziel tidak ada perubahan sama sekali.
" Kamu didorong lagi? atau jatuh tidak sengaja?." Tanya Dokter jaga, yang melihat perban yang dipakai Aziel sedikit kotor.
" Tidak sengaja jatuh Dokter, memang kenapa?." Tanya Aziel bingung karena Dokter, tahu jika Aziel jatuh tadi.
" Perban kamu kotor, ini tidak mungkin tidak sengaja, kamu beneran mengabaikan keadaan kamu? Saya sudah tidak bisa bilang apapun ke kamu Aziel, karena kaki kamu semakin bengkak, dan saya takutnya tulang rawannya kena dan kamu beneran lumpuh." Lanjut Dokter jaga, yang sudah selesai ganti perban dikedua kaki nya Aziel.
" Saya tidak sanggup, melihat kedua orang tua saya marah, karena saya sakit seperti ini Dokter." Lanjut Aziel yang tidak ingin menjadi beban untuk orang tuanya, karena biayai pengobatannya Aziel saja.
" Sekarang terserah kamu saja Aziel, jika kamu seperti ini terus, saya cuman bisa prihatin saja, saya sebagai Dokter cuman bisa bantuin obatin dan kasih saran yang terbaik, demi kondisi kaki kamu dan jika kamu tidak peduli yah saya tidak bisa berbuat apapun juga." Lanjut Dokter jaga pasrah, karena tidak bisa terlalu paksa Aziel untuk berobat jika Aziel sendiri selalu menolak untuk melakukan pengobatan lanjutan ke rumah sakit.
__ADS_1