
Feri merasa asing ada didalam kamarnya karena tidak bisa melihat apapun, apa lagi tidak bisa jalan sama sekali membuat Feri cuman bisa diam saja diatas tempat tidur.
" Ucup, didalam kamar saya, apa ada yang berubah? Saya lapar sekali dan ada makanan apa didalam kulkas didalam kamar saya?." Tanya Feri dan Feri ingin sekali makan karena sudah mulai lapar, dan penasaran apa kamarnya ada perubahan atau tidak.
" Kulkas, televisi, kursi dan meja. Sudah tidak ada Tuan muda, Tuan muda mau makan dan minum apa? Tunggu sebentar ya karena saya mau ambil di dapur dulu?." Tanya Ucup, padahal Ucap paling seneng didalam kamarnya Feri ada fasilitasnya supaya tidak bosan tungguin Feri.
" Astaga! Semuanya diambil apa takut saya jatuh yah, saya mau buah, burger, kentang goreng, dan jus melon. Tolong bilang ke Bik Iyem yah. Ah sama Roti dan air mineral buat disimpan disini, takut malam lapar saya nya dan kamu terserah mau simpan makanan apa buat malam disini." Lanjut Feri, yang senang karena Maryam peduli dengan anaknya sendiri, yang takut jatuh karena keselandung.
" Beres Tuan muda, ya sudah kalo begitu saya ke dapur dulu untuk tungguin masak burger dan kentang goreng, bikin jus buah, bawa buah, roti, dan air mineral." Lanjut Ucup, Ucup langsung keluar dari kamar untuk jalan ke dapur bawa makanan yang diinginkan oleh Feri.
Dilain sisi, Agni yang masih betah bersama Aziel, ajak pacarnya untuk main bulutangkis bersama sampai makan malam bersama.
" Sayang, jangan pulang yah sayang, disini sampai makan malam selesai mau kan temani aku sampai makan malam selesai?" Tanya Agni sambil peluk boneka, yang tadi dibeliin oleh Aziel.
" Boleh sayang, mau ngapain kita sayang?" Tanya Aziel berusaha berfikir positif, kalo Agni merasa kesepian apa lagi sampai jam makan malam selesai.
" Bagaimana kalo main bulu tangkis? Ayah aku punya ruangan khusus, olahraga sayang jadi bisa olahraga apa saja di sana ada?." Tanya Agni, Agni sering sekali ajak Vivi dan violet. Untuk olahraga diruang olahraga orang tuanya.
" Boleh saja sayang, yuk olahraga bersama." Lanjut Aziel tidak menolak ajakan Agni, apapun ajakannya tidak akan nolak selama tidak yang diluar kepantasan dilakukan anak sekolah.
__ADS_1
Agni bahagia sekali, karena Aziel mau diajak olahraga bulu tangkis bareng, Agni langsung gandeng tangannya Aziel untuk jalan masuk kedalam rumahnya dan ajak Aziel ke ruangan olahraga orang tuanya.
Dilain sisi, Vivi bahagia sekali, diajak jalan jalan oleh Kiki untuk kuliner pagi bareng, dan Vivi bawa pulang banyak makanan.
" Terimakasih yah Kiki, sudah ajak saya jalan dan kuliner bareng lagi hari ini." Ucap Vivi bahagia, karena pertama kalinya Kiki ajak jalan berdua.
" Sama-sama Vi, ya sudah kalo begitu saya pamit pulang dulu yah dan sampai jumpa nanti." Ucap Kiki senang, pagi dihari liburnya ditemani Vivi, jalan jalan berdua.
Vivi ngangguk dan membiarkan Kiki naik mobilnya, untuk kembali kerumahnya dan Vivi langsung masuk kedalam rumah setelah melihat Kiki pergi jauh.
Dilain sisi, Feri semenjak tidak bisa melihat, lebih sering nangis meratapi kondisinya. Feri bener-bener tersiksa sekali karena mau makan saja kesulitan sekali.
" Tuan muda, semenjak sakit seperti ini, jadi lemah sekali karena lebih sering nangis tidak seperti dulu laki sekali, mana pernah nangis dalam segala hal. Kasihan sekali dengan cobaan yang sekarang harus Tuan muda jalanin." Batin Ucup tidak tega, melihat wajahnya Feri basah karena air mata.
" Tuan muda, kenapa tidak minta temen temennya untuk kesini? Main bareng atau belajar bareng?" Ucap Ucup karena dari awal Feri sakit cuman sekali saja, temennya datang ke rumah sakit.
" Cukup guru saja, temen-temen tidak usah sama sekali lah, malu saya kondisi seperti ini dilihat temen-temen sekelas. Saya ketemu mereka setelah saya kembali normal dan jadi jagoan kembali saja, kalo seperti ini saya lemah sekali Cup." Ucap Feri yang gengsi, dilihat temen-temennya sudah lumpuh dan juga buta lagi.
" Saya mengerti Tuan muda, memang tidak mudah kondisi seperti itu dilihat temen-temen, karena temen seenaknya menghina dan disaat dihina balik tidak terima, apa lagi laki- laki pasti lebih emosi jika dihina kondisi fisiknya Kan" Lanjut Ucup yang mengerti perasaannya Feri, yang gengsi kondisinya sekarang dilihat temen sekolah.
__ADS_1
Dilain sisi, Aziel yang hobi main bulu tangkis, tentunya tidak menolak diajak main bulu tangkis oleh Agni.
" Sayang, mau minum apa? Setelah olahraga begini paling doyan minum apa?." Tanya Agni, Agni merasa lelah dan senang main bulu tangkis bersama Aziel.
" Biasanya minum teh manis hangat sayang." Ucap Aziel, Aziel paling malas minum es setelah olahraga.
" Oke, aku bilang bibik dulu yah, buatkan teh manis untuk kita." Lanjut Agni, Agni langsung telefon Bik Nur untuk bawakan teh manis hangat, es teh manis, dan cemilan ke ruangan olahraga.
Dilain sisi, Maryam Melihat suaminya datang ke rumahnya, langsung senyum sinis, karena Maryam sudah tidak ingin ketemu lagi dengan suaminya.
" Mau apa kamu kesini? Nanti istri kamu marah, kalo tahu kamu kesini?" Tanya Maryam melihat Anton, duduk di ruang tamu.
" Mau ajak rujuk, aku tidak kuat punya istri yang seenaknya ke suaminya. Mau kah menerima aku kembali dan kita rujuk demi Feri tetep bisa punya orang tua utuh kembali?." Tanya Anton, berharap Maryam mau rujuk dan bisa kembali bersama.
" Maaf tidak bisa, silahkan keluar dari sini dan perpisahan ini jadi pembelajaran untuk kamu, supaya sadar bahwa selingkuh itu tidak selamanya indah, dan tidak seenaknya memberikan segalanya dengan mudah tanpa memikirkan perasaan anak dan istri, juga tidak memikirkan jika anak dan istri butuh harta yang dimiliki suami untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kamu bayangkan jika aku orang biasa sekarang aku dan Feri tinggal dimana dan makanan apa?." Tanya Maryam yang ingin membuat Anton, sadar dan kapok selingkuh apa lagi seenaknya memberikan hartanya untuk perempuan lain tanpa disisain untuk anak dan istri sedikit pun.
" Ya sudah kalo begitu saya pamit, saya akan menerima hukuman hidup pamit ini karena kesalahan saya di masa lalu. Terimakasih dimasa lalu sudah menjadi istri yang sempurna, pernah mau bahagia bersama dan mau membantu saya setiap ada pekerjaan." Lanjut Anton pasrah, berusaha menerima kenyataan bahwa perempuan yang sudah disakiti tidak mudah diajak rujuk apa lagi jika istri merasa bisa mandiri menjalankan hidupnya tidak akan mau diajak rujuk menerima orang yang sudah sakitin perasaannya.
Anton keluar dari rumahnya Maryam dengan perasaan kecewa dan tidak bisa paksa rujuk, karena Anton sudah tidak memiliki apapun lagi yang bisa membuat daya tarik Maryam mau diajak rujuk.
__ADS_1