DIAM BUKAN BERARTI TAKUT

DIAM BUKAN BERARTI TAKUT
Manusia punya hati


__ADS_3

Feri jalan angkuh masuk kedalam kelas, membuat temen-temen di kelas melihat Feri sudah sembuh dan masuk sekolah seperti dulu lagi.


" Hebat sekali kalian! Berani tidak jenguk saat saya sakit yah? Kalian berani duel dengan saya hah! Siapa yang suruh kalian tidak jenguk saya saat saya sakit kemarin?." Tanya Feri penuh amarah, menatap satu-persatu temen-temen satu kelas, yang terlihat ketakutan.


" Kita sakit hati Feri, disaat kita sakit membuat kamu berasa penguasa di kelas ini, melarang temen-temen untuk tidak jenguk yang sakit sama sekali." Ucap Rafael dengan lantang, berusaha tidak takut dengan Feri yang selalu menindasnya setiap hari.


" Jadi sekarang giliran kita semua, yang balas keegoisan kamu supaya sadar, bagaimana rasanya tidak dipedulikan temen-temen sama sekali? Biar kamu tuh tobat. Disini itu berteman dan tidak ada yang punya hak, merasa paling diatas, karena kita semua sama-sama belajar disini." Ucap Kiki, Kiki sengaja memprovokasi temen-temen untuk kasih efek jera untuk Feri.


" Itu artinya Feri, setiap manusia punya hati. Sekuat apapun kamu merasa bisa menindas kita semua karena kamu merasa punya tenaga lebih, tidak bisa paksa hati yang sudah terlanjur sakit hati ke kamu. Untuk peduli ke kamu, ingat disini kita semua sama, pelajar dan proses bersama-sama dan tidak bisa seenaknya terus menerus." Ucap Aziel, Aziel berusaha untuk ajak temen-temennya untuk jenguk Feri tapi selalu ditolak dan alasan temen-temen selalu sama, tidak akan jenguk Feri karena sakit hati.


Feri mendengar ucapan Aziel, langsung melempar tasnya jatuh tepat diatas mejanya Aziel. membuat temen-temen sekelas langsung ketakutan melihat aksi Feri yang terlihat marah besar.


" Berani kamu melawan saya hah! Sini duel berkelahi, jangan seperti perempuan yang berantem dengan ucapan saja!." Bentak Feri langsung nantang Aziel untuk berkelahi, Feri sudah tidak sabar untuk berantem dengan tenaga bukan dengan ucapan.


" Saya tidak pernah takut! Dengan apa yang kamu lakukan, kita semua adukan kamu sekarang juga dan dijamin sekarang juga kamu dikeluarkan dari sekolah ini dengan rasa malu." Lanjut Aziel dengan tegas, Berusaha untuk tidak takut sama sekali, supaya Feri stop menindas temen-temennya terus.


" Kita kira, kamu kemarin lumpuh dan buta selama tiga bulan itu, bisa sadar bahwa kamu di dunia ini tidak sendirian, butuh bantuan orang lain supaya bisa bantuin kamu dengan ikhlas. Eh ternyata sama saja yah, kita cape Feri punya temen seperti kamu, Pilihan kamu cuman dua. Menjadi pribadi yang lebih  baik dan menghargai kita sebagai temen dengan sewajarnya atau Kamu pindah dari sekolah ini, dengan kata lain Feri bahwa kita semua usir kamu dari sekolah ini, karena kita sudah cukup sabar dan sudah cukup ditindas oleh kamu!." Ucap Agni dengan tegas, berusaha berani melawan Feri supaya tidak merasa takut karena masih ada Feri di sekolah.

__ADS_1


" Ada Guru Ekonomi!." Teriak Burhan melihat keluar kelas dan betapa kagetnya, ada Guru Ekonomi sudah datang ke sekolah dan lagi jalan menuju kelas.


" Urusan kita belum selesai, Agni, Kiki, dan Aziel." Lanjut Feri dengan suara pelan, Feri langsung jalan menuju mejanya Aziel untuk ambil tasnya dan langsung jalan menuju mejanya dengan penuh emosi. Feri walaupun merasa dipermalukan tapi dengan Feri menunjukan emosinya berhasil membuat temen-temennya kembali takut.


Dilain sisi, Bik Iyem Vidio call dengan orang tuanya Agni, kasih kasih lihat kamar tamu yang dirubah demi menjaga rahasia Aziel dan Agni dari temen-temennya Agni yang sering datang ke rumah.


" Nyonya dan Tuan besar, ini kamar yang mau direnovasi, dan dikamar ini cuman ada buku sekolah katanya kalo ada temen yang datang, disuruh ke kamar ini saja, ada beberapa baju sekolah dan baju santai Nona Agni." Ucap Bik Iyem, memperlihatkan kamar yang akan akan dipakai.


" Resiko masih sekolah sudah menikah yah begini, ribet dan bikin pusing saja! Tapi adanya Aziel membuat Agni tidak merasa kesepian lagi selama kita kerja." Protes Ayah nya Agni, merasa pusing saat tahu keinginannya Aziel dan Agni yang mau kamar tamu, diisi barang-barangnya Agni.


" Sangat rapih sekali nyonya, dari awal datang sampai sekarang, saya tidak pernah melihat barang-barang Tuan muda berantakan." Lanjut Bik Iyem, setiap membersihkan kamarnya Agni tidak pernah lagi melihat sampah berantakan, baju sekolah ada di sofa, dan buku sekolah yang sering tidak dirapihkan oleh Agni.


" Alhamdulillah, jika Agni mendapatkan suami yang rajin merapihkan barang pribadi, rajin belajar dan baik lagi. Jadi Agni tidak salah pilih jodoh sama sekali." Lanjut Bunda nya Agni merasa lega, karena anaknya tidak salah pilih pasangan apa lagi minta menikah tiba-tiba.


Dilain sisi, Feri larang Aziel, Kiki, dan Agni. Keluar kelas untuk istirahat.


" Kalian mau kemana? Urusan kita belum selesai?." Tanya Feri sengaja mata jahil, sambil melihat Agni dari ujung kepala sampai ujung kaki.

__ADS_1


" Jangan takut, dia cuman nakut-nakutin saja. Tenang sayang disini ada aku." Bisik Aziel, berusaha menenangkan Agni yang merasa ketakutan.


" Jam istirahat menurut kamu mau ngapain? Sudah lah Feri, jangan terus-terus cari masalah terus. Kita berdamai saja lah, hobi sekali mencari masalah sih?." Tanya Aziel heran, karena Feri tidak sadar juga akan sikapnya sama sekali.


" Cuekin saja, dia lagi cari perhatian saja." Ucap Kiki berusaha jalan, tapi langkahnya dihentikan oleh Feri.


" Maju selangkah, wajah jelek kamu akan semakin jelek!." Ancam Feri semakin kesal, karena Kiki dan Aziel terus dan terus melawannya.


" Kamu dulu kan bela saya, kenapa kamu sekarang belain mereka. Hah! Memang mereka apa kelebihannya?." Tanya Feri kesal, Feri pegang tangannya Agni dengan kencang, membuat Agni merasa kesakitan.


Bugh. Satu tonjokan mendarat sempurna, diwajahnya Feri membuat Feri langsung jatuh ke lantai, karena belum siap untuk melawan.


" Berani kamu sakitin pacar saya lagi! Saya pastikan kamu akan diusir dari sekolah ini!." Bentak Aziel, Aziel mulai kepancing emosi karena Feri yang terus menerus pancing emosinya dari tadi.


" Nah begini baru laki-laki, berantem pakai tenaga jangan pakai mulut!." Bentak Feri, Feri langsung membalas Aziel dengan menghajar wajahnya, membuat Aziel jatuh kelantai.


" Sudah cukup Feri! Kamu membahayakan kita semua, Saya akan adukan hal ini ke kepala sekolah, dari pada kita semua jadi hobi berkelahi karena kamu!." Ancam Kiki, yang sudah cape untuk berantem terus dengan Feri yang tidak ada akhirnya sama sekali, kecelakaan motor tidak membuat Feri sadar akan sikapnya, justru semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


__ADS_2