DIANA & DIANI

DIANA & DIANI
KEHARMONISAN


__ADS_3

OBROLAN Para orang dewasa itu sudah usai karena waktu sudah jam sembilan malam. tak terasa sudah dua jam mereka berbincang membahas perihal ibu Dewi dan suami nya yang akan bebas dari masa penjara nya itu. kini pak Yaris sudah pulang ke rumah nya dan ibu Asih sedang menonton televisi di ruangan TV rumah gedong tersebut. sedangkan Dona dan Doni, kedua nya ingin bertemu kedua anak gadis nya itu karena mereka sudah rindu ingin cepat bertemu.


Pintu kamar kedua anak itu sudah dibuka dan sepasang suami istri itu masuk ke dalam nya. kedua anak gadis itu ternyata sudah tertidur dan mereka tertidur sambil posisi masih dalam keadaan memegang alat tulis. badan kedua nya melonjor merebahkan badan nya di karpet permadani itu dan membuat sepasang suami istri itu menatap haru dan geli kepada kedua anak nya itu. Dona lalu membereskan buku dan alat tulis yang berserakan dan Doni mengangkat Diana dahulu untuk dibaringkan diranjang nya. tetapi Diana langsung terlonjak bangun ketika diri nya akan di angkat oleh ayah nya.


"uhmm papa darimana?" ujar Diana disela masih mengantuk nya dan sembari ia mengucek-ngucekan kedua mata nya.


"papa tadi ada perlu sebentar sayang. yuk bobo lagi, papa gendong ke tempat tidur mu." lalu Doni menggendong Diani sembari sesekali mencium kening nya.


Diani pun diangkat oleh ibu nya dan ia juga tersentak bangun. ibu nya segera menenangkan nya dan Diani langsung memeluk erat ibu nya sembari berkata.


"mama darimana? dede dan kakak sampai ketiduran menunggu mama dan papa." ucap nya dengan suara sumbang dan ibu nya mengecup pipi Diani sembari berkata.


"maaf ya sayang. mama dan papa tadi kedatangan tamu, yaitu kakek mu. sekarang mama dan papa mau temani kamu dan kakak mu tidur." lalu Dona menggendong Diani mendekati Diana yang sudah berbaring di samping ayah nya yang sedang mengusap-usap rambut Diana.


Diana sudah melek dan tak terpejam seperti tadi dan begitupun dengan Diani, mata nya pun sudah melek juga. posisi Diana dan Diani tidur bersebelahan di ranjang lebar itu dan kedua orang tua nya berada di samping kiri dan kanan mereka. mereka mulai mengobrol dan di mulai dari Diana.


"sudah lama papa dan mama baru menemani kita tidur lagi ya de."


"iya kak." jawab nya seraya tersenyum. Dona dan Doni juga tersenyum, lalu Dona berkata.


"maafkan mama dan papa mu ya sayang, kami berdua selalu sibuk dan sering mengabaikan kalian berdua. tetapi kalian sudah besar dan harus mandiri juga."


"iya mama. dede dan kakak juga sudah mandiri kok."


"coba papa tanya, mandiri itu apa hayo?" tanya Doni kepada kedua anak nya dan Diana menjawab nya.


"mandiri itu suatu kebiasaan seseorang yang sudah tak lagi menggantungkan hidup nya kepada orang lain pa."


"salah kak. mandiri itu mandi dan makan sendiri, betulkan pa? ma?" Dona dan Doni tertawa mendengar Diani berkata seperti itu dan ditambah wajah nya yang lucu, imut dan menggemaskan itu. Diana juga tertawa walau tak keras, ia merasa senang sekali merasakan Keharmonisan dalam rumah tangga tersebut.


Lalu Dona bertanya kepada kedua anak nya dan sembari lengan nya mengusap-usap rambut Diani.


"bagaimana sekolah kalian? lancar?"

__ADS_1


Diani lalu menatap wajah kakak nya dan Diana jadi serba salah jadi nya. Doni melihat ada yang disembunyikan dari kedua anak nya yang bungkam ketika ditanya oleh ibu nya itu.


"mengapa kalian jadi diam? apakah disekolah kalian ada masalah?" tanya Doni dan Dona menambahkan.


"cerita saja kepada mama dan papa kalau ada apa-apa di sekolah kalian berdua." Diani lalu mengangguk kepada kakak nya dan kakak nya pun mau tak mau harus berusaha mengatakan sesuatu yang sebenar nya ia takut untuk mengungkapkan nya.


"di sekolah kami lancar-lancar saja pa, ma. tetapi..." Diana seakan ragu untuk mengatakan nya dan Diani langsung menyambar nya dengan ucapan.


"tetapi ada anak bandel yang suka usil sama dede dan kakak! sebel deh dede sama mereka pa, ma." Dona dan Doni saling tatap ketika Diana berkata membenarkan apa kata adik nya itu.


Lalu Dona bertanya kepada kedua anak nya itu.


"memang nya guru wali kelas kalian yang bernama ibu Sari itu tak tahu dikelas nya ada murid yang bandel?"


"ibu guru Sari sudah tahu ma. tetapi anak bandel itu hanya diberi nasihat dan peringatan saja. tetapi anak bandel itu terus saja tak ada kapok-kapok nya, padahal oleh ketua kelas sudah pernah dihajar sampai pingsan."


"iya ma, pa. apa yang dikatakan dede itu memang benar. kakak sudah berusaha keras semampu nya untuk menjaga Diani dan diri sendiri, tetapi apa daya kakak tak punya keahlian membela diri." Dona dan Doni yang mendengar keluh kesah dari kedua anak nya itu mulai prihatin akan kejadian yang menimpa kedua anak nya itu.


Sebelum Doni berkata kepada Dona, mereka mendengar suara Diana berkata.


"kalian mau ikutan less seni bela diri hanya untuk membela diri kalian? begitukah?"


"cuman kakak sama kak Febri saja yang mau ikutan pa, dede cuman jadi penonton saja." ujar Diani penuh kepolosan dan Dona menatap suami nya sembari berkata.


"apa papa mau mengizinkan anak gadis kita dimasukan ke dalam sanggar less seni bela diri?" Doni termenung sejenak dan kedua anak gadis nya beserta ibu nya menatap wajah Doni seakan menunggu kepastian akan keputusan nya itu.


"anak kita ini dua-dua nya perempuan ma. papa ragu, apa bisa anak kita ini mengikuti hal yang sering dilakukan laki-laki?"


"tetapi kan pa. di luaran sana banyak atlet bela diri yang bukan dari lelaki saja. perempuan juga banyak yang bisa melakukan hal tersebut." ujar Dona membela kemauan anak nya dan Diani pun menimpali.


"benar papa. kakak kelas kami pun berkata sama dengan yang mama katakan tadi. iyakan kak?"


"iya de." jawab Diana membenarkan dan ayah kedua anak gadis itu menjadi termenung memikirkan hal tersebut.

__ADS_1


Di sisi lain dan berada di rumah nya Wawan dan Avril, Febri sedang mengobrol dengan kedua orang tua nya itu diruangan TV. mereka sedang memperbincangkan apa yang Febri katakan kepada ibu nya waktu sore tadi.


"jadi kamu ingin masuk ke dalam less ilmu seni bela diri, nak?" jawab ayah nya yaitu Wawan.


"iya pa..., boleh ya. bukan Febri saja sih yang mau ikut, Diana dan Diani pun ingin ikut juga."


"lho kok bisa?" tanya Wawan kepada anak nya dan ibu nya yang sedang hamil besar itu segera berkata.


"mereka ingin bisa menjaga diri sendiri pa. ada anak sekelas nya yang bandel dan sering mengganggu mereka, mungkin akan hal itu. anak kita ini bersama kedua anak nya Dona dan Doni, ingin ikut masuk less ilmu seni bela diri."


"hmmm jadi begitu. papa sih bisa saja memasukan kamu untuk ikut less tersebut, tetapi nanti siapa yang akan mengantarkan dan menjemput mu pulang???" ucapan tersebut segera di jawab oleh Febri.


"tenang saja pa. nanti kan kalau Diana dan Diani dibolehkan oleh kedua orang tua nya, Febri kan bisa ikut menumpang mobil bersama mereka." ucap nya sembari tersenyum dan ibu nya mencubit lengan anak nya sembari berkata.


"dasar! itu mah mau nya kamu tong...!"


"tapi kan gratis ma. hehehe." Febri tertawa cengengesan dan ibu nya hanya geleng-geleng kepala saja terhadap anak nya yang sipat nya agak konyol mirip dengan ayah nya ketika masih muda dan belum menikah.


Lalu Wawan berkata kepada Febri bahwa ia akan menelepon ayah nya Diana dan Diani untuk membicarakan hal tersebut dan Febri serta ibu nya hanya diam menunggu ayah nya menghubungi ayah nya Diana dan Diani. suara telepon berdering dikantung celana training nya Doni, di saat ia sedang menjawab akan memikirkan dahulu kemauan dari kedua anak gadis nya itu. pada saat itu juga ia langsung mengangkat nya.


"halo Wan? ada apa???"


"kau sedang apa Don???"


"aku sedang bersama istri ku dan kedua putri ku dikamar nya. ada apa Wan??" tanya Doni penasaran. lalu suara Wawan terdengar dari dalam ponsel Doni.


"ini anak ku, si Febri. kata nya ia mau ikut masuk less ilmu seni bela diri bersama teman sekelas nya. apakah Diana dan Diani juga akan ikut juga??? kalau kedua anak mu ikut, aku pun akan membolehkan anak ku ini ikut dengan kedua anak mu." Doni diam sejenak, Dona mendengar obrolan itu dan kedua anak nya pun mendengar nya.


Lalu kemudian Doni berkata menjawab obrolan dari Wawan tadi.


"baiklah kalau begitu, besok hari sabtu kan? kita cari tempat less seni bela diri untuk anak kita ini Wan."


"boleh Don. besok pagi aku akan menyusul ke rumah mu, dan... apa nak?" ujar suara Wawan seakan berkata kepada seseorang selain Doni. ternyata Febri saat itu berkata kepada ayah nya bahwa ia menyebutkan nama tempat dimana tempat less itu berada dan Wawan lalu mengatakan nya bahwa tempat nya sudah diketahui oleh anak lelaki nya itu. Doni pun menuruti ucapan Wawan dan besok pagi mereka akan pergi ke tempat tujuan untuk memasukan anak mereka ke dalam sanggar less ilmu seni bela diri.

__ADS_1


...*...


...* *...


__ADS_2