
ORANG Yang bertepuk tangan tadi ternyata adalah seorang guru olahraga yang bernama pak Kurniawan. perawakan nya lumayan berisi dan tegap. diperkirakan pak Kurniawan itu berumur empat puluh tahunan dan berkumis tipis. pak guru itu ternyata akan memasuki kelas itu karena setelah jam istirahat adalah jam tugas nya mengajar di kelas itu dan ia sebenar nya sudah melihat jelas apa yang sedang dilakukan murid-murid nya itu di dalam kelas tersebut sejak tadi.
Ia dipandangi oleh para murid nya dengan tatapan segan dan pak Kurniawan tadi berjalan mendekati Bram dan Diana yang masih berdiri berhadapan dua langkah jarak nya. Yoshua masih berada dua langkah jarak nya juga dari Diana dan Bram. setelah dekat, pak Kurniawan berkata tanya.
"kalian ini sedang meributkan apa sebenar nya sejak tadi? bapak sejak tadi memperhatikan kalian lho." Bram lalu menatap Diana dan berkata.
"jawab tuh pertanyaan dari pak guru olahraga..." ujar Bram dan tanpa disuruh Diana berkata.
"ini si Yoshua nakal pak! adik saya di ejek terus sama dia sampai nangis!" ucap Diana tegas dan pak Kurniawan manggut-manggut, lalu menatap Yoshua yang sejak tadi menunduk.
"hmm jadi begitu. hei Yoshua? apa orang tua mu tahu kelakuan nakal mu ini ketika di sekolah?"
"ti... tidak pak." jawab Yoshua gugup.
"apa kamu mau bapak panggil orang tua mu datang kemari agar mempertanggungkan kenakalan mu itu?" seketika itu juga Yoshua menatap wajah pak guru itu dengan tercengang antara tegang dan takut sembari berkata.
"ja.. jangan pak! saya mohon jangan dilaporkan pak!." Yoshua mulai ketakutan dan Bram langsung berkata.
"maka nya kau jangan suka usil terhadap teman sekelas! baru digertak begitu saja sudah takut oleh pak Kurniawan!" pak Kurniawan hanya geleng-geleng kepala saja sembari tersenyum. lalu ia berkata kembali kepada Yoshua dan di dengar oleh semua murid kelas itu.
"kalau kamu usil dan jahil lagi kepada teman sekelas mu, bapak tak akan segan memanggil orang tua mu lewat pak kepala sekolah!"
"baik pak. saya tak akan mengulangi nya lagi." jawab Yoshua patuh.
__ADS_1
"baguslah kalau begitu. ingat ya anak-anak..." seru pak Kurniawan dan ia melanjutkan ucapan nya lagi.
"kalau Yoshua berulah lagi dan mengganggu kalian, lapor kepada Bram dan biar Bram yang melaporkan nya langsung kepada bapak."
"baik paaak..." jawab para murid-murid itu dengan serempak.
Setelah itu pak Kurniawan berkata kepada semua murid itu untuk memulai pelajaran nya dan Bram sudah kembali ke tempat duduk nya dan disambut dengan acungan jempol oleh Febri. Yoshua dan Diana juga sudah kembali duduk di kursi nya lagi, kini mereka mulai belajar lagi sampai bell jam Pulang Sekolah terdengar. setelah lama nya mereka belajar, terdengar bell pulang sekolah dan kini para murid disetiap kelas sudah membereskan buku-buku dan alat tulis mereka ke dalam tas. para murid sudah banyak yang pulang keluar kelas dan ketiga anak bandel tadi sudah lebih dulu keluar dengan terburu-buru. Diana dan Diani mulai keluar bersama Febri yang mendekati kedua nya dan Bram masih duduk dikursi nya sedang membereskan buku-buku pelajaran nya. ia terlihat nampak lesu dan tak biasa nya ia kurang bergairah begitu.
Diani dan Febri sudah lebih dulu keluar dan Diana berkata kepada kedua nya untuk tunggu diluar kelas karena ia ada keperluan sebentar dengan Bram. keadaan kelas sudah mulai sepi dan Diana mendekati Bram yang baru bangkit dari duduk nya.
"maaf ya soal tadi. aku hanya mau mengucapkan kata terima kasih karena kau telat mencegah si Yoshua yang ingin menamparku tadi." ucapan tersebut hanya dibalas senyuman oleh Bram, lalu ia berkata.
"ya sama-sama." jawab nya pendek dan lalu ia berkata lagi.
"aku pun berterima kasih kepada mu karena kau telah mengingatkan ku akan ucapan mu tadi."
"soal ucapan tentang rasa belas kasihan kepada orang yang telah menyakiti kita." ucap nya tersenyum menawan.
"oh itu." jawab Diana pendek dan pada saat itu juga terdengar suara Bram pelan.
"kau cantik sekali Diana."
"ap..apa?!" ucap Diana mulai grogi ketika ia bertatapan mata dengan Bram. ia lalu memalingkan wajah nya ke arah pintu kelas dan ternyata di situ ada Febri dan Diani yang melihat nya.
__ADS_1
"cieee..." ujar Diani dan Febri bersamaan.
Seketika itu juga Diana langsung berkata ketus sembari meninggalkan Bram yang mengikuti nya dari belakang
"apa nya yang cie-cie!?" ujar Diana dan wajah nya sedikit semburat merah. Diani lalu menggandeng lengan kakak nya sembari berjalan menuju pintu gerbang sekolah. sedangkan Febri berjalan berdampingan dengan Bram sembari berbincang-bincang.
Tiba di pinggir jalan depan sekolah SD tersebut, mobil berwarna merah mengkilat terlihat terparkir dipinggir jalan. mobil itu adalah mobil supir orang tua nya Bram yang menyusul nya. Bram lalu berkata kepada Febri untuk pergi duluan dan Febri mengangguk sembari melambaikan tangan nya. Diana dan Diani pun memperhatikan kepergian Bram yang sudah masuk ke dalam mobil merah itu tanpa melambaikan tangan.
Kini tinggal Febri, Diana dan Diani yang menunggu jemputan mereka. sambil menunggu mereka bertiga dijemput, mereka bertiga mulai mengobrol lagi.
"heh Febri. nanti pulang jangan lupa kau ceritakan kepada mama dan papa mu tentang obrolan kita di kantin tadi." lalu Febri menatap Diana yang berbicara seperti itu dan menjawab nya.
"cerita nya yang mana???" tanya Febri seperti orang linglung dan Diani segera mencubit lengan Febri dengan gemas sembari berkata mengejek.
"kak Febri masih muda kok sudah pikun sih!? hihihi."
"auh sakit tahu!" ucap Febri meringis sembari mengusap lengan nya. lalu Diana berkata lagi mengulangi ucapan nya yang tadi dan Febri menjawab nya.
"soal less belajar ilmu beladiri maksud mu?"
"iya." jawab Diana pendek dan Febri berkata bahwa ia akan membicarakan nya nanti dengan kedua orang tua nya. tak lama mereka menunggu mereka dijemput, tibalah mobil jingga terparkir di tepi jalan itu dan pintu mobil terbuka.
Ternyata itu adalah pak Soleh, satpam sekaligus supir pribadi yang menjemput Diana dan Diani. lalu kedua anak gadis itu masuk ke dalam mobil tersebut dan mengajak Febri untuk ikut pulang juga. tetapi Febri menolak nya dan berkata bahwa ia akan menunggu ojek jemputan nya saja sampai tiba dan kedua anak gadis itu pun tak memaksa Febri untuk ikut pulang bersama mereka juga. setelah mobil yang ditumpangi Diana dan Diani pergi, ojek yang menjemput Febri baru saja tiba dan Febri kini sudah menaiki ojek itu sampai ia pulang ke rumah nya yang ada dikampung duren juga.
__ADS_1
...*...
...* *...