DIANA & DIANI

DIANA & DIANI
BELAJAR LATIHAN BELA DIRI


__ADS_3

MOBIL Berwarna jingga itu berhenti di depan sebuah gapura perguruan seni bela diri. ketiga anak kecil dan seorang ibu rumah tangga yang terlihat awet muda itu, sudah keluar dari dalam mobil tersebut. ibu rumah tangga yang diperkirakan berumur tiga puluh tujuh tahun itu berkata kepada supir mobil tersebut.


"nanti saya hubungi pak Soleh lagi jika waktu nya Belajar Latihan Bela Diri anak-anak sudah selesai."


"iya bu." ujar pak Soleh patuh kepada Dona dan kemudian pak Soleh yang mengemudikan mobil tersebut sudah berlalu pergi kembali ke rumah nya Dona.


Ibu anak dua itu segera berjalan bersama ketiga anak-anak itu menuju pintu gerbang dan para penjaga pos gerbang saling melotot kagum melihat kecantikan Dona yang natural dan berbadan lumayan seksi itu. pakaian Dona yang sedikit ketat itu memperlihatkan lekukan tubuh nya yang mampu membuat para lelaki di mabuk kepayang. Dona lalu mendekati pos penjaga itu sembari berkata.


"permisi mas.., saya mau mengantar anak-anak untuk ikut less di dalam pesanggrahan ini."


"apa ibu ada KTP?? pengunjung baru harus memperkenalkan kartu identitas nya terlebih dahulu, karena sudah ketetapan peraturan padepokan ini" ujar lelaki yang agak gemuk.


"oh iya ada mas." lalu Dona mengambil KTP yang ada di dalam dompet yang berada di dalam tas sangklek nya dan kemudian memberikan nya kepada salah satu dari dua petugas itu.


Petugas itu lalu memperhatikan sebentar KTP Dona dan kedua penjaga itu saling tatap. ketiga anak kecil menatap curiga kepada kedua penjaga itu dan tak lama penjaga yang berbada kurus berkata.


"apakah ketiga anak kecil itu adalah anak-anak yang datang kemari bersama kedua ayah mereka kemarin lusa???"


"betuul paaak." ujar ketiga anak itu serempak dan kemudian kedua petugas gerbang itu keluar pos dan KTP Dona sudah dikembalikan. lalu kedua penjaga gerbang itu membuka pintu gerbang seraya berkata berbarengan.


"silahkan masuk ibu.., dipesanggrahan sana tempat guru padepokan ini mengajar."


"baik mas. ayo anak-anak." ajak Dona kepada ketiga anak kecil itu dan kini mereka berjalan masuk ke dalam halaman luas pesanggrahan itu.


Tiba diteras pesanggrahan, Dona dan ketiga anak-anak itu sudah di sambut oleh kakek tua yang bernama Koh Tian. ia sejak tadi sedang berdiri memperhatikan para murid-murid perguruan itu latihan. suara keramaian murid-murid yang sedang latihah itu terdengar ramai sekali. hampir semua murid-murid itu memperhatikan Dona dan ketiga anak kecil itu mengobrol dengan Koh Tian.

__ADS_1


Obrolan Dona dan Koh Tian hanya sebentar karena mereka baru saja bersalaman dan berkenalan nama. lalu ketiga anak tadi disuruh Koh Tian berganti pakaian dengan seragam bela diri yang baru saja diberikan oleh salah satu murid remaja perempuan perguruan itu. ketiga anak itu pergi di antar oleh murid remaja perempuan itu masuk ke dalam pesanggarahan untuk berganti pakaian.


Dona lalu di ajak duduk oleh Koh Tian di teras pesanggrahan yang terbuat daru kayu yang di amplas halus itu sembari mulai mengobrol.


"jadi ibu Dona ini istri nya pak Doni yang kemarin datang kemari bersama pak Wawan itu?"


"iya kek. suami saya sedang ada perlu dengan mas Wawan jadi saya yang menggantikan tugas suami saya untuk mengantar anak-anak kemari."


"hmm begitu." ujar Koh Tian bergumam sembari kepala nya manggut-manggut.


Tak lama kemudian ketiga anak tadi sudah berganti pakaian khusus murid padepokan itu. Dona tersenyum menatap ketiga anak itu berjalan mendekati nya dan Diani berkata.


"wah kakak sama kak Ferbi cocok sekali memakai pakaian itu ma..?!"


"dede cuman mau nonton kakak dan kak Febri latihan saja mama. dede enggak mau ikutan."


"kok begitu sayang?" tanya Dona dan Koh Tian berkata.


"yang mendaftar jadi murid di sini memang cuman dua anak itu saja bu. kemarin ayah mereka yang sudah mendaftarkan nya di formulir pendaftaran."


"hmm jadi begitu." ujar Dona manggut-manggut. kemudian Koh Tian memanggil cucu nya yang bernama Rosa itu dengan suitan.


Rosa yang sejak tadi sedang melatih murid-murid yang jumlah nya puluhan itu segera mengalihkan tugas nya kepada teman perempuan nya. Rosa berjalan mendekati teras pesanggrahan dan Dona melihat nya, dalam batin ia berkata.


"jadi itu perempuan yang dikagumi suami ku? hmm ku akui memang cantik juga sih. tetapi aku tak akan gentar atau takut jika ia nanti nekat merayu dan mendekati suami ku." batin Dona tersebut segera terhenti karena Koh Tian berkata.

__ADS_1


"kedua anak ini tolong ajarkan pelajaran yang dasar dulu Rosa."


"baik kakek guru." ujar Rosa sembari membungkuk hormat dan kemudian Rosa mengajak Diana dan Febri mengikuti nya ke arah lapangan. lalu Diana dan Febri berkata kepada ibu nya dan Diani.


"mama, dede. kakak pergi latihan dulu ya..."


"dah tante Dona dan Diani..." ucap Febri menimpali.


"semangat latihan nya kakak dan kak Febri." ujar seruan Diani menyemangati dan Dona hanya tersenyum saja melihat kedua anak itu mengikuti perempuan yang bernama Rosa itu.


Pandangan mata Rosa ketika menatap Dona pada saat Rosa mengajak Diana dan Febri tadi, pandangan tersebut adalah pandangan dengan tatapan sinis dari kedua nya dan entah apa yang mereka siniskan itu, hanya mereka berdua saja yang tahu. Dona dan Diani hanya duduk diteras pesanggrahan sembari merekam nya dengan ponsel masing-masing apa yang sedang dipelajari oleh Diana dan Febri beserta para murid lain nya. sedangkan Koh Tian menyuruh salah satu murid nya untuk menyiapkan jamuan untuk tamu nya itu yaitu Dona beserta Diani juga.


Disatu sisi, Doni dan Wawan sedang berada di restorant pratama cabang satu. kedua nya sedang berdiri di luar restorant itu sembari memperhatikan orang-orang yang menurunkan barang-barang restorant dari mobil losbak. kedua nya mulai mengobrol dan diawali dengan Wawan yang berkata.


"oh iya Doni. semalam ayahku menelepon ku dan berkata bahwa ibu mu dan suami nya kini sudah keluar dari dalam penjara."


"apa!? meng... mengapa kau baru mengatakan nya sekarang Wan???" tanya Doni tersentak kaget dan Wawan tersenyum nyengir kuda seraya berkata.


"maaf Doni. aku lupa, hehe. tapi ayah ku menelepon ku semalam setelah kita selesai mengobrol di rumah ku."


"memang nya ayah mu bicara apa saja kepada mu?" tanya Doni lagi semakin penasaran.


"ya ibu mu dan ayah tiri mu sudah pulang ke rumah nya yang ada dikampung rambutan. ayah ku ikut menengok kedua orang tuamu bersama para tetangga lain nya. keadaan kedua nya semakin kurus dan terlihat tua sekali. dibandingkan dengan kedua orang tua ku atau ibu nya Dona, ibu dan ayah tiri mu terlihat sangat tua. mungkin keadaan di dalam penjara membuat batin mereka tertekan dan sampai-sampai mereka tak bisa merawat diri nya." Doni yang mendengarkan ucapan dari Wawan tadi sedang membayangkan keadaan kedua orang tua nya itu setua apa yang dikatakan Wawan kepada nya.


Ada rasa prihatin dan kasihan didalam lubuk hati Doni. tetapi rasa tersebut hilang kembali ketika ia mengingat awal diri nya terusir dari rumah itu oleh ibu nya pada masa yang telah lalu. rasa prihatin dan kasihan itu segera Doni buang jauh-jauh dan tak ingin memikirkan keadaan orang yang sudah menyakiti nya itu. obrolan Doni dan Wawan tertunda dahulu karena mandor yang menyuruh para anak buah nya menurunkan barang ke dalam restorant itu, segera mendekati kedua Doni dan Wawan untuk berbincang-bincang bahwa pekerjaan anak buah nya itu sudah selesai.

__ADS_1


__ADS_2