DIANA & DIANI

DIANA & DIANI
DIANA & DIANI


__ADS_3

IBU Nya Yoshua tertunduk lesu dan sedih mengingat apa yang sekarang sedang terjadi kepada nya. Yoshua masih diam membisu menyembunyikan wajah nya dibalik punggung ibu nya karena malu dan takut dipukuli Diana. lalu Diana bertanya kepada ibu nya Yoshua,


"lalu mengapa kelakuan Yoshua sangat nakal dan bejat begitu bu???" ibu nya Yoshua masih menunduk dan menjawab pertanyaan Diana tadi.


"semua nya akibat ayah nya! didikan ayah nya itulah yang membuat Yoshua menjadi anak yang nakal dan bejat! persis seperti kelakuan ayah nya!" suara bernada tekanan antara kesal dan marah itu membuat Diana undurkan diri sembari berkata.


"mungkin dengan dipenjara nya Yoshua, ia akan berubah dan tak menjadi anak yang nakal lagi bu. saya tak mau balik menghajar Yoshua seperti apa yang pernah ia lakukan kepada saya. anggap saja hutang pukulan diwajah saya ini sudah impas atas diri saya yang pernah menghajar wajah Yoshua ketika disekolah."


Lalu Diana menatap tajam ke arah Yoshua dan menuding nya dengan tegas.


"kau tak perlu menuntut nya lagi Yoshua!" setelah berkata begitu, Diana bergabung dengan keluarga nya.


Yoshua berkata akan berjanji dan bersumpah tak akan menuntut apa-apa lagi kepada Diana. setelah itu mereka kembali lagi ke ruangan utama kantor kepolisian dan mereka pamit pulang karena malam hari semakin larut. para tersangka kejahatan itu nanti akan ditindak lanjuti oleh pak Broto dan nanti akan di sidang dengan sesuai hukum yang berlaku. kini pak Yaris sudah pulang ke rumah nya setelah ia mengantar pak Yono dan Wawan beserta anak nya pulang. sedangkan Doni, Dona dan kedua anak nya beserta ibu Asih pun sudah pulang ke rumah. pulang nya Diana ke rumah nya lagi membuat kesan tersendiri bagi pak Soleh dan kedua pembantu rumah itu. setelah Diana berganti pakaian dan mengelap tubuh nya dengan handuk basah, Diana kini sedang diobat memakai kompresan air hangat yang sudah dicampur antiseptik anti kuman oleh ibu nya. wajah Diana masih terlihat memar membiru dan beberapa area wajah nya masih bengkak walau tak separah sebelum nya.


Diana terbaring di kamar nya dan ditemani oleh adik nya, kedua orang tua nya dan juga nenek nya. perasaan hati mereka sudah tak gundah gulana lagi sekarang karena Diana sudah hadir kembali dirumah itu. malam semakin larut dan seperti biasa Diana & Diani ditemani ayah dan ibu nya tidur sembari diceritakan kisah-kisah dongeng. nenek nya sudah pergi ke kamar pribadi nya untuk tidur duluan karena ia sudah mengantuk sejak tadi. tetapi kali ini yang bercerita adalah Diana. ia ingin menceritakan kejadian awal ia diculik sampai ia bisa meloloskan diri dari para penjahat itu.


"awal mula nya kakak sedang belajar dikelas bersama teman sekelas lain nya. saat itu kakak tak tahu bahwa Yoshua tak masuk kelas, kedua teman nya yaitu Beryl dan Usman memang masuk kelas dan ikut belajar juga."


"apakah kedua anak itu anak yang nakal semacam si Yoshua itu kak???" tanya ibu nya dan Diana mengangguk sembari berkata.


"tetapi jika Yoshua tak masuk sekolah, Beryl dan Usman tak berani berbuat nakal mama."


"benar apa yang kakak katakan itu mama." ucap Diani menimpali ucapan kakak nya.


Doni sebagai ayah dari kedua anak gadis itu dan sekaligus suami dari Dona, segera berkata kepada Diana.


"coba teruskan lagi cerita mu itu kak."


"baik papa..., setelah itu datang ketiga orang berbadan besar dan tangan nya penuh tato. kepala nya terselubung kain hitam dan hanya terlihat dua mata dan mulut nya saja. ketiga preman itu segera membuat gaduh isi kelas dan membuat ibu Sari mencegah ketiga preman itu yang hendak mendekati kakak. salah satu dari preman itu menampar wajah ibu Sari sampai ibu Sari terpelanting jatuh dan dua orang preman itu lagi mencoba menyergap kakak. kakak mencoba melawan nya, tetapi kakak kalah tenaga dan akhir nya kakak tertangkap dan setelah itu kakak tak sadar diri karena dibekap oleh kain lalu pingsan tak sadarkan diri." orang yang mendengar cerita Diana itu manggut-manggut sembari membayangkan cerita Diana tadi.


Diana terus lanjut bercerita sampai ia di ikat di dalam gudang tua dan sempat ingin diperkosa juga oleh pak Tomi.

__ADS_1


"kala itu ibu Dewi dan pak Tomi bertanya-tanya tentang nama kakak dan kakak bersikeras tak mau memberitahu nya. pak tua yang bernama pak Tomi itu berniat ingin memperkosa kakak dan untung nya ibu Dewi cepat melarang pak Tomi itu dan berkata takut rencana mereka itu gagal jika sampai membuat kakak meninggal." Doni dan Dona saling tatap akan rasa terkejut nya mendengar cerita Diana itu.


"brengs*ek sekali si Tomi itu! bisa-bisa nya punya pikiran kotor ingin menodai anak sekecil Diana!" geram Doni dan Dona menimpali.


"untung saja ibu Dewi melarang nya. apa jadi nya jika ibu Dewi malah menyarankan hal bejat itu kepada pak Tomi."


"akan papa bunuh si Tomi itu jika benar-benar hal itu terjadi!" jawab Doni semakin geram dan ia lalu ditenangkan oleh Dona.


"sudah sayang tak perlu geram seperti itu. lagi pula Diana sudah selamat dan bersyukur kita sekarang bisa berkumpul lagi."


"iya mama." ujar Doni mencoba tersenyum kepada istri nya itu dan sudah membuang rasa marah nya.


Diani yang sejak tadi mendengarkan percakapan orang tua nya itu malah bertanya.


"memperkosa itu apa pa? mama?" Diana menatap adik nya dan kedua orang tua nya pun menatap Diani karena mereka tahu bahwa Diani masih polos dan belum mengerti dengan hal-hal yang seperti itu. dengan cepat Diana berkata menjelaskan nya,


"memperkosa itu adalah perbuatan jahat yang dilarang agama dede. seperti memukul orang yang tak bersalah dan pokok nya hal-hal yang buruk dan jelek."


"begitukah kak???" Diana mengangguk dan membuat adik nya manggut-manggut. Dona dan Doni menatap Diana dengan senyum bahagia akan sikap Diana yang semakin dewasa itu. sesekali tangan kedua orang tua mereka itu mengelus-elus rambut halus dari kedua anak gadis nya itu.


"kakak tiba dijalanan umum, lalu berjalan mencari pedagang yang menjual makanan. waktu itu kakak melihat ada seorang ibu-ibu yang menjual nasi goreng dan saat itu sedang sepi pelanggan. kakak menghampiri nya dan ingin membeli seporsi nasi goreng itu."


"kakak dapat uang dari mana???" tanya Diani dan Diana menjawab nya.


"itu uang jajan sekolah kakak masih tersimpan dikantung baju de."


"oh begitu..." Diani manggut-manggut dan kemudian Diana meneruskan cerita nya lagi dari ia memesan nasi goreng sampai ia meminjam ponsel nya ibu penjual nasi goreng itu.


Pada saat itu Diana teringat akan ponsel nya yang ia hubungi itu. Diani segera bangun dan berjalan ke arah meja belajar mereka. di situ ada tas kecil dan Diani membuka nya. ia lalu mengambil ponsel milik kakak nya sembari berjalan lagi ke arah ranjang.


"ponsel kakak mati."

__ADS_1


"pantas saja dihubungi tak ada jawaban." ujar Diana, lalu ibu nya berkata.


"mengapa kakak tak menghubungi nomor ponsel papa atau mama saja???"


"maaf mama, kakak tak mengingat nya." ujar Diana dan Dona tersenyum sembari berkata.


"lalu setelah itu bagaimana lagi cerita mu nak???" Diana lalu menjelaskan ketika ia ingin membayar nasi goreng nya ibu Samsiah itu, penjual tersebut menolak nya dan berkata sedekah untuk Diana.


Doni yang tiduran sembari memeluk Diani yang kini ikut tiduran disamping kakak nya itu bertanya.


"siapa nama ibu penjual nasi goreng itu kak?"


"nama nya ibu Samsiah papa."


"lalu dimana ibu itu menjajakan dagangan nya kak???" tanya Dona lagi dan Diana menjawab nya.


"kalau tak salah, ibu Samsiah itu berjualan tak jauh dari kantor kepolisian itu. patokan tempat nya berada di dekat pos pangkalan ojek online ma."


"hmm begitu..." ujar ibu nya bergumam dan Doni segera berkata.


"nanti sekalian papa akan kasih hadiah kepada ibu itu karena telah menolong mu kak."


"iya papa. orang baik seperti ibu Samsiah wajib diberi hadiah" ujar Diana tersenyum dan Doni berkata lagi.


"sudah saat nya kita tidur..., besok nanti kita akan berangkat ke sekolah kalian dulu untuk meminta izin bahwa kakak butuh istirahat dulu sampai keadaan kakak pulih dan sembuh dari sakit nya."


"dede juga ya pah..." ucap Diani tersenyum-senyum malu dan ibu nya bertanya.


"dede kan sudah sembuh dari sakit nya..?"


"sekarang dede sakit lagi setelah melihat kakak sakit begini." ucap Diani sedikit ketus dan membuat semua orang tertawa mendengar ucapan Diana yang polos dan lugu itu. kelucuan itu membuat rasa sakit diwajah Diana seakan hilang dan ia merasa bahagia sekali memiliki keluarga yang harmonis seperti itu. Kini lampu utama kamar itu dimatikan dan hanya di nyalakan lampu malam nya saja. Doni dan Dona tidur menemani kedua anak gadis nya itu sampai pagi menjelang subuh nanti nya.

__ADS_1


...*...


...* *...


__ADS_2