
DIANA Yang mencoba menghubungi nomor ponsel nya itu, ternyata sudah beberapa kali ia menghubungi nya. tetapi tak ada jawaban sama sekali. rasa bingung membuat Diana terus-terusan mencoba dan tetap gagal. ibu Samsiah yang baru saja melayani satu pelanggan yang membeli nasi goreng nya itu, mendekati Diana dan bertanya.
"bagaimana nak? apakah kau sudah menghubungi ayah mu?" Diana menatap ibu Samsiah dan berkata.
"tak ada jawaban bu. seperti nya mereka sudah tak peduli lagi kepada ku." ucap Diana mulai murung dan kepala nya menunduk sedih.
Ibu Samsiah duduk di samping Diana sembari berkata.
"jangan berpikiran seperti itu nak. bisa saja ayah mu sedang sibuk dan tak sempat melihat ponsel nya."
"iya ibu." ujar Diana berusaha menenangkan keresahan hati nya. lalu ponsel itu diberikan kepada ibu Samsiah sembari Diana berkata tanya.
"apakah ibu tahu kantor polisi terdekat?"
"tahu nak. memang nya kenapa???" tanya ibu Samsiah lagi dan Diana menjelaskan nya.
"saya ingin pergi ke kantor polisi supaya mereka cepat mengantarkan saya pulang ke rumah. jujur saya sudah sangat rindu sekali kepada keluarga yang ada di rumah bu." ucapan Diana tadi membuat hati ibu Samsiah tersentuh.
Ada senyum terulas diwajah ibu Samsiah dan ia sempatkan berkata.
"baiklah ibu akan bantu kamu nak. tapi bagaimana cara ibu mengantarmu? dagangan ibu tak ada yang menjaga nya nak." Diana merenung sejenak dan kepala nya berpaling kesana-kesini mencari sesuatu. ibu Samsiah menatap heran ke arah Diana, lalu pada saat itu Diana berkata.
"bagaimana kalau naik ojek online itu bu..." ujar Diana sembari menunjuk ke arah kumpulan tukang ojek online yang sedang mangkal di depan warung kopi.
"hmm boleh juga. kamu tunggu disini ya nak, ibu kesana dulu." Diana mengangguk sembari menatap kepergian ibu Samsiah nenuju kumpulan ojek online itu.
Tak lama ibu Samsiah kembali lagi kepada Diana dan di susul oleh salah satu ojek online itu.
"ibu sudah bicara kepada abang ojek online itu nak. nanti kamu akan di antar ke kantor polisi oleh abang ojek online itu."
__ADS_1
"terima kasih bu." ucap Diana lalu ia salim kepada ibu Samsiah untuk berpisah.
"lain waktu kita bertemu lagi ya bu... terima kasih atas pertolongan nya." ucap Diana ketika ia berpamitan dan salim kepada ibu Samsiah tadi.
"sama-sama nak. semoga kamu cepat dipertemukan dengan keluarga mu." lalu ibu Samsiah melambaikan tangan kepada Diana yang sudah duduk di motor ojek online itu dan Diana pun melambaikan tangan nya juga. kini ojek online yang membawa Diana, sedang menuju ke kantor kepolisian yang dimana di sana ada ayah nya dan keluarga nya sedang mengintrogasi para tersangka bersama pak Broto. laju arah ojek online yang membawa Diana itu, memang pergi ke arah para mobil polisi yang sebelum nya sudah Diana lihat.
Ibu Samsiah lanjut berdagang lagi dan ia sudah mengelap air mata nya yang terjatuh setelah berpisah dengan Diana tadi. pada saat itu secara tak disangka-sangka, satu persatu mulai banyak pengunjung yang membeli dagangan ibu Samsiah dan membuat ibu Samsiah sedikit kerepotan melayani pengunjung yang kian ramai itu. kepergian Diana tadi, sempat ibu Samsiah renungkan dalam batin nya.
"mustajab sekali Doa anak itu? apakah tiba-tiba ramai nya pembeli dikarenakan aku sudah menolong anak itu dalam kesusahan nya?" ucap batin ibu Samsiah dan dengan giat nya ibu Samsiah melayani pembeli itu hanya dengan seorang diri. dikantor kepolisian, Herman yang disuruh Doni menjelaskan Cerita Awal Penculikan Diana itu, mulai dibeberkan oleh Herman dan di dengar oleh orang-orang yang ada di dalam ruangan itu.
"awal nya ibu dan ayah menyuruh kami bertiga untuk menculik anak perempuan yang sudah kami lihat wajah nya."
"darimana kalian bisa tahu wajah anak ku hah!?" tanya Doni menggertak dan dijawab oleh Herman.
"kak Roni sebelum nya telah membuntuti kepergian kak Doni dari ruko pinangsia sampai dikampung duren."
Para tersangka duduk berlutut dan kepala nya menunduk semua, hanya Herman yang sesekali menatap Doni ketika Doni menyuruh nya bercerita.
"coba kau teruskan lagi cerita mau itu!" Herman mengangguk dan meneruskan cerita nya lagi.
"kami tak bisa menolak untuk menjadi penculik anak itu, karena kami tak berpengalaman. maka dari itu, ayah dan ibu ada pemikiran lain untuk mengubah rencana. kami sekeluarga pergi ke rumah paman Yohan untuk menceritakan hal tersebut dan ibu kemudian menjual rumah untuk membayar preman yang nanti nya akan melakukan aksi penculikan tersebut."
"dijual kepada siapa rumah itu!? lalu siapa para preman-preman itu hah!?" pertanyaan Doni tadi segera dijawab oleh Herman.
"rumah dijual kepada paman Yohan. hal tersebut untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu pihak kepolisian tak mencari ke rumah jika aksi penculikan ini sudah berjalan. lalu para preman itu adalah anak buah nya pak Yohan sendiri." Doni menatap pak Broto sejenak dan pak Broto berkata.
"preman yang menculik Diana sudah ditangkap bersamaan dengan para pelaku lain nya nak." Doni manggut-manggut dan kemudian menatap Herman lagi seraya berkata tanya.
"lantas tahu dari mana kalau para preman itu menculik anak ku ke sekolah nya?"
__ADS_1
"anak nya paman Yohan yang berkata begitu kak."
"siapa!? apakah anak kecil yang ikut menjadi pelaku kejahatan itu juga!?" lalu tiba-tiba Diani yang dipangku ibu nya berseru.
"benar papa...! nama nya Yoshua...! anak itulah yang suka jahat dan usil ketika disekolah...!" ucapan anak sekecil Diana itu, membuat semua mata menatap nya. gemas juga ibu Dewi menatap cucu nya itu, tetapi ia tak bisa menarik ucapan nya lagi untuk bertobat dan berdamai. diri nya sudah terlalu berdosa kepada anak kandung nya itu dan ia pun sudah pasrah akan hidup nya nanti bersama suami dan ketiga anak nya.
Doni manggut-manggut mendengar ucapan Diani itu, kemudian Doni bertanya lagi.
"jadi hanya itu cerita mu..!?"
"benar kak hanya itu saja...! setelah itu kami pergi untuk bermain dengan perempuan dan kami ditangkap juga akhir nya...." ucapan lesu dari Herman itu membuat nya tertunduk sedih. Doni segera menghadap pak Broto dan kemudian berkata.
"hukuman apa yang setimpal dengan mereka pak???"
"untuk seorang bandar narkoba seperti pak Yohan ini, hukuman mati berlaku bagi nya." seketika itu juga pak Yohan menatap tegang ke arah pak Broto dan berkata memohon ampun secara terus-menerus. lalu pak Broto melanjutkan ucapan nya lagi,
"untuk para tersangka penculikan, hukuman penjara dua puluh tahun. ditambah memakai narkoba dan minuman keras, paling ringan seumur hidup dan paling berat hukuman mati." ucapan pak Broto itu membuat para tersangka menatap nya dengan raut iba menyedihkan ingin dikasihani.
Kemudian datang ketua kepolisian yang biasa nya ingin melaporkan sesuatu.
"lapor jenderal!! di depan ada seorang anak perempuan yang diantar oleh ojek online! wajah anak itu memar membiru dan anak itu mengaku bernama Diana. ia pun mengaku juga sebagai korban penculikan yang berhasil lolos!"
"apa!?" sentak Doni terkejut dan mata nya mendelik. Doni lalu menatap pak Broto yang menatap nya dengan tegang. Dona, Wawan, pak Yaris, pak Yono dan ibu Asih pun menatap tegang ke arah ketua polisi yang melapor itu. Diani segera turun dari pangkuan ibu nya dan Febri segera turun dari pangkuan ayah nya. kedua nya berlari keluar ruangan itu untuk menemui Diana diluar kantor tersebut. kemudian disusul oleh orang tua mereka yang berjalan dari belakang. Di luar kantor kepolisian, ojek online yang sudah mengantar Diana sudah pergi lagi. awal nya Diana ingin membayar ongkos ojek online itu memakai uang yang ia punya, tetapi ojek online itu berkata bahwa ibu Samsiah telah membayar ongkos nya Diana.
Tertegun juga Diana mendengar hal itu dan uang pecahan seratus ribu tersebut tetap Diana berikan kepada ojek online itu dan akhir nya diterima juga. setelah itu Diana pergi ke depan kantor polisi itu dan bertemu dengan para polisi yang berjaga. maka dari situlah ketua polisi itu tahu siapa itu Diana dan apa tujuan nya datang ke tempat itu, karena pihak kepolisian tak ada yang diberi tahu tentang nama dan wajah anak yang diculik itu bagaimana rupa wajah nya.
...*...
...* *...
__ADS_1