
IBU Sari keluar dari ruangan kepala sekolah itu untuk mencari Sang Saksi dari kejadian tersebut. kehadiran ibu Sari membuat para murid-murid lain nya menyingkir dari depan kantor kepala sekolah itu. ibu Sari menatap kesana-kemari mencari seseorang dan ternyata orang yang dicari itu adalah Diani. anak gadis itu berada di dekat jendela dan sejak tadi sudah melihat apa yang terjadi di dalam. ibu Sari lalu memanggil nya dan Diani pun mendekati ibu Sari.
"ada apa bu?" tanya Diani dan ibu Sari berkata.
"ayo ikut ibu masuk nak." lalu Diani di ajak masuk ke dalam ruangan itu bersama ibu Sari sendiri. jam bell pelajaran masuk sudah berbunyi, para murid-murid yang dari kelas satu sampai kelas enam yang ada berada di depan kantor itu segera bubar memasuki kelas mereka masing-masing dan sudah tak ikut melihat kejadian seterus nya dari permasalahan antar murid yang di sidang itu.
Diani kini sudah duduk di tengah dan di samping kiri dan kanan nya ada ibu Sari dan pak Ali. pada saat itu pak Ali lalu bertanya kepada Diani.
"waktu kamu dikelas bersama kakak mu, siapa yang awal bikin masalah sampai mereka bertengkar nak???" pertanyaan kepala sekolah tersebut tak langsung dijawab oleh Diani. anak gadis itu menatap wajah kelima anak itu satu-persatu.
Ia menatap wajah Diana dan Febri dengan tatapan penuh keharuan dan kasihan. kemudian tatapan nya sedikit menyipit benci ke arah Yoshua dan kedua teman nya yakni Usman dan Beryl. lalu tanpa sadar Diani menjawab pertanyan pak Ali tadi seraya menjelaskan nya.
"ketiga anak bandel itu yang awal nya mulai mengusik kami pak! waktu dede sama kakak sedang makan cemilan dikelas, Yoshua mendekati kami dan berkata tak suka dengan diangkat nya kak Diana menjadi wakil ketua kelas. lalu kak Febri datang menengahi dan kemudian Usman dan Beryl mencekal lengan kiri dan kanan kak Febri. lalu Yoshua meninju wajah kak Febri sampai memar begitu. setelah itu kak Diana menendang Yoshua yang ingin meninju kak Febri lagi dan akhir nya mereka berkelahi."
"hanya itu?" tanya pak Ali lagi dan Diani mengangguk saja dengan wajah polos nya.
__ADS_1
Ibu Sari lalu menatap Diana dan Febri sembari berkata.
"padahal kalian kalah jumlah dan ibu tak menyangka bonyok nya wajah Yoshua itu terkena pukulan dari mu Diana."
"karena kak Diana dan kak Febri sudah ikut less bela diri bu. jadi mereka bisa melawan ketiga anak bandel itu tanpa takut lagi." ucap Diani berkata cepat membanggakan Diana dan Febri. ucapan Diani tadi membuat pak Ali dan ibu Sari saling tatap karena kaget tak menyangka. lalu kedua orang tua itu menatap Diana dan Febri dan ketiga anak bandel tadi sejak tadi tercengang kaget ketika mendengar ucapan Diani tadi.
Pak Ali lalu bertanya kepada Diana dan Febri akan ucapan Diani itu, dan dijawab oleh Diana.
"benar pak kepala sekolah. saya dan Febri sudah ikut less bela diri. hal ini memang sengaja kami lakukan hanya untuk demi membela diri kami dari orang-orang yang jahat semacam ketiga anak bandel ini pak, bu." ujar Diana berterus terang dan saat itu ibu Sari berkata kepada Yoshua dan kedua teman nya.
"bapak pun merasa bersalah telah memberikan surat peringatan kepada Bram. harus nya kala itu bapak tak langsung menuduh Bram yang bapak anggap telah menindas teman sekelas nya, yaitu kalian bertiga. ternyata Bram kala itu memang berada di pihak yang benar dan menghajar kalian atas dasar tingkah laku kalian bertiga yang nakal dan jahil!." ucapan pak Ali tersebut membuat ketiga anak bandel itu memohon ampun dan meminta maaf kepada pak Ali dan ibu Sari agar kelakuan mereka jangan sampai orang tua mereka tahu.
Tetapi keputusan kepala sekolah sudah tak bisa digugat lagi. surat peringatan akan diberikan kepada ketiga anak nakal itu dan jika ketiga anak itu tak memberikan surat peringatan itu kepada kedua orang tua mereka masing-masing, maka mau tak mau orang tua mereka disuruh untuk menghadap kepala sekolah.
Kini persidangan tersebut sudah selesai dan ketiga anak bandel tadi meminta maaf kepada Diana, Diani dan Febri. ketiga anak itu memaafkan nya dengan satu syarat, mereka harus bisa merubah sikap dan jangan berbuat usil dan nakal lagi kepada murid-murid lain nya. mereka berjanji akan merubah sikap seperti itu dan sudah disaksikan oleh pak kepala sekolah dan wali kelas mereka.
__ADS_1
Kini mereka sudah pergi ke dalam kelas lagi, sedangkan Febri, Beryl, Yoshua dan Usman. ke empat orang itu dibawa ibu Sari untuk diobati luka mereka di ruang Unit Kesehatan Sekolah atau disingkat UKS. anggota tubuh Diana tak terluka sedikit pun karena ia tak memberi kesempatan Yoshua untuk balik menyerang nya. ia dan Diani sekarang sudah duduk lagi dikursi mereka duduk dan para teman sekelas nya bertanya-tanya akan Diana yang hebat dan berani melawan Yoshua yang mereka takuti itu. Diana hanya berkata kepada para murid lain nya.
"jika kalian diganggu lagi oleh mereka, adukan saja kepada ku atau kepada Bram jika ia sudah masuk sekolah. ketiga anak bandel itu sudah diberi surat peringatan oleh pak kepala sekolah dan mereka berkata juga sudah berjanji tak akan berbuat usil dan jahat lagi kepada kita teman sekelas nya." para siswa dan siswi kelas empat itu manggut-manggut paham dan takjub akan ucapan Diana itu. mereka baru kali ini melihat ada siswa selain Bram yang berani melawan ketiga anak bandel itu. mereka tak tahu, bahwa Diana dan Febri sudah memiliki ilmu dasar bela diri ditempat mereka belajar less ilmu bela diri. agak lama waktu terus berjalan, Febri dan ketiga anak bandel tadi sudah masuk ke dalam kelas lagi bersama ibu Sari.
Setelah mereka duduk di kursi masing-masing, ibu Sari memulai pelajaran yang terakhir dikelas itu dan setelah pelajaran itu selesai, bell jam pulang sekolah akan terdengar. disatu sisi ditempat lain, Wawan yang awal nya menelepon Doni karena suatu hal kedatangan ketiga adik tiri nya yang sudah melamar di restorant nya itu, menyudahi panggilan telepon tersebut karena mereka akan membicarakan nya langsung dirumah Doni saja. obrolan itu hanya singkat saja, karena Doni sedang sibuk dengan pekerjaan nya.
Di dalam sebuah rumah bercat hijau luntur, ketiga remaja yang gagal mencari keterangan di restorant pratama cabang satu itu terlihat sedang duduk bersila menghadap kedua orang tua mereka. mereka membicarakan akan gagal nya niat mereka itu, dikarenakan ada nya Wawan direstorant tersebut.
"jadi anak nya ibu Aminah dan pak Ilham itu bekerja sebagai menejer ditempat itu???" tanya ibu Dewi kepada ketiga anak nya. ketiga anak itu membenarkan sampai berkata membawa sumpah segala agar ibu nya percaya. pak Tomi yang baru tahu hal itu segera berkata kepada istri nya.
"memang sulit kalau sudah begitu. si Wawan memang teman nya si Doni ketika ia masih tinggal disini. bisa jadi si Wawan bisa menjadi menejer ditempat itu berasal dari ajakan si Doni juga agar ia bekerja diperusahaan nya."
"memang benar sayang. ini harus segera dihentikan! nanti sore kita harus segera melakukan rencana kedua sayang." pak Tomi hanya mengangguk menuruti saran dari istri nya itu. ketiga anak nya kini disuruh untuk memasak untuk makan siang mereka lagi oleh ibu Dewi dan mereka menuruti nya tanpa menolak sepatah kata pun atas suruhan tersebut.
...*...
__ADS_1
...* *...