
DIANA Terkejut ketika dirinya ditanya oleh ibu Samsiah,
"kamu kenapa bengong nak?"
"eh..! tidak apa-apa bu." ujar Diana menutupi rasa kaget nya dan kini ia lanjut makan lagi sampai seporsi nasi goreng itu ia habiskan. setelah Diana selesai makan, ia memberikan uang yang ia punya tadi kepada ibu penjual nasi goreng itu.
"ibu ini saya mau bayar..." ibu Samsiah yang sedang sejak tadi duduk memperhatikan Diana dengan penuh rasa iba dan kasihan itu tersenyum tipis sembari berkata.
"tak usah nak. pakai saja buat kebutuhan mu."
"saya jadi tak enak bu. ini ambil saja bu..." desak Diana dan membuat ibu Samsiah bersikukuh tak mau menerima uang dari Diana itu.
"ibu baik sekali. padahal dagangan ibu masih sepi pengunjung nya." ucap Diana terkagum-kagum akan kebaikan ibu itu. ibu Samsiah hanya tersenyum saja dan berkata,
"anggap saja ibu sedekah kepada mu nak."
"iya ibu. semoga dagangan ibu cepat laris ya..."
"amiin nak." jawab ibu Samsiah lagi.
Lalu Diana mencoba bertanya lagi akan niat Diana sebelum makan tadi.
"ibu punya ponsel tidak???"
"hmm... ada. buat apa nak???" tanya ibu itu lagi.
__ADS_1
"saya boleh pinjam ponsel ibu sebentar tidak? saya mau menghubungi ayah saya bu." berkerut dahi nya ibu Samsiah mendengar ucapan Diana tadi.
"lho..., bukankah kamu sedang kabur dari rumah akibat dipukul oleh orang tua mu nak???" Diana menggelengkan kepala nya sembari berkata.
"sebenar nya..., saya bukan kabur dari rumah bu. saya korban penculikan dan berhasil meloloskan diri."
"astagfirullah!! yang benar nak!?" Diana mengangguk dan ibu Samsiah geleng-geleng kepala, karena ia tak menyangka akan pengakuan Diana barusan.
Kemudian ibu itu bertanya lagi kepada Diana.
"lalu wajah mu yang babak belur itu apakah akibat dipukuli para penculik itu???" Diana hanya mengangguk saja, tak mau menjelaskan siapa orang yang sudah memukuli wajah nya sampai begitu parah nya. kemudian ibu Samsiah cepat-cepat mengambil ponsel nya yang ia taruh ditas dalam laci gerobak nasi goreng nya itu. setelah ponsel diambil, Ibu Samsiah berkata.
"nih nak. cepat hubungi ayah mu. keburu para penculik itu mencari mu lagi." Diana mengangguk dan menerima ponsel itu. setelah Diana memasukan nomor ponsel nya, ia lalu menghubungi nomor tersebut.
Diruangan luas kantor kepolisian, Doni dan yang lain nya sedang berada di situ. pak Broto sedang mengintrogasi pak Yohan dan ibu Dewi beserta pak Tomi sendiri. mereka sedang Mengorek Informasi tentang pergi nya ketiga anak nya ibu Dewi dan pak Tomi. tetapi mulut pak Tomi dan ibu Dewi bagai bungkam dan enggan memberitahukan hal tersebut. berbeda dengan pak Yohan yang wajah nya sudah babak belur, ia di hajar wajah nya oleh pak Broto karena berusaha melawan dan meludahi wajah pak Broto. karena awal nya pak Yohan tak mau memberitahu bisnis gelap nya itu sejak kapan di mulai dan siapa saja yang berkaitan erat dengan bisnis nya. akhir nya setelah wajah pak Yohan dibuat babak belur, pak Yohan mengaku juga dan telah membeberkan semua orang-orang bahkan pejabat yang bersangkut paut dengan bisnis gelap nya.
Ketua kepolisian yang telah berhasil menemukan ketiga anak itu, mulai melapor.
"lapor jendral!! ketiga anak remaja itu telah ditemukan ketika mereka sedang berada disebuah kontrakan bersama ketiga wanita penghibur!! mereka dalam keadaan sedang mabuk alkohol dan narkoba!! seperti nya mereka sedang melakukan hubungan badan dengan para pelacur itu dan mengadakan pesta mabuk-mabukan!!" pak Broto yang mendapat laporan seperti itu, segera berkata.
"bawa kemari anak-anak itu!"
"siap jendral!!" lalu ketiga anak nya ibu Dewi dibawa ke ruangan introgasi dan membuat ibu Dewi dan pak Tomi menangis dengan jeritan. sedangkan ketiga pelacur yang ikut dibawa juga, mereka di pisahkan dan dimasukan ke dalam ruangan yang berbeda bersama para anak buah pak Yohan dan para tersangka yang ikut bersalah juga.
Ketiga anak itu di satukan bersama kedua orang tua nya dan masing-masing tangan mereka di borgol. pak Broto bertanya kepada ketiga anak pak Tomi dan ibu Dewi yang ikut menangis juga dan mereka sudah siuman dari mabuk nya sejak digiring ke kantor kepolisian. Doni, yang awal nya duduk disamping istri nya yang memangku anak nya itu mulai bangun mendekati pak Broto. pak Yaris, ibu Asih, Wawan dan anak nya, serta pak Yono pun hanya duduk saja memperhatikan kejadian itu tanpa berbicara sepatah kata pun. Doni yang sudah berdiri itu berkata kepada pak Broto,
__ADS_1
"biar aku saja yang bertanya kepada mereka pak."
"silahkan nak." ucap pak Broto kepada Doni.
Ketiga anak remaja itu mulai sadar dari tangis nya ketika melihat kakak tiri nya itu berjalan menghampiri mereka.
"kak Doni..! tolong kami kak!" ucap anak yang paling bungsu bernama Rian.
"iya kak Doni! tolong kami!" ucap Herman anak yang kedua. tetapi Roni, anak yang tertua. menatap tajam dan sinis kepada Doni seakan ia sangat membenci kakak tiri nya itu sembari berkata kasar.
"brengse*k kau Doni!! apa salah kami hah!! tega sekali kau memasukan kami ke dalam penjara!!" bentakan Roni tadi dijawab senyuman sinis dari Doni yang berkata.
"harus nya kau berpikir setan!! rencana busuk kalian yang telah menculik anak ku itulah yang membuat ku terpaksa melapor kepada pihak kepolisian!! kalian ini tak ada kapok-kapok nya!! harus nya kalian jadikan pelajaran ketika kalian ditangkap dan dipenjara dulu!!" bentakan Doni itu memang benar ada nya, pak Broto pun membenarkan apa kata Doni barusan.
Para tersangka itu tak ada yang mengelak lagi untuk beralasan bahwa mereka tak bersalah. lalu Doni bertanya kepada Rian, adik bungsu tiri nya itu.
"heh Rian!"
"iy..iya kak!" ucap nya gugup sembari menunduk takut.
"coba kau ceritakan awal penculikan anak ku itu bagaimana tadi nya!"
"tapi aku ragu kak..." Plokk!! Doni menampar wajah Rian dengan keras dan membuat Roni, Ibu Dewi, pak Tomi, pak Yohan dan juga Herman tercengang kaget melihat Rian ditampar oleh Doni dengan keras. pak Tomi seketika itu membentak kasar kepada Doni."
"bajingan kau Doni!! harus nya kau ku bunuh ketika kau masih menjadi bocah ingusan!!" bbugg!! "arghhh!!" pak Tomi yang duduk berlutut bersama para tahanan lain nya itu terjengkang ke belakang karena Doni menendang wajah ayah tiri nya itu memakai sepatu yang ia kenakan.
__ADS_1
Raung kesakitan terdengar dari mulut pak Tomi dan darah mengucur membasahi lantai. ibu Dewi pada saat itu berkata memohon ampun kepada Doni ketika Doni membentak 'Siapa Lagi Yang Ingin Seperti Si Tomi Itu Hah!!' Rian masih menangis menahan sakit dipipi nya. lalu Doni bertanya kepada Herman dengan pertanyaan yang sudah diajukan oleh Doni kepada Rian. tetapi Roni tetap melarang keras kepada Herman agar tak menceritakan awal mereka berhasil menculik Diana. Doni yang sudah marah itu, segera meninju wajah Roni dengan keras dan membuat Roni terjungkal ke belakang seperti ayah nya. ia meringis kesakitan disana dan darah mengucur dari dalam hidung nya. para orang-orang yang melihat kejadian itu hanya diam membisu dan tak berani mencegah Doni. mereka hanya bisa menatap ngeri akan sikap Doni yang sudah marah besar itu terhadap orang-orang yang sudah menculik anak nya itu.