
DI Dalam kamar yang luas dan penuh aneka mainan boneka-boneka, terlihat dua anak perempuan sedang belajar. mereka sesekali mengobrol satu sama lain untuk berdiskusi tentang mata pelajaran yang sedang mereka pelajari itu. waktu kala itu jam tujuh malam dan mereka berdua belum bertemu dengan kedua orang tua nya dikarenakan kedua orang tua mereka belum menemui dua anak nya itu di kamar nya. biasa nya kedua anak itu sering didatangi oleh kedua orang tua nya dan terkadang didatangi oleh nenek nya untuk ditemani belajar.
Tetapi kali ini tak ada yang menemani kedua anak perempuan itu belajar dan membuat kedua nya keheranan.
"papa dan mama tumben tak menemani kita belajar kak?" tanya Diani dan kakak nya menjawab.
"nenek juga tak ada de. apa jangan-jangan mereka sedang mengobrolkan tentang apa yang kita bicarakan itu kepada nenek waktu sore tadi?"
"bisa jadi kak. coba dede tengok dulu sebentar,..." Diana hanya menganggukan kepala dua kali dan Diani kini bergegas keluar kamar nya untuk pergi ke ruangan TV. biasa nya kedua orang tua nya dan nenek nya sering mengobrol di ruangan itu sembari menonton televisi. ketika Diani berjalan menuju ruangan TV, ia tak jadi pergi ke ruangan itu karena ia tertarik akan suara Obrolan di ruangan tamu rumah yang luas dan lebar itu. ia berjalan mengendap-endap mendekati tirai gordeng yang tertutup separuh. ia lalu mengintip di balik tirai gordeng lorong tanpa pintu menuju ruangan tamu itu. ternyata ia melihat kedua orang tua nya sedang berada di ruangan tamu itu dan sedang mengobrol dengan seorang lelaki tua yang berperawakan nya masih tegap dan gagah. Diani tahu orang itu adalah pak Yaris, yang sudah ia anggap kakek nya sendiri. di sana pun ada nenek nya yaitu ibu Asih sedang duduk dan ikut dalam obrolan tersebut. Diani masih mengintip dibalik tirai berwarna coklat itu dan mendengarkan apa yang diobrolkan oleh para Orang Dewasa tersebut. ketika pak Yaris menyebut-nyebut nama 'ibu Dewi', diri nya membatin.
"siapa itu ibu Dewi? mengapa kakek, nenek, papa dan mama membahas orang itu? siapa dia sebenar nya?" kecamuk batin nya Diani terus saja bertanya-tanya begitu dan tanpa ia sadari ada suara yang menyapa nya dari belakang.
"non dede sedang apa?" Diani diam terpaku dan ia sedikit terlonjak kaget. ia lalu memalingkan badan nya ke arah belakang dan ternyata itu adalah seorang pembantu rumah itu yang bernama ibu Umyati. ibu Umyati yang membawa nampan berisi air bening dalam gelas dan cemilan untuk tamu itu segera mengernyitkan dahi nya ketika Diana menempelkan jari kanan telunjuk nya di bibir nya sembari berkata pelan.
"sssttt! jangan berisik bi."
"iya non maaf. non dede sedang apa disini?" jawab nya pelan.
"tidak apa-apa bi. sudah bibi kesana, dede mau pergi dulu." ibu Umyati hanya mengangguk patuh dan kemudian pergi menuju ruangan tamu. sedangkan Diani pergi kembali ke kamar nya untuk membicarakan apa yang ia dengar dari obrolan para orang dewasa itu sebelum ia dikagetkan oleh ibu Umyati tadi.
__ADS_1
Ibu Umyati lalu mendekati meja ruangan tamu itu dan menaruh isi nampan itu di atas meja tersebut. obrolan mereka terhenti sejenak dan setelah ibu Umyati pergi kembali ke dapur, pak Yaris mulai melanjutkan ucapan nya.
"menurut pak Broto, ibu Dewi dan suami nya seminggu lagi telah habis masa tahanan nya dan itu membuat bapak khawatir akan ancaman yang dulu pernah dilontarkan oleh ibu Dewi kepada bapak."
"ancaman seperti bagaimana pak Yaris???" tanya Ibu Asih berkerut dahi nya karena penasaran dan sepasang suami istri yaitu Dona dan Doni pun ikut berkerut dahi nya. lalu pak Yaris lanjut berkata menjawab pertanyaan ibu Asih tadi.
"ketika para tersangka kejahatan itu di ringkus untuk dibawa ke sell tahanan, ibu Dewi pernah berteriak kepada saya dengan ancaman bahwa nanti setelah ia keluar dari dalam penjara, ia akan menuntut balas kepada bapak dan kepada nak Doni. tetapi mungkin saja orang yang dekat dengan kita akan terlibat dan menjadi incaran dendam nya juga."
"bahaya sekali kalau begitu pak. tetapi mengapa ibu masih saja menaruh dendam seperti itu?" tanya Doni dan pak Yaris menjawab nya.
"karena ia merasa harta warisan mendiang ayah mu itu hanya jatuh kepada nya seorang. ia merasa tak terima ketika waktu di sidang kala itu pun, ibu mu sering mengelak dengan tuduhan bahwa itu hanya akal-akalan bapak saja. padahal surat warisan sudah terbukti buatan pak Randi dan saya yang mengesahkan nya bersama pak Broto. pak Hakim kala itu pun mempercayai surat wasiat tersebut dan tak mempercayai ucapan ibu Dewi. maka dari itu, mungkin atas dasar ia dipenjara karena gagal merebut warisan yang sudah resmi menjadi milik mu itu, ia masih memendam dendam sampai ia keluar dari penjara nanti dan akan membuat perhitungan kepada kita." ucap pak Yaris penuh keseriusan dengan sikap nya cenderung sangat berwibawa.
"apa ibu Dewi dan suami nya itu tahu dimana kita tinggal ini sekarang pak?"
"hmm..., seperti nya ia tak tahu. tetapi yang pasti ia tahu itu, adalah letak lokasi kantor CV.Group Perkasa. pasti ia akan datang ke kantor itu dan yah..., entah apa lagi yang akan dilakukan dan direncanakan oleh ibu Dewi dan suami nya itu nanti nya." ujar pak Yaris bernada sedikit risau dan membuat yang lain nya pun ikut merasakan kerisauan juga.
Di sisi lain nya, Diani sudah masuk ke dalam kamar nya dan sedang duduk diteras beralaskan permadani tebal menghadap kakak nya yang sedang duduk pula menghadap nya. Diani sejak tadi sudah menceritakan apa yang ia dengar itu dari obrolan para orang dewasa tadi dan membuat kakak nya sedikit terperanjat sembari berkata.
"ibu Dewi dan suami nya mau keluar dari penjara?!"
__ADS_1
"iya kak. memang nya ibu Dewi itu siapa kak? apa kakak bisa jelaskan?" pertanyaan dari Diani tadi seakan menuntut Diana untuk menjelaskan nya secara jujur kepada adik nya siapa itu ibu Dewi. Diana tahu akan nama ibu Dewi, ketika ia dan Diani mendengar kisah cerita 'Pria Miskin Yang Tajir' dari nenek nya yaitu ibu Asih. ibu Asih kala itu menceritakan kisah kehidupan Dona dan Doni dulu, serta orang-orang yang bersangkutan juga. dicerita tersebut, ibu Asih memang menjelaskan bahwa ibu Dewi adalah ibu kandung nya ayah mereka yang kini sudah dipenjara akan kesalahan nya pada masa silam. ingatan cerita tersebut membuat Diana sedikit melamun dan segera di kagetkan oleh adik nya dan Diana sedikit tersentak kaget.
"kok kakak bengong?! ayo kak siapa ibu Dewi itu!?" Diani semakin mendesak tak sabaran dan Diana lalu menjawab pertanyaan adik nya yang seperti nya tak mengingat akan cerita yang diucapkan oleh nenek nya itu kemarin malam.
"kamu ingat tidak cerita nenek kemarin malam de?" Diani sedikit merenung dan berpikir sejenak. Diana masih menunggu ingatan adik nya itu pulih dan kemudian Diani berkata.
"apakah cerita nenek yang sebelum kita tidur itu kak?"
"iya de. kamu ingatkan ketika nenek menyebut-nyebut nama ibu Dewi adalah seorang ibu yang sangat kejam kepada nenek, papa dan mama ketika masih kecil?"
"oh iya kak! dede ingat! jadi ibu Dewi itu memang benar ada ya kak? setahu dede, ibu Dewi itu hanya tokoh yang kejam dalam cerita papa dan mama saja..."
ucapan adik nya yang polos tersebut membuat Diana tersenyum dongkol dan berkata.
"sudah ah de lupakan saja soal itu dahulu. kita lanjut belajar lagi saja."
"iya deh kak." ucap Diani patuh dan kini mereka lanjut belajar lagi. tetapi dalam hati Diana mulai muncul keresahan sembari membatin.
"benarkah ibu nya papa keluar dari penjara? jika benar begitu, apa jadi nya jika aku dan adik ku bertemu dengan nya nanti? apakah sikap nya akan tetap kejam kepada cucu nya ini?" batin Diana terus saja berkecamuk sembari ia dan Diani melanjutkan pelajaran nya lagi.
__ADS_1