
ANAK Gadis yang baru berumur sebelas tahun itu sudah keluar dari dalam kamar nya. ia sudah berpakaian seragam sekolah SD dengan rapi dan lengkap. ia berjalan ke arah ruangan meja makan berada, karena ia ingin sarapan dahulu sebelum berangkat sekolah. ayah nya sedang makan juga dan anak gadis itu kini ikut sarapan juga.
"kamu tak apa kan masuk sekolah sendirian kak?"
"tak apa-apa papa. kakak sudah mulai terbiasa dengan keadaan ini pa."
"hmm baguslah kalau begitu nak. nanti papa yang akan antar kamu berangkat sekolah, karena pak Soleh sedang mengantar bibi Rom belanja ke pasar."
"baik papa." ujar Diana mengangguk dan kini ia lanjut sarapan lagi dengan ayah nya.
Setelah sarapan, Diana segera bergegas bersama ayah nya itu ke dalam mobil pribadi ayah nya. ibu Umyati yang membukakan gerbang rumah itu dan setelah mobil Doni keluar, pintu gerbang itu ditutup lagi oleh ibu Umyati. di dalam kamar nya Diani, Dona sedang menelepon guru wali kelas nya Diani dan Diana untuk memberi tahu bahwa Diani sedang sakit. obrolan itu tak lama, karena Diani merengek manja kepada ibu nya ingin minum. setelah obrolan Dona dan ibu guru wali kelas Diani yang bernama ibu Sari itu menyudahi panggilan tersebut, Dona segera memberikan segelas air untuk di minum Diani.
Disamping itu, waktu sebentar lagi jam delapan pagi dan mobil yang dikendarai Doni sudah sampai di pinggir jalan trotoar depan sekolah dasar itu. Doni dan anak nya turun dari mobil. Doni berkata kepada Diana bahwa ayah nya akan ikut masuk juga untuk bertemu wali kelas mereka untuk memberitahukan bahwa Diani, adik nya Diana sedang sakit.
Kini ayah dan anak itu berjalan beriringan dan tangan kecil Diana digenggam erat oleh ayah nya. para ibu-ibu siswa yang mengantar anak nya sekolah pun saling melongo karena melihat Doni yang berwajah tampan dan menawan itu. Papa Muda itu tersenyum setiap kali diri nya ditatap oleh para ibu-ibu siswa yang mencuri pandang kepada Doni. Diani tahu hal tersebut dan ia sengaja pura-pura tak tahu akan pandangan para ibu-ibu murid itu kepada ayah nya.
Bell jam masuk kelas sudah berbunyi ketika Diana mengantar ayah nya untuk pergi ke kantor kepala sekolah. dikantor itu, ibu Sari baru saja mau keluar kantor dan akan pergi ke kelas nya untuk mulai mengajar para murid nya. tetapi langkah itu terhenti ketika ibu Sari berpas-pasan dengan Doni beserta Diana.
"permisi ibu Sari. saya ada perlu sebentar dengan ibu." ujar Doni sopan dan ibu Sari mengangguk sedikit tertegun, karena ia sebenar nya memang dari dulu sudah naksir kepada Doni. tetapi rasa itu ia pendam dalam hati nya karena ia seorang wanita yang janda dan ia pun sadar bahwa Doni sudah memiliki istri yaitu Dona.
Lalu ibu Sari mengajak Doni masuk ke dalam kantor nya dan Diani pergi ke dalam kelas nya karena ia memang harus segera masuk kelas untuk belajar. pak kepala sekolah masih ada didalam ruangan kantor itu, dan para guru lain nya sudah keluar kantor disaat bell mulai belajar terdengar. Doni hanya tersenyum seraya menyapa dengan ramah kepada kepala sekolah. setelah duduk di kursi yang menghadap ibu Sari, Doni mulai berkata.
__ADS_1
"sebenar nya kedatangan saya kemari, karena perihal anak saya yang bernama Diani sedang sakit. saya sengaja mendatangi sekolahan anak saya ini untuk membicarakan hal ini bu." ibu Sari manggut-manggut mengerti dan ia lalu berkata.
"sebenar nya istri pak Doni sudah menelepon saya tadi dan membicarakan bahwa nak Diani memang sedang sakit."
"oh serius bu!?" tanya Doni sedikit tak percaya dan ibu Sari langsung berkata berterus terang.
"serius pak. ibu Dona tadi menelepon saya sebelum bell jam masuk sekolah terdengar tadi. maka dari itu saya sudah mengizinkan agar Diani beristirahat dahulu sampai sembuh dari sakit nya."
"syukurlah kalau begitu bu. saya jadi tak khawatir lagi." ujar Doni tersenyum menawan dan membuat ibu Sari tersipu malu.
Demi mengalihkan pandangan kagum dari ibu Sari kepada Doni itu, Doni segera berkata akan ingatan tentang Diana yang menghajar murid bandel dikelas nya.
"oh iya bu saya mau tanya."
"apakah kemarin Diani berkelahi dengan teman sekelas nya bu?" tiba-tiba ada suara bapak-bapak menyahut dan itu suara pak Ali, kepala kelas disekolah itu.
"benar pak Doni." lanjut nya lagi,
"Diana tak bersalah pak Doni, saya dan ibu Sari sudah memberikan surat peringatan untuk orang tua mereka kepada Yoshua, Beryl dan Usman karena mereka memang anak-anak yang jahil dan bandel. banyak laporan kepada saya dari murid sekelasnya bahwa ketiga anak itu kerap mengganggu dan usil sampai berbuat kasar kepada teman sekelas nya." ujar pak Ali panjang lebar dan Doni yang tadi duduk dan wajah nya menatap ke arah pak Ali, segera bertanya.
"apakah wajah anak itu memang benar-benar bonyok oleh Diana dan Febri pak??"
__ADS_1
"ya tak terlalu parah. tapi terbilang bonyok ya sedikit." ujar pak Ali lagi dan pada saat itu ibu Sari berkata.
"kalau begitu, saya pamit dulu untuk memulai mengajar. pasti anak-anak sudah menunggu saya dikelas. pak Doni bisa mengobrol hal tersebut dengan pak kepala sekolah."
"baik ibu Sari, silahkan bu." ujar Doni mengangguk sopan dan ibu Sari kini pamit kepada Doni dan pak Ali.
Sepergi nya ibu Sari dari dalam ruangan kantor luas itu, suasana di dalam kantor mulai hening dan cuman hanya ada Doni dan pak Ali saja, karena para guru lain nya sudah keluar kantor untuk mengajar murid-murid disetiap kelas nya. Doni lalu bangkit dari duduk nya dan berjalan ke arah pak Ali, karena pak Ali memanggil Doni agar duduk di kursi depan meja kerja nya. setelah Doni duduk dikursi kosong depan pak kepala sekolah itu, pak Ali mulai berkata.
"apakah anak pak Doni dan anak nya pak Wawan itu memang benar telah ikut belajar less bela diri disuatu perguruan?"
"benar pak. memang hal tersebut atas kemauan anak kami." pak Ali manggut-manggut dan berkata lagi.
"baguslah kalau begitu. mereka berarti sama hal nya dengan Bram, anak yang bisa bela diri juga."
"siapa itu Bram pak???" tanya Doni penasaran dan pak Ali menjelaskan nya.
"Bram adalah murid yang menjadi ketua kelas dikelas nya anak pak Doni. ia pernah membuat kapok anak-anak yang bandel dikelas nya. maka dari itu saya tak mencegah hal tersebut karena hal itu perlu dilakukan agar anak nakal itu jera. sebagai kepala sekolah, saya ragu untuk mengecam salah satu pihak yang bersalah jika saya yang bertindak langsung. kecuali sesama murid berkelahi atau mereka membela diri seperti yang dilakukan oleh Diana dan Febri, maka saya bisa memutuskan untuk menghukum anak bandel yang sudah bikin perkara itu." Doni manggut-manggut mengerti akan ucapan pak kepala sekolah tersebut. pada waktu itu, datang pak satpam yang menjaga pintu gerbang sekolahan itu. ia datang sembari menerobos pintu masuk itu dengan keras dan masuk tanpa persetujuan orang di dalam nya. Doni dan pak Ali heran melihat pak satpam yang terengah-engah dan terlihat wajah nya yang legam membiru itu. dalam hati, Doni membatin.
"mengapa pak satpam itu wajah nya babak belur begitu? apakah di luar sekolah ada keributan???" tanya Doni bertanya-tanya dalam hati nya.
...*...
__ADS_1
...* *...