DIANA & DIANI

DIANA & DIANI
KORBAN BULIAN


__ADS_3

SETELAH Ketiga anak tadi selesai berbicara tentang sesuatu rahasia, kini ibu Asih mulai berkata.


"jadi sesuatu rahasia yang kalian bertiga sembunyikan ini adalah ada nya murid nakal yang sekelas dengan kalian dan sering mengganggu kalian, begitukah??" ketiga anak kecil itu hanya mengangguk saja dan ibu Asih lalu berkata sembari tersenyum.


"lalu, apakah guru kelas kalian tak mengetahui akan kelakuan murid yang nakal itu?" lalu Febri menjawab nya.


"wali kelas dan guru lain nya sudah ada yang tahu nek. tetapi mereka bagai kebal hukum,..."


"maksud mu?" tanya ibu Asih berkerut dahi nya dan Diana langsung berkata.


"maksud nya anak bandel itu tak pernah kena hukuman nek. mereka hanya di beri nasihat serta peringatan saja dan setelah itu permasalahan nya selesai tanpa memikirkan Korban yang di Bulian nya."


"betul nek..., ketika dede diejek sama ketiga anak nakal itu pun pak guru tak memikirkan nasib dede yang hampir menangis sama mereka, huh!" ucap Diani sembari cemberut memonyongkan bibir nya.


Diana pun membenarkan apa kata adik nya itu dan ibu Asih mulai paham akan ucapan ketiga anak itu.


"jadi pokok permasalahan kalian berbicara seperti itu kepada nenek apa?" pertanyaan tersebut langsung dibalas oleh Febri karena ia didesak oleh Diana melalui tatapan mata nya.


"begini nek. jadi kami bertiga ingin masuk ke dalam sanggar seni bela diri untuk mengikuti less nya. tetapi kami tak ada keberanian untuk mengatakan hal ini kepada kedua orang tua kami. benarkan dua DD?" tanya Febri kepada Diana dan Diani. kedua nya mengangguk sembari menatap ibu Asih dan ibu Asih memegang dagu nya sembari bergumam.


"kalian ingin masuk ke dalam sanggar ilmu seni beladiri itu hanya untuk membela diri kalian dari murid-murid yang jahil itu? begitukah???"


"iya nek..." jawab ketiga anak itu serempak dan kemudian ibu Asih berkata lagi.


"baiklah kalau mau nya kalian begitu, nenek akan bicarakan kepada orang tua kalian. tetapi Febri, bukankah ibu mu sedang cuti bekerja dan ada dirumah? mengapa kau tak bicarakan dulu hal ini kepada nya?"


"sudah nek. tetapi mama berkata akan menunggu papa pulang kerja dahulu."


"hmm jadi begitu. baiklah nanti akan nenek bicarakan hal ini kepada papa dan mama nya Diana dan Diani dulu."

__ADS_1


"tetapi jika om Doni dan tante Dona tak mengizinkan nya bagaimana nek???" tanya Febri lagi dan ibu Asih menjawab nya.


"tak perlu khawatir akan soal itu. nenek pasti akan usahakan agar mereka mau menuruti saran nenek dari kemauan kalian itu."


"terima kasih nenek." ujar ketiga anak itu serempak dan Diana serta Diani bangun dari duduk nya dan memeluk nenek nya dengan erat. sedangkan Febri hanya tersenyum senang saja melihat hal itu dan ia masih dalam posisi duduk seperti sebelum nya.


Tak terasa obrolan mereka itu sampai pada jam lima sore hari. cuaca mendung tadi ternyata tak jadi hujan dan hanya menyisakan langit mendung yang mulai terang oleh cahaya sinar matahari senja. ketiga anak tadi sudah pulang dari rumah ibu Asih dan ibu Asih masih berada di dalam rumah nya untuk mandi sore. Diana dan Diani pun sedang mandi juga dengan ditemani oleh pembantu rumah itu yang bernama ibu Romlah. Febri sudah pulang dan ia ditanya oleh ibu nya yang sedang menyapu teras rumah nya.


"kau habis main darimana jam segini baru pulang tong?"


"habis main sama Diana dan Diani di rumah nenek nya ma."


"oh begitu. yasudah sana mandi dulu, keburu sore."


"iya ma..." jawab Febri menurut dan ia sudah masuk ke dalam rumah nya untuk mandi sore.


Sore hari itu, suara bell kantor CV. Group Perkasa sudah terdengar selang beberapa menit yang lalu. para karyawan kantor satu persatu mulai bergegas pulang keluar dari dalam kantor tersebut. CEO kantor tersebut, masih berada di dalam ruangan kerja nya. ia sedang mengobrol dengan pak Tohir, OB kantor tersebut.


"memang benar pak. tetapi, ternyata ia ingin bekerja di kantor ini hanya karena sekedar kedok saja pak. ia disuruh oleh ibu kandung saya untuk mencuri semua berkas-berkas sertifikat kantor ini dan percobaan pembunuhan akan diri saya juga. tetapi semua rencana mereka gagal dan mereka kini sudah dipenjara atas hukuman yang setimpal."


"hmm jadi begitu. setahu saya pak Taufik dipenjara hanya gara-gara merampok saja, tetapi ternyata ada insiden percobaan pembunuhan juga." ucap pak Tohir tak habis pikir karena ia baru mengetahui kejadian yang sebenar nya akan dipenjara nya pak Taufik. sebab, ketika di kampung nya ramai yang menggosip akan pak Taufik dan pak Samsul yang dipenjara itu, ia hanya mendengar kedua nya hanya merampok barang disuatu kantor saja.


Lalu Doni berkata lagi setelah ia melihat jam dinding ruangan kantor nya menunjukan pukul lima sore lewat seperempat.


"cerita nya sangat panjang jika harus saya ceritakan lagi pak. tetapi masa penjara kedua nya sekitar lima tahun lagi, saya hanya was-was saja akan pak Taufik dan pak Samsul yang nanti nya ingin membalas dendam akan tertangkap nya mereka itu kepada saya, jika kedua nya sudah keluar dari dalam penjara."


"tak perlu mengkhawatirkan hal itu bos, sekarang sudah bukan jaman nya seperti dulu lagi. mungkin mereka akan jera dan bertobat akan kesalahan nya itu dan tak akan menuntut balas dendam kepada bos Doni."


"semoga saja begitu pak." ucap Doni dan kemudian pak Tohir berkata lagi.

__ADS_1


"lalu bagaimana dengan ibu kandung bos Doni dan suami nya itu?" Doni lalu merenung sebentar seakan sedang memikirkan sesuatu. pak Tohir masih diam memandangi Doni yang sedikit terlihat resah dalam sikap nya. kemudian Doni menatap pak Tohir dan berkata.


"harus nya ibu kandung saya dan suami nya itu sudah keluar dari sell penjara. tak terasa waktu sudah sepuluh tahun sejak kejadian itu." ucap Doni sedikit resah memikirkan hal itu dan kemudian terdengar suara ponsel Doni berdering dan Doni mengangkat nya.


"pa sedang apa? apa papa mau lembur kerja jam segini belum keluar kantor?" tanya suara perempuan yang tak lain adalah Dona, istri Doni sekaligus sekertaris kantor nya.


"ini papa sedang membereskan pekerjaan ma. tunggu sebentar lagi papa akan keluar kantor."


"iya de pa, mama tunggu dimobil." setelah itu suara panggilan telepon ditutup oleh Dona.


Lalu Doni berkata kepada pak Tohir untuk bergegas pulang dan pak Tohir hanya mengangguk setuju. setelah Doni membereskan semua pekerjaan nya, ia akan keluar kantor menyusul pak Tohir. sedangkan pak Tohir sudah keluar dan ia bertemu dengan pak Yono dan pak Restu yang sedang menunggu bos nya itu keluar kantor. mereka mengobrol sebentar dan tak lama mereka di dekati seorang gadis berseragam kantor dan wajah nya lumayan cantik dan gadis itu berkata kepada pak Tohir.


"ayo pak pulang, keburu sore." ujar nya kepada pak Tohir dan kemudian pak Tohir berpamitan kepada pak Yono dan pak Restu.


Gadis lumayan cantik itu adalah Dede, yang tak lain adalah anak dari ibu Elis dan pak Tohir. semenjak Dede lulus kuliah, ia dimasukan oleh Doni untuk bekerja di kantor nya sebagai pegawai kantoran. kini lantai tiga yang dulu nya bekas Doni tinggal, telah di jadikan kantor utama bagi atasan dan lantai dua dijadikan ruangan kerja bagi pegawai kantor biasa.


Pak Tohir sudah beranjak pulang mengendarai motor dengan membonceng anak nya dan Doni baru saja keluar dari dalam kantor nya. setelah ia berbincang sejenak dengan pak Yono dan Pak Restu, ia langsung berjalan menuju mobil nya yang di mana di dalam mobil tersebut sudah ada Dona yang duduk menunggu nya.


"tumben papa lama sekali di dalam tadi?" Tanya Dona kepada Doni yang sudah masuk ke dalam mobil nya.


"cuman mengobrol saja sebentar dengan pak Tohir tadi ma."


"mengobrol tentang apa pa?" Dona makin penasaran dan Doni menjawab nya.


"tentang para penjahat yang dulu pernah mencoba merampok kantor ini."


"oh begitu, yasudah kita lanjut mengobrol nya di rumah saja nanti pa. ayo buruan pulang keburu sore pa." Doni hanya mengangguk saja dan kini mobil nya sudah melaju menuju rumah nya berada.


...*...

__ADS_1


...* *...


__ADS_2