DIANA & DIANI

DIANA & DIANI
PERKELAHIAN


__ADS_3

PAGI Hari sudah tiba, seperti biasa Diana dan Diani akan berangkat pergi ke sekolah. pada pagi itu kedua anak tersebut terlihat sedang sarapan pagi bersama kedua orang tua nya. ibu Asih sedang ada di dapur untuk menyiapkan bekal makanan untuk anak itu disekolah nya.


Dua pembantu rumah itu sedang membereskan barang-barang dari sisa-sisa ulang tahun Diana semalam. setelah sarapan pagi itu selesai, kedua anak-anak itu akan pergi di antar ke sekolah oleh nenek nya dan pak Soleh. setelah salim kepada kedua orang tua nya yaitu Dona dan Doni, dua anak gadis itu sudah pergi menuju sekolah dengan diantar oleh ibu Asih dengan menaiki mobil yang dikemudikan oleh pak Soleh.


Setiba di tepi jalan sekolah, mobil itu berhenti dan kedua anak gadis itu keluar bersama ibu Asih. setelah kedua nya salim, kini mobil tersebut sudah pergi pulang kembali ke rumah Doni dan kedua anak gadis itu kini berjalan menuju gerbang sekolahan SD tersebut. anak-anak lain nya satu persatu masuk ke dalam sekolahan itu dan kedua anak gadis tadi kini sudah pergi memasuki ruangan kelas mereka.


Suasana di dalam kelas itu masih sedikit sepi dan hanya beberapa murid teladan saja yang sudah tampil masuk dan duduk dikursi nya masing-masing. kedua anak gadis itu kini duduk dikursi kedua nya sambil berbincang-bincang.


"tumben dikelas masih sepi kak? apa kita terlalu kepagian ya datang nya?" tanya Diani kepada kakak nya.


"bisa jadi dede. kita berangkat kan tadi sekitar jam tujuh kurang beberapa menit. ini saja baru jam tujuh lewat dua belas menit." ujar Diana sembari pandangan mata nya menatap jam dinding kelas tersebut.


Pada saat itu muncul Febri memasuki kelas itu bersama murid-murid yang lain nya. ia menyimpan tas dahulu dikursi nya, lalu berjalan mendekati Diana dan Diani yang duduk menatap nya.


"kalian berdua tahu tidak?"


"tahu apa kak??" tanya Diani heran.


"kau bertanya soal apa Feb???" tanya Diana ikut penasaran juga.


Lalu Febri berkata pelan kepada kedua anak gadis itu.


"Bram hari ini tak masuk sekolah. aku tahu hal itu dari chat story whatsapp nya."


"memang nya kenapa kak Bram tak masuk sekolah kak???" tanya Diani lagi dan Diana masih diam menunggu Febri berkata.


"dari yang aku tahu, ia sedang berkabung. nenek nya meninggal sudah tiga hari yang lalu. waktu hari jum'at kemarin ketika kita bertemu Bram dikantin, ternyata Bram pergi ke kantor kepala sekolah karena ia mendapat kabar dari keluarga nya bahwa nenek nya meninggal pada hari itu."


"ouh pantas saja wajah kak Bram kala itu sedikit murung dan terlihat sering merenung." ucap Diani manggut-manggut baru memahami hal tersebut.

__ADS_1


Diana masih diam memikirkan ucapan dari Febri tadi. lalu Febri berkata lagi,


"waktu kita berada diperguruan bela diri pun Bram tak hadir, karena memang ia sedang izin libur karena masih berkabung bersama keluarga nya."


"hmm begitu..., pantas kita tak melihat nya hadir kala itu." ujar Diana mulai angkat bicara.


Baru saja Febri mau berkata lagi, muncul ketiga anak bandel yang bernama Yoshua, Beryl dan Usman. seperti biasa jika ketiga anak itu masuk ke dalam kelas, suasana kelas yang awal nya ricuh dari obrolan-obrolan murid kelas itu, kini tiba-tiba hilang seakan teredam. Febri tak jadi meneruskan ucapan nya karena ia melirik ke arah datang nya ketiga anak bandel tadi. Diana dan Diani pun menatap ketiga anak bandel itu, kecuali para murid lain nya, mereka hanya menunduk dan tak ada yang berani menatap karena takut. ketiga anak bandel tadi sudah pergi ke tempat duduk nya yang ada jajaran paling belakang dan ketiga anak bandel tadi acuh tak acuh terhadap Diana, Diani dan Febri yang menatap nya. mereka terlihat sedang mengobrol dan entah apa obrolan mereka itu karena tak jelas apa yang ketiga anak bandel itu obrolkan.


Pada saat itu bell jam belajar terdengar dan wali kelas guru itu masuk bersamaan dengan suara bell tadi. para murid segera duduk dengan rapi dan menyambut ucapan selamat pagi dari guru wali kelas mereka yang bernama ibu Sari itu.


"apa murid-murid lain nya sudah ada yang masuk ke dalam kelas semua nya???" tanya ibu Sari bertanya kepada para murid nya. para murid saling tatap sesama teman sebangku nya dan Febri segera berkata menyahut.


"Bram belum masuk buuu.." seru Febri dan semua mata memandang ke arah kursi Bram yang kosong.


Ibu Sari lalu bangun dari duduk nya dan menatap satu persatu wajah murid-murid nya. kemudian ia berkata,


"Diana,..."


"pimpin doa sebelum kita belajar."


"tap..tapi bu..." ucapan Diana terpotong oleh wali kelas nya itu.


"sudah lakukan saja nak. mulai hari ini kamu ibu angkat menjadi wakil ketua kelas." jantung Diana tiba-tiba berdebar-debar dengan kencang nya. ia sempat kaget diri nya di angkat jadi wakil ketua kelas, karena memang dikelas itu belum ada yang cocok untuk menjadi wakil ketua kelas.


"mengapa saya bu? mengapa tidak yang lain saja, misal nya Febri?" ibu Sari tersenyum menatap Diana sembari berkata.


"Bram hari ini tidak masuk kelas dulu karena ia sudah izin kepada ibu dan kepada kepala sekolah bahwa selama beberapa hari ini ia sedang masa berkabung. nenek nya meninggal dunia pada hari juma'at kemarin. kita doakan semoga Bram dan keluarga nya tabah akan musibah yang menimpa nya saat ini. ayo Diana pimpin Doa, kamu kan pandai mengaji dan paham dengan agama." Diana yang memang pintar dan pandai dalam mata pelajaran agama itu, mau tak mau harus menuruti saran dari guru wali kelas nya itu.


Setelah Diana memimpin Doa, dimulai dari mendoakan Bram dan keluarga nya yang sedang dalam masa berkabung, lalu kemudian ia memimpin Doa untuk memulai mereka belajar. hari itu adalah hari ulangan bahasa indonesia dan keadaan dikelas itu sangat sunyi karena para murid masing-masing sedang sibuk mengerjakan tugas nya.

__ADS_1


Tak terasa setelah mereka selesai belajar dan jam istirahat mulai tiba. para murid-murid sudah banyak yang keluar untuk istirahat dan pergi jajan ke kantin. ketiga anak bandel itu berjalan mendekati Diana dan Diani yang masih duduk mengobrol dikursi meja belajar nya sembari memakan bekal cemilan yang dibuatkan oleh nenek nya itu. Febri yang awal nya mau mengajak Diana dan Diani ke kantin itu, menjadi terdiam menatap ke arah mereka.


"hebat sekali kau bisa menjadi wakil ketua kelas nya si Bram, cewek tengil!" ucap Yoshua sembari bertolak pinggang menatap sinis kepada Diana yang menatap nya dengan tajam juga.


Usman dan Beryl berada di samping kiri Yoshua, dan pada saat itu Febri mendekati mereka dan berkata.


"kalian bertiga jangan coba-coba membuat masalah!" ketiga anak itu menatap Febri dan Yoshua berkata.


"oh kau mau jadi pahlawan rupanya hah..?!" tanya Yoshua menatap angkuh kepada Febri dan Febri pun menatap tajam bermusuhan kepada Yoshua.


Mereka berdua saling tatap penuh bermusuhan bagai sebilah pedang tajam saling beradu dan layak nya kedua mata mereka. Beryl dan Usman segera mencekal lengan Febri setelah Yoshua memberi isyarat dengan anggukan kepala kepada kedua nya. Yoshua lalu segera meninju wajah Febri dengan cepat nya.


Bukk!! pukulan lumayan keras dari Yoshua tadi mengenai wajah Febri dengan telak nya. Febri terjengkang mundur dan lengan nya masih dicekal erat oleh Beryl dan Usman. Febri tak bisa melawan karena kedua tangan nya itu dicekal seperti itu, pada saat itu juga Diana langsung bertindak. ia bangun dan menendang paha Yoshua yang ingin meninju wajah Febri lagi.


Yoshua terpental menabrak meja dengan keras nya.


Brakk!!


"bangs*t!" gertak Yoshua dengan makian nya. ia mencoba bangun dan memegang pinggang nya yang terasa sakit itu. Febri segera menginjak kaki Usman dan Usman menjerit kesakitan. cekalan tangan nya terlepas dan tangan Febri yang terlepas itu segera meninju wajah Beryl dengan telak.


Beryl terjengkang mundur dan Usman saat itu akan segera meninju wajah Febri yang akan menghajar Yoshua yang baru saja bangkit. Febri tahu hal itu, ia segera mundur dan menangkis tinju dari Usman dan pada saat itu Beryl menangkap tubuh Febri dari belakang dan memeluk kedua lengan serta tubuh Febri dengan erat. Febri tak bisa berkutik karena tenaga Beryl lebih besar dari nya. Usman langsung mendekati Febri dan Diana segera menyentak kasar.


"berhenti kau disitu Usman! selangkah lagi kau mendekati Febri! ku buat hancur muka mu seperti si Yoshua ini!" gertakan tersebut membuat ciut nyali Usman dan Beryl, karena mereka tak menyangka akan secepat itu melihat wajah Yoshua babak belur diarea wajah nya.


Ternyata ketika Febri melawan Usman dan Beryl, Yoshua ingin menghajar Diana untuk membalas tendangan nya tadi. tetapi Yoshua tak tahu, bahwa Diana dan Febri sudah memiliki ilmu bela diri untuk membela diri mereka masing-masing. Yoshua yang kosong ilmu itu, habis di pukul oleh Diana dengan tendangan dan pukulan mengenai wajah nya.


Para murid-murid yang melihat hal itu, segera pergi melapor ke ruangan guru wali kelas mereka. Diani sejak tadi terdiam tegang melihat Perkelahian tak seimbang dalam hal jumlah tapi menang dalam hal kekuatan dari Diana dan Febri. lalu Febri segera dilepaskan oleh Beryl karena ia takut akan gertakan Diana tadi kepada Usman, kedua nya pun takut menatap Diana yang mencekal kerah baju Yoshua yang lemas tak berdaya itu dan sejak tadi Yoshua meratap memohon-mohoh ampun kepada Diana.


...*...

__ADS_1


...* *...


__ADS_2