
MEMANG Benar apa yang Diana renungkan dalam pikiran nya itu ternyata memang benar ada nya. bapak-bapak bengis itu memang ayah nya Yoshua dan Diana tahu hal itu ketika Yoshua berkata.
"anak itu yang telah menghajar wajah Yoshua sampai babak belur begini ayah!" ucapan tersebutlah yang menjadi patokan Diana tentang bapak-bapak berwajah bengis itu. Diana baru sadar, ketika ia masuk sekolah tadi. ia tak melihat Yoshua berada di kelas nya, kecuali kedua teman nya yaitu Usman dan Beryl. mereka hadir waktu Dona pertama masuk kelas sebelum ia diculik. Diana tak habis pikir bahwa ia diculik itu atas dasar diri nya yang telah membuat wajah Yoshua babak belur. ternyata penculikan diri nya itu masih terselubung dengan niat ibu Dewi dan pak Tomi, karena awal nya ibu Dewi dan pak Tomi ingin meminta bantuan pak Yohan untuk menculik anak nya Doni yang bernama Diana itu. hal tersebut memang suatu kebetulan semata dan tak pernah terpikirkan sebelum nya oleh Diana dan lagi pula, pak Yohan adalah adik ipar nya pak Tomi.
Yoshua dan ayah nya kini sudah berada di dekat ibu Dewi dan pak Tomi, lalu ayah nya Yoshua berkata tanya kepada anak nya.
"hmm..., jadi kamu kalah berkelahi dengan anak perempuan ini nak?"
"bukan kalah ayah! aku hanya mengalah saja!" ucap Yoshua tak mau diremehkan dan tatapan nya menatap tajam bercampur sinis kepada Diana, dan Diana pun tak kalah sinis juga menatap Yoshua. lalu pak Tomi berkata,
"apakah wajah anak mu yang memar membiru itu akibat dihajar oleh anak perempuan ini dik?"
"seperti nya anak ku memang benar berkata begitu kak." ujar ayah nya Yoshua dan ibu Dewi bertanya.
"mengapa Yoshua sampai dipukuli oleh anak ini?" Yoshua yang malu mendengar diri nya seakan direndahkan oleh ucapan ibu Dewi itu, langsung menampar Diana dengan cepat memakai kelabatan tangan nya.
Plakk!! "arhghh!" kepala Diana terhempas ke kiri dan ia tak sempat menghindar karena tamparan Yoshua itu mendadak dan tak disangka-sangka. ketiga orang tua itu menatap ke arah Yoshua yang memegang kerah baju Diana sembari berkata kasar.
__ADS_1
"tamparan ku yang tertunda gara-gara terhalang si Bram itu sudah terlampiaskan sekarang! saat nya aku membuat memar wajah mu itu cewek siala*n!" lalu wajah Diana berkali-kali ditinju oleh Yoshua yang masih menyimpan dendam terhadap Diana atas kekalahan nya itu.
Ketiga orang tua yang melihat hal itu tak mencegah perbuatan Yoshua itu, mereka seakan sengaja membiarkan Yoshua melampiaskan dendam dan kekesalan nya terhadap Diana. Diana mengaduh dan memekik beberapa kali, wajah nya mulai merah dan ia tak bisa melawan karena posisi nya yang masih terduduk dengan semua anggota badan terikat. kepala Diana sesekali mengelak dari hantaman tinju Yoshua, tetapi ruang gerak nya tak bebas dan wajah nya beberapa kali kena pukulan telak dari tinju Yoshua.
Rasa kasihan mulai terlintas di wajah ibu Dewi dan pada saat itu ia berkata tegas kepada Yoshua.
"cukup Yoshua! anak itu sudah babak belur begitu wajah nya!" Yoshua mengentikan pukulan nya dan wajah nya menatap ke arah tiga orang tua itu dengan tatapan nanar. Diana tak menangis, tapi ia hanya meringis menahan sakit. darah segar mulai keluar dari dua lubang hidung beserta sudut bibir Diana. pukulan terakhir Yoshua di lancarkan memukul perut Diana dan Diana tersentak memekik menahan sakit.
"heggg! arggh!" pada saat itu juga kepala Diana terkulai menunduk dan Yoshua memaki Diana dengan kasar.
"sekali lagi kau bertingkah sok jagoan didepan ku! ku buat menderita kau seumur hidup!" setelah membentak begitu, Yoshua pergi keluar gudang luas itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada ibu Dewi dan pak Tomi, begitu pun juga kepada ayah nya.
"anak ini pingsan!?" ucap nya dan kemudian ayah nya Yoshua yang bernama Yohanes Ibrahim yang biasa dipanggil pak Yohan itu berkata.
"sudah tinggalkan dulu anak itu. aku datang kemari ingin membicarakan sesuatu hal dengan kalian berdua." setelah berkata begitu, ibu Dewi beserta pak Tomi mengikuti pak Yohan keluar gudang itu untuk membicarakan sesuatu hal yang belum diketahui maksud pembicaraan nya nanti. Diana yang wajah nya babak belur itu pingsan dan masih dibiarkan seperti itu. darah segar tetap mengucur dari hidung dan bibir Diana, darah itu menetes jatuh ke rok merah celana sekolah nya. Anak Yang Malang itu pingsan karena ulu hati nya ditinju oleh Yoshua tadi dan membuat Diana seketika itu juga tak sadarkan diri.
Waktu sore hari sudah tiba dan suasana di kantor CV. Group Perkasa sudah sepi, karena jam pulang kantor sudah sejak tadi berlalu. pak Yaris yang awal nya menghubungi pak Broto untuk mencari bukti dari jejak mobil yang telah menculik Diana itu, masih belum mendapatkan laporan titik terang dari pak Broto. sebelum pulang ke rumah nya, pak Yaris mampir dahulu datang ke rumah nya Doni. ia ingin mendengar jelas cerita dari Doni tentang diculik nya Diana oleh orang-orang yang tak dikenal. penculikan secara terang-terangan itu seperti nya memang sudah direncanakan oleh sipelaku dengan menyewa preman bayaran. desas-desus tentang ibu Dewi dan keluarga nya yang sudah dianggap dalang dari penculikan Diana pun, masih samar-samar karena mereka belum mendapatkan bukti yang valid bahwa ibu Dewi dan keluarga nya yang merencanakan penculikan tersebut.
__ADS_1
Doni pun memberi tahukan kepada pak Yaris bahwa rumah ibu nya yang berada di kampung mangga besar itu sudah di jual dan Doni sudah menjelaskan nya secara detail kepada pak Yaris. kini pak Yaris sudah pulang ke rumah nya, setelah ia berkata kepada Doni dan keluarga nya agar jangan panik dahulu sebelum mendapatkan bukti laporan dari pak Broto. dirumah nya pak Yaris, istri nya yang bernama ibu Susi itu tercengang kaget mendengar Diana, anak nya Dona dan Doni itu telah diculik oleh orang-orang tak dikenal.
"mengapa Diana sampai bisa diculik begitu pah? jadi adik nya tak ikut diculik juga karena sedang sakit dan berada di rumah nya?" tanya ibu Susi ketika kedua nya berada di ruangan keluarga sembari menonton televisi.
"penculikan itu terang-terangan mah. menurut cerita Doni, guru wali kelas Diana dan pak Satpam penjaga gerbang sekolahan itu pun menjadi korban keganasan para perampok itu. wajah mereka terkena pukulan sampai memar membiru."
"wah kalau begitu, pasti semua itu atas rencana ibu Dewi dan suami nya itu pah! mana mungkin ada orang yang tak ada hubungan nya dengan keluarga Doni, bisa sampai sebegitu nya menculik anak nya. apakah itu tak janggal pah?"
"papah pun sepemikiran dengan mamah. tetapi ketika Doni mendatangi rumah orang tua nya yang ada di kampung mangga besar, rumah itu sudah tak berpenghuni lagi dan kata nya sudah dijual kepada seseorang."
"pasti mereka melakukan hal itu untuk menghapus jejak agar mereka tak terkena incaran polisi lagi pah."
"bisa jadi begitu mah. tetapi, mengapa rencana mereka itu sampai melibatkan anak sekecil Diana? apakah rencana mereka itu akan menyandra Diana agar Doni nanti nya luluh dan mau memberikan semua harta warisan yang ia dapat dari mendiang ayah nya itu mah???"
"bisa jadi begitu pah. mamah hanya takut jika Diana menjadi korban salah sasaran dan mengakibatkan meninggal nya cucu mamah itu." ujar ibu Susi yang memang sudah menganggap Diana sebagai cucu nya. sedangkan ketiga anak gadis dari pasangan pak Yaris dan ibu Susi, yang bernama Bunga, Mawar dan Melati itu. ketiga nya sedang berkuliah di luar negeri dan wajar saja dirumah nya pak hanya ada pak Yaris, ibu Susi dan para pembantu serta satpam rumah itu saja.
Obrolan pak Yaris dan ibu Susi terhenti karena suara adzan maghrib sudah berkumandang. sepasang suami istri yang seharus nya sudah menjadi seorang kakek dan nenek itu bergegas untuk melaksanakan shalat maghrib berjamaah bersama para pembantu rumah nya. suasana sore hari mulai gelap dan kini malam hari yang masih menyimpan segudang misteri itu telah hadir menaungi hati sanubari seseorang yang sedang terbaring sakit dikamar nya dan seseorang itu adalah Diani yang sedang bermimpi didalam tidur nya.
__ADS_1
...*...
...* *...