DIANA & DIANI

DIANA & DIANI
ARTI MIMPI DIANI


__ADS_3

ANAK Gadis itu tersentak bangun dari tidur nya. pandangan mata nya menatap kesana-kemari seperti sedang mencari sesuatu. di dalam ruangan kamar nya, anak itu hanya seorang diri saja dan suasana di dalam kamar itu sangat hening sekali. anak gadis itu adalah Diani, ia sudah mulai membaik dari sakit nya. pakaian dan selimut tidur nya sudah basah oleh keringat dingin nya akibat ia bermimpi aneh dan buruk lagi untuk yang kedua kali nya. mimpi nya itu masih sama seperti yang pernah ia ceritakan kepada kakak nya. tetapi kali ini, anak gadis itu masih duduk termenung mengingat-ingat mimpi yang baru saja ia alami.


"mengapa aku bermimpi itu lagi? tetapi, mengapa di mimpi ku kali ini aku melihat kakak didepan ku dengan memasang raut wajah sedih?" ucap batin Diani dan ia sendiri masih bingung akan Arti Mimpi nya kali ini itu.


Diani lalu bangun dan beranjak dari ranjang nya untuk berganti pakaian, karena ia sudah tak nyaman akan pakaian yang dikenakan nya itu. disamping itu, Diana baru saja terbangun dari pingsan nya. mata nya menatap kesana-kemari seakan sedang mengawasi keadaan sekeliling nya. badan nya lemas dan ia tak bisa bergerak sama sekali karena keadaan nya yang sangat memprihatinkan. posisi nya masih sama dengan yang sebelum nya, berada di dalam gudang yang luas dan lampu ruangan itu masih menyala sejak sore tadi. disebuah rumah lebar dan memiliki halaman yang luas, terpampang merek-merek mobil bernilai ratusan juta terparkir dihalaman rumah itu.


Di dalam rumah bercat putih dan berkesan mewah rumah orang kaya itu, ibu Dewi sedang duduk bersebelahan dengan suami nya, yakni pak Tomi. sedangkan di arah depan sofa yang di duduki sepasang suami istri itu, ada sang pemilik Rumah yaitu pak Yohan. ia hanya sendirian saja, dikarenakan istri dan anak nya sedang berada dalam ruangan tengah rumah dan pak Yohan berada diruangan tamu rumah nya. mereka mulai mengobrol akan pembicaraan pak Yohan kepada ibu Dewi dan pak Tomi itu.


"jadi anak itu harus kita apakan? menyuruh menanyakan nama nya saja sulit nya minta ampun. apalagi menanyakan nomor telepon orang tua nya???" tanya pak Yohan kepada ibu Dewi dan pak Tomi. sepasang suami istri pun sesaat merenung dan pak Tomi lalu berkata.


"bukankah tadi anak mu itu kenal dengan anak si Doni itu?"


"oh iya benar juga." lalu pak Yohan memanggil anak nya yang bernama Yoshua itu dan tak lama anak itu muncul.


"ada apa ayah?"


"anak perempuan yang kau pukuli itu, siapa nama nya?"


"nama nya Diana ayah."


"owh Diana..." sahut ibu Dewi manggut-manggut baru tahu nama Diana. lalu pak Tomi bertanya kepada Yoshua,

__ADS_1


"apa kau mempunyai nomor orang tua anak itu yoshua?" Yoshua menggelengkan kepala nya seraya berkata tanya.


"untuk apa paman Tomi menanyakan hal itu kepada ku???" pak Tomi akhir nya diam juga dan pak Yohan lalu menatap anak nya sembari berkata.


"sudah kamu kesana dulu nak." lalu Yoshua pergi lagi ke ruangan tengah rumah nya. lalu pak Yohan berkata kepada sepasang suami istri itu.


"nanti kita bicarakan lagi soal cara menghubungi orang tua anak perempuan itu. lalu ngomong-ngomong, kemana ketiga anak kalian itu? dari siang aku tak melihat mereka???" lalu ibu Dewi menjawab pertanyaan dari pak Yohan itu.


"anak kami sedang pergi main. kata nya mereka ingin main bersama pacar mereka ke suatu tempat."


"iya benar apa yang dikatakan istri ku dik. anak-anak kami sudah dewasa dan besar, biarkan saja mereka berbuat sesuka nya."


"apakah uang dari hasil jual rumah kalian itu, kalian berikan kepada ketiga anak kalian juga???"


Pak Yohan pun ikut tertawa walaupun tak keras, disela ia tertawa ia berkata.


"ingat! kalian sudah janji akan memberikan harta warisan itu dua puluh lima persen nya untuk ku!"


"tenang saja dik! aku dan istri ku tak akan mengingkari janji karena kami sudah berhutang budi kepada mu dengan bantuan mu ini. kau sudah memberi kami tempat tinggal sementara untuk bersembunyi dari incaran polisi. tetapi, adakah tempat rahasia kalau kita mengadakan penebusan sandera dengan si Doni itu?"


pak Yohan berpikir sejenak dan ibu Dewi masih terdiam menunggu jawaban dari pak Yohan.

__ADS_1


Diani sudah mengelap badan nya dengan kain dan ia lalu memakai pakaian biasa. langkah kecil nya itu menuntun nya untuk pergi keluar dari kamar nya. tiba di ruangan tengah rumah yang luas itu, ia sedikit berkerut dahi nya karena ia melihat ibu nya dan nenek nya berkali-kali menitikan air mata dan mengelap nya memakai tisue. ia mendekati kedua nya yang sedang duduk disofa itu dan bertanya.


"mengapa nenek dan mama menangis?" pertanyaan itu membuat Dona bangun dari duduk nya dan berjalan mendekati Diani yang ada didepan nya. lalu Dona berjongkok sembari memeluk nya erat-erat.


"mengapa kamu bangun nak? bukankah kamu sedang sakit sayang?"


"dede sudah baikan mama." ucap anak itu dan pada saat itu juga muncul Doni dari ruangan tamu. wajah nya nampak murung dan ia langsung merubah sikap murung nya ketika melihat Diani dipeluk ibu nya. Diani menatap ayah nya sembari bertanya.


"kakak kemana pa? sejak tadi dede tak melihat kakak?" tanya nya dan kini Doni ikut berjongkok memeluk Diani dan Dona juga.


Ibu Asih yang masih duduk di sofa itu merasa terharu melihat Doni dan Dona yang memeluk Diani itu. mulut Doni seakan enggan untuk membicarakan apa yang sedang terjadi sebenar nya kepada Diana. lalu ibu Asih segera berkata,


"kakak mu sedang pergi bersama kakek Yaris, nak." Diana langsung menatap nenek nya dan bertanya.


"ada urusan apa kakak pergi bersama kakek, nek???" pertanyaan Diani itu membuat ibu Asih jadi bingung sendiri, kemudian Dona yang masih memeluk Diani itu segera berkata.


"sudah jangan memikirkan kakak mu dulu nak. yuk kita ke kamar mu, malam sudah larut nak."


"enggak mau ma! dede enggak bisa tidur lagi karena keingat dan kepikiran kakak terus." Doni seketika itu juga tersentuh hati nya mendengar anak kandung nya berkata begitu, lalu Doni berkata tanya.


"mengapa dede sampai kepikiran kakak terus?" lalu Diani menjelaskan akan mimpi buruk nya itu kepada Doni, Dona dan ibu Asih yang sudah pasti mendengar cerita dari anak sekecil Diani itu.

__ADS_1


Diani menceritakan mimpi buruk nya itu ketika malam sebelum nya sampai ia sakit dan kemudian ia menceritakan kembali mimpi yang baru ia alami waktu itu. kedua orang tua nya bersama nenek nya itu saling bungkam mendengar Diani menceritakan mimpi nya itu dan mereka belum bisa menyimpulkan bahwa mimpi tersebut memang sudah terjadi kepada Diana dan Diani belum diberi tahu bahwa kakak nya itu telah diculik oleh sekelompok orang tak dikenal. ternyata mimpi Diani itu benar-benar terjadi dan menjadi kenyataan. mimpi yang biasa nya hanya seperti bunga tidur saja atau mustahil terjadi itu, seakan berhubungan dengan di dunia nyata dan membuat ketiga orang tua itu seakan percaya tak percaya akan cerita dari arti mimpi Diani itu.


__ADS_2