DIANA & DIANI

DIANA & DIANI
BASA-BASI


__ADS_3

PADAHAL Dalam hati Diana ia sedikit tersentak girang ketika diri nya dikatakan berpacaran oleh Bram oleh adik nya itu. tetapi Diana usahakan memendam perasaan nya itu dengan sikap tak suka jika diri nya disinggung seperti tadi oleh adik nya. lalu Diani berkata lagi kepada kakak nya.


"apakah kakak sudah bisa melawan si Yoshua dengan gerakan bela diri yang sudah kakak pelajari itu?" Diana yang sedang memainkan ponsel nya itu menjawab nya.


"kalau untuk sekedar mengecoh ketiga anak bandel itu, bisa saja de. tapi kakak belum terlalu cepat melakukan gerakan tersebut. mungkin butuh latihan keras bila ingin cepat mendapatkan hasil yang maksimal."


"apakah kakak masih ingat pelajaran yang diajarkan mbak Rosa itu???"


"tentu saja masih ingat de." lalu Diana bangun dan menaruh ponsel nya didekat Diani. ia akan memperagakan sikap bela diri yang ia dapat dari less seni bela diri nya pagi tadi.


Diana berdiri dan mulai memasang kuda-kuda kokoh sedikit merendah. kedua tangan nya berada di kiri dan kanan pinggang nya dan kedua tangan nya itu menghadap ke atas dan jari jemari nya mengepal dengan kuat. lalu Diana menghentakan tangan nya bergantian ke depan sembari mengeluarkan suara memekik 'Heatt!!' secara berkali-kali. Diani memandang kakak nya dengan senyum bangga terulas diwajah imut nya itu. pada saat itu ibu Asih masuk ke dalam rumah nya sembari membawa jemuran kering di dalam bak keranjang.


Ia mendengar pekikan suara Diana dan suara adik nya tertawa cekikikan di dalam kamar bekas Dona semasa Dona masih gadis. lalu ibu Asih membuka pintu itu dan membuat kedua anak itu langsung menatap ke arah pintu yang terbuka. ibu Asih tersenyum menatap kedua cucu nya itu sembari berkata.


"kata nya mau tidur siang? mengapa kalian masih bermain-main saja sejak tadi?"


"sebentar lagi ya nenek. dede lagi melihat kakak latihan jurus bela diri." Diana sudah duduk karena kelelahan dan tak berdiri seperti tadi. lalu ibu Asih bertanya kepada kedua nya.


"yasudah kalau begitu teruskan saja latihan nya. kalau sudah mengantuk, jangan dipaksakan ya sayang."


"baik nenek." ujar kedua anak itu dan kini ibu Asih menutup pintu kamar itu lagi.

__ADS_1


Diana dan Diani sebenar nya sudah merasakan kantuk sejak tadi, tetapi mereka sengaja menahan nya. mereka kini berbaring lagi dan sembari memainkan ponsel mereka masing-masing. lama kelamaan mata mereka mulai mengatup dan akhir nya kedua anak gadis itu tertidur dengan lelap nya. disamping itu, Febri sedang berada dalam rumah nya. ia sedang makan siang sendirian dan ibu nya siang itu tak menemani nya makan siang karena ibu nya sedang tidur siang. disela makan, anak itu memainkan ponsel nya. seperti nya anak itu sedang bertukar pesan dengan seseorang melalui pesan whatsapp.


Isi percakapan pesan tersebut adalah Febri yang sedang mengabari teman sekelas nya yang bernama Bram itu. Febri bertanya kepada Bram bahwa diri nya dan Diana, sudah ikut less bela diri diperguruan tempat Bram ikut less seni bela diri juga. Bram biasa saja menanggapi nya dan seperti nya anak itu sedang murung beberapa hari belakangan ini. rasa heran Febri akan Bram yang tak ada di perguruan seni bela diri itu, membuat Febri bertanya-tanya.


"aku kok enggak lihat kamu disana Bram? apa kamu sedang libur latihan?"


"iya aku memang sedang libur." jawab Bram dalam pesan whatsapp tersebut.


"oh begitu. memang nya kamu ikutan less nya hari apa saja Bram?"


"cuman sabtu dan minggu saja."


"oh sama kalau begitu dengan ku dan Diana." obrolan pesan whatsapp tersebut hanya dibalas 'Iya' saja oleh Bram.


"yasudah kalau begitu Bram. sampai jumpa besok disekolah ya." lalu Febri buru-buru menyelesaikan makan siang nya dan setelah selang beberapa menit, ia akan tidur siang. disiang hari menuju sore hari itu, ayah nya Febri yaitu Wawan sedang berada di depan restorant pratama cabang satu. ia baru saja berjalan menuju mobil nya untuk pergi ke suatu tempat. pada saat ia membuka pintu mobil, ia sekilas melihat wajah seseorang yang ia kenali nya itu keluar dari dalam mobil mewah berwarna merah menuju ke restorant pratama cabang satu.


"bukankah itu mbak Yuni dan suami nya? lalu, apakah anak lelaki yang bersama mereka itu adalah anak nya mereka?" ujar batin Wawan dan ia tak jadi masuk ke dalam mobil nya.


Ia menyambut mbak Yuni dan suami nya yang bernama Riko itu dengan sambutan yang sopan.


"selamat siang mbak Yuni dan mas Riko, apakabar nya sekarang?" ucapan Wawan yang sopan itu pun dibalas dengan ucapan sopan juga dari kedua nya.

__ADS_1


"kami berdua baik mas Wawan." ujar pak Riko dan mbak Yuni berkata kepada anak lelaki nya.


"sayang kamu salim gih sama om Wawan." lalu anak lelaki itu salim kepada Wawan dan Wawan tersenyum sembari berkata.


"namamu siapa nak? seperti nya umur kamu hampir seumuran dengan anak om?"


"nama saya Bram, Om." ujar anak itu singkat dan tersenyum walau terlihat dipaksakan.


Wawan lalu menatap kedua orang tua anak itu sembari bertanya Basa-Basi mengakrabkan diri.


"apakah mbak Yuni dan mas Riko akan makan siang direstorant ini?"


"iya mas Wawan, kami sudah lama tak makan siang direstorant ini lagi." jawab pak Riko dan mbak Yuni berkata.


"mas Wawan mau kemana memang nya?" Wawan yang berada di dekat mobil nya itu segera menjawab nya.


"saya mau pulang istirahat dulu ke rumah, sekalian mau makan siang disana."


"oh begitu..," ujar mbak Yuni manggut-manggut dan kemudian Wawan berkata permisi kepada mbak Yuni dan suami nya itu untuk segera pergi dan mereka pun mengangguk mempersilahkan. kini mbak Yuni dan suami nya serta anak nya itu, pergi ke restorant pratama untuk makan siang dan seperti nya mereka habis pulang dari pemakaman, karena terlihat jelas dari pakaian yang mereka kenakan itu identik seragam berwarna hitam semua.


Ternyata Bram adalah anak nya mbak Yuni dan pak Riko. umur Bram dan Diana terpaut hanya beberapa bulan saja. karena ketika Diana yang masih bayi ditemukan ditumpukan tempat sampah ruko itu oleh Doni, mbak Yuni kala itu sudah mengandung dan masa kandungan nya sekitar lima bulan. masing-masing orang tua anak mereka itu, tak ada yang mengetahui bahwa anak-anak mereka sudah saling mengenal dengan akrab nya. Febri berteman dengan Bram dan Bram pun berteman juga dengan Diana dan Diani. malah, mereka kini duduk dibangku sekolah yang sama. entah apa yang akan terjadi selanjut nya jika Bram dan Diana benar-benar menyatakan rasa suka dan cinta nya, pasti perjalanan cinta mereka antara mulus dan tak akan mulus karena suatu hal gugatan dari masing-masing kedua orang tua nya. pada masa lalu, memang kedua orang tua nya Bram pernah bermasalah dengan kedua orang tua nya Diana dan Diani, tetapi itu dulu ketika Doni masih menjadi seorang pria miskin yang tajir. sekarang sudah lebih sepuluh tahun berlalu dan sudah pasti permasalahan tersebut sudah usang dan tak layak untuk dibahas lagi.

__ADS_1


...*...


...* *...


__ADS_2