
WAKTU Sore di hari minggu itu menjadi awal perbincangan akan rencana busuk yang akan dilakukan oleh ibu Dewi beserta suami dan ketiga anak nya. dendam yang sudah mendarah daging di dalam hati ibu Dewi itu, ternyata semakin memanas setelah ia mendengar desas-desus kabar dari para tetangga nya bahwa Doni kini sudah menikah dan membangun rumah mewah disuatu tempat yang belum diketahui dimana tempat nya.
Ibu Dewi dan pak Tomi tahu hal tersebut berasal dari ketiga anak nya yang diam-diam menguping pembicaraan orang tua teman nya ketika ketiga anak remaja itu main ke rumah teman nya. siasat tersebut mulai diatur oleh ibu Dewi sendiri dan di dukung oleh suami nya.
"besok adalah hari senin dan seperti biasa para karyawan kantor itu mulai bekerja lagi. nanti Roni bawa motor dan turunkan kedua adik mu ini di ruko pinangsia. mereka berdua yang akan mencoba melamar pekerjaan di restorant perusahaan itu. cari nama restorant yang bernama 'Restaurant Pratama Cabang Satu'. lalu nanti ibu yang akan mencoba menyamar menjadi pengemis ke kantor pusat nya."
"lalu bapak?" tanya anak kedua nya dan ibu Dewi berkata.
"bapak bawa motor sendiri dan membonceng ibu nanti." ketiga anak remaja itu manggut-manggut paham dan kemudian pak Tomi berkata tanya kepada ibu Dewi.
"kapan kita laksanakan rencana ini sayang?"
"Roni dan kedua adik nya nanti mulai beraksi pagi hari saja sekitar jam sembilan. kalian nanti cari informasi saja dan bertanya-tanya tentang pemilik restorant itu. tak apa-apa kalian tak diterima bekerja, tetapi yang penting kalian mendapat petunjuk dari para karyawan nya itu."
"baik ibu." ujar ketiga anak remaja itu dengan patuh dan ibu nya tersenyum bangga kepada ketiga anak nya yang penurut itu.
Lalu ibu Dewi berkata lagi kepada ketiga anak nya.
__ADS_1
"nanti jika kalian sudah mendapatkan informasi, pulang kembali ke rumah ini sebelum jam dua belas siang." ucapan tersebut dipatuhi oleh ketiga anak nya dan ibu Dewi berkata lagi.
"nanti jam empat sore, ayah kalian dan ibu yang akan beraksi. ibu akan menyamar menjadi pengemis dan nanti ayah kalian yang membawa motor akan menyamar menjadi pembeli dikantin sebelah kantor itu. nanti ayah kalian yang akan bertanya-tanya lagi tentang dimana tempat tinggal anak sialan itu selama ini. kalau bisa, nanti ayah kalian yang akan mengikuti kakak tiri kalian itu pulang nya kemana. setelah tempat tinggal target kita diketahui, tinggal kita atur siasat lagi." pak Tomi dan ketiga anak remaja nya itu manggut-manggut paham akan rencana tersebut dan mereka masih memperbincangkan hal tersebut sampai waktu nya mereka mandi sore.
Sore hari itu Dona terbangun dari tidur nya. ia masih dalam keadaan telanjang bulat dan tertidur di atas dada bidang suami nya. mereka tertidur berpelukan setelah kedua nya melakukan hubungan intim dikamar tersebut. awal nya mereka hanya berciuman mesra ketika diruangan tengah rumah itu, tapi ciuman tersebut semakin panas dan membuat gairah sepasang suami istri itu bergelora dan membara. kini Dona bangun dari tidur nya tanpa membangunkan suami nya yang masih tertidur dengan pulas nya itu. ia segera mengenakan pakaian semacam daster longgar tanpa memakai dalaman lagi.
Ia pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dahulu dan setelah itu ia akan membangunkan suami nya untuk mandi sore. ibu Asih pun baru saja bangun dari tidur nya, ia lalu keluar kamar nya untuk membangunkan kedua cucu nya yang masih tertidur dengan pulas nya itu. setelah dibangunkan, kedua anak gadis itu segera beranjak bangun dan keluar rumah tersebut menuju rumah mereka berada. mobil Wawan melintas di jalanan kampung duren itu menuju jalan umum untuk pergi lagi ke tempat nya bekerja. ia memang pulang dahulu untuk makan siang dan istirahat dirumah nya itu. Wawan melihat Diana dan Diani yang berjalan beriringan dengan gontai nya menuju rumah besar mereka berada.
Wawan hanya tersenyum geli saja menatap wajah kusut sehabis bangun tidur dari kedua anak itu dan ia masih saja mengemudikan mobil nya sampai tiba dipekerjaan nya. Dona sudah membangunkan suami nya untuk mandi sore dan Doni sudah bangun dan segera bergegas untuk mandi sore. Dona kini sudah turun dan pergi ke kamar kedua anak nya berada.
Ketika ia membuka pintu kamar tersebut, dahi nya berkerut dan berkata pelan.
"kalian berdua tidur dimana?" tanya Dona dan Diana menjawab nya.
"kami berdua tidur dikamar bekas mama dulu di rumah nenek."
"betul mama. uhh dede masih mengantuk ma..." rengek Diani dan ia lalu memeluk ibu nya. Dona jadi tak tega melihat anak kandung nya merengek seperti itu, lalu Dona mengaisnya dan di ikuti oleh Diana yang berjalan di belakang nya.
__ADS_1
Mereka pergi ke kamar dua anak gadis itu dan Diani dibaringkan oleh ibu nya. lalu Diana berkata.
"dede mau mandi sama kakak enggak? kakak sudah gerah ingin cepat mandi de.." Dona lalu menatap Diana dan kemudian menatap Diani lagi sembari berkata.
"dede mau mandi sama kakak enggak tuh?"
"mau mama. tapi badan dede masih lemas,..."
"lemas kenapa kamu dede? kan yang habis belajar bela diri itu kakak mu. kenapa kamu yang lemas??" ujar Dona heran.
"tidur siang dede kurang mama..., sebentar lagi yaaa." rengek Diani dan ibu nya memaklumi nya. lalu Dona berkata kepada Diani.
"kakak mandi saja duluan ya, nanti mama yang akan ajak mandi adik mu ini."
"iya mama." lalu Diana pergi dari dalam kamar itu menuju kamar mandi.
Diani tertidur lagi sembari dielus-elus rambut nya oleh Dona. ia tersenyum menatap anak kandung nya itu sembari membatin.
__ADS_1
"nanti kamu akan punya adik lagi sayang, mama harap adik mu nanti laki-laki." ujar Dona mengandai-andai dalam ucapan batin nya. Diana sedang mandi sendirian di dalam kamar mandi dan ia sempat punya perasaan iri terhadap adik nya itu.
"beruntung sekali Diani terlahir dari orang tua yang baik dan penyayang terhadap anak nya. dibandingkan dengan kedua orang tua ku yang telah tega membuang ku semenjak aku masih bayi dulu, kekosongan hati ini masih terasa disaat aku ingin mengetahui siapa kedua orang tua ku sebenar nya. tetapi tiada petunjuk yang di dapat dari rasa penasaran ku ini. bertanya kepada mama dan papa pun aku tak berani untuk menanyakan hal tersebut. ingin mencoba bertanya kepada nenek pun, aku belum berani juga. ahhh! untuk apa juga aku memikirkan hal yang sudah berlalu itu. lagi pula hidup ku sudah enak sekarang dan tak perlu memikirkan hal yang memusingkan seperti itu lagi. yang harus aku lakukan adalah bersyukur akan nikmat yang tuhan berikan ini kepadaku sekarang. aku hanya bisa pasrah akan persoalan ini dan biarkan saja tuhan yang akan membalas kekejaman kedua orang tua ku yang sudah tega membuang ku dulu." ucap batin Diana disela mandi nya. kini ia lanjut mandi nya lagi dengan perasaan nya yang masih terngiang-ngiang akan Kisah Masa Lalu nya Diana itu.