
JAM Menunjukan pukul delapan pagi. Doni dan Dona serta kedua anak nya sudah sarapan bersama kala itu. Ibu Asih baru saja pulang dari pasar dengan pak Soleh yang menyupir mobil nya. Doni dan kedua anak nya ada di teras rumah besar itu untuk bergegas pergi ke mobil pribadi nya. ibu Asih yang mau masuk ke dalam rumah bersama ibu Romlah yang membawa belanjaan ibu Asih itu, segera bertanya.
"kalian mau kemana pagi-pagi begini? bukankah ini hari libur nak Doni?" lalu Diani menjawab nya sebelum ayah nya bicara.
"kami mau pergi ke less seni bela diri nek. iyakan kak?" tanya Diani kepada Diana.
"iya de. kami berdua sama papa akan pergi ke tempat itu nek." ibu Asih berkerut dahi nya dan mulai ingat akan cerita kedua cucu nya waktu sore kemarin. ia lupa tak menceritakan hal itu kepada kedua orang tua cucu nya itu dan tanpa ia ceritakan pun, secara kebetulan Diana dan Diani sudah menceritakan nya langsung kepada kedua orang tua nya semalam.
Ibu Asih yang mendengar ocehan kedua cucu nya itu langsung berkata tanya.
"jadi kalian berdua yang bicara langsung kepada papa kalian?" kedua anak gadis itu mengangguk membenarkan dan Doni hanya diam seakan tak mengerti akan ucapan nenek nya itu kepada kedua cucu nya. lalu ibu Asih bertanya kepada Doni.
"Dona kemana nak Doni?"
"Dona sedang pergi ke rumah Avril bu. ia sedang ingin menjenguk teman nya itu."
"oh begitu." ujar ibu Asih manggut-manggut paham dan pada saat itu suara panggilan telepon Doni terdengar dari dalam saku celana nya.
Doni lalu mengangkat panggilan telepon tersebut dan berbincang sejenak dengan orang yang menelepon nya itu. setelah selesai ia berbincang dengan seseorang yang menelepon nya dan ternyata itu adalah Wawan, Doni segera berkata kepada ibu Asih.
"bu Doni pergi dulu ya. Wawan sudah menunggu di depan gerbang rumah ini."
"iya nak. hati-hati dan jaga anak-anak."
__ADS_1
"iya bu." lalu Doni salim kepada ibu Asih dan di ikuti oleh kedua anak gadis nya itu. Doni sudah masuk ke dalam mobil nya dan disusul oleh kedua anak nya.
Pintu gerbang rumah besar itu sudah dibuka oleh pak Soleh dan mobil Doni sudah keluar. Ibu Asih hanya menatap kepergian mobil Doni sembari melambaikan tangan nya membalas lambaian tangan kecil kedua cucu nya yang imut-imut itu. setelah mobil Doni sampai di luar rumah nya, Wawan dan anak nya yaitu Febri berada di samping gerbang yang terbuka itu. kemudian anak dan ayah itu masuk ke dalam mobil tersebut dan Febri duduk dibelakang bersama kedua anak gadis nya Doni, sedangkan Wawan duduk di samping kemudi mobil Doni.
"kau tahu dimana alamat tempat nya Wan?" tanya Doni dan Wawan berkata.
"aku tahu. ikuti saja GPS diponsel ku ini, nanti jalur tempat nya akan sampai dilokasi."
"oh begitu, baiklah." setelah Doni berkata begitu, ia mulai menancapkan gas mobil nya dan kini mobil tersebut telah melaju menuju tempat lokasi sanggar less ilmu seni bela diri untuk tempat belajar ketiga anak mereka itu.
Disamping itu Dona sedang berada di dalam rumah nya Avril. ia sedang duduk dan mengobrol dengan Avril didalam ruangan tamu rumah tersebut.
"sebulan lagi kamu akan melahirkan ya Vril. jadi tak sabar aku ingin melihat anak kedua mu nanti." ujar Dona sedikit haru dan senang. Avril hanya tersenyum sembari mengusap-usap perut besar nya itu. lalu Dona melanjutkan ucapan nya lagi.
"hehehe..., aku pun kesepian jika harus berdiam diri terus dirumah Dona. anak sekolah, suami kerja. tapi kamu masih bisa bertemu suami mu dipekerjaan kok Dona. lagi pula kesepian mu hanya untuk sesaat saja kok. nanti jika aku sudah melahirkan, kakak ku nanti yang akan mengurus anak kedua ku jika aku nanti sudah bisa masuk bekerja lagi."
"hmm jadi begitu Vril, yang penting kamu harus jaga kesehatan. jaga pola makan agar kandungan mu tetap sehat sampai melahirkan."
"iya Dona tenang saja kalau soal itu." lanjut Avril lagi,
"ngomong-ngomong, kapan kamu akan mempunyai anak lagi???" Dona terhenyak sesaat mendengar ucapan dari Avril tersebut. Avril menatap Dona dengan wajah penuh keheranan karena raut wajah Dona sedikit bimbang.
"kau kenapa Dona? apa ada sesuatu?" tanya Avril lagi makin penasaran dan Dona lalu tersenyum dipaksakan seraya menjawab ucapan Avril tadi.
__ADS_1
"tak apa-apa Vril. aku sedang pakai pil KB. jadi tak memungkinkan untuk segera hamil lagi."
"lho kamu kenapa pakai pil KB Dona? kamu kan baru melahirkan satu anak?" tanya Avril penuh keheranan dan Dona menjawab atas rasa heran Avril itu.
"ya awal nya aku dan Doni sepakat untuk memiliki dua anak saja. meskipun Diana adalah anak angkat kami, tetapi aku sudah menganggap nya ia telah lahir dalam rahim ku dan Doni yang menitipkan benih nya di rahim ku."
"konyol sekali kesepakatan kalian berdua itu. ingat Dona, kata orang tua zaman dulu. kata nya banyak anak banyak rezeki. jadi kau tak perlu takut-takut untuk hamil lagi. justru dengan ada banyak nya anak, kita lebih semangat lagi dalam menjalani hidup." Dona yang mendengar Nasihat Kebaikan dari Avril tersebut, menjadikan nya tersenyum bangga terhadap Avril.
"semenjak menjadi seorang ibu, dirimu banyak berubah dan semakin dewasa saja Vril." ujar Dona terkagum-kagum akan sikap dewasa nya Avril.
"ah Dona. aku masih sama dengan Avril yang dulu kok, hanya saja posisi nya yang sudah berbeda."
"berbeda kenapa???" tanya Dona penasaran dan Avril menjawab nya dengan penuh perasaan berwibawa.
"karena kita sudah memiliki suami dan anak, kita sebagai seorang ibu harus lebih pintar dan dewasa dalam mengurus rumah tangga kita."
"bisa saja kamu bicara Vril, aku sangat kagum akan ucapan mu itu, hehehe." ujar Dona sembari tertawa dan Avril pun ikut tertawa juga walau tak seberapa keras.
Disamping itu, mobil Doni masih dalam perjalanan menuju tempat yang akan mereka datangi. di dalam mobil tersebut, Wawan sedang mengobrol masalah pekerjaan dengan Doni yang sesekali fokus menyetir itu. sedangkan ketiga anak kecil yang berada di kursi belakang, sedang asyik memainkan ponsel mereka masing-masing. mereka hanya diberi kebebasan oleh orang tua nya untuk memegang ponsel, hanya jika di waktu hari libur dan sehabis belajar dirumah. hari libur itu adalah hari mereka sepuas-puas nya memainkan ponsel nya dan nanti jika mereka sudah masuk sekolah lagi, mereka akan jarang sekali memegang ponsel karena sudah aturan dari kesepakatan dari orang tua mereka masing-masing.
...*...
...* *...
__ADS_1