
MALAM Hari telah tiba dan para penghuni rumah besar bertingkat dua itu sudah masuk ke dalam kamar nya masing-masing untuk tidur. waktu kala itu jam delapan malam dan seperti biasa Diana dan Diani sedang belajar di dalam kamar nya. mereka ditemani oleh ibu nya saja, sedangkan ayah nya yaitu Doni. ia sedang pergi ke rumah nya Wawan untuk suatu urusan pribadi nya. didalam kamar kedua anak gadis itu, Dona sedang mengajari kedua anak nya itu belajar menggambar. seperti biasa mereka belajar dilantai beralaskan karpet permadani dan sesekali mengobrol.
"papa sedang kemana ma???" tanya Diana kepada ibu nya.
"papa sedang pergi ke rumah nya paman Wawan nak." ujar Dona dan Diani ikut berkata.
"besok mama kan yang akan antar kita ke tempat less itu???"
"iya sayang. nanti mama yang akan pergi mengantar kalian berdua." kedua anak gadis itu tersenyum dengan senang dan mereka lalu meneruskan menggambar nya lagi.
Di satu sisi berada dirumah nya Wawan, Doni sedang duduk diruangan tamu rumah itu bersama Wawan, dan pak Yono. sedangkan Avril sedang menemani anak nya belajar di dalam kamar anak itu. obrolan ketiga bapak-bapak itu mulai terdengar ketika Doni berkata.
"jadi nanti aku dan Wawan besok akan pergi untuk membeli barang-barang untuk di restorant pratama cabang satu pak Yono. nanti pak Yono jaga-jaga di saja dikantor itu bersama pak Restu."
"baik den. bapak pasti akan menjaga kantor itu dengan pak Restu." ucap pak Yono dan Wawan lalu berkata.
"apakah benar ibu mu nanti akan keluar dari penjara bersama ayah tiri mu itu Doni??" yang ditanya hanya mengangguk saja dan pak Yono berkata.
"berarti sudah sepuluh tahun lama nya sejak kejadian itu ya den." Doni hanya mengangguk seraya berkata.
"pak Yaris pun kemarin malam datang ke rumah dan membicarakan hal tersebut. kata nya seminggu lagi masa tahanan ibu dan ayah tiriku bebas dari penjara."
__ADS_1
"apakah nanti ibu Dewi dan suami nya itu akan membalas dendam kepada kita den???" tanya pak Yono dan Doni menjawab nya.
"kata pak Yaris sih, ibu pernah mengancam akan membalas dendam jika ia sudah keluar dari dalam penjara. tetapi itu kisah sepuluh tahun lalu yang kini telah beliau ceritakan kembali kepadaku." orang yang ada di situ manggut-manggut mendengar nya.
Lalu Wawan bertanya kepada Doni tentang anak-anak nya ibu Dewi dan pak Tomi.
"lalu ketiga adik tiri mu itu bagaimana kabar nya Doni???" Doni sedikit termenung mendengar nya dan Wawan serta pak Yono memandang heran kepada Doni. yang di tatap balik menatap kedua orang tua itu di depan nya itu sembari berkata.
"itulah yang sedang aku khawatirkan sejak tadi. ibu dan ayah tiriku, mungkin mereka sudah tua dan setua ibu nya Dona. tetapi ketiga anak lelaki nya itu mungkin sudah besar dan dewasa. suatu saat nanti pasti mereka akan menuntut balas dendam atas desakan dari kedua orang tua nya itu." ucapan Doni tadi membuat Wawan dan pak Yono saling tatap.
Kemudian Wawan berkata kepada Doni.
"apakah kau takut akan Ancaman Dendam dari ketiga adik tirimu Don???" Doni lalu menjawab nya.
"benar juga." ujar Wawan baru paham dan pak Yono segera berkata.
"tak usah khawatir soal itu. jika orang-orang itu tak mengetahui dimana tempat tinggal kita selama ini dan tak tahu keadaan kita sekarang ini bagaimana, pasti semua itu tak akan terjadi. tetapi, ancaman tersebut tetap ada dan bahkan akan segera mengancam kita jika mereka sudah siap merencanakan hal tersebut." lalu Wawan berkata menambahkan.
"tujuan yang mereka tahu adalah kantor CV. Group Perkasa. pasti tujuan awal mereka akan pergi ke tempat itu, benarkah Doni???" ucap Wawan dan Doni berkata membenarkan nya bahwa pak Yaris pun berkata demikian kepada nya kemarin malam.
Lalu terdengar Wawan berkata kepada pak Yono.
__ADS_1
"apakah pak Yono tahu wajah-wajah ketiga adik tiri nya Doni itu???"
"bapak tahu wajah mereka ketika sepuluh tahun yang lalu ketika mengikuti persidangan bersama pak Yaris dan pak Broto. tetapi sekarang mungkin wajah mereka sudah berbeda dari sebelum nya dan semakin dewasa."
"benar juga." ujar Wawan lagi dan Doni berkata.
"pokok nya jika nanti ada orang asing yang mencurigakan bertanya-tanya kepada pak Yono di kantor CV. Group Perkasa, tolong tanyakan dulu identitas nya ya pak. kalau semisal orang itu berniat ingin melamar pekerjaan, cek dulu surat lamaran nya itu."
"baik den. bapak akan turuti saran mu itu dan nanti bapak akan katakan kepada pak Restu." ucap pak Yono kepada Doni dengan patuh. lalu mereka lanjut berbincang-bincang lagi membahas apa saja yang layak mereka perbincangkan.
Tak terasa obrolan mereka sampai dijam sepuluh malam dan sudah tiba saat nya untuk mereka pamit pulang. pak Yono sudah pulang ke rumah nya yang berada di samping rumah Wawan, sedangkan Doni ia sudah pulang ke rumah nya. di dalam rumah besar dan lebar itu, suasana rumah sudah sepi sekali dan hanya pak Soleh saja yang berada di dalam pos dekat pintu gerbang yang masih bangun dan keadaan nya memang sedang berjaga malam. Doni berjalan mendekati kamar kedua anak gadis nya berada dan setelah ia membuka pintu kamar itu, kedua anak gadis itu sudah tertidur di ranjang nya dan ditemani oleh ibu nya.
Doni tersenyum dan mendekati Dona yang tertidur di dekat kedua anak gadis nya itu. Doni lalu mencium kening kedua anak nya dan setelah itu mencium kening istri nya. ia lalu membangunkan Dona dan Dona terbangun.
"jam berapa sekarang pa???" tanya Dona yang sudah duduk di tepi ranjang itu.
"baru jam sepuluh ma. ayo pindah ke kamar kita." ujar Doni lagi.
"uhmm gendong yaaa pa...?" ucap Dona manja dan Doni tersenyum dalam anggukan. lalu ia menggendong Dona dengan cara membopong nya sampai ke lantai dua.
Tiba di kamar, Dona dibaringkan dan Doni segera berganti pakaian untuk memakai baju tidur yang warna corak nya sama dengan pakaian Dona. setelah Doni berganti pakaian tidur, ia lalu tidur memeluk Dona dari belakang sampai waktu subuh tiba. malam telah cepat berlalu dan waktu subuh telah tiba. seperti biasa penghuni rumah itu melaksanakan shalat subuh berjamaah. Dona dan Doni sudah bangun dan mereka menunggu di mushalah dalam rumah itu. kedua pembantu rumah itu bersama ibu Asih pun ada, lalu pak Soleh yang memimpin shalat subuh berjamaah itu.
__ADS_1
Sedangkan Diana dan Diani, kedua anak gadis itu masih tertidur dengan lelap nya. kedua anak itu sudah dibangunkan oleh nenek nya, tetapi kedua anak itu bagai susah dibangunkan dan membuat nenek nya membiarkan nya saja. kedua orang tua anak itu pun tak memaksa kedua anak nya tak ikut shalat subuh karena suatu alasan tertentu. shalat subuh telah selesai dikerjakan oleh para penghuni rumah itu dan kini sang mentari sudah menyambut datang nya pagi hari yang indah itu dari ufuk timur.