
SIANG Hari kala itu hanya terasa sedikit terik sinar matahari karena banyak nya awan-awan hitam yang bergerombol menutupi cahaya matahari. dikala itu, Diana dan Diani sudah pulang dan mereka berdua sedang makan siang dimeja makan di dalam rumah nya. ibu Asih sedang berada dirumah lama nya yang berada di samping rumah Doni yang dipagari tembok beton yang kokoh. rumah Doni dan rumah ibu Asih hanya berdampingan beda dua meter saja jarak nya dan dibatasi oleh pagar tembok beton tersebut. ia sedang mengangkat jemuran dihalaman rumah nya karena cuaca mendung tersebut yang diperkirakan akan segera turun hujan. di samping itu, Febri yang rumah orang tua nya berada di kampung itu pun. sedang makan siang juga dan ditemani oleh ibu nya yang sedang hamil tua, yaitu sekitar delapan bulan masa kandungan.
Febri mulai mengobrol dengan ibu nya setelah ibu nya memberikan segelas air untuk minum anak nya itu.
"ma..., boleh enggak Febri ikut less seni bela diri?" ibu nya berkerut dahi akan pertanyaan anak nya itu dan bertanya.
"untuk apa kamu ikut less seni bela diri?"
"anu ma,.. biar Febri bisa menjaga Diana dan Diani disekolah." ucap nya sedikit malu.
"memang nya kenapa dengan Diana dan Diani??? apakah ada teman sekelas mu yang usil kepada mereka berdua?" pertanyaan tersebut langsung dijawab anggukan oleh Febri.
Ibu nya hanya tersenyum sembari geleng-geleng kepala nya seraya berkata.
"jadi kamu ingin menjadi pahlawan untuk menjaga anak om Doni dan tante Dona, begitu?"
"ya bisa dibilang begitu ma. boleh ya ma...???"
"hmmm..." gumam ibu nya Febri sembari memikirkan jawaban nya tepat untuk anak nya itu. Febri masih menatap wajah ibu nya dengan tatapan penuh harap dan tak lama kemudian ibu nya berkata,
"coba nanti ibu tanyakan dulu kepada papa mu." ucap nya dan Febri berkata.
"yasudah kalau begitu ma." ujar Febri dan ia lanjut makan lagi. setelah ia makan nanti, ia akan pergi ke warung untuk membeli jajanan yang biasa ia beli.
__ADS_1
Rumah orang tua Febri berada tak terlalu jauh dari rumah kedua orang tua Diana dan Diani. rumah orang tua nya Febri berada berdekatan dengan rumah nya pak Yono, yaitu suami dari kakak perempuan nya Avril. isi rumah tersebut lumayan lebar dan tak bertingkat seperti rumah Dona dan Doni. tetapi rumah itu lumayan agak besar dari rumah pak Yono dan keluarga nya.
Febri adalah anak pertama dari Avril dan Wawan yang sudah menikah sebelum Doni dan Dona menikah secara resmi. pada masa Dona dan Doni baru menikah, posisi Avril sedang hamil tua dan tak aneh jika anak lelaki nya itu, umur nya berdampingan dengan anak nya Dona dan Doni. kedua anak itu adalah Diana dan Diani, mereka sudah selesai makan siang nya sejak tadi dan terlihat kedua nya berjalan keluar gerbang rumah nya menuju rumah nenek nya untuk bermain di sana. mereka tahu nenek nya sedang berada di rumah lama nya, karena mereka bertanya kepada pak Soleh dan telah diberi tahu oleh pak Soleh.
Pada saat itu juga muncul Febri dari arah warung seberang rumah ibu Asih. ia ternyata habis membeli jajanan di warung tersebut dan ketika hendak pulang ia berpas-pasan dengan kedua anak gadis kakak-beradik itu.
"kalian berdua mau kemana?" tanya Febri dan dijawab oleh Diani.
"dede dan kakak mau pergi ke rumah nenek, kak Febri."
"oh begitu." ujar Febri dan Diana segera berkata.
"oh iya Feb. bagaimana? apa kau sudah bicara kepada mama dan papa mu?"
"soal less seni bela diri itukan???" jawab nya dan Diana mengangguk.
"kalau begitu, pasti papa mu pulang kerja nya malam dong kak Febri??"
"ya papa ku pulang nya selalu malam. apa yang dikatakan oleh ku tadi kepada mama ku, semoga saja diterima oleh papa ku. nanti jika om Doni dan tante Dona tahu hal itu dari papa ku, pasti mereka mau memasukan kita untuk belajar ilmu seni bela diri."
"yah semoga saja, tetapi kalau tidak di izinkan bagaimana???" tanya Diana lagi kepada Febri dan Febri tersenyum pahit sembari berkata.
"kita pakai cara kedua."
__ADS_1
"apa itu cara kedua kak???" tanya Diani penasaran.
"cara kedua adalah dengan cara merengek, atau kalau bisa sampai menangis mengiba-iba."
"lebay ah! terlalu cengeng kalau cara nya seperti itu tauk!" ujar Diana ketus dan Febri tersenyum dongkol sembari cengengesan. lalu ia berkata kepada Diana dengan pertanyaan.
"lalu apa cara mu jika rencana awal kita memang ternyata gagal???" pertanyaan tersebut sedang di renungkan oleh Diana dan ia lalu menatap ke arah rumah nenek nya yang tak seberapa jauh dari mereka berdiri sembari mengobrol itu.
Lalu Diana tersenyum girang sembari berkata.
"bagaimana jika kita merajuk kepada nenek ku dan kita ceritakan saja alasan sebenar nya. aku lebih berani berkata berterus terang kepada nenek daripada kepada kedua orang tua ku."
"setuju kak. dede pun sama sepemikiran dengan kakak." ujar Diani tersenyum dan Diana lalu merangkul pundak adik nya sembari tersenyum juga.
"baiklah kalau itu saran dari kalian berdua, aku menurut saja." setelah Febri berkata begitu, mereka bertiga langsung berjalan bergegas menuju teras rumah ibu Asih yang pintu nya tertutup.
Gordeng rumah itu terbuka, menandakan di dalam nya ada orang yang mengisi nya. setelah ketiga anak itu melepas sandal nya dan mengetuk pintu rumah ibu Asih, pintu pun dibuka dan nampaklah wanita tua sedikit gemuk menatap heran kepada ketiga anak itu.
"cucu-cucu nenek tumben datang kemari?" tanya ibu Asih dan Febri lalu menyenggol lengan Diana dengan siku nya dan Diana paham maksud itu.
"kami datang kemari mau berbicara Sesuatu Rahasia dengan nenek."
"betul nek." timpal Diani meyakinkan ucapan kakak nya dan Febri hanya mengangguk saja tanda membenarkan.
__ADS_1
Lalu raut wajah tua yang tak terlalu keriput itu tersenyum dan mengajak ketiga bocah itu masuk ke dalam rumah tersebut. setelah pintu ditutup, ketiga anak itu duduk di kursi ruangan tamu. Diana dan Diani duduk berdampingan, sedangkan Febri duduk di kursi yang terpisah untuk duduk seorang diri. ibu Asih kini ikut duduk juga di kursi yang masih kosong sembari berkata.
"kalian bertiga mau berbicara tentang rahasia apa kepada nenek???" lalu Diana memulai niat nya itu dengan menceritakan kejadian ketika ia di sekolah. ia pun menceritakan Dirinya dan Diani sering di usili oleh teman sekelas nya yang bandel dan Febri pun membenarkan nya. bahkan Diani pun ikut andil bicara dan berkata manja kepada nenek nya dengan mengadu ketika diri nya sering di ejek sampai menangis. setelah ketiga anak itu bercerita tentang permasalahan nya tersebut kepada ibu Asih, nanti ibu Asih akan bertanya kepada ketiga nya akan tujuan sebenar nya dari aduan mereka itu kepada nya nanti.