
DI Dalam rumah nya Doni, ia sedang makan siang bersama istri dan kedua anak gadis nya. sesekali mereka mengobrol membahas apa yang sudah terjadi kepada kedua anak gadis nya itu disekolah.
"tadi kakak sama kak Febri jago sekali pa, ma! anak-anak bandel itu dipukul habis sama kakak dan kak Febri sampai bonyok di wajah nya!" ujar Diani bersemangat sekali. Diana menjadi tersipu malu disanjung-sanjung begitu oleh adik nya. lalu Dona sebagai ibu mereka bertanya.
"memang nya awal permasalahan kalian itu apa sampai kalian berkelahi begitu??? apakah kalian tak kena hukuman?"
"kami tak salah ma. jadi kami tak dihukum, yang salah itu ketiga anak bandel itu yang usil dan jahat kepada kami. mereka kini sudah diberi surat peringatan untuk diberikan kepada orang tua mereka atas kesalahan ketiga anak bandel itu disekolah." ujar Diana dan Diani membenarkan ucapan kakak nya.
"tapi kakak dan dede tak ada luka kan???" ujar ayah mereka khawatir dan kedua anak kecil itu geleng-geleng kepala tanda tak terluka sedikit pun.
Pada saat Diana menjelaskan awal permasalahan disekolah mereka sampai disidang oleh kepala sekolah dan wali kelas mereka, ibu Asih datang dengan tergopoh-gopoh sedikit berlari. wajah nya terlihat putih pucat walau tak sepucat putih mayat. Dona dan Doni serta kedua anak nya menatap heran kepada ibu Asih yang kini sudah duduk dikursi kosong meja makan tersebut dan napas nya tersendat-sendat.
"bah.. ba..bahaya! tadi ada orang yang menguntit mobil kalian pulang berdua kemari!" ucap ibu Asih bernada tegang kepada Dona dan Doni.
Sepasang suami istri itu tak paham akan ucapan dari ibu Asih, lalu Dona mulai bertanya.
__ADS_1
"maksud ibu bagaimana???"
"tadi di jalan depan warung nya ibu Rukyah, ada seorang pemotor berpakaian serba tertutup. dari helm, masker, jaket tebal, pokok nya tak diketahui siapa identitas orang itu!" Doni lalu bertanya kepada ibu Asih.
"memang nya orang itu kenapa bu?"
"ibu melihat orang itu memotret gerbang depan rumah ini. lalu ketika mobil yang disupiri oleh pak Soleh pun ia poto juga. astaga! berarti tadi cucu nenek pun ikut dipoto juga oleh orang tadi!" mereka seketika saja langsung tegang dan mulai Khawatir.
Diana dan Diani tak paham apa yang diobrolkan oleh para orang dewasa itu. lalu ibu Asih bertanya kepada Doni dan Dona.
Diana dan Diani saling tatap mendengar nama ibu Dewi disebut-sebut. lalu Doni segera berkata agar jangan panik akan hal dari kejadian tersebut dan mencoba menenangkan rasa gelisah yang ada pada diri nya juga.
"permasalahan ini bisa kita hindari dengan cara, kita harus tetap waspada akan segala sesuatu hal. mungkin saja apa yang dilihat oleh ibu Asih itu memang benar orang suruhan dari ibu bejat itu. tetapi mereka tak akan bisa berbuat seenak nya akan permasalahan harta warisan yang dulu telah rampung menjadi milik Doni. biarkan saja mereka bertindak semau nya dan jika mengancam nyawa keluarga ini, aku tak segan-segan akan menuntut mereka ke dalam persidangan! kalau bisa, aku akan penjarakan mereka seumur hidup!" tegas Doni memutuskan rencana nya dan ia sudah tak mempunyai rasa belas kasihan lagi atau ragu-ragu untuk menjebloskan orang-orang yang akan mencelakai keluarga nya itu.
Obrolan tersebut disudahi dulu oleh mereka, karena mereka masih dalam posisi makan siang. ibu Asih pamit undur diri lagi untuk pergi ke rumah nya dan kedua cucu nya buru-buru segera menyudahi makan nya untuk ikut nenek nya ke rumah itu. Dona dan Doni awal nya melarang kedua anak gadis nya untuk pergi keluyuran keluar rumah, tetapi kedua anak nya merengek manja dan kedua orang tua itu menjadi tak tega. ibu Asih pun berkata akan menjaga kedua cucu nya itu dan kedua orang tua nya pun kini membolehkan nya untuk pergi bersama nenek nya.
__ADS_1
Dona dan Doni kini pergi lagi ke kantor CV. Group Perkasa untuk mulai bekerja lagi. perasaan hati mereka masih diliputi kewaspadaan akan ada nya bahaya yang cepat atau lambat akan menghampiri keluarga mereka. disamping itu, orang yang menguntit mobil Dona dan Doni dari kantor CV. Group Perkasa sampai ke depan rumah mereka yang ada dikampung duren itu, kini telah tiba di rumah bercat hijau luntur. orang itu ternyata adalah anak tertua dari ibu Dewi dan pak Tomi yang bernama Roni. ia disuruh oleh ibu nya untuk mengikuti mobil Doni yang sudah diketahui plat nomor mobil tersebut lewat suami nya.
Suami ibu Dewi, yakni pak Tomi. sudah mendapat plat nomor Doni dari salah satu karyawan kantor CV. Group Perkasa yang ternyata adalah teman dari ketiga anak mereka. hal itu baru diketahui oleh ketiga anak mereka tentang teman mereka yang sudah bekerja dikantor tersebut dan sudah pasti orang itu bawaan Wawan. misi Roni dalam membuntuti Doni pun berhasil, ia kini sudah menemukan titik lokasi tempat tinggal Doni sekarang.
Kini tempat lokasi Doni sudah diketahui oleh ibu Dewi dan ia segera melihat poto-poto yang diambil oleh Roni ketika dikampung duren tadi bersama suami nya dikamar.
"hmm..model rumah nya hampir sama dengan rumah yang sebelum dijual itu ya sayang." ujar pak Tomi yang ikut melihat juga. ibu Dewi sejak tadi diam membisu dan jantung nya berdetak kencang tak seperti biasa nya. ia tak perduli dengan rumah besar yang diucapkan oleh suami nya itu. ia sejak tadi memandangi poto seraut wajah tua yang ia masih kenali sampai sekarang. orang itu adalah ibu Asih dan ibu Dewi segera yakin bahwa ibu Asih adalah salah satu penghalang yang selama ini telah menggagalkan rencana nya. bahkan ibu Dewi sempat terpikir, bahwa permasalahan nya dulu sampai dipenjara itu, pasti ada sangkut paut nya dengan ibu Asih yang sudah tahu dan membeberkan latar belakang watak diri nya dahulu.
Lalu pak Tomi berkata lagi menggugah lamunan ibu Dewi.
"ini anak siapa yang ada didalam mobil berwarna jingga ini? lucu-lucu sekali kelihatan nya kedua anak perempuan itu?" ujar pak Tomi tak sadar mengagumi kelucuan anak itu. ibu Dewi yang tadi termenung itu segera buyar akan ucapan suami nya tadi dan ia langsung melihat ponsel yang dipegang oleh suami nya. ibu Dewi tercengang kaget melihat nya, ia sedikit melihat sepintas bahwa dari salah satu anak itu ada yang mirip dengan Doni, yaitu didaerah halis nya. pada saat itu ibu Dewi membatin.
"apakah kedua anak gadis itu anak nya Doni??? lalu dengan siapa ia menikah???" tanya ucapan batin nya, pada saat itu ibu Dewi segera terpikir akan rencana awal nya untuk pergi menjadi pengemis ke kantor CV. Group Perkasa segera dirubah. ia terpikirkan cara untuk menculik kedua anak itu dan akan menyandra nya dengan ancaman akan dibunuh. itu adalah siasat gertakan nya saja agar Doni luluh dan pasrah membebaskan anak nya nanti dengan jaminan harta warisan yang dimiliki Doni sekarang. senyum sinis penuh kemenangan terpampang jelas diwajah ibu Dewi dan membuat suami nya menatap nya penuh keheranan. ibu Dewi lalu berkata membisiki telinga suami nya agar rencana tadi dan kemudian mereka saling tatap sembari tersenyum penuh dengan kelicikan.
...*...
__ADS_1
...* *...